Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Drama


__ADS_3

Laki-laki di depan Ailing itu ambruk ketika sebuah pedang menusuk punggungnya.


Seketika mata Ailing terbelalak melihat hal itu, ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah orang yang saat ini sedang memegang pedang yang berlumuran darah tersebut.


“Apa dia sengaja?" batinnya sembari menggenggam kuat anak panah yang ada di tangannya.


“Ailing kamu tidak apa-apa?" tanya laki-laki tersebut sembari menatap Ailing dengan tatapan hangat, penuh perhatian.


Namun tentu saja Ailing hanya diam, ia tak mungkin tertipu dengan senyuman di wajah tampan itu. “Aku tidak boleh ceroboh,” batinnya yang menyadari kalau keadaan ini lebih rumit dari kelihatannya.


Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah penjahat yang saat ini sudah terkapar di tanah. Mata penjahat tersebut masih terus terbuka dan tak berkedip setelah sekian detik lamannya. “Dia sudah mati,” gumam Ailing sembari menundukkan tubuhnya dan dengan tenang melepas penutup wajah laki-laki yang sempat dikejarnya tadi


“Dia pelayan yang bertugas di dapur," batin Ailing sembari menggertakan giginya.


Laki-laki yang masih memegang pedang berumuran darah itu pun segera mendekati Ailing. Tangannya terulur ingin merangkul tubuh wanita yang ada di depannya itu. Namun, tiba-tiba tubuh Ailing ditarik kebelakang seseorang.


“Apa yang terjadi?“ Suara bariton yang khas itu membuat Ailing langsung menoleh.


Sebenarnya tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa laki-laki yang saat ini sedang memeluk pinggangnya. “Pas sekali dia di sini,” batinnya.


“Ada orang yang ingin membunuh aku dan pangeran Rong Ai. Aku mengejarnya dan baru menanyainya, tapi ….“ Ailing tak meneruskan kalimatnya. Ia kemudian melemparkan anak panah yang digunakannya sebagai senjata tadi ke arah tubuh pelayan yang saat ini tergeletak tak bernyawa di tanah.


“Tadi aku datang ke sini dan melihat hal itu terjadi, jadi aku langsung menyerang orang ini. Aku lihat dia akan menyerang Ailing lagi, jadi aku terpaksa membunuhnya," sahut orang yang saat ini masih memegang pedang berlumuran darah.


Ailing pun menatap ke arah laki-laki yang sedang berbicara itu, tangannya mengepal kuat mendengar hal itu. Laki-laki yang tadi memeluk pinggang Ailing pun kini berganti memegang telapak tangan Ailing dan membuat jari jari mereka saling mengisi.


“Eh, kenapa dia melakukan hal ini?" batin Ailing yang terkejut karena tiba-tiba Pangeran Song melakukan hal tak terduga itu.


“Yang terpenting adalah dia selamat. Masalah pelayan ini, aku akan menyelidikinya lebih lanjut," ucap Pangeran Song sembari menatap pelayan tersebut.


Dan sesaat kemudian ia mengangkat pandangannya, menatap ke arah laki-laki yang menjadi penyelamat hari ini. "Dan sepertinya kita harus berterima kasih kepada Pangeran Han karena sudah menyelamatkan kamu hari ini. Jika bukan karena dia, mungkin saja kamu sudah celaka," ucap Pangeran Song sembari menggenggam kuat jari jemari Ailing, agar istrinya itu tidak berbicara sembarangan.

__ADS_1


“Apa dia menyuruhku untuk tutup mulut? Ada apa sebenarnya ini?“ batin Ailing. “Tapi baiklah, jika ini berhubungan dengan masalah kerajaan, aku lebih baik mengikuti permainan laki-laki kampret ini.“


“Benar, maafkan aku yang tadi agak berlebihan. Aku tidak bermaksud apa pun tadi. Dan terima kasih karena telah menyelamatkanku hari ini,” ucap Ailing dengan sopan.


“Tidak apa-apa Putri Ailing, bukankah aku sudah berjanji akan menolongmu saat kamu dalam bahaya,” jawab Pangeran Han sembari menatap Ailing dengan lembut, sama seperti cara menatapnya di jembatan malam itu.


“Taik! Aku ingin muntah rasanya. Bagaimana dia bisa membuat tatapan seperti itu. Tatapan itu seratus persen palsu, tapi kelihatan seperti nyata. Ck, kalau dia hidup di zaman modern, dia pasti sudah bisa menjadi Leonardo De Caprio versi korea,” gerutu Ailing di dalam hati, tetapi ia terus menunjukkan ekspresi tenang di wajahnya.


