Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Kekhawatiran Xin Ya


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, saat ini Ailing tengah berada di depan kamar pelayan bernama Baisu tersebut.


“Bagaimana keadaanya?“ tanya Ailing pada tabib yang baru saja keluar dari kamar Baisu.


“Nona itu baik-baik saja. Untung saja senjata itu tidak mengenai organ vitalnya,” beber tabib tersebut sembari mengelus jenggot panjangnya.


“Bagus kalau begitu,” sahut Ailing sembari menghembus napas panjang.


“Nona itu hanya perlu beristirahat beberapa hari dan mengganti perban, juga meminum obat yang saya resepkan,” ucap tabib tersebut sambil memberikan selembar kertas berisi resep pada Xin Ya yang sedari tadi terus berdiri di sisi Ailing.


“Baiklah, terima kasih Tuan Tabib,” ujar Ailing sembari sedikit membungkukkan tubuhnya.


Tabib tersebut pun langsung tersenyum hangat. “Tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang tabib,” sahutnya.


Setelah itu seperti yang seharusnya, Xin Ya pun mengatarkan tabib tersebut pergi dari kediaman Pangeran Song.


Sementara itu, saat ini Ailing melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Baisu. Terlihat Baisu yang sedang berbaring di atas ranjang.


“Nyonya,” ucap Baisu yang berusaha bangun.


“Hentikan itu, kamu tidur saja,” tukas Ailing sembari mempercepat langkahnya ke arah Baisu.


Kemudian Baisu pun kembali merebahkan tubuhnya. “Terima kasih Nyonya,” sahutnya.


Dia pun terus menatap Ailing yang saat ini makin mendekat ke arah ranjangnya. Sebuah senyum hangat dia ukir untuk menyambut Ailing.


“Seharusnya aku yang berterima kasih, Bagaimanapun juga kamu sudah menyelamatkankiu,” ujar Ailing seperti yang seharusnya.


Dia terus memperhatikan ekspresi wajah dan juga ucapan Baisu untuk mencari keganjalan di pikirannya.


“Jangan berterima kasih Nyonya. Akan menjadi dosa saya kalau Anda berterima kasih seperti itu. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai pelayan untuk melindungi Anda,” sahut Baisu masih dengan sikap yang sama.


Ailing yang sudah sampai di samping ranjang Baisu pun langsung menghela napas panjang. “Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggu kamu. Kamu istirahatlah sampai benar-benar sembuh, mengerti?“


“Baik Nyonya, terima kasih,” jawab Baisu sembari tersenyum hangat ke arah Ailing.


Setelah itu Ailing pun berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut. Ia pun terus melangkah, hingga ketika sampai di depan pintu, terlihat Xin Ya yang sudah menunggu di sana.


“Kamu sudah mengantarnya?“ tanya Ailing pada Xin Ya yang saat ini terus menundukkan kepalanya.


“Sudah Nyonya,” jawab Xin Ya dengan cepat.

__ADS_1


Kemudian Ailing pun melangkahkan kakinya kembali melewati Xin Ya yang kemudian mengekor di belakangnya. Mereka terus melangkah meninggalkan area tempat istirahat para pelayan tersebut. Ya, terasa ada yang berbeda kali ini karena Xin Ya hanya diam saja, tak seperti biasanya.


“Apa yang kamu pikirkan?“ tanya Ailing tanpa menoleh pada Xin Ya yang saat ini berjalan selangkah di belakangnya.


“Ti-ti-tidak ada Nyonya,” jawab Xin Ya yang tergagap karena keresahan memenuhi pikirannya.


“Katakan saja,” pinta Ailing dengan tenang.


Xin Ya pun menggigit bibirnya, rasa gelisah semakin memenuhi pikirannya.


“Jangan takut, aku tidak akan memakanmu,” imbuh Ailing karena Xin Ya tak langsung berbicara.


Xin Ya pun terkejut mendengar ucapan Ailing, seketika ia mendongakkan kepalanya. “Bukan, bukan begitu Nyonya. Saya tidak bermaksud seperti itu,” tukasnya.


Tiba-tiba Ailing menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik. “Kalau begitu katakan,” pintanya sekali lagi.


“Itu Nyonya, Apa ….” Xin Ya menggenggam ujung atasan hanbok miliknya. “Apa Nyonya akan menjadikan pelayan Baisu sebagai—”


“Pelayan utama maksud kamu?“ Ailing menyela kalimat Xin Ya.


Mendengar tebakan Ailing, Xin Ya pun kembali menundukkan kepalanya.


“Kamu pikir apa orang yang baru saja datang seperti itu bisa menggantikan kamu yang sudah sejak lama ada di dekatku,” monolog Ailing sembari mengukir senyum hangat di wajahnya ketika melihat satu-satunya orang yang dekat dengannya di zaman ini gelisah.


