Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Akh, Jangan Membantuku


__ADS_3

Setelah itu Pangeran Rong Ai pun meninggalkan ruang belajar Pangeran Song. Dan seperti perkataannya, ia melangkah ke arah taman purnama, tempat di mana Ailing tinggal. Tapi di tengah perjalanan, terlihat beberapa pelayan yang tengah berlarian di sekitar taman yang tengah ia lewati.


“Tunggu!“ seru Pangeran Rong Ai sembari mengangkat tangannya pada salah seorang pelayan.


Seketika pelayan tersebut pun berlari ke arah Pangeran Rong Ai.


“Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa semua orang terlihat sibuk?“ tanya Pangeran Rong Ai sambil menatap ke sekitar taman tersebut.


“Itu Pangeran, kami sedang melakukan perintah dari permaisuri Pangeran Song,” jawab pelayan tersebut sembari terus menundukkan kepalanya.


“Perintah, perintah apa?“ tanya Pangeran Rong Ai sembari mengerutkan dahinya.


“Itu Pangeran, Nyonya kami ingin membuat kolam ikan dan ….“ Pelayan tersebut menggaruk pelipisnya, ia lupa apa yang Ailing katakan tadi.


Tiba-tiba ….


“Kenapa masih diam saja? Ayo cepat bawa barang-barangnya ke kolam!“ perintah Ailing sembari melangkah ke arah pelayan dan Pangeran Rong Ai.


Pelayan tersebut pun langsung berbalik dan membungkukkan tubuhnya ketika melihat Ailing. “Baik Nyonya,” sahut pelayan tersebut yang kemudian segera pergi meninggalkan Pangeran Rong Ai.


“Menarik,” batin Pangeran Rong Ai sembari tersenyum kecil melihat Ailing yang semakin mendekat ke arahnya.


“Wah, Bibi, aku tidak menyangka kalau kamu bisa sehebat ini,” puji Pangeran Rong Ai.


“Apa yang dia mau,” batin Ailing yang merasa curiga dengan pujian dari keponakan suaminya itu.


“Terima kasih Pangeran Rong Ai, aku rasa pujian kamu terlalu berlebihan,” sahut Ailing yang masih ragu apakah laki-laki di depannya itu benar-benar sedang memujinya atau sedang mengejeknya.


Kemudian Pangeran Rong Ai dengan tenang membuka kipasnya dan kemudian menutupi separuh wajahnya. "Aku rasa aku tidak berlebihan. Kamu pintar mencari uang dan dalam waktu singkat kamu juga berhasil berkuasa di kediaman ini. Itu artinya kamu lebih dari yang diharapkan.“


“Ck,” decak Ailing sembari memutar matanya.

__ADS_1


"Dasar keponakan dan Paman, sama-sama punya mulut tajam,” batinnya sembari bersedekap di depan Pangeran Rong Ai.


“Keponakan, kamu tahu kan ini semua gara-gara pamanmu. Karena dia meminta anugerah itu, makannya semua pelayan mau menurutiku. Jika tidak, mungkin aku harus menempuh jalan kekerasan untuk menaklukkan mereka,” jawab Ailing sembari mengusap ujung matanya dengan ujung lengan pakaiannya.


“Dengan jalan kekerasan? Sangat menarik, dia bisa mengatakan hal seperti itu dengan ekspresi sedih. Apakah guru bahasanya adalah guru seni pedang,” batin Pangeran Rong Ai sembari mengangguk-ngangguk.


“Ya, ini semua berkat Pamanmu. Jika tidak, entah bagaimana kehidupanku di sini. Mungkin aku akan ditindas oleh mereka,” ucap Ailing sembari kembali berpura-pura menyeka air mata dan kemudian terisak


Pangeran Rong Ai pun tersenyum aneh mendengar hal itu. “Sangat mustahil wanita seperti dia bisa ditindas oleh pelayan,” batinnya.


“Tapi aku dengar Bibi dan Paman memiliki banyak perselisihan, apa aku perlu membantu kalian?” tanya Pangeran Rong Ai yang bertingkah seolah benar-benar perduli dan percaya dengan drama Ailing.


Tiba-tiba saja Ailing melemparkan dirinya ke sebuah tiang yang ada di dekat mereka. “Tidak perlu keponakanku, tidak perlu. Jika kamu melakukan sesuatu, itu justru akan membuat kami semakin memiliki banyak kesalah pahaman,” jawabnya sambil menempelkan keningnya di tiang penyangga atap bangunan tersebut.


