
“Tenanglah, aku hanya ingin mengambil air minum,” ucap Pangeran Song yang saat ini sedang duduk di lantai.
Ailing pun segera membantu Pangeran Song untuk kembali duduk di ranjang. “Kamu harusnya memanggil orang untuk membantumu,” ucapnya dengan lembut.
Sebuah senyum kecil pun mengembang di bibir Pangeran Song. “Ya, harusnya tadi aku langsung menyebut nama kamu,” sahutnya.
'Memangnya aku ini jin, disebut langsung muncul,' batin Ailing sembari menggertakkan giginya.
“Ya sudahlah, terserah apa kata kamu,” tandasnya sembari mengambilkan minum untuk Pangeran Song.
“Lalu bagaimana dengan lukamu, apa tadi kamu dioperasi?“ tanya Ailing sembari menyerahkan minum tersebut pada Pangeran Song.
“Tidak,” jawab Pangeran Song sembari menerima gelas pemberian Ailing.
Ailing yang penasaran pun segera mendekati lengan Pangeran Song yang terluka. Ia menatap dari dekat bagian yang saat ini sudah dibalut dengan rapi itu. 'Ternyata di jaman ini pengobatannya sudah lumayan bagus ya.' Ia menilai di dalam hati.
Pangeran Song yang merasa risih dengan tingkah Ailing pun menggenggam erat gelas di tangannya. “Kenapa kamu terus melihat luka itu? Apakah kamu mengerti tentang pengobatan?“
“Mengerti sedikit,” jawab Ailing sembari menjauhkan wajahnya dari lengan Pangeran Song.
Mendengar hal itu Pangeran Song pun mengerutkan dahinya. “Bukankah orang-orang mengatakan kalau kamu itu hanyalah wanita yang suka bersenang-senang dan tidak berguna? Sepertinya semua kabar itu salah besar,” ucapnya lalu menyesap air dari dalam gelas.
'Suka bersenang-senang? Apa benar Ailing ini seperti itu? Jika iya, tapi kenapa Xin Ya tidak pernah menyinggung apa pun tentang masalah ini?' pikir Ailing sembari berekspresi aneh.
“Benar, itu hanya gosip,” sahut Ailing sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
'Hais … tapi jika benar Ailing seperti itu, maka aku dan dia memiliki karakter yang sama. Apa mungkin ada kebetulan yang seperti ini? Ah, pusing sekali kalau memikirkan masalah ini,' batin Ailing sembari menengadahkan wajahnya, menatap atap kamar tersebut.
“Jika bukan aku sendiri yang menjemputmu saat itu, aku pasti mengira kalau kamu adalah kiriman pemberontak,” ucap Pangeran Song sembari melihat ekspresi Ailing dari ujung matanya.
“Haiss, sembarangan saja. Aku ini benar-benar Ailing. Ya namanya juga gosip orang-orang. Bukankah gosip itu singkatan dari digosok makin sip? Jadi tidak heran bukan kalau orang-orang menambah-nambahkan berita yang beredar," sahut Ailing dengan sok bijak.
Walaupun dia terlihat tenang, sebenarnya ada perasaan was-was di dalam hatinya karena dia tidak pernah tahu siapa sebenarnya sosok Ailing yang tubuhnya dia gunakan saat ini. Jadi sangat besar kemungkinan jikalau apa yang dikatakan oleh Pangeran Song itu bisa menjadi kenyataan.
__ADS_1
Bisa saja Ailing ini adalah salah satu mata-mata musuh kerajaan, bisa juga dia adalah perampok atau begal, dia tidak bisa memastikannya saat ini karena ia sendiri tak memiliki ingatan tentang hal itu.
'Siapa pun identitas asli Ailing ini, yang jelas aku tidak boleh membiarkannya curiga. Bisa dipenggal kepalaku kalau dia curiga dan ternyata aku ini benar mata-mata. Hiss …,' batinnya
Di tengah percakapan mereka berdua, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di pintu masuk kamar tersebut.
Segera saja Ailing dan Pangeran Song menoleh dan menatap seorang gadis yang sedang melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Perkenalkan saya Jiang. Saya mendapat tugas dari Tabib Fang untuk melayani Anda selama di sini," ucap gadis tersebut sesaat setelah menutup pintu.
Ailing pun segera berdiri dan kemudian membungkukkan tubuhnya seperti yang dilakukan oleh Jiang tadi. "Nama saya Ailing. Terima kasih atas kebaikan Tuan Fang dan Nona ini.“
“Sama-sama Nyonya, ini sudah menjadi tugas saya,” sahut gadis bernama Jiang itu.
