Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Perhatian Pangeran Han


__ADS_3

“Itu Nyonya, Pangeran Han kemari,” lapor Xin Ya.


Ailing pun mengernyitkan dahinya. “Bukankah hanya Pangeran Han datang ke sini, kenapa dia panik seperti itu?“ pikirnya.


“Dia datang bersama beberapa pengawal dan langsung menuju ke taman purnama, Nyonya.” Xin Ya melanjutkan kalimatnya.


“Kenapa dia datang bersama pengawal? Apa mungkin beritanya sampai di istana secepat ini?“ Ailing bertanya sambil kembali menoleh pada Pangeran Song.


“Tidak ada yang tidak mungkin,” jawab Pangeran Song sembari mengambil sebatang bunga yang ada di dalam vas bunga yang ada di dekatnya dan kemudian memberikannya pada Ailing. “Kamu tahu kan harus melakukan apa?“


“Ya, apa pun itu aku akan melakukannya,” jawabnya tanpa berpikir panjang.


Beberapa menit berlalu, saat ini Pangeran Song dan Ailing pun sampai di taman purnama. Terlihat Pangeran Han dan empat orang pengawal istana sedang berdiri di depan kamar Airin.


“Apa yang terjadi sampai Pangeran Han tiba-tiba datang kemari bersama pengawal istana?“ tanya Pangeran Song ketika baru saja sampai di taman purnama.


Pangeran Han dan keempat pengawal tersebut pun berbalik dan menatap ke arah Pangeran Song dan Ailing yang tengah melangkah bergandengan tangan ke arah mereka. “Maafkan kelancanganku Paman, aku langsung datang ke sini ketika mendengar Bibi diserang oleh orang,” ujarnya.


Pandangan matanya pun tertarik ke arah bunga yang saat ini di pegang oleh Ailing. “Apa mereka benar-benar sudah dekat?“ batinnya.


Sesaat Pangeran Song ikut melirik ke arah bunga yang dipegangi Ailing. Kemudian ia dengan tenang menoleh pada Ailing, lalu mengusap kepala istrinya itu dengan lembut.


“Cih, jika bukan karena harus akting aku pasti sudah menggigit tangannya,” batin Ailing sembari terus tersenyum.


“Iya benar, tadi ada kejadian tidak menyenangkan. Tapi untung saja Bibimu pandai berkelahi, jadi semuanya terhindarkan,” ucap Pangeran Song.


Lalu Ailing pun balas menatap Pangeran Song. “Pangeran, tapi Anda jangan melupakan orang yang berjasa tadi. Bagaimanapun juga pelayan itu sudah menyelamatkanku,” sahutnya dengan lembut sembari mengarahkan tangannya dengan hati-hati untuk mencubit pinggang Pangeran Song.


“Rasain kamu, seenaknya pegang-pegang,” batin Ailing karena saat ini tangan Pangeran Song mulai turun meraba ke punggungnya.


“Oh iya maksud kamu pelayan yang diberikan oleh kerajaan itu?” sahut Pangeran Song sembari mengerutkan keningnya. Ekspresi wajahnya menggambarkan seolah dia tak merasakan apa pun.

__ADS_1


“Iya, lebih baik besok kita pergi ke istana untuk meminta maaf pada Ratu, bagaimanapun juga pelayan itu adalah pemberian Ratu pada kediaman ini kan?” ujar Ailing sembari menatap mesra Pangeran Song.


Sementara itu saat ini Pangeran Han tengah menyoroti adegan mesra di depannya tersebut. “Apa benar wanita ini sudah berpindah hati pada Paman? Tapi dulu dia tidak memiliki keahlian bela diri, dari mana dia bisa bertarung seperti yang yunhan katakan? Mungkinkah Paman yang mengajarinya?” batinya.


“Tidak perlu Bibi. Aku datang ke sini karena perintah ibunda ratu, ibunda mengkhawatirkan bibi. Dia tidak mempermasalahkan tentang pelayan itu, jadi jangan mengkhawatirkan hal itu,” sahut Pangeran Han sambil melangkah ke arah Ailing dan Pangeran Song.


“Apalagi yang mau dia lakukan,” pikir Ailing ketika melihat Pangeran Han terus menatap lurus ke arahnya.


“Bibi, aku membawakan obat untuk kamu. Ini adalah krim terbaik yang dibuat oleh tabib kerajaan, jika kamu tergores segera saja usapkan,” ucap Pangeran Han dengan lembut sembari mengambil salep yang dikatakan dari dalam saku jubahnya.


