
Dua jam berlalu. Saat ini Ailing baru saja kembali ke rumah khusus sembari membawa sebuah rantang berisi makanan pemberian orang-orang desa.
“Hai, kamu di mana?“ panggil Ailing sembari menurunkan rantang tersebut di atas meja ruang tamu. Namun setelah menunggu beberapa saat, tak terdengar sahutan di dalam rumah itu.
“Kenapa sepi sekali, apa dia pergi?“ gumam Ailing sembari menatap ke sekitar tempat itu. Namun, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. “Ah, atau jangan-jangan terjadi sesuatu padanya.“
Kini ia pun bergegas mencari Pangeran Song di sekitar rumah tersebut. “Suamiku, di mana kamu?“ teriak Ailing.
Dia memang sengaja memanggil Pangeran Song dengan kata 'suamiku' karena ia tak mau para tetangga ataupun orang desa tahu kalau mereka adalah orang-orang dari kerajaan.
“Ya, ada apa?“ sahut Pangeran Song dari bagian depan rumah tersebut.
Langsung saja Ailing yang saat ini berada di salah satu kamar pun bergegas kembali ke ruang tamu. “Kamu baru dari mana?“ tanyanya pada Pangeran Song yang saat ini sedang duduk di ruang tamu.
“Kenapa kamu tidak memanggil 'suamiku' lagi, sepertinya aku mulai terbiasa dengan itu,” canda Pangeran Song.
'Sabar … sabar, ingat dia ini orang yang tadi menyelamatkanmu,' batin Ailing sembari mengelus dada.
Sementara itu saat ini Pangeran Song melihat tingkah Ailing itu dari ujung matanya. 'Apa yang gadis konyol ini pikirkan,' batinnya sambil menahan tawa.
“Sudahlah jangan membahas ini lagi. Ini ada makanan, kamu cepatlah makan,” ucap Ailing sembari membuka rantang berisi makanan yang ia bawa.
'Jadi dia benar-benar berniat memberiku makan,' batin Pangeran Song sambil memandangi wajah Ailing yang saat ini sedang berbicara.
“Walaupun tidak seenak makanan di istana, tapi ini tetap layak dimakan kok.
Aku jamin ini bersih dan aman jadi kamu jangan khawatir,” lanjut Ailing sembari menyendok dan kemudian menyodorkannya ke bibir Pangeran Song.
Melihat hal itu, Pangeran Song pun membuka mulutnya dan kemudian melahap makanan yang Ailing sodorkan. Dan ketika tatapan mereka beradu, tiba-tiba Ailing tersadar dengan apa yang dilakukannya.
'Ck, apa sih yang aku lakukan? Kenapa malah menyuapinya? Kamu pikir dia ini siapa? Xin Ya?' batin Ailing dengan wajahnya yang berubah bersemu karena Pangeran Song terus menatap matanya.
Kemudian Ailing pun kembali berbicara untuk memecah kecanggungan ini. “Kamu baru dari mana?“ tanyanya.
“Aku berjalan-jalan di sekitar sini,” jawab Pangeran Song setelah menelan daging asap yang tadi disodorkan oleh Ailing.
“Apakah kamu pernah datang ke sini sebelumnya?“ tanya Ailing dengan semangat.
“Tidak.“
__ADS_1
“Apa kamu tahu tentang daerah ini?“ Ailing kembali bertanya.
“Tidak banyak.“
“Tidak banyak?“ Ailing mengernyitkan keningnya. “Kalau begitu, apakah daerah ini sudah tercatat di peta kerajaan?“
“Sudah,” jawab Pangeran Song dengan singkat.
Tiba-tiba saja Ailing menyodorkan sendok yang ada di tangannya. “Kamu ingin makan sendiri atau—”
“Tanganku terluka,” sela Pangeran Song.
“Tapi kan yang terluka yang kiri,” protes Ailing sembari menatap bagian yang terluka.
“Tidak bertanggung jawab,” gumam Pangeran Song sembari mengambil sendok dari tangan Ailing.
Seketika Ailing kembali merebut sendok di tangan Pangeran Song. “Oke-oke, aku suapi. Kalau perlu akan aku suapi 24 jam non stop,” selorohnya.
“Non stop?“ Pangeran Song tentu saja tak mengerti maksud kalimat Ailing.
Ailing terperanjat. 'Ah, aku keceplosan,' batinnya.