“Tentu saja. Yang lama dan terpercaya tidak akan terganti dengan hal baru. Ya … walaupun hal baru ini cukup menarik,” goda Ailing di akhir kalimatnya.


“Ah Nyonya, Xin Ya janji akan menjadi pelayan terbaik dan mengusahakan semua hal yang paling baik untuk Anda. Xin Ya akan berusaha keras untuk tidak mengecewakan Anda,” ucap Xin Ya sembari mengangkat tinggi telapak tangannya, khas etiket mengucap sumpah pada zaman itu.


Langsung saja Ailing terkekeh melihat tingkah pelayan kesayangannya itu. “Baiklah baiklah, kalau begitu aku tidak akan menggoda kamu lagi. Tapi jika kamu memang mau membuktikan, harusnya kamu tahu apa yang aku inginkan saat ini.“ Dia mengedipkan sebelah matanya.


Xin Ya mengertikan dahinya. “Apa yang Nyonya inginkan saat ini?“ pikirnya sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu.


“Ah, Nyonya ingin yang segar-segar?”


Sesaat kemudian Ailing pun mengangguk dari tersenyum kecil.


“Apakah Nyonya ingin mandi?“ tanya Xin Ya dengan ekspresi innocent yang kerap ditampilkannya.


Segera Ailing menghembus keras. “Xin Ya,” gumam Ailing sembari menyipitkan matanya.


Pelayan kesayangan Ailing tersebut pun terkekeh melihat ekspresi menggemaskan Nyonyanya. “Baiklah Nyonya, saya akan membuatkan rendaman teh beras yang Anda ajarkan pada saya terakhir kali.“

__ADS_1


“Bagus, jangan lupa tambahkan daun mint, cuaca hari ini cukup panas,” timpal Ailing sembari kembali berbalik dan kemudian melanjutkan langkahnya.


“Baik Nyonya.“


“Oh iya, buatkan dua dan bawa ke tempat laki-laki yang akhir-akhir ini kamu panggil Tuan,” titah Ailing dengan teka-teki di dalamnya.


Mendengar hal itu Xin Ya pun menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ya bagaimanapun, dia harus berpikir keras sekali lagi.


“Maksud Anda Pangeran Song?“ Dia memperjelas.


“Tentu saja dia, siapa lagi kalau bukan dia. Apa kamu pernah memanggil Jongki dengan sebutan Tuan?” Ailing melirik ke arah pelayannya.


“Tidak tidak, saya tidak pernah memanggilnya Tuan. Saya menghormatinya karena dia adalah tangan kanan Pangeran,” jawab Xin Ya yang kembali gugup.


Tawa lepas pun keluar dari bibir Ailing. “Jangan grogi seperti itu. Kalaupun ada sesuatu aku juga tidak keberatan mengadakan pesta pernikahan untuk kalian berdua,” godanya.


“Tidak Nyonya, tidak ada apa-apa dengan kami berdua,” sanggah Xin Ya dengan cepat.


Ya, nyatanya sanggahan tersebut tidak membuat Ailing percaya, apa lagi saat ini wajah Xin Ya terlihat merona.


Lebih dari sepuluh menit berlalu. Saat ini Ailing sudah sampai di taman Phoenix, tempat di mana Pangeran Song berada.


“Tumben kamu datang ke sini?“ tanya Ailing ketika sudah berada tak jauh dari pangeran Song yang saat ini sedang menatap ke arah kolam ikan buatan Ailing.


“Investasi yang dikeluarkan dari kas kediaman harus diperhatikan,” jawab Pangeran Song dengan santai sembari menggerakkan tangannya, memberi tanda pada pelayan yang berjejer di sekitar kolam untuk melemparkan makanan ikan.


“Masa memberi makan ikan saja pakai aba-aba, dasar orang kuno,” komentar Ailing dalam hati sembari berekspresi aneh melihat kejadian itu.


Namun ketika Ailing tengah memperhatikan kejadian tersebut, tiba-tiba Pangeran Song berbalik dan menatapnya. “Bagaimana dengan keadaan kamu?“ tanyanya.


“Sebenarnya aku ingin mengeluh. Sebagai suami seharusnya kamu itu segera datang membantuku, atau paling tidak mengkhawatirkan keadaanku. Jika hal ini sampai ke istana, pasti akan ada banyak orang yang menertawakan kamu.“


Mendengar ocehan Ailing, Pangeran Song pun tersenyum. “Dari cara berbicaramu sepertinya kamu lebih sehat dari pada sebelumnya,” ejeknya.


“Dasar lidah pisau,” desis Ailing.


“Katakan lagi, aku tidak mendengarnya,“ Pangeran song menggoda.


“Huh, sudah aku tidak mau bercanda lagi dengan kamu. Aku datang ke sini untuk membicarakan sesuatu.”


“Oh ya, apa itu?“

__ADS_1


“Apa kamu punya masalah dengan istana?“


__ADS_2