Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Lebih Parah


__ADS_3

“Kenapa kamu bertanya seperti ini?“ tanya Pangeran Song balik.


Ailing pun mengerutkan keningnya. “Jangan membodohiku, kamu pasti sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Benar kan?“


Kemudian Pangeran Song pun melambaikan tangannya, memberi tanda pada pelayan untuk meninggalkan tempat itu.


Ailing langsung saja melirik ke arah tiga pelayan tersebut dan memperhatikan mereka yang begitu saja meninggalkan tempat itu. “Wah, benar-benar hebat. Dengan gerak sedikit saja, mereka semua sudah pergi. Suatu hari nanti aku juga harus bisa seperti ini,” pikirnya.


“Apa yang kamu pikirkan?“ tanya Pangeran Song ketika tahu kalau Ailing tidak berkonsentrasi pada dirinya.


“Hah?“ Ailing mengalihkan pandangannya kembali pada suaminya.


“Imut sekali ekspresinya saat ini,” batin Pangeran Song ketika melihat ekspresi konyol Ailing.


“Apa yang kamu pikirkan?“ Dia mengulang pertanyaanya.


“Ya, terkadang aku berpikir kalau kamu itu keren,” jawab Ailing.


“Keren?“ Pangeran Song mengerutkan dahinya.


“Apa di zaman ini belum ada kosa kata keren?“ batin Ailing. Kemudian dia pun memikirkan persamaan kata 'keren' itu.


“Ah, itu … seperti 'wow, Pangeran Song itu menakjubkan',” terang Ailing.


“Terima kasih,” sahut Pangeran Song dengan cepat.


Mata Ailing mendelik. “Bukan it … ah, sudahlah terserah. Lalu bagaimana, benarkan tebakanku?“


“Tidak sepenuhnya tepat,” jawab Pangeran Song sembari melangkah meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Ailing pun langsung mengikuti Pangeran Song. “Tidak sepenuhnya tepat bagaimana?“ tanyanya.


“Apa kamu pikir aku mendapat gelar kehormatan dengan cuma-cuma?“

__ADS_1


“Ya … aku tahu kalau kamu itu sudah lama berperang dan membela negara ini. Tapi kalau menilik dari hal itu, lalu kenapa orang dari istana ingin menjatuhkan kamu?“ tanya Ailing sembari menahan lengan Pangeran Song, hingga membuat suaminya itu berhenti.


Kemudian Pangeran Song berbalik dan menatap Ailing yang saat ini juga sedang memandangnya. “Apa saat kamu menyelinap keluar dari kediaman, kamu tidak mendengar sesuatu?“


“Mendengar sesuatu? Apa dia bertanya tentang gosip kerajaan ini?“ pikir Ailing sambil mengernyitkan dahinya.


“Apa maksud kamu tentang kekeringan dan wabah penyakit di daerah selatan?“ tebak Ailing.


Ctakk! Tiba-tiba Pangeran Song menyentil kening Ailing.


Seketika Ailing memekik dan kemudian berjongkok sambil mengusap-usap keningnya. “Sakit tau!“ protesnya.


“Itu pujianku untuk kamu karena ternyata tidak sebodoh kelihatannya,” sahut Pangeran Song sembari kembali melangkah meninggalkan Ailing yang masih merasakan nyeri di keningnya.


“Hei, mau ke mana?“ teriak Ailing sembari kembali berdiri dan segera mengejar langkah Pangeran Song.


Mereka pun terus mengobrol, hingga akhirnya Ailing tahu kalau kabar yang tersiar tentang bobroknya sistem pemerintahan kerajaan itu tidak sepenuhnya isu belaka.


“Jadi, pajak tinggi itu juga benar?“ tanya Ailing sembari membulatkan matanya pada Pangeran Song.


“Ya,” jawab Pangeran Song singkat.


“Wah, benar-benar kacau kalau begitu,” sahut Ailing.


“Apa di zaman kamu ada yang seperti ini?“ tanya Pangeran Song sembari memperhatikan ekspresi wajah Ailing yang sepertinya serius memikirkan hal ini.


Mendengar pertanyaan suaminya Ailing pun langsung tercengang. “Di zamanku?“


“Benar. Ataukah semua sudah berjalan sangat baik dan normal di masa depan?“ tanya Pangeran Song.


Langsung saja Ailing menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri beberapa kali. “Ya tentu saja ….“


“Hem …,” gumam Pangeran Song sambil manggut-manggut.

__ADS_1


“Tentu saja lebih parah,” lanjut Ailing lalu tertawa terbahak-bahak.


“Lebih parah?“ Pangeran Song mengerutkan keningnya.


“Iya, lebih parah. Aku rasa semakin maju pikiran manusia, maka semakin rendah naluri kemanusiaan mereka, seperti jarum dua mata.“ jawab Ailing. “Tapi ya mau bagaimana lagi, tuntutan makin tinggi, jadi perasaan serakah juga makin tidak terbendung.


Apalagi orang-orang berkuasa makin … ah, kenapa aku jadi seperti sedang berorasi.“


Sebuah senyum kecil pun terselip di bibir Pangeran Song. “Aku tidak menyangka kalau dia orang yang peduli pada hal seperti ini,” batinya.


Ya, sebenarnya Ailing bukan sedang peduli, tetapi dia sedang mencurahkan keresahannya saat mengingat hidupnya di era modern.


Tiba-tiba Ailing tersadar sesuatu. “Tunggu, apa ini artinya orang yang tidak menyukaimu adalah kaisar?“ tanyanya langsung.


“Hati-hati saat bicara, kamu bisa langsung dipenggal saat mengatakan hal ini,” seloroh Pangeran Song.


Ailing menyipitkan matanya. “Tapi benarkan yang aku katakan?“ Dia masih ingin memastikan.


Dengan tenang Pangeran Song mengulurkan tangannya dan kemudian mengusap kepala Ailing dengan lembut. “Lain kali kamu tidak boleh menanyakan hal ini, jika tidak, yang akan menanggung akibatnya bukan hanya kamu tapi juga orang-orang di sekitarmu.“


“Apa dia mengancamku atau sedang memperingatkanku karena khawatir padaku?“ monolog Ailing di dalam hati sembari memperhatikan ekspresi wajah Pangeran Song.


Ketika mereka tengah asyik mengobrol, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki orang yang


tengah berlari di teras tempat itu yang berlantaikan kayu. Tentu suara tersebut langsung membuat kedua orang itu menoleh.


“Nyo-nyo-Nyonya!“ panggil Xin Ya tergagap.


“Ada apa?“ Ailing segera saja berdiri dari tempatnya karena terkejut melihat ekspresi Xin Ya dan deru napas pelayannya itu yang ngos-ngosan.


“Itu Nyonya, ada—” Kalimat Xin Ya terhenti ketika melihat Pangeran Song.


“Katakan saja,” pinta Ailing.

__ADS_1


“Itu ….


__ADS_2