Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Bukan Si Kampret


__ADS_3

Setelah malam itu semua berjalan seperti biasanya. Bahkan Xin Ya pun sudah kembali melayani Ailing setelah kepergian biksu tersebut. Namun sampai satu minggu berlalu, beberapa pelayanan masih saja menggunjing tentang Ailing hari itu.


Bahkan ada gosip yang mengatakan kalau Pangeran Song telah memegang bukti kalau Ailing adalah seorang penipu. Hingga membuat Ailing dan Pangeran Song harus ke istana untuk menepis semua gosip tersebut. Dan setelah itu suasana pun kembali tenang.


“Nyonya, apa tidak ada masalah kalau kita pergi ke sana?“ tanya Xin Ya karena merasa khawatir ketika Ailing mengatakan kalau mereka akan pergi mengikuti turnamen di rumah judi yang diselenggarakan Pangeran Rong Ai beberapa hari lagi.


Ailing yang baru saja selesai memasak sarapan pagi pun duduk beristirahat di bangku yang ada di bawah pohon di halamannya.


“Aku yakin tidak akan ada masalah. Lagi pula si Pangeran Song juga tidak memberi uang, dan tempat itu juga milik keponakannya, pasti tidak akan ada masalah,” jawab Ailing dengan santai sembari menyeka keringatnya.


“Tetapi Nona—”


“Sudah, jangan tapi-tapian. Sekarang ayo kita makan aku sudah sangat lapar,” ucap Ailing sembari menatap makanan yang saat ini ditata oleh Xin Ya di atas mangkok saji.


Namun di tengah mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu masuk tempat itu. Seketika Xin Ya pun segera bangun dan kemudian melangkah ke arah pintu masuk tempat itu.


“Tuan,” gumam Xin Ya yang terkejut ketika melihat laki-laki di depannya melangkah masuk ke dalam tempat itu.


Ailing yang sedang menatap makanan di atas meja pun bertanya, “Siapa?“


“Itu Nona ….“ Kalimat Xin Ya terhenti saat laki-laki tersebut memberi tanda pada Xin Ya agar berhenti bicara.


“Siapa?“ tanya Ailing sekali lagi karena merasa suara Xin Ya tak begitu terdengar olehnya.


Namun, sesaat kemudian sebuah tepukan menyasar pundak Ailing. Ailing tentu saja sempat terkejut, tetapi ia langsung menebak siapa yang ada di belakangnya.


“Kenapa kamu di sini? Ini waktunya sarapan, kamu bisa sarapan di tempatmu sendiri. Di sini semua makanan adalah milikku karena aku membelinya dengan uangku sendiri dan aku tidak mengundangmu,” ucap Ailing sembari menepis tangan yang masih berada di pundaknya.


“Kenapa dia tidak menyahut?“ batin Ailing karena setelah beberapa detik tak terlihat ada respon dari laki-laki di belakangnya itu.

__ADS_1


“Kenapa tidak pergi? Apa kamu benar-benar berniat makan di sini? Jika iya, maka tetap seperti aturan waktu itu. Kamu bisa makan, jika kamu membayar sesuai harga,” cicit Ailing. “Tapi makanan kali ini berbeda, dia lebih mahal dari sebelumnya, jadi kamu pikir-pikir dulu,” imbuhnya.


“Jadi berapa harganya?“ tanya laki-laki yang ada di belakang Ailing.


Ailing pun terperanjat mendengar suara laki-laki tersebut. “Bukan si kampret,” batinnya yang kemudian langsung menoleh dan melihat laki-laki di belakangnya tersebut duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


“Apa yang ingin dia lakukan di sini?“ batin Ailing sembari mengepalkan tangannya.


“Bagaimana kabarmu Lingling?“ tanya laki-laki yang ada di depan Ailing tersebut sembari menatap Ailing seolah penuh kasih.


Ailing kemudian menoleh pada Xin Ya yang saat ini berdiri agak jauh dari mereka. “Ke sini, bereskan semua ini! Dan tolong sajikan minuman dan juga kue yang aku buat kemarin,” titahnya dengan tenang.


“Baik Nyonya,” jawab Xin Ya dengan cepat dan kemudian segera membersihkan meja tersebut seperti yang Ailing perintahkan.


“Jadi Pangeran Han, apa yang membuat kamu datang kemari?“ tanya Ailing dengan sopan karena bagaimanapun juga Pangeran Han adalah anak dari raja. Ya, walaupun jika dipikirkan lagi raja adalah kakak iparnya.


