
Sepuluh menit berlalu. Saat ini Ailing dan Pangeran Song sudah sampai di kediaman Song. Dan masih seperti ketika Ailing dibawa keluar dari tempat judi, saat ini Pangeran Song kembali memanggul Ailing ke arah taman purnama.
“Lepas, turunkan aku!“ teriak Ailing di tengah-tengah perjalanan mereka.
Tentu saja hal itu menjadi tontonan para pelayan dan juga penjaga kediaman Song. Semua orang mengintip dari tempatnya masing-masing. Hanya Xin Ya yang terus berjalan mengikuti Pangeran Song dan Ailing. Namun, tiba-tiba langkah Xin Ya terhenti ketika Jongki menarik tangannya.
“Mau ke mana kamu?“ tanya Jongki dengan tatapan dinginnya.
“Aku harus menyelamatkan Putri Ailing. Bagaimanapun juga dia Nyonya dan aku nan—”
Merasa terlalu berisik akhirnya Jongki pun segera memukul tengkuk Xin Ya, hingga membuat pelayan kepercayaan Ailing itu ambruk.
“Dasar, wanita memang menyusahkan,” gerutu Jongki yang kemudian menyeret tubuh Xin Ya dan memberikannya pada pelayan yang mengintip tak jauh dari mereka.
Sementara itu, saat ini Pangeran Song dan Ailing sudah sampai di kamar mereka. Dengan kasar Pangeran song menurunkan tubuh Ailing di atas ranjang.
“Ishhh,” desis Ailing ketika merasakan tubuhnya seperti dibanting.
“Apa yang kamu lakukkan,“ protes Ailing sembari mencoba bangun, tetapi langsung saja terhenti karena Pangeran song yang kini sudah mengungkung tubuhnya dari belakang.
“Minggir!“ teriak Ailing sembari mencoba memberontak.
Namun bukannya melepaskan Ailing, Pangeran Song justru mengalihkan tangan kanannya untuk menyusuri perut istrinya itu.
“Hah, dia mau apa? Jangan bilang kalau dia mau begituan,” batin Ailing sembari memejamkan matanya.
“Apa kamu tahu apa kesalahan kamu?“ bisik Pangeran Song.
“Aku tahu, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Ailing dengan tangan yang bergetar karena terus mencoba menyangga tubuhnya di bawah tekanan tubuh Pangeran Song agar ia tidak benar-benar terkunci.
“Katakan apa kesalahan kamu!“ pinta Pangeran Song.
__ADS_1
“Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Apa benar malam ini aku harus melakukan itu dengan suami kampret ini,” batin Ailing yang mencoba mencari sesuatu yang bisa menolong dirinya dari cengkraman Pangeran Song.
“Tidak menjawab?“ tekan Pangeran Song.
Namun tiba-tiba saja Ailing melepaskan kekuatan tangannya, hingga akhirnya ia tengkurap di ranjang.
“Kenapa diam saja, bukankah ini tujuan kamu? Ayo!“ ucap Ailing dan kemudian berbalik, hingga akhirnya mereka berdua saling berhadapan.
“Jadi kamu mencoba merayuku?“ ejek Pangeran Song.
“Merayu?“ Ailing tersenyum sinis.
“Bukan begitu caraku merayu. Akan aku tunjukkan yang namanya rayuan,” ucap Ailing sembari bangun dari posisinya dan kemudian terbalik mendorong tubuh Pangeran Song, hingga membuat suaminya itu berada di bawah kendalinya.
Ailing merendahkan tubuhnya hingga membuat dada mereka saling bersentuhan. “Dia pasti impoten kalau tidak bereaksi dengan ini,” batinnya.
“Dia benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Wanita seperti apa dia ini sebenarnya,” pikir Pangeran Song sembari terus menatap ekspresi wajah Ailing yang berubah sangat bergairah.
Kemudian Ailing pun menatap Lekat mata tajam yang tadi sempat membuatnya ketakutan. Perlahan ia menyatukan bibir mereka. Sedangkan tangannya kini menarik tali kelambu ranjang tersebut. Kain kelambu pun tertutup, dan ….
