
Langsung saja semua orang terdiam ketika mendengar suara tersebut.
“Pangeran, aku yakin ini salah paham. Kakak tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu,” ucap Xuan sembari memeluk lengan Pangeran Song.
Pangeran Song langsung menatap tajam ke arah Xuan. Ia tahu betul kalau ini semua adalah rencana para wanita keluarga Perdana Menteri itu.
“Nona, tolong lepaskan tangan Anda,” pinta Jongki yang saat ini berada di belakang Pangeran Song.
Langsung saja Xuan pun menoleh pada Jongki. “Ah, kenapa pelayan ini berani bicara. Kalau suatu hari nanti aku menjadi istri Pangeran Song, aku akan langsung memintanya membuang laki-laki ini,” batinnya.
Merasa ucapannya tak dianggap oleh Xuan, Jongki pun kembali berbicara. “Nona, tolong jangan terlalu sering melempar diri pada tuan saya. Itu akan mengotori jubahnya,” ucap Jongki sekali lagi dengan ekspresi datar di wajahnya.
Mendengar hal itu Nyonya Jing pun langsung beralih mendekati Xuan dan kemudian menarik tangan Xuwan agar melepaskan lenga Pangeran Song. “Di mana otakmu,” bisiknya yang merasa malu karena tindakan putrinya itu.
“Maafkan anak perempuan saya Pangeran, dia melakukan ini karena dia terlalu peduli kepada kakaknya,“ ujar Nyonya Jing untuk menutupi rasa malu karena anaknya dikatakan sengaja melempar tubuhnya pada Pangeran Song.
Kemudian Xuan pun membungkukkan tubuhnya. “Bener Pangeran, tolong maafkan saya. Saya benar-benar ceroboh saya, kedepannya saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ujarnya.
“Baguslah kalau begitu,” sahut Pangeran Song dengan tenang.
Kemudian ….
“Ada apa ini, kenapa kalian berdiri di depan pintu?“
Suara khas tersebut langsung membuat semua orang menoleh.
“Kamu ... kenapa kamu di sini?“ tanya Xuan dengan mata yang membola.
Sedangkan Ailing yang saat ini sedang mengusap mulutnya pun membalas ucapan tersebut.
“Kenapa tidak di sini, memangnya aku harus di mana? Aku baru saja dari dapur mencari cemilan,” jawabnya dengan santai.
__ADS_1
Lalu dari dalam ruangan tersebut terdengar suara-suara yang sangat menarik itu lagi. ******* demi ******* pun terdengar makin nyaring.
“Siapa orang yang ada di dalam aula leluhur?“ tanya Ailing dengan ekspresi polos di wajahnya. Ya, ia memang sengaja menunjukkan ekspresi polos tersebut agar pasangang ibu dan anak itu makin panik.
Langsung saja perdana menteri menendang pintu tersebut. dan ….
“Bibi Ruan,” ucap Xuan yang benar-benar terkejut melihat wanita yang saat ini sedang bertelanjang bulat di dalam aula leluhur.
Langsung saja Nyonya Jing berlari ke arah adik kandungnya, untuk menutupi tubuh polos gadis yang masih seusia Ailing itu. Giginya gemretak sembari menutupi tubuh polos adiknya menggunakan kain yang baru saja diambilkan oleh pelayan.
Kemudian Ailing pun ikut melangkah ke arah Nyonya Jing. “Aduh Bibi, apa yang kamu lakukan,” ucapnya.
Langsung saja Nyonya Jing menoleh dan mendorong tubuh Ailing hingga terjungkal.
“Bibi, apa salahku? Aku hanya ingin membantu,” ucap Ailing dengan wajah memelas.
Langsung saja Nyonya Jing bangun dan menyerahkan tubuh adiknya pada pelayan. “Ini semua gara-gara kamu! Dasar anak ******! Kamu pasti sengaja mencelakai dia. Dasar anak yang tidak pernah dididik ibu!“
“Bibi, kamu biasanya hanya menghinaku, tapi kenapa kali ini kamu juga menghina ibuku. Ibuku adalah orang yang membawa kamu masuk ke kediaman ini,”ucap ailing sembari menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah sudah, tolong tenang Sayang,” ucap Pangeran Song sembari memeluk Ailing.