“Mutah mutah deh kamu ngelihat dramaku ini, hahaha!“ tawa Ailing dalam hati yang sudah bisa menebak kalau orang seperti Pangeran Rong Ai tidak akan percaya dengan dramanya.


Ia memang sengaja ingin membuat keponakan Pangeran Song itu merasa ilfeel saja, jadi tidak akan mengurusinya lagi.


Sementara itu Pangeran Rong Ai langsung tersenyum aneh melihat tingkah Ailing. “Apa dia perlu melakukan drama menjijikkan ini?“ batinnya.


“Sudah kuduga, dia pasti tidak tahan melihat dramaku,” batin Ailing yang saat ini masih menempelkan keningnya di tiang kayu. Ia pun tersenyum kecil karena merasa rencananya berhasil.


Sesaat kemudian Pangeran Rong Ai melanjutkan kalimatnya. “Tapi Bi, aku dengar kalau kamu pandai memasak, apa boleh aku datang untuk mencicipi ….”


Ailing tak begitu mendegarkan ocehan Pangeran Rong Ai, saat ini pandangannya tertarik ketika melihat ada benda berkilau di antara tanaman hias yang disusun seperti pagar di taman itu. Ia terus memperhatikan benda tersebut hingga tiba-tiba saja matanya membola.


“Awas!“ teriak Ailing sembari mendorong tubuh Pangeran Rong Ai.


Sontak saja Rong Ai pun mundur beberapa langkah, begitu juga dengan Ailing yang punggungnya langsung kembali tertahan tiang. Bertepatan dengan itu, sebuah anak panah pun muncul di tangah mereka dan menancap di dinding yang lain.


Seketika Ailing dan Pangeran Rong Ai menoleh ke arah asal panah tersebut.

__ADS_1


“Hoe!“ teriak Ailing yang kemudian melewati pagar pendek di dekatnya dan langsung memburu pembunuh tersebut.


Tak lama kemudian muncullah Jongki yang entah dari mana.


“Beritahu Pangeran Song kalau istrinya sedang mengejar penghianat,” ucap Pangeran Rong Ai


Jongki lalu menoleh ke arah panah yang masih menancap di sana. “Baik, saya akan segera membantu,” ucap Jongki yang kemudian kembali pergi.


Sesaat kemudian Pangeran Rong Ai pun segera ikut mengejar ke arah di mana Ailing pergi.


Sementara itu saat ini Ailing baru saja berhasil mengejar orang tersebut.


“Berhenti!“ teriak Ailing yang berada tak jauh dari belakang orang jahat tersebut.


Sesaat kemudian tiba-tiba orang tersebut terjatuh karena Ailing melemparinya dengan batu dan salah satu batu tersebut tepat mengenai lutut belakangnya.


“Sial!” maki orang tersebut sembari kembali bangun.


Namun dengan cepat Ailing menendangnya punggung orang tersebut dan membuatnya tersungkur. Anak panah yang ada di belakang tubuh orang tersebut berserakan. Ailing pun dengan cepat mengambil salah satu anak panah dan segera mengayunkannya ke punggung orang tersebut.


“Akhh!“ pekik orang tersebut.


“Kamu salah satu komplotan orang yang menyerangku kemarin itu kan?“ Ailing kembali mengayunkan anak panah tersebut. Ia benar-benar menjadikan benda tersebut sebagai senjatanya.


Kembali suara pekikan muncul dari bibir orang di depan Ailing tersebut. Namun, orang tersebut berbalik dan mencoba untuk kembali berdiri, tetapi dengan cepat Ailing menyerang betisnya cukup dalam.


“Belum mau menyerah?“ Ailing bertanya sembari menempelkan ujung anak panah di leher penjahat tersebut dengan satu tangannya dan satu tangan lain bersikap di belakang tulang ekornya.


“Jangan pikir karena aku wanita aku tidak mampu membunuhmu,” ancam Ailing sembari menatap tajam laki-laki yang hanya terlihat separuh matanya itu.


Mata laki-laki di depan Ailing itu melirik ke sana kemari ketika Ailing semakin mendekat ke arah dirinya, sedangkan lehernya masih berada di bawah ancaman senjata Ailing. Dan tepat ketika Ailing menarik penutup wajahnya, tiba-tiba ….

__ADS_1


“Ailing!“ teriak seseorang.


“Akh!“


__ADS_2