'Jadi dia benar-benar ingin membuka usaha,' batin Pangeran Song yang tadi sengaja datang ke danau untuk melihat apa yang dilakukan Ailing. Awalnya Pangeran Song sempat terpesona ketika melihat Ailing ikut bekerja tanpa canggung bersama para wanita di desa itu. Hingga akhirnya ia mendengar percakapan antara istrinya dan pelayan di tempat Tabib Fang itu.
“Kenapa, apa kamu ingin membuka usaha di sini?“ tanya Pangeran Song balik.
'Ah, kenapa dia bisa menebak dengan tepat?' batin Ailing sembari menyendok makanan untuk Pangeran Song. 'Tapi aku tidak boleh terjebak,' tekadnya di dalam hati.
“Iya, tentu saja,” jawab Ailing sembari menyodorkan sendok.
“Untuk apa?“ tanya Pangerang Song lagi lalu melahap makanan di sendok tersebut.
Ailing mengembangkan senyumnya. “Tentu saja karena aku ingin memiliki uang tabungan. Jadi jika ada masalah di kediaman, maka aku bisa membantu. Lagi pula jika membuka usaha di sini, ini bisa menjadi lapangan pekerjaan untuk penduduk desa ini,” jawabnya dengan sikap sok bijak.
'Dasar wanita konyol, beraninya dia ingin menipuku,' batin Pangeran Song yang tadi sudah mendengar pembicaraan Ailing dan Jiang yang isinya ingin menjadi wanita mandiri dan bisa lebih sukses dari wanita-wanita kerajaan. Dan itu artinya Ailing akan mempunyai kesempatan untuk meninggalkan dirinya.
“Aku tidak menyangka otak kecil istriku bisa memikirkan hal bijak seperti itu,” komentar Pangeran Song.
'Dia ini mengejek atau memuji, dasar lidah pisau,' gerutu Ailing di dalam hati.
__ADS_1
“Terima kasih pujiannya, Pangeran,” sahutnya sembari menarik paksa garis bibirnya agar tersenyum.
“Lalu, usaha apa yang ingin kamu lakukan di sini?“ tanya Pangeran Song sembari menuang air ke dalam cangkir yang ada di dekatnya.
“Aku ingin membuat krim kecantikan,” jawab Ailing dengan mata berbinar. “Jika kamu bisa membantuku mencarikan jalan untuk mendapatkan bahan-bahannya dan menanam modal, aku yakin aku tidak akan merugikan kamu.“
Pangeran Song pun mengangkat cangkir di tangannya dan menyesapnya dengan tenang. “Aku bisa melakukan itu. Tapi untuk membuka usaha yang berhubungan langsung dengan kesehatan, kamu memerlukan nama yang sudah terkenal. Kamu tidak bisa memulainya dari bawah.“
'Tidak bisa memulainya dari bawah? Ck, ternyata di zaman ini tidak jauh berbeda dengan di dunia modern,' batin Ailing sembari mengerutkan dahinya.
“Tapi jika aku memulainya dari usaha lain yang tidak berhubungan dengan kesehatan, apakah itu bisa?“
“Bisa,” jawab Pangeran Song sembari menatap Ailing dari ujung matanya.
Ailing lalu mengetuk-ngetukan jarinya di meja. “Ah, aku tahu!“ serunya.
'Apa yang ingin dia lakukan?' batin Pangeran Song sembari menatap ekspresi Ailing dari ujung matanya.
Tiba-tiba Ailing berdiri. “Aku akan sukses! Sukses! Hahaha!“ teriaknya.
“Konyol,” gumam Pangeran Song sembari menggeleng pelan melihat tingkah Ailing.
**
Keesokan harinya.
Saat ini Ailing dan Pangeran Song baru saja sampai di kediaman. Mereka yang baru saja turun dari kereta langsung disambut oleh Xin Ya.
“Salam untuk Pangeran Perang dan Permaisuri Pangeran Perang,” ucap Xin Ya seperti yang seharusnya.
“Ya,” sahut Pangeran Song sembari melepaskan tangan Ailing yang sempat ia pegang karena membantunya turun dari kereta.
Ailing yang melihat ekspresi resah Xin Ya pun langsung maju selangkah. “Ada apa?“ bisiknya.
Xin Ya pun segera balas berbisik, “Itu Nyonya, gawat. Laki-laki yang waktu itu di tempat judi, dia ter—”
“Selamat datang Paman, Bibi,” ucap seorang laki-laki yang baru saja muncul.
'Suara ini ….' Ailing segera menoleh ke sumber suara tersebut.
__ADS_1
'Dia!' Mata Ailing membola.