Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Promosi Gratis


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Saat ini Ailing baru saja selesai menandatangani perjanjian sewa salah satu toko yang ada di pusat kota.


“Akhinya selesai,” ucapnya sembari meregangkan tubuhnya di depan toko yang baru saja disewanya itu.


“Nyonya, selamat! Xin Ya benar-benar kagum dengan kehebatan Nyonya,” ucap Xin Ya yang baru saja keluar dari toko tersebut sembari membawakan surat perjanjian sewa toko tersebut.


Ailing pun dengan gaya sok sombongnya kini bersedekap di depan Xin Ya yang saat ini terlihat sedang terkagum-kagum pada dirinya. “Tentu saja aku bisa. Aku pasti mendapatkan apa yang aku inginkan,” ujarnya dengan penuh percaya diri.


“Wah wah wah, tidak menyangka akan bertemu dengan Nyonya dari kediaman Pangeran Perang di sini,” ucap seorang gadis dari arah lain.


Dua gadis berpenampilan anggun dan tentunya berkelas tersebut kini melangkah dengan tenang ke arah Ailing.


“Nyonya, lebih baik kita segera pergi. Sepertinya Nona Chungli ini tidak bermaksud baik pada kita.“ Xin Ya memperingatkan.


“Tentu saja dia tidak bermaksud baik, pasti aneh kalau dia melakukan hal itu,” sahut Ailing dengan suara yang memang sengaja dikeraskan.


Sedangkan Chungli dan Xian, putri perdana menteri itu terlihat menekuk wajah mereka. Ya, memang tidak aneh kalau mereka tersinggung.


“Apa maksud kamu Nona Ailing, sebagai permaisuri Pangeran Perang yang terhormat kamu tidak pantas berpikir dan bersikap buruk seperti itu,” kecam Xian yang tentu saja sangat ingin menjatuhkan Ailing yang telah merebut pria pujaan hati sahabatnya.


“Apakah mereka pikir seorang istri pangeran itu bukan sejenis manusia? Bahkan seorang ratu saja harus memiliki sifat lebih kejam dari iblis kalau mau tetap hidup, dasar konyol mereka ini,” komentar Ailing di dalam hati.


Kemudian dengan perlahan Ailing menutup mulutnya dengan kain lengannya yang menjuntai, sesuatu yang dia pelajari dari gadis lemah lembut dan pemalu di era ini. “Ah maaf, aku dan pelayanku baru saja membicarakan orang lain, kami tidak bermaksud menyinggung kalian,” ucapnya dengan lembut dan tidak bertenaga.

__ADS_1


Tentu saja mereka tahu kalau saat ini Ailing tengah mengolok-ngolok mereka, tetapi mereka tidak sekonyol itu untuk langsung terjebak dalam lelucon Ailing.


“Ah, maafkan kami Putri. Kami benar-benar sudah salah menangkap maksud perkataan Anda, mungkin kami agak bingung kali ini,” sahut Chungli yang ikut bertingkah lemah seperti Ailing.


“Dia benar-benar punya kemampuan, pasti akan seru setelah ini,” batin Ailing sembari tersenyum kecil.


“Jadi kalian mengisyaratkan kalau aku dengan sengaja membuat kalian bingung? Ah, maafkan aku kalau begitu, aku benar-benar tidak ingin merusak reputasi Pangeran Song dengan hal ini,” ucap Ailing yang memang sengaja mengatakan hal itu dengan lebih keras daripada sebelumnya.


Ya, tujuan utamanya memang untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. “Hayo … bagaimana kalian akan menghadapi ini,” batinnya yang cukup puas melihat ekspresi resah di wajah dua gadis yang sempat ingin mencari masalah dengannya itu.


Dan seperti rencana utama Ailing, kini orang-orang di sekitar tempat itu benar-benar menatap ke arah mereka, bahkan beberapa dari mereka membuat semakin banyak orang berkerumun untuk menyaksikan kejadian itu.


