
Setelah beberapa saat akhirnya munculah para pelayan kediaman Pangeran Song yang sedang menggotong bak-bak menuju pinggiran kolam.
“Ah ikannya sudah datang!" seru Ailing sembari tersenyum lebar dan segera berlari ke arah para pelayan tersebut.
Sedangkan Pangeran Song dan Pangeran Rong Ai yang melihat hal itu pun segera mengikuti Ailing untuk melihat ikan jenis apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ailing.
“Paman, sebenarnya ikan apa yang diinginkan oleh Bibi?“ tanya Pangeran Rong Ai sembari terus melangkah dan menatap Ailing yang saat ini tengah bersemangat mengamati benda yang ada di dalam bak.
“Aku tidak tahu. Ikan ini berasal dari kerajaan yang terakhir kali aku taklukan,” jawab Pangeran Song sembari menampilkan ekspresi dingin di wajahnya.
“Dari mana dia tahu ada ikan seperti ini di kerajaan itu? Dia tidak mungkin pernah datang ke wilayah itu,” batin Pangeran Song yang menjadi sangat curiga dan penasaran dengan Ailing.
“Sangat menarik,” gumam Pangeran Rong Ai.
Setelah beberapa saat, akhirnya Pangeran Song dan Pangeran Rong Ai pun sampai di dekat Ailing. Mereka pun ikut menatap ke arah bak-bak yang berisi ikan-ikan yang bisa dikategorikan ukuran remaja itu.
“Ikan apa ini, kenapa warnanya tidak menarik?“ tanya Pangeran Rong Ai sembari menatap ke arah ikan berwarna hitam dan bersisik kasar, sungguh terlihat tak menarik dipandang mata.
Ailing yang masih mengamati ikan-ikan tersebut pun menjawab dengan santai,” Tentu saja ini tidak menarik, karena ikan ini bukan untuk dilihat tapi untuk dimakan,” jawabnya.
“Dimakan?“ Pangeran Rong Ai mengernyitkan dahinya.
Ailing yang tadi berjongkok melihat ikan di salah satu bak pun, kini berdiri dan kemudian menoleh pada Pangeran Rong Ai. “Benar, ikan-ikan ini untuk dimakan bukan untuk dilihat. Kamu pasti belum pernah makan ikan ini 'kan?“
“Tentu saja dia belum pernah makan ikan ini. Bahkan di asal tempat ini ikan ini tidak dikonsumsi,” sahut Pangeran Song sembari menarik lengan Ailing dan membuat Ailing berbalik menoleh ke arahnya.
“Astaga, aku lupa mencari tahu tentang ini. Kemarin yang aku ingin tahu hanyalah di mana aku bisa menemukan ikan gurame ini, aku tidak pernah mencari tahu apakah ikan gurame dikonsumsi atau tidak di zaman ini,” batin Ailing yang terkejut mendengar hal itu.
__ADS_1
“Jadi, bahkan di tempat asalnya ikan ini tidak dikonsumsi? Wah, aku tidak menyangka bibiku berpengetahuan luas seputar ikan-ikanan. Sepertinya aku harus lebih banyak belajar pada Bibi,” sahut Pangeran Rong Ai sembari mengedipkan sebelah matanya pada Ailing.
Langsung saja Ailing menarik lengannya dari cengkraman Pangeran Song. “Apa pun yang terjadi aku harus membuat mereka percaya kalau ikan gurame ini sudah dikonsumsi di tempatnya. Ah, pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan,” batin Ailing mencoba memeras otaknya.
“Tidak mungkin. Aku yakin di tempat asalnya ikan ini juga dikonsumsi. Ya, mungkin tidak disajikan di rumah makan, makanya kalian tidak tahu,” ujar Ailing sembari melangkah sedikit dan kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam bak, lalu mengambil salah satu ikan gurame tersebut.
“Aku pernah kok makan ikan ini, bahkan aku juga mengembangkan resep yang pernah aku pelajari,” ucap Ailing sembari mengangkat ikan gurame yang menggelepar-gelepar tersebut.
