Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Sukses


__ADS_3

Dua hari pun berlalu dengan cepat. Sejak pagi Ailing sudah bersiap untuk pembukaan tokonya hari ini. Dia sudah menyiapkan promo untuk pembukaan hari ini.


“Sekarang kalian sebar selebaran yang aku berikan pada kalian!“ perintah Ailing pada semua pelayan barunya, termasuk Baisu yang sudah dinyatakan bisa melakukan pekerjaan ringan oleh tabib.


Ailing kini bersedekap sambil menatap ke arah para pelayan yang baru saja keluar dari tempat itu dan hanya tersisa Xin Ya saja yang ada di ruangan itu bersama dirinya.


“Nyonya, apa Anda yakin kalau kita tidak akan rugi jika melakukan hal seperti ini?“ tanyanya penasaran.


Bagaimana tidak penasaran, Ailing memberikan promosi gratis satu gelas minuman herbal kesehatan setiap pengunjung yang membeli barang di tokonya. Sedangkan di jaman ini biaya dokter maupun tabib itu sangat mahal, begitu juga dengan resep-resep kesehatan dari mereka.


Jadi Xin Ya menganggap kalau minuman herbal yang diracik sendiri oleh Ailing itu harusnya adalah termasuk dalam katagori barang mahal.


“Tidak, tentu saja aku tidak akan rugi, kamu tenang saja,” jawab Ailing sembari tersenyum kecil.


“Mana mungkin aku rugi, minuman itu terbuat dari alang-alang yang aku temukan di taman dekat ruang baca Raven dan juga berbagai jenis rempah murah yang ada di dapur,” batin Ailing sembari menahan tawa jika mengingat hal itu.


Beberapa saat berlalu, terlihat beberapa orang yang mulai mendatangi toko tersebut. Ailing pun segera memberi perintah agar orang-orang yang ditugaskan sebagai pegawai toko untuk bersiap. Sedangkan Ailing sendiri kini bertingkah sebagai pelayan toko tersebut.


“Apakah ada yang bisa saya bantu nona-nona,” sapa Ailing pada ibu-ibu yang baru saja masuk ke dalam toko tersebut.


Ya, itulah trik pertama Ailing, memanggil dengan manis.


“Masing-masing dari kami ini sudah punya dua bahkan tiga anak, jangan panggil kami Nona,” sahut salah satu wanita tersebut.


“Ah, benarkah? Saya pikir kalian masih gadis,” sahut Ailing sembari menggaruk-garuk pelipisnya, seolah dia benar-benar merasa aneh dengan hal itu.


Dan seperti harapan Ailing, sekelompok wanita tersebut pun langsung tertawa terbahak-bahak.


“Ya, ayo tertawa yang keras dan kemudian belanja yang banyak di sini,” batin Ailing sembari tersenyum manis.

__ADS_1


Sesaat kemudian seorang wanita dengan ukurang tubuh XL bertanya, “Kami di sini penasaran dengan produk yang dikatakan oleh toko ini bisa menjadikan wanita terlihat lebih menggoda di mata pasangan, seperti apa produk itu?“


“Masuk perangkap kalian,” batin Ailing sembari melebarkan senyumnya.


“Mari ikut saya kalau begitu,” ajak Ailing sembari masuk ke dalam ruangan yang lebih dalam.


Dengan rasa penasaran tinggi, akhirnya para wanita itu pun segera mengikuti Ailing. Para wanita yang berjumlah tujuh orang tersebut pun masuk ke dalam sebuah ruangan yang sengaja Ailing dengan desain khusus, seolah itu adalah ruangan istimewa.


Hingga ketujuh wanita itu akan menganggap kalau barang yang ada di dalam ruangan itu pastilah benda istimewa dan berharga.


“Ini dia, ini namanya adalah bra,” ucap Ailing sembari memperkenalkan bra berenda yang dia desain secantik mungkin. Dan bisa dipastikan ini adalah produksi bra pertama di kerajaan itu.


Melihat kecantikan benda tersebut, para wanita itu langsung tersenyum sumringah. Ya, walaupun mereka belum tahu kegunaan benda tersebut, akan tetapi mereka sudah cukup tertarik dengan desainnya.


“Apa benda itu dipakai di kepala sebagai hiasan rambut atau sebagai pelengkap jubah?“ tanya salah satu wanita tersebut.


