
Melihat ekspresi Ailing yang terkejut ketika mendengar kata penggal dari bibirnya, kemudian Pangeran Song pun melepaskan cengkramanya dan dengan sebuah hentakan kasar Ailing pun terjungkal.
Uhuk-uhuk-uhuk! Ailing berbatuk-batuk. Ia berusaha menghirup napas secepat mungkin agar bisa mengisi kantong paru-parunya yang sempat hampir kehabisan oksigen.
“Dengar, jika kamu masih ingin berkata kalau kamu adalah Ailing, maka kamu harus tahu kalau Putri Ailing yang aku nikahi walaupun sepintar dan sebebas apa pun dia, dia tidak akan pernah sampai di kerajaan Majarata.
Dan orang dari kerajaan Majarata tidak pernah sekali pun menginjakkan kakinya di kerajaan ini,” ujar Pangeran Song.
Ailing menelan ludahnya. Ya, dia memang gegabah karena hanya memperdulikan di mana ia bisa mendapatkan ikan gurame saja. Dia pikir dengan cara mencari kerajaan yang berada di kawasan Asia Tenggara hanya lewat peta yang ia baca dari perpustakaan saja, ia bisa mendapatkannnya tanpa memikirkan resiko lainnya.
Kali ini Ailing sadar kalau dirinya sudah tidak bisa mengelak lagi.
“Apa yang harus aku katakan pada dia? Apa dia akan mempercayaiku kalau aku mengatakan aku adalah orang yang bereinkarnasi ke dunia ini. Tapi jika tidak mengatakan hal seperti itu, pasti aku akan dianggap sebagai penipu atau mata-mata kerajaan lain.
Dan benar perkataannya, jika aku dituduh sebagai mata-mata maka hukuman yang aku terima pasti adalah hukuman mati,” monolog Ailing di dalam hati.
Kemudian Ailing pun kembali duduk. Dia bersila, menegakkan punggungnya, mengangkat pandangannya dan menatap lurus pada Pangeran Song. “Baik, aku akan mengatakan semuanya,“ ujarnya.
Pangeran Song pun terus diam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Ailing.
“Percaya atau tidak, sebenarnya aku ini orang dari masa yang akan datang,“ ucap Ailing dengan tenang.
“Ekspresi wajahnya berubah tenang, apa ini benar dia yang sesungguhnya,” batin Pangeran Song sembari terus mengamati ekspresi wajah Ailing.
“Di abad dua puluh aku adalah pebisnis sukses dan aku ditakdirkan untuk mati dengan mengenaskan. Setelah itu jiwaku kembali ke masa ini dan masuk ke dalam tubuh Putri Ailing.
Ya, sebenarnya Putri Ailing sudah mati. Dia bunuh diri saat kalian menikah,” beber Ailing masih dengan ekspresi yang sama.
“Apa dia mengatakan tentang saat dia ambruk di tengah pernikahan,” batin Pangeran Song yang terus mencoba mencerna dan mencocokkan apa yang terjadi.
__ADS_1
“Jadi kamu berkata kalau kamu bukan Putri Ailing?“ tanya Pangeran Song sembari terus memperhatikan setiap gerakan Ailing.
“Ya, secara jiwa namaku Aira, tapi tubuh ini tetap milik Putri Ailing. Aku di sini untuk melanjutkan hidupnya dan juga hidupku sendiri,” jawab Ailing dengan tegas.
Sesaat kemudian tiba-tiba Jongki muncul di belakang Ailing. Dengan cepat ia menyergap dan menahan tangan Ailing ke belakang. Ailing pun terjungkal, kepalanya menempel pada lantai sedangkan wajahnya kini menatap ke arah Pangeran Song dengan ekspresi dingin.
“Tahan dia,” perintah Pangeran Song sembari terus menatap wajah wanita yang menikah dengannya beberapa waktu lalu itu.
“Dengar, aku sudah berkata jujur. Beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya!“ teriak Ailing sembari berdiri karena diseret oleh Jongki.
“Jika kamu memasukkan aku ke penjara, kamu adalah pengecut. Kamu tidak pantas disebut sebagai pahlawan! Hanya pengecut yang tidak mau melihat kenyataan!“ teriak Ailing ketika Jongki menyeretnya untuk keluar dari ruangan tersebut.
“Berhenti!“ teriak Pangeran Song.