Tak lama kemudian terlihat seorang pengawal kerajaan datang ke tempat itu dan disusul dengan pangeran Rong Ai yang berjalan di belakangnya sendiri mengayun-ayunkan kipasnya seolah cuaca hari itu sedang panas.


“Wah, Kakak kedua kamu tepat sekali datang ke sini,” ucap Pangeran Rong Ai.


Pangeran Han pun memberikan pedangnya pada pengawal kerajaan yang baru saja datang. Sesaat kemudian ia dengan Santai mengambil sapu tangan yang diberikan oleh pengawal dan mengusap tangannya sampai bersih, seolah baru saja memegang benda yang menjijikan.


“Iya, Adik, aku baru saja tiba dan mendengar ada keributan, jadi langsung saja aku masuk dan melihat kalau Putri Ailing sedang dalam bahaya,” sahut Pangeran Han dengan tenang.


Lalu Pangeran Rong Ai pun menutup separuh wajahnya menggunakan kipas. “Aduh, Kakak jangan memanggilnya Putri Ailing lagi. Dia sekarang adalah Bibi kita,” selorohnya.


Ailing pun langsung tersenyum aneh mendengar percakapan tersebut. “Ah, apakah selama sisa hidupku memang harus terus bermain drama seperti ini," batin Ailing yang merasa sedikit geli dan merasa aneh dengan ucapan tersebut.


Kemudian Ailing pun menoleh ke arah suaminya. "Tidak apa-apa, itu hanya panggilan. Tapi aku rasa suamiku tidak akan salah paham dengan hal ini. Benarkan suamiku?“ tanya Ailing pada Pangeran Song yang saat ini terus menatap ke arah Pangeran Han dengan ekspresi kaku.


Mendengar pertanyaan Ailing tersebut, langsung saja Pangeran Song pun menoleh. “Dia memanggilku suami? Panggilan yang cukup bagus,” batin Pangeran Song.


“Ya, tentu saja. Aku rasa tidak akan ada kesalahpahaman tentang hal ini," jawab Pangeran Song sembari menarik garis bibirnya dan menatap Ailing lekat.


Ailing pun langsung menundukkan wajahnya dan berpura-pura malu karena mendapat tatapan seperti itu. “Ini menjijikkan tapi bagaimanapun juga aku harus melanjutkan akting ini sampai selesai.


Kemudian tawa pun muncul dari bibir Pangeran Han. “Ah, aku sangat senang jika hubungan kalian sangat baik seperti ini,” ucap Pangeran Han sembari menatap Pangeran Song dan Ailing bergantian.


“Tentu saja,” sahut Pangeran Song dengan tenang.

__ADS_1


Beberapa menit mereka terus mengobrol sembari melangkah menjauh dari tempat itu, sedangkan mayat itu sudah diurus oleh Jongki dan anak buahnya untuk diperiksa.


Setengah jam lebih berlalu dengan sandiwara yang memperlihatkan kalau mereka semua sangatlah akur. Bahkan Pangeran Han pun sempat melucu dan yang lainnya pun berpura-pura tertawa untuk mengukuhkan suasana penuh kepalsuan itu.


“Apa ini masih lama?“ batin Ailing sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.


Ya, mereka saat ini sedang duduk-duduk di gazebo taman di dekat kolam yang sedang di buat oleh Ailing.


“Ada apa Bibi?“ tanya Pangeran Rong Ai yang memperhatikan tingkah Ailing.


“Dia pasti sengaja ingin mengeksposku,” batin Ailing sembari mengukir kembali senyumnya.


“Tidak apa-apa Pangeran, aku sedang berpikir saja kapan ikan yang aku pesan akan sampai,” jawab Ailing sembari menatap pelayan yang sedang bekerja meletakkan batu-batuan dan menata tempat di sekitar kolam tersebut.


“Ikan apa yang kamu pesan Bibi?“ tanya Rong Ai.


“Aku memiliki ikan Xio Tiang, aku akan menyuruh mengirimnya ke sini,” sahut Pangeran Han.


“Apa itu bisa di masak?“ tanya Ailing dengan cepat.


Langsung saja Pangeran Han tersenyum canggung. “Xio Tiang adalah ikan tercantik di negeri ini,” bebernya.


“Cih, percuma cantik kalau tidak bisa bikin kenyang,” batin Ailing.


“Ah, tidak perlu kalau begitu, aku takut tidak bisa menjaganya.“


“Memangnya ikan apa yang akan kamu pelihara Bibi?“ tanya Pangeran Rong Ai.


Ailing lalu melirik ke arah Pangeran Song yang ada di sampingnya dan bersandar di lengannya. “Itu ikan ….“


“Hah!“ Mata Pangeran Rong Ai membola.

__ADS_1


__ADS_2