Sreet! Perlahan tapi pasti Ailing menalikan tali tersebut pada kedua tangan Pangeran Song, mencoba mengunci tangannya.
Sementara itu bibirnya terus mencumbu bibir tipis Pangeran Song untuk menutupi apa yang sedang dilakukannya saat ini.
“Akhirnya selesai,” batin Ailing yang kemudian melepaskan pagutannya.
Sebuah senyum menyeringai muncul di wajahnya. “Sayangku, beginilah caraku merayu,” ucapnya sembari menggerakkan tangannya untuk menyingkap baju bagian dada Pangeran Song.
Ia kemudian dengan jahil menyentuh dada Pangeran Song, lalu mengusap pelan bagian tersebut menyusurinya hingga ke bagian perut. “Kamu tahu, jika di dunia modern kamu akan jadi artis terkenal dengan wajah dan perut sebagus ini,” ucap Ailing sembari bermain-main dengan perut sixpack suaminya itu.
“Akan ada banyak wanita yang mengantri mendekati kamu untuk bisa mengelus perut seperti ini,” ucapnya sambil mencubit kecil perut menggoda itu.
__ADS_1
“Oh ya?“ sahut Pangeran Song sembari tersenyum tipis menatap ekspresi wajah Ailing yang tiba-tiba bersemu.
“Tentu saja iya, tapi sayangnya wajah dan perut kamu tidak akan bisa menjebakku karena aku tidak mau terikat apa pun.“ Ailing kembali ke mode normalnya. Ia kemudian turun dari tubuh Pangeran Song.
Melihat hal itu Pangeran Song pun mengetikan dahinya ia mencoba menarik tangannya yang saat ini terikat di ranjang tersebut.
“Tidak perlu terburu-buru, nanti akan aku suruh Jongki melepaskan kamu, jika aku ingat,” ucap Ailing sembari turun dari ranjangnya dan kemudian melangkah meninggalkan kamar itu begitu saja.
“Dasar, kucing nakal,” ucap Pangeran Song yang kemudian dengan sekali hentakan tangannya, kain yang mengikat pergelangan tangan pun langsung robek.
“Tidak boleh ada orang lain yang melihat tingkahnya seperti itu,” batin Pangeran Song sembari tersenyum menatap langit-langit ruangan tersebut.
Di sisi lain, saat ini Ailing tengah berjalan dengan cepat menyusuri lorong di kediaman tersebut. Namun terlihat suasana di kediaman itu berubah sepi, hingga akhirnya ia melihat seorang pelayan yang tengah membawa sebuah lentera di tangannya.
“Apa kamu tahu di mana Xin Ya dan semua pelayan?“ Ailing bertanya.
“Pelayan utama Xin Ya sedang ada di kamarnya. Sedangkan yang lainnya saat ini sedang pergi keluar untuk menikmati festival musim semi kali ini,” jelas pelayan tersebut sembari terus menundukkan kepalanya karena tak mau terlibat dengan apa yang dilihatnya saat ini (dandanan Ailing yang berantakan).
“Hiss ..,” desisnya ketika sadar melupakan festival tahunan tersebut. Kemudian Ia pun kembali menatap ke arah pelayan tersebut. “Kalau begitu tolong kamu panggilkan Xin Ya, suruh dia datang ke sini.“
Pelayan tersebut pun mendongakkan wajahnya. “Baik Nyon—” Pelayan tersebut menghentikan kalimatnya dengan tiba-tiba. Matanya terus saja menatap ke belakang Ailing.
“Apa yang dia lihat di belakangku?" batin Ailing yang kemudian berbalik. Seketika matanya membulat. Segera ia mundur selangkah dan kemudian ….
“Apa kamu tidak ingin mencariku?“
Ailing menelan ludahnya. “Aku harus kabur,” batinnya dan kemudian mundur selangkah lagi.
“Mau ke mana, Bukankah kita belum selesai?“
“Tidak!“ teriak Ailing.
__ADS_1