Sedangkan Xin Ya yang melihat hal ini langsung mengerutkan dahinya. “Apa rencana Nyonya kali ini? Apakah aku harus mengirim orang untuk mengatakan hal ini pada pangeran?“ batin Xin Ya yang memang mendapat perintah dari Pangeran Song agar segera mengabarinya jika Ailing membuat masalah.


“Putri Ailing jangan mengatakan hal seperti itu, kami benar-benar datang ke sini hanya untuk menyapa Anda,” sahut Chungli yang kini semakin resah karena reputasinya sedang dipertaruhkan.


Jika kalian mau melihat-lihat, dua hari lagi aku akan membuka toko ini,” cicit Ailing lalu melirik ke sekitar tempat itu.


“Ya, begitu baru benar,” batin Ailing ketika mendengar orang-orang yang saat ini mengerumuni mereka tengah membicarakan toko di belakang Ailing.


Ini memang adalah tujuan utamanya, dia ingin mendapatkan promosi gratis dari mulut warga sekitar tempat itu.


“Di toko ini, nantinya aku akan menjual alat-alat yang akan menunjang penampilan para wanita. Dan juga, pakaian yang kami jual akan beragam harganya, mulai dari harga merakyat hingga harga bangsawan.

__ADS_1


Intinya semua orang akan bisa memperoleh pakaian dari tempat ini sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing,” ucap Ailing dengan lantang.


“Dan juga, kami akan membuat minuman-minuman kesehatan yang telah direkomendasikan oleh tabib dengan harga yang terjangkau untuk semua kalangan!“ teriak Ailing makin kencang di bagian ini.


Warga pun langsung heboh mendengar ucapan Ailing ini, apalagi kata 'terjangkau untuk semua kalangan' ini sangatlah menarik bagi mereka. Semua orang terus berbicara dengan orang-orang di sekitarnya, sedangkan Chungli dan Xian kini merasa kesal karena sadar kalau keberadaan mereka berdua sedang dimanfaatkan oleh Ailing.


Tangan mereka mengepal, tapi bibir mereka terkunci karena bagaimanapun juga jika ada sesuatu yang keluar dari mulut mereka dan terasa tak pantas, pasti itu akan menodai reputasi mereka sebagai keluarga bangsawan.


“Jadi, apakah kalian masih akan menyalahkanku karena ada di tempat ini?“ tanya Ailing yang kembali berpura-pura lemah lembut.


Langsung saja Chungli dan Xian menggoyang-goyangkan tangan mereka. “Tidak tidak kami tahu, sepertinya kami memang salah berpikir. Kami janji kami pasti akan datang besok lusa,” ucap Xian.


Ailing pun menurunkan tangannya dan kemudian tersenyum hangat. “Ah, terima kasih, kalian berdua memang pantas disebut sebagai putri dari kerajaan ini. Aku akan menunggu kalian di sini besok lusaz semoga kalian tidak akan melupakan janji ini.“


“Baik-baik, kami akan berjanji,” sahut Chungli sembari membalas senyum Ailing dan kemudian menarik tangan Xian untuk membawanya pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Ailing yang ada di sana langsung tersenyum penuh kemenangan, dia menepuk nepuk tangannya (seolah baru saja membersihkan tepung di telapak tangannya) beberapa kali. “Mau melawanku dengan mental seperti itu, kalian masih bayi saat aku sudah memanjat dinding,” gumamnya.


Sesaat kemudian ….


“Nyonya,” panggil seorang laki-laki dari arah belakang Ailing.


Seketika Ailing pun berbalik. “Hei, aku tidak melakukan apa pun,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Jongki pun menghela napas panjang melihat tingkah Ailing tersebut. “Pangeran menunggu Anda di seberang,” sahutnya sembari melirik ke sebuah tempat makan yang ada di seberang jalan.


“His … apa dia akan memarahiku karena mengganggu kekasih kecilnya,” desis Ailing sembari memberi kode pada Xin Ya.


__ADS_2