Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Harus Bayar


__ADS_3

Setelah itu Jongki pun keluar dan memeriksa keadaan sekitar. Sedangkan Pangeran Song saat ini mengambil panah yang terdapat kertas di ujungnya tersebut.


“Pertarungan akan segera dimulai,” gumam Pangeran Song membaca isi surat tersebut. Sesaat kemudian ia pun dengan santai membakar kertas tersebut.


“Tuan, orangnya kabur, saya akan mengejarnya,” lapor Jongki.


“Tidak perlu,” tukas Pangeran Song. “Dia adalah sekutu,” terangnya.


Jongki pun mengangguk mendengar hal itu.


“Percepat semua persiapan kita, jangan biarkan ada satu titik pun terlewat,” titah Pangeran Song.


“Baik Tuan, perintah akan dilaksanakan,” jawab Jongki dengan nada berbeda kali ini.


Setelah itu Jongki pun segera keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Pangeran Song langsung menutup bukunya. “Sepertinya buku ini akan menjadi sangat berguna,” gumamnya sembari bangun dari tempatnya dan membawa buku tersebut.


Ia pun berjalan dengan santai keluar dari ruangan tersebut. Beberapa kali ia bertemu dengan pelayan yang masih berlalu lalang, ia pun tak segan menanyakan keberadaan Ailing pada mereka.


“Dengan begini semuanya pasti akan lebih menyenangkan,” gumamnya sembari melangkah ke tempat Ailing.


Beberapa menit berlalu, saat ini Pangeran Song pun sampai di depan pintu masuk area kamar Ailing. Di sana terlihat beberapa pelayang yang sedang mengintip dari celah pintu yang memang sengaja dibiarkan agak terbuka oleh Ailing.


“Apa yang kalian lakukan?“


Suara Pangeran Song seketika membuat beberapa pelayan tersebut terkejut dan berbalik.


“Kenapa hanya diam?“ sergah Pangeran Song.


“Ampun Tuan. Kami ke sini karena mencium harum masakan yang tengah dibuat oleh Nyonya,” jawab salah satu pelayan sembari terus menundukkan kepalanya.


“Benar, Tuan,” sahut yang lainnya.


Masih dengan wajah dinginnya, Pangeran Song pun berkata, “Kalian bisa pergi.“


“Terima kasih Tuan,” jawab para pelayan tersebut kompak


Kemudian Pangeran Song pun berganti membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam area yang memang penuh dengan aroma sate dan juga beberapa makanan yang bisa dikatakan hampir mirip dengan yang ada di dunia modern.


“Ternyata benar-benar masuk, aku pikir kamu juga akan pergi bersama pelayan,” ucap Ailing tanpa menoleh sedikit pun.


Pangeran Song pun tersenyum kecil. “Bagus. Jadi pintu tadi adalah jebakanmu, untung saja aku tidak menghukum mereka yang tidak bersalah,” sahutnya.

__ADS_1


“Tenang saja, aku tidak perlu bantuanmu untuk menghukum mereka. Aku bisa melakukannya sendiri,” tukas Ailing yang saat ini sedang memasukkan kimchi dan asinan ke dalam sebuah toples.


“Xin Ya bawa masuk makanan yang ada di dalam toples ini, aku tidak mau ada yang membawa mereka pergi dengan dalih hukuman,” titah Ailing yang memang sengaja ingin menyindir Pangeran Song.


Sedangkan Pangeran Song yang saat ini sudah berada di dekat Ailing pun langsung saja duduk di salah satu kursi yang ada di sana. “Sepertinya kamu bisa memasak?“ tanyanya sembari menatap ke arah makanan yang ada di atas meja.


“Tentu saja bisa, bahkan aku ini pintar,” jawab Ailing sembari mengambil satu tusuk sate yang ada di sana dan menggigit daging sate tersebut dengan gemas.


“Pintar?“ Pangeran Song menatap Ailing. “Sejak kapan kamu bisa memasak?“ tanyanya menyelidik.


“Dari ….“


'Ah, aku hampir keceplosan,' batin Ailing yang hampir saja mengatakan kalau dia mempelajarinya dari YouTube.


“Dari?“ Pangeran Song penasaran.


“Dari kerajaan Donge,” jawab Ailing penuh percaya diri.


'Huh, untung saja aku sudah bertanya saja pada Xin Ya tadi tentang perjalanan ke mana saja yang pernah kulakukan,' batinnya sembari mengambil air lemon buatannya.


Sesaat kemudian dengan cepat Pangeran Song merebut air tersebut dan meneguknya.


Namun Pangeran Song mengacuhkan ucapan Ailing dan justru bertanya hal lain. “Dari mana kamu mendapat resep makanan-makanan ini?“ tanyanya sembari menunjuk makanan-makanan yang ada di atas meja.