“Kenapa kamu bersikap dingin seperti itu padaku Lingling?“ tanya Pangeran Han sembari dengan lembut memegang tangan ailing.


“Lingling, aku tidak mau mendengar apa pun dari kamu. Aku tahu saat ini kamu sedang tertekan oleh Paman, tapi yakinlah kalau aku masih setia dengan janji kita,” ucap Pangeran Han sembari mencoba meraih tangan Ailing kembali.


Namun dengan cepat Ailing pun menarik tangannya. “Ada apa dengannya, kenapa dia tiba-tiba berlebihan merayu seperti ini?“ batin Ailing yang merasa aneh karena terlihat jelas kalau apa yang dilakukan oleh Pangeran ini tidak wajar.


“Dengar Pangeran, kamu harus tahu terlepas dari apa pun, aku ini sekarang berstatus sebagai bibirmu. Tolong untuk lebih sopan dan menjaga jarak denganku. Lagi pula bukankah sebentar lagi kamu akan memiliki selir, aku rasa—”


“Jadi kamu cemburu?“ Pangeran Han memotong ucapan Ailing.


“Cemburu? Di mana otaknya,” geram Ailing karena merasa Pangeran Han tak juga mengerti apa yang dikatakannya.


“Sudahlah Pangeran, aku hanya ingin menegaskan pada kamu. Tolong lupakan masa lalu itu, aku sekarang adalah istri Pangeran Song dan aku tidak mau terlibat apa pun dengan rencana-rencana waktu itu. Jadi tolong silakan kamu cari orang lain,” ujar Ailing.

__ADS_1


“Tidak bisa, hanya kamu yang ada di dalam hatiku. Aku yakin kamu marah padaku karena mendengar akan ada pemilihan selir yang diadakan Ratu, bukan?“ Pangeran Han menarik paksa tangan Ailing. “Aku pastikan mereka semua hanyalah selir. Jika aku sudah berkuasa, hanya kamulah yang akan menjadi permaisuriku,” imbuhnya.


“Sebenarnya apa maunya dan ada apa dengan ini semua? Dia tidak mungkin begitu kekeh seperti ini jika tidak ada sesuatu yang terjadi,” batin Ailing yang kembali menarik tangannya, tetapi langsung ditahan oleh Pangeran Han.


Hingga, tiba-tiba ….


“Ehem!“ Sebuah deheman muncul dari arah lain.


Ailing langsung menoleh dan di saat yang sama Pangeran Han pun langsung melepaskan tangan Ailing. “Yang seperti itu katanya mau menjadikanku permaisuri, cih!” cibirnya di dalam hati sembari melirik ke arah tangannya yang baru saja dilepaskan.


“Paman,” sapa Pangeran Han.


“Sepertinya kalian sedang berbicara sesuatu, apakah aku mengganggu kalian?“ tanya Pangeran Song yang berpura-pura tidak melihat apa pun.


Ailing yang mendengar hal itu pun langsung memutar matanya. “Dasar manusia-manusia kerajaan. Jika bukan karena kasihan mendengar nasibnya yang akan mati tahun depan, aku pasti sudah meninggalkannya saat ini,” batin Ailing.


“Kenapa permaisuriku, sepertinya kamu tidak puas dengan sesuatu?“ tanya Pangeran Song dengan sebuah senyum tipis di wajahny


“Mana mung—”


“Tadi Bibi sempat mengira kalau aku adalah kamu, Paman,” ucap Pangeran Han sembari bangun dari kursinya. “Dan aku rasa kamu tidak boleh terlalu tidak adil pada Bibi, kamu harus memberikan hak-haknya. Jangan sampai dia memasak dan membeli bahan makan dengan uangnya sendiri. Jika ini diketahui oleh orang-orang takutnya akan merusak reputasi Anda dan juga keluarga kerajaan,” ucapnya.


Mata Ailing membola mendengar hal itu, ia pun langsung menoleh ke arah Pangeran Han dengan cepat. “Sialan laki-laki ini, beraninya dia menggunakanku untuk menyerang orang lain,” batinnya.


Sesaat kemudian ia kembali menatap ke arah Pangeran Song yang saat ini juga sedang menetapnya dengan tajam. Ia pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kemudian ….


“Permaisuri!“ panggil Pangeran Song.

__ADS_1


“Mati aku,” batin Ailing sembari menelan ludahnya.


__ADS_2