
Setelah semua acara selesai, akhirnya Ailing pun berjalan bersama dengan Xin Ya yang sedari tadi menunggu bersama para pelayan lainnya.
“Nyonya, benarkah Pangeran meminta anugerah pernikahan abadi untuk Anda?“ tanya Xin Ya ketika mereka sudah berada di tempat yang agak sepi. Ia memang sudah sejak tadi ingin menanyakan secara langsung kabar ini.
“Benar,” jawab Ailing singkat.
“Wah,” ucap Xin Ya yang merasa sangat bahagia mendengar hal itu. “Syukurlah Nyonya, itu artinya Tuan sangat mencintai Anda hingga tidak mau berpisah selamanya,” imbuhnya dengan wajah yang berseri-seri.
'Sangat mencintai apa? Dia itu minta anugerah ini pasti karena mendengar rencanaku kemarin. Dia sekarang pasti puas karena bisa menghancurkan rencanaku,' geram Ailing di dalam hati.
“Sudahlah jangan membahas itu lagi,” sahut Ailing dengan bibir manyunnya.
“Baik Nyonya,” sahut Xin Ya dengan riang.
“Xin Ya, coba katakan kita saat ini ada di mana?“ tanya Ailing yang tak memiliki ingatan apa pun tentang istana.
“Anda juga melupakan hal ini, Nyonya?“
Ailing pun menoleh. “Kalau tentang keluargaku saja aku lupa, apa lagi tentang tempat ini, Xin Ya,” jawabnya.
Kemudian Xin Ya pun terkekeh mendengar ucapan Ailing. “Maaf Nyonya, saya merasa cara bicara Anda sangat lucu.“
Ailing kemudian mengangkat sebelah alisnya. “Jadi kamu menertawakanku?“ tanyanya dengan ekspresi serius.
“Ah, ampuni saya Nyonya. Saya sungguh tidak bermaksud seperti itu,” jawab Xin Ya sembari menundukkan kepalanya.
“Hei, aku hanya bercanda,” tukas Ailing yang kemudian berganti tertawa setelah berhasil mengerjai pelayan setianya itu.
Setelah itu mereka pun terus melangkah menyusuri taman yang dihiasi dengan bunga dan tanaman-tanaman indah yang tertata rapi itu. Awalnya semua terasa sangat damai dan menyenangkan bagi Ailing, hingga akhirnya mereka sampai di salah satu gazebo dan duduk berdua di sana.
“Maaf, apa kamu Putri Ailing?“ ucap seorang gadis bersama keempat temannya yang baru saja sampai di gazebo tersebut.
Tentu saja Ailing dan Xin Ya yang tadinya sedang menikmati pemandangan ikan di dalam kolam yang ada di bawah gazebo tersebut pun menoleh.
'Siapa ini, sepertinya dia datang tidak dengan damai,' batin Ailing sembari menatap gadis yang baru saja bertanya padanya.
“Iya, aku adalah Ailing. Dan kamu sendiri?“ tanyanya dengan tenang.
__ADS_1
“Ck, dasar sombong,” celetuk gadis lainnya.
“Jangan seperti itu,” sahut gadis tersebut dengan lemah lembut. Kemudian ia dengan pelan mendekati Ailing. “Perkenalkan namaku Chungli,” ucapnya dengan menambahkan senyum di bagian akhir.
'Oh, jadi gadis ini yang tadi pingsan. Apa dia ke sini untuk menanyakan masalah anugerah tadi?' Ailing menebak hal itu karena ia mendengar kalau Putri Chungli ini sudah lama menyukai Pangeran Song.
“Aku Ailing,” jawab Ailing sembari ikut memberikan senyuman di wajahnya. “Oh iya, ada keperluan apa ya kamu datang ke sini?“
“Dasar tidak sopan, tidak tahu aturan!“ teriak salah gadis berbaju hijau yang ada di kanan Chungli.
Ailing yang tak mau kalah pun langsung berdiri dari bangku yang tadi didudukinya. “Lalu yang sopan bagaimana, Nona? Apa aku harus menyembah dia?“ balasnya.
“Sudahlah tidak apa-apa, mungkin Nyonya Ailing ini memang tidak mengenalku,” sahut Chungli yang terlihat seperti mencoba menengahi. “Aku yakin dia tidak bermaksud menghinaku,” imbuhnya.
“Kamu itu terlalu baik Putri Chungli, jangan sampai ditindas oleh dia hanya karena dia berhasil merebut Pangeran Song dari kamu. Kami akan selalu mendukungmu,” sahut gadis berbaju cokelat muda.
'Apa mereka mengira kalau aku ini tuli,' batin Ailing yang masih diam saja mendengar semuanya.