Kemudian Jongki pun menghentikan seretannya, tetapi tangannya terus menahan tangan Ailing.
“Ya, kamu pengecut jika kamu tidak mau memberiku kesempatan. Aku yakin kamu bukan orang yang sempit sampai tidak bisa menerima hal-hal aneh di dunia ini,” ujar Ailing dengan nada menantang.
Dia tahu jikalau tidak seperti ini, maka dia tidak akan punya kesempatan. Dan mungkin saja hidupnya akan berakhir hari ini.
Pangeran Song pun tersenyum sinis. “Jika kamu mau berlutut dan meminta ampun padaku, maka aku akan membebaskan kamu dan kamu tidak perlu menjelaskan apa pun,” ucapnya.
“Aku tidak bodoh, jika aku mau melakukan hal itu pasti besok pagi kepalaku akan dipenggal,” batin Ailing sembari mengepalkan tangannya kuat.
“Tidak. Aku bisa membuktikan kalau aku ini adalah orang dari masa depan,” jawab Ailing dengan tegas.
Ekspresi sinis Pangeran Song pun berubah kembali menjadi dingin. “Aku beri kamu waktu sampai makan malam,” ucapnya.
Kemudian Pangeran Song pun berganti menoleh ke arah Jongki. “Bawa dia ke kamarnya, jangan biarkan dia keluar satu langkah pun dari kamarnya. Tidak ada yang boleh menemuinya,” titahnya.
__ADS_1
“Baik pangeran,” jawab Jongki yang kemudian kembali menarik tangan Ailing.
Beberapa menit berlalu, saat ini Ailing sudah masuk kembali ke dalam taman purnama, tempat di mana kamarnya berada.
“Jongki apa aku bisa bertemu dengan Xin Ya?“ tanya Ailing.
“Maaf Nyonya, tidak bisa. Pangeran Song sudah mengatakan tidak ada yang boleh menemui Anda,” jawab Jongki dengan tegas.
Ailing lalu menggigit bibirnya mendengar ucapan Jongki tersebut. “Baiklah, kalau begitu aku minta tolong beritahu saja pada Xin Ya kalau aku baik-baik saja. Dia tidak perlu khawatir, dan jangan menceritakan yang sebenarnya pada dia,” pinta Ailing.
“Baik Nyonya, saya akan melakukan seperti yang Anda inginkan,” jawab Jongki dengan tenang.
Setelah itu Jongki pun meninggalkan kamar Ailing. Sedangkan Ailing kini melangkah ke arah ranjang kamarnya. Ia melepas sepatu slop yang digunakannya dan kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut. Matanya menerawang ke awang-awang memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membuktikan ucapannya.
“Apa yang harus aku gunakan supaya aku bisa membuktikan kalau aku ini orang dari masa depan? Apa aku harus berbicara bahasa Inggris atau bahasa lain?“ gumam Ailing.
“Ah, tidak. Bisa saja dia berpikir kalau aku pernah belajar bahasa ini dari orang lain,” Ailing mematahkan pikirannya sendiri. Ia kemudian memiringkan tubuhnya. “Apa mungkin aku perlu membuat masakan dari tempatku?
Tapi kira-kira apa ya masakan yang bisa membuktikan kalau aku bukan dari zaman ini? Hamburger, pizza, atau pasta? Atau lebih baik aku membuat saja empek-empek atau rendang?“ gumamnya.
Ailing terdiam selama beberapa saat, ia terus saja mencoba memilih salah satu makanan yang seharusnya tidak bisa dibuat oleh orang-orang di zaman ini, tetapi tiba-tiba kepercayaan dirinya menghilang.
“Tidak, dia bisa saja menganggapku belajar hal ini dari kerajaan lain seperti saat aku membuat sate waktu itu. Buktinya dia juga percaya begitu saja saat aku mengatakannya,” gumam Ailing lagi.
Kemudian ia pun berbalik ke arah lain. “Apa, ayo … Ailing apa? Pikirkan sesuatu yang tidak bisa ada di zaman ini! Pokoknya sesuatu yang harusnya dia tidak tahu dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” ucap Ailing sembari memukul-mukul kepalanya.
Dan setelah lama Ailing berguling-guling untuk memikirkan hal itu, tiba-tiba matanya berbinar.
“Ah iya aku tahu!“ serunya sembari melompat dari ranjang tersebut.
__ADS_1