“Apa dia ini sengaja mencari keuntungan dariku,” batin Ailing sembari mencubit pinggang Pangeran Song diam-diam.
Kemudian Ailing pun menatap wajah Pangeran Song. “Aku sungguh tidak melakukan apa pun, kamu percaya kan padaku?“ Ailing mengiba.
“Tentu saja aku percaya,” ucap Pangeran Song yang kemudian berganti menoleh ke arah Perdana Menteri yang saat ini sudah berdiri tepat di sebelah Nyonya Jing.
“Baiklah, sepertinya hari ini sudah cukup. Aku ingin mendengar penjelasan atas tuduhan yang Nyonya Jing berikan pada istriku, nanti. Dan karena sekarang sepertinya Perdana Menteri harus menyelesaikan semua kekacauan yang terjadi hari ini, jadi kami akan permisi,” ujar Pangeran Song sembari memeluk Ailing dan membawanya melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Sesaat setelah Ailing dan Pangeran Song keluar dari ruangan itu, kemudian Perdana Menteri pun langsung menoleh ke arah Nyonya Jing dengan cepat. Tangan Perdana Menteri dengan kuat menyasar wajah istrinya itu hingga membuatnya tersungkur di lantai.
__ADS_1
“Ayah,” teriak Xuan sembari berlari ke arah ibunya.
“Ayah, ini semua gara-gara Kakak. Bibi tidak mungkin melakukan hal seperti itu di sini tanpa sengaja. Seharusnya yang datang ke sini itu—” Kalimat Xuan terhenti ketika tiba-tiba Nyonya Jing mencubit lengannya.
“Siapa?“ sergah Perdana Menteri.
“Berkali-kali aku menutup mata pada kelakuan kalian, tapi sekarang sudah menyangkut reputasi keluarga ini. Apa yang sebenarnya ada di otak kalian!“
“Tuanku—”
“Diam!“ bentak Perdana Menteri. “Apa kalian tahu posisiku saat ini sedang terancam, tapi kalian masih juga bertingkah. Dasar manusia manusia tidak berguna!“ teriaknya sekali lagi dan kemudian berbalik meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara itu, di tempat lain saat ini Ailing dan Pangeran Song sedang melangkah untuk meninggalkan kediaman Perdana Menteri. Akan tetapi, tiba-tiba saja seorang laki-laki menyapa mereka berdua.
“Ah sepertinya aku terlambat,” ucap laki-laki tersebut ketika berhadapan dengan Pangeran Song dan Ailing.
“Jongki siapkan kereta,” perintah Pangeran Song.
“Baik Tuan,” jawab Jongki yang kemudian meninggalkan tempat itu.
“Ah, Adik apa kalian akan meninggalkan tempat ini? Cepat sekali pulangnya,” ucap laki-laki tersebut sembari tersenyum hangat ke arah Ailing dan Pangeran Song.
Ailing pun menyahut, “Kami sudah datang ke sini beberapa jam yang lalu, jadi kami harus segera pergi. Tapi aku tidak menyangka kalau kakak kedua juga akan menyapaku, lebih baik Kakak kedua mengurus luka kakak saja dari pada datang ke sini dan bermain drama.“
“Luka?“ Pangeran Song mengerutkan keningnya karena terlihat jelas kalau Ailing mengisyaratkan kalau dia baru saja bertemu dengan anak kedua Perdana Menteri.
“Ah, Adik ketiga tidak perlu khawatir. Sebuah luka kecil tidak akan terasa untuk seorang laki-laki,” sahut laki-laki di hadapan Ailing tersebut lalu beralih menatap ke arah Pangeran Song. “Ah iya Adik Ipar, maaf aku tadi tidak bisa segera menemui kamu. Lain kali jika kamu datang ke sini, aku berjanji akan datang lebih awal.“
“Tentu saja, tidak masalah,” jawab Pangeran Song dengan tenang.
Setelah mengucapkan beberapa kata, akhirnya mereka pun berpisah. Ailing pun mempercepat langkahnya hingga akhirnya bisa sampai di di kereta. Dan ketika baru beberapa menit kereta itu meninggalkan kediaman perdana menteri, tiba-tiba Ailing melepaskan bajunya.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?“ tanya Pangeran Song.
“Tolong, bantu aku,” pinta Ailing sembari terus membuka lapisan pakaiannya.