“Tolong jangan mengatakan hal seperti itu. Putri Ailing ini pastilah wanita yang sangat baik, jika tidak, mana mungkin Pangeran Song menikahinya bahkan meminta anugerah yang langka seperti itu. Jadi tolong jangan mengatakan hal-hal buruk lagi tentang dia,” ujar Chungli yang seperti benar-benar sedang membela Ailing.
'Dia ini sengaja menggiring opini agar aku kelihatan seperti orang yang buruk. Ck, trik murahan,' batin Ailing sembari menghela napas panjang.
“Tidak apa-apa Putri Ailing, aku tidak akan menyalahkanmu,” sahut Putri Chungli.
Kemudian Ailing mulai bergerak dari tempatnya. “Jika tidak ada hal lain lagi, saya pamit untuk pergi,” ujarnya.
Tiba-tiba gadis berbaju hijau menghadang jalan Ailing dan Xin Ya. “Dasar tidak tahu diri!“ teriaknya sembari mengangkat tangannya dan mulai mengayun.
Dengan sigap Ailing pun menangkap tangan yang ingin menampar wajahnya itu. “Apa mau kamu?“ tanyanya sembari melepaskan tangan berbaju hijau itu dengan kasar.
Tiba-tiba dari arah lain terdengar suara Xin Ya.
“Nyonya, tolong!“ teriak Xin Ya.
Mendengar hal itu Ailing pun segera berbalik dan melihat dua orang sedang memegangi tangan Xin Ya, sementara Putri Chungli sedang duduk dengan santai seolah sedang melihat pertunjukan.
“Dasar ular,” desis Ailing.
__ADS_1
Belum sempat Ailing bergerak untuk menyelamatkan Xin Ya, tiba-tiba tangannya terasa ditarik. Ia pun segera berbalik dan melihat tangan gadis berbaju hijau tadi sudah siap menyambar pipinya.
“Ah!“ Ailing memejamkan matanya.
'Loh kok nggak sakit?' batinnya yang tadi memperkirakan kalau tamparan itu sudah pasti mengenai wajahnya.
Kemudian ia membuka matanya dan melihat seorang laki-laki yang saat ini sedang menahan tangan gadis berbaju hijau di depannya. 'Kenapa bisa dia, apa ini jebakan?' batinnya.
“Hentikan!“ sentak laki-laki tersebut sembari melepaskan tangan gadis berbaju hijau tersebut dengan kasar.
“Ah, Pangeran Han,” ucap gadis tersebut sembari mundur selangkah.
“Apa yang ingin kamu lakukan Jingsi?“ tanya Pangeran Han sembari menatap tajam gadis berbaju hijau.
'Jingsi, jadi dia ini putri menteri sumber daya,' batin Ailing sembari mengingat daftar nama yang sempat diberikan oleh Pangeran Song ketika mereka dalam perjalanan ke istana tadi.
“Pengeran Han, dia ini wanita yang licik. Kamu jangan sampai tertipu oleh dia,” ucap Jingsi sembari menunjuk-nunjuk Ailing.
“Putri Jingsi, aku awalnya tidak punya masalah apa pun dengan kalian semua. Tapi kalian yang datang ke sini dan sengaja mengusikku,” sahut Ailing yang tentu saja tidak terima dihina seperti itu. Kemudian ia berbalik dan melangkah pada Xin Ya.
“Lepaskan dia!“ teriak Ailing sembari menarik tangan Xin Ya dari pegangan dua gadis lainnya.
“Nyonya,” ucap Xin Ya sembari berdiri di belakang Ailing.
Kemudian Pangeran Han berganti menoleh pada Chungli yang saat ini berdiri dengan santai. “Ini istana. Walaupun kamu kerabat dari Ratu, kamu tidak bisa melakukan semua hal sesukamu. Camkan itu!“
“Ck, Pangeran Han … Pangeran Han, kamu ini konyol.“ Chungli menunjukkan wajah aslinya. “Aku saat ini sedang memperjuangkan perasaanku. Semua hal menjadi sah-sah saja saat berjuang.“
'Mereka ini sedang bermain drama atau apa?' batin Ailing yang berniat untuk menyimak saja jika tidak ada yang mengganggunya.
Namun, tiba-tiba saja Pangeran Han memegang tangan Ailing dan menariknya meninggalkan tempat itu.
'Ck, apa maunya?' batin Ailing sembari menarik tangannya ketika sudah agak jauh dari tempat tadi.
Pangeran Han pun berbalik dan melepaskan tangan Ailing. “Kenapa?“
“Apa mau kam—” Kalimat Ailing terhenti ketika melihat seorang laki-laki yang berjalan tak jauh di belakang Pangeran Han.
__ADS_1
Ailing menelan ludahnya ketika mendapat sorot mata tajam dari laki-laki tersebut.
Merasa penasaran dengan ekspresi Ailing, kemudian Pangeran Han pun berbalik. “Paman,” gumamnya.