Pangeran Rong Ai pun menatap ikan berwarna hitam tersebut dan memperhatikan setiap gerakannya. “Jadi bagaimana Bibi akan memasak ikan ini?“
“Tentu saja ada banyak cara, tapi ikan-ikan ini belum siap konsumsi. Mungkin masih butuh waktu sekitar satu bulan lagi agar dia bisa dimasak,” ucap Ailing sembari melempar ikan gurame tersebut ke dalam kolam yang sudah berisi air.
Setelah itu Ailing pun memberi tanda kepada para pelayan agar segera memasukkan ikan-ikan tersebut ke dalam kolam.
“Oh iya, lalu apa nama ikan ini?“ tanya Pangeran Rong Ai sembari membuka kipasnya.
“Ikan gurame, sungguh nama yang asing,” sahut Pangeran Rong Ai. “Baiklah karena ikan ini baru bisa dimakan setelah satu bulan lagi, maka aku akan datang ke sini setelah satu bulan. Aku harap saat itu aku bisa menikmati masakan Bibi.“
“Tentu saja Pangeran, aku akan dengan senang hati memasak untuk kamu pada saatnya nanti,” sahut Ailing yang kemudian tersenyum dan sedikit mengangguk.
Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya Pangeran Rong Ai pun meninggalkan tempat tersebut. Namun belum sempat Ailing bersyukur, tiba-tiba Pangeran Song kembali mencengkram lengan Ailing.
“Hiss ...,“ desis Ailing sembari meringis menahan sakit karena cengkraman tangan Pangeran Song kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Melihat Ailing yang meringis kesakitan, akhirnya Pangeran Song pun melepaskan cengkramannya. “Kenapa denganku, apa aku benar-benar tidak tega pada wanita ini?“ batinnya.
“Kamu ikut aku ke ruang belajar!“ perintah Pangeran Song dengan nada tegas dan terdengar tak bisa dibantah.
__ADS_1
Ailing pun menelan ludahnya mendengar ultimatum tersebut. Akhirnya, tanpa menjawab apa pun ia langsung mengikuti langkah Pangeran Song. Ia tidak tahu apa yang ingin Pangeran Song bicarakan dengannya, tapi yang jelas ini pasti bukanlah sesuatu yang bagus.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ailing pun sampai di ruang belajar Pangeran Song. Saat ini Pangenan Song tengah duduk di tempatnya, sedangkan Ailing hanya berdiri di hadapan suaminya itu.
“Katakan, siapa kamu sebenarnya!“ sentak Pangeran Song tanpa aba-aba.
Ailing menelan ludahnya mendengar hal itu, jantungnya berdebar kencang merasakan tatapan membunuh dari Pangeran Song.
“Bu-bu-bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu orang yang menjemputku sebelum acara pernikahan. Lalu apa kamu menemukan celah sampai aku bisa kabur saat itu?“ Ailing berdalih.
“Duduk!“ teriak Pangeran Song yang langsung membuat Ailing terperanjat.
Dengan cepat Ailing pun duduk di hadapan Pangeran Song. “Kamu tahu kalau ikan yang kamu inginkan itu berasal dari kerajaan jauh yang baru saja aku taklukkan sebelum kita menikah?“
“Pura-pura saja bodoh, Al, pura-pura bodoh!“ batin Ailing, memerintah dirinya sendiri.
“Jadi kamu marah karena harus mengeluarkan banyak biaya untuk ikan-ikan itu?“ Ailing berpura-pura menarik kesimpulan. “Tenang saja, aku akan memastikan kalau satu bulan lagi ikan itu akan tenar di kerajaan ini.
Dan hanya aku yang mempunyai ikan itu, jadi aku akan dengan cepat mengembalikan semua biaya yang kamu keluarkan. Bagaimana?“ ujarnya lalu mengedipkan sebelah matanya pada pada Pangeran Song.
Namun, ternyata semua tak berjalan seperti yang dipikirkannya. Tiba-tiba saja Pangeran Song mencengkram lehernya.
“Dengar, aku tidak akan mengulanginya lagi. Siapa kamu?“ hardik Pangeran Song.
Ailing menyipitkan sebelah matanya karena merasakan sakit di tenggorokannya. “Bagaimana ini, dia benar-benar marah. Apa yang harus aku katakan?“ batin Ailing
“Jika kamu tidak mau mengaku, jangan harap kamu bisa selamat dari hukuman penggal!“ ancam Pangeran Song
__ADS_1
“Penggal?“ Mata Ailing membola.