Lalu Ailing pun tersenyum canggung sambil menggaruk pelipisnya. “Itu Nona, bisakah saya meminjam pakaian ganti dan juga … saya ingin membersihkan diri," ucap Ailing.
“Tentu saja bisa, Nyonya. Saya akan mempersiapkannya terlebih dulu. Jika ada yang lain silakan Anda mengatakannya kepada saya," ujar Jiang sembari tersenyum hangat pada Ailing.
“Tentu saja, terima kasih Nona Jiang," sahut Ailing sembari membalas senyum hangat tersebut.
“Kenapa, apa kamu ingin mandi bersama?“ goda Pangerang Song.
“Makan mandimu!“ sergah Ailing sembari menjejalkan bakpao di dekat gelas ke mulut suaminya.
“Uhuk! Uhuk!“ Pangeran Song terbatuk-batuk karena bakpao tersebut memenuhi mulutnya.
“Rasakan itu, dasar mesum,“ tandas Ailing.
**
Sore harinya.
Saat ini Ailing dan Pangeran Song baru saja pindah ke rumah yang benar-benar terletak tak jauh dari jembatan yang berada di danau khusus yang ada di tengah desa.
__ADS_1
“Terima kasih Nyonya Nuo sudah mengizinkan kami untuk tinggal sementara waktu di sini,” ucap Ailing setelah sampai di dalam rumah tersebut.
“Sama-sama. Tapi ini semua bukan hanya keputusanku saja, semua ini juga sudah merupakan hasil rapat para tetua di sini jadi aku hanya melaksanaka saja,” tandas Nuo dengan sebuah senyum ramah mengakhiri kalimatnya.
'Ah, aku harus ngomong apa lagi,' batin Ailing yang kehabisan pembicaraan karena selama perjalanan dari kediaman Tabib Fang sampai ke rumah khusus ini, ia sudah mengerahkan seluruh isi otaknya untuk mengarang cerita tentang kehidupan pernikahan sebagai pasangan pedagang antara dirinya dan Pangeran Song.
Sesaat kemudian ia melihat para wanita yang tengah sibuk berlalu lalang di dekat danau. “Oh iya Nyonya bolehkah saya bertanya, sebenarnya ada kegiatan apa di desa ini? Saya perhatikan sejak tadi semua orang di desa ini sangat sibuk.“
“Sebenarnya malam ini akan ada festival menyambut bulan. Tempatnya ada di sekitar danau,” jawab Nuo sembari menunjuk ke arah danau yang bisa dilihat langsung dari rumah khusus.
“Oh, jadi seperti itu,” sahut Ailing sembari mengangguk-angguk.
“Benar. Kalau tidak berhalangan, silahkan kalian datang. Nanti malam seluruh penduduk desa akan datang dan berkumpul bersama di sana,” undang Nuo.
Mata Ailing berbinar. 'Pasti ada banyak makanan,' pikirnya.
“Oh iya Nyonya, tadi saya lihat para wanita sedang memasak makanan bersama. Apakah saya boleh ikut membantu?“ tanyanya.
“Tentu saja boleh,” jawab Nuo. “Kalau begitu aku akan kembali ke sana dahulu. Jika kamu sudah siap, kamu bisa menyusul.“
“Baik Nyonya,” sahut Ailing penuh dengan semangat.
Setelah itu Ailing dengan hangat mengantar Nyonya Nuo sampai di teras rumah. Bahkan ia sempat melambaikan tangannya seperti seseorang yang tengah mengantar kerabatnya pulang.
“Huff … akhirnya dia pergi,” gumamnya sembari mengusap dada ketika Nyonya Nuo sudah tak terlihat lagi.
Tiba-tiba ….
“Sepertinya kamu sangat dekat dengan wanita itu?“ tanya Pangeran Song yang entah sejak kapan ada di belakang Ailing.
“Sejak kapan kamu ada di belakangku? Kenapa kamu berjalan tidak bersuara?“ tanya Ailing sembari berbalik.
“Sejak tadi,” jawab Pangeran Song dengan tenang.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba Ailing mengangkat tangannya dan menunjuk ke dada Pangeran Song. “Katakan yang sebenarnya!“ tuntutnya sembari berjalan maju, hingga membuat Pangeran Song melangkah mundur.
“Apa?“ tanya Pangerang Song yang penasaran dengan perubahan tiba-tiba Ailing.