Setelah itu Ailing dengan cepat menarik salah satu wanita tersebut. “Saya akan meminta Nyonya ini untuk mencobanya dan kalian bisa melihat perbedaan penampilannya,” ucapnya yang kemudian membawa wanita tersebut ke sebuah ruang ganti yang dia siapkan di dalam kamar itu.


Hingga setelah lima menit menunggu, akhirnya Ailing kembali bersama dengan wanita tadi. “Kalian bisa melihat perbedaannya?“ tanya Ailing sembari menunjuk ke bagian dada wanita tersebut.


Ya, tentu saja semua orang bisa melihat dengan jelas perbedaan pada dada wanita tersebut. Sementara wanita yang menjadi model Ailing tersebut tersenyum pongah, kini para wanita lainnya saling menatap dan mengangguk seolah baru saja sepakat akan sesuatu.


Dan untuk menambah daya tarik, Ailing pun menambahkan kalimat jitu. “Dengan memakai bra, perlahan dada kalian akan terlihat lebih terangkat dan bisa kembali kencang seperti sebelum menikah,” ujarnya dengan suara yang cukup keras.


Tentu saja ini langsung membuat mata para wanita itu berbinar, mereka pun segera bertanya harga dan memilih satu persatu jualan Ailing tersebut.


Satu hari berjalan dengan sangat melelahkan. Suasana di toko tersebut penuh sesak dengan para wanita yang tertarik mendengar manfaat barang yang dijual oleh Ailing tersebut. Sedangkan hanya ada segelintir lelaki yang datang ke sana untuk membeli pakaian dan mencoba minuman herbal gratis yang ditawarkan oleh Ailing.


“Akhirnya … waktunya tutup toko,” ujar Ailing sembari tersenyum hangat melihat barang dagangannya habis, bahkan dia harus meminta para pelanggan yang datang sore ini untuk kembali besok lagi karena kehabisan barang dagangan.

__ADS_1


“Kalian bereskan semuanya dan hitung laba hari ini dan bawa totalnya ke kediaman Pangeran Song!“ titah Ailing yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu bersama dengan Xin Ya.


Setengah jam berlalu, kini Ailing yang sudah kembali ke kediaman Pangeran Song pun bersiap untuk mandi karena merasa tubuhnya sangat lengket setelah bekerja seharian.


“Xin Ya kamu bisa istirahat sekarang, kamu pasti juga capek,” titah Ailing yang kini sudah masuk ke dalam bak mandi berisi air hangat dan beberapa kelopak mawar itu.


“Tapi Nyonya—”


“Tidak ada tapi-tapian, aku bisa mandi sendiri. Kamu tolong tutup saja pintunya dan katakan pada penjaga kalau tidak ada yang boleh masuk ke sini,” pinta Ailing sembari memijat-mijat tengkuknya.


“Baik Nyonya,” sahut Xin Ya yang kemudian melangkah kaki meninggalkan tempat itu.


Ailing kemudian menghela napas panjang sebelum akhirnya memejamkan matanya. Namun sesaat kemudian, tiba-tiba saja ada tangan yang memegang dan memijat pundak Ailing dengan lembut.


“Ah, Xin Ya kenapa kamu kembali, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pergi istirahat.“ Mulut Ailing memprotes tetapi tubuhnya menikmati pijatan lembut tersebut.


“Xin, apa ada kemungkinan Pangeran Song itu menyukai wanita yang suka memberontak ya?“ tanya Ailing karena tiba-tiba terpikirkan hal tersebut.


Tiba-tiba wajah orang di belakang Ailing mendekat ke telinganya dan berbisik, “Tidak semua wanita, itu hanya kamu.“


Seketika Ailing berbalik dan langsung menjauh dari sisi tersebut. “Kenapa kamu ada di sini? Di mana Xin Ya,” tanyanya dengan wajah yang bersemu.


“Aku memang menyukai kamu, terlebih lagi kamu istriku,” ucap Pangeran Song yang kini berputar dan mendekati sisi Ailing.


“Hei, jangan mendekat ke sini!“ teriak Ailing yang bingung ingin kabur karena dia sedang telanjang di dalam bak mandi tersebut.


“Apa yang kamu tutupi, aku sudah pernah melihatnya sebelumnya,” sahut Pangeran Song sembari mengangkat tubuh Ailing dengan tenang.


“Hei!“

__ADS_1


__ADS_2