'Sepertinya dia curiga. Aku tidak boleh kalah kalau begitu,' batin Ailing yang menyiapkan mental untuk berdebat dengan laki-laki tampan berstatus suaminya itu.


“Sudahlah kamu tidak perlu banyak tanya. Kamu mengintrogasiku karena ingin makan di tempatku ini 'kan?“ balas Ailing dengan sinis.


Tiba-tiba ekspresi wajah Pangeran Rong berubah. “Apa kamu pikir makananmu ini layak untuk membuatku harus melakukan semua hal yang kamu katakan itu?“


Ekspresi mengejek langsung Ailing tampilkan. “Aku tidak tahu. Tapi yang jelas makanan-makanan ini adalah makanan premium dan khusus aku buat untukku dan Xin Ya. Jika orang lain ingin makan, maka mereka harus membayarnya sesuai harga,” ucapnya.


“Jadi kamu ingin berjualan di dalam kediamanku?“ Pangeran Song mengkritik.


“Sekarang ini juga rumahku. Tapi aku tidak membeli bahan makanan ini dengan uangmu dan juga bukan pelayanmu yang membuatkan semua ini, jadi … menurutku sangat wajar jika aku mencari uang untuk ganti bahan baku dan tenagaku,” jawab Ailing dengan santai.


'Sungguh berani wanita ini,' batin Pangeran Song sembari mengepalkan tangannya.


“Baik, kalau begitu sajikan makanannya dan aku akan membayarnya sesuai harga,” tandas Pangeran Song.


Tiba-tiba saja ekspresi wajah Arumi berubah, senyum lebar ia tunjukkan saat ini. “Kamu yakin?“ tanyanya dengan mata berbinar.

__ADS_1


“Ya,” jawab Pangeran Song dengan dingin.


“Jangan menyesal kalau begitu. Aku akan membuatmu ketagihan,” ucap Ailing sembari mengedipkan sebelah matanya.


'Apa yang wanita ini katakan? Berani sekali dia menggodaku di tempat seperti ini,' batin Pangeran Song dengan wajah yang bersemu.


*Di zaman ini kata ketagihan diperuntukkan hubungan intim antara suami-istri*


Setelah itu Ailing pun dengan cekatan mengambil beberapa peralatan makan yang Xin Ya bawa dari dapur. Ia pun menyajikan masakan-masakan tersebut seperti yang ada di restoran.


Sedangkan Pangeran Rong terus mengamati setiap gerakan Ailing. 'Apa lagi yang dia sembunyikan?' batinnya karena mengingat gosip tentang Ailing yang merupakan seorang putri yang tidak berguna dan memalukan.


“Apa kamu terbiasa melayani makan orang lain?“ tanya Pangeran Song sembari menatap Ailing.


Sedangkan Ailing terus saja melakukan pekerjaannya sambil menjawab dengan santai, “Tidak juga. Aku hanya akan melayani orang-orang yang dekat denganku saja.“


'Apa dia mengisyarakan kalau kami ini dekat?' batin Pangeran Song.


Ailing yang sedang menata menu-menu untuk Pangeran Song pun tiba-tiba menghentikan gerakannya karena tersadar kalau ada yang salah dengan perkataannya. 'Duh, kenapa aku harus ngomong begitu. Jangan-jangan dia kege-eran lagi,' pikirnya.


“Tadi aku juga menyiapkan beberapa makanan untuk Xin Ya. Dan untuk kamu, ini semua karena kamu membayar masakanku. Jadi jangan sampai salah paham,” beber Ailing sembari meletakkan nasi hangat di depan suaminya itu.


“Jadi ini semua hanya karena aku membayar? Aku pikir ini semua karena kamu ingin menarik perhatianku,” goda Pangeran Song.


Langsung saja Ailing menghentikan gerakannya dan menoleh. “Lebih baik kamu bermulut tajam, dari pada sok menggoda seperti hidung belang, menjijikkan,” pungkasnya lalu melanjutkan apa yang dikerjakannya.


Hingga ….


“Silahkan dinikmati,” ucap Ailing yang sudah selesai menyiapkan makanan untuk Pangeran Song.


“Tunggu!“ ucap Pangeran Song sembari mencekal tangan Ailing.


“Apa?“ tanya Ailing yang langsung menoleh pada Suaminya itu.


“Apa kamu menyembunyikan sesuatu?“ tanya Pangeran Song dengan ekspresi serius.


Ailing menelan ludahnya. 'Apa dia tahu tentang perbedaan aku dan Ailing? Atau dia tahu tentang judi tadi? Atau mungkin dia tahu tentang surat tadi? Yang mana yang dia tanyakan?' batinnya yang mulai panik.


Kemudian Ailing dengan hati-hati membuka mulutnya. “Apa mak—”


Brak!

__ADS_1


__ADS_2