“Ah iya, terima kasih.“ Ailing mengambil salep yang disodorkan oleh Pangeran Han dengan sebuah senyum canggung di wajahnya.


Lalu Pangeran Han kembali menggerakan tangannya, memberi tanda pada salah satu pengawal yang dibawanya. “Ailing harusnya tersentuh dengan ini,” pikirnya sambil mengambil sebuah kotak yang diberikan oleh pengawal tersebut.


“Ini ada kue kesukaan Bibi, semoga dapat membuat Bibi lebih tenang,” ucapnya dengan lembut dan sopan.


“Apa dia ingin menunjukkan kalau kami ini pernah dekat?“ batin Ailing yang kini menatap sekotak kue cantik yang disodorkan oleh pangeran Han sendiri..


“Ya, seperti ini baru benar. Jika kalian memiliki masalah, maka Ailing pasti akan kembali padaku,” batin Pangeran Han yang kemudian menoleh pada pengawalnya.


“Baiklah kalau begitu, karena semuanya sudah terlihat baik maka aku dan para pengawal akan melapor pada ibunda ratu,” ujar Pangeran Han.


“Baik, silahkan Pangeran,” sahut Pangeran Song dengan santai.


Setelah itu seperti yang dikatakan, Pangeran Han pun meninggalkan tempat itu.


“Untunglah selesai,” ujar Ailing sembari mengusap dadanya ketika Pangeran Han sudah menghilang dari pandangannya. Namun tiba-tiba saja ….


Brak! Pangeran Song menjatuhkan kotak berisi kue di tangannya.


Tentu saja ini membuat Ailing terkejut. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya sembari menatap ke arah kue-kue cantik yang saat ini terjatuh di tanah.

__ADS_1


“Kue itu beracun,” jawab Pangeran Song sembari melangkah dan menginjak kue yang Pangeran Han berikan.


“Kamu tahu itu beracun dari mana?Bahkan kamu saja belum membukanya,” protes Ailing sembari menatap sisa-sisa kue yang masih utuh.


Kemudian dengan sengaja Pangeran Song mengalihkan langkahnya dan kembali menginjak kue-kue utuh yang ada di tanah.


“Sengaja! Dia pasti sengaja!“ geram Ailing. Mulutnya berkedut ketika kata-kata kotor ingin keluar dari bibirnya, tetapi terus ia tahan sekuat hati.


“Kenapa, tidak rela?“ sinis Pangeran Song. Ia pun menatap tajam Ailing yang saat ini juga sedang memelototinya.


“kamu picik sekali. Tidak ada yang melarang kamu benci pada Pangeran Han, itu urusan kalian berdua. Tapi yang kamu injak-injak itu makanan, memang apa salahnya kalau dia kumakan,” protesnya.


“Jadi kamu mengatai aku picik hanya karena kue-kue ini,” geram Pangeran Song sembari menarik lengan Ailing.


Ailing pun maju selangkah hingga akhirnya tubuh mereka saling menempel. Ailing pun semakin melebarkan matanya menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu. “Dia pikir aku tidak berani,” batinnya yang kini


menggerakkan tangannya untuk berkacak pinggang.


“Kamu picik sekali, lihat semua kue-kue itu jadi sia-sia.” Ailing mengulang perkataannya. “Kan sudah kubilang, aku ini tidak ikut campur perseteruan kalian berdua. Terserah kalian mau melakukan apa, tapi itu yang kamu buang adalah makanan, rahmat Tuhan.


Walaupun aku belum tahu rasa kue-kue itu, tapi kalau dia bilang itu makanan favorit Ailing dulu, maka seharusnya itu makanan enak,” oceh Ailing dengan berapi-api.


Sejujurnya, masalah utama di hati Ailing bukanlah soal makanan yang diinjak oleh Pangeran Song, tetapi saat ini dia tidak terima dengan perlakuan arogan Pangeran Song yang terasa semena-mena pada dirinya.


Tiba-tiba saja Pangeran Song membungkukkan tubuhnya dan dengan cepat mengangkat tubuh Ailing di pundaknya, seperti membawa karung beras. “Turunkan aku! Mau ke mana!“ teriaknya sembari memukuli punggung Pangeran Song.


“Kita pergi ke tempat yang akan membuat kamu tidak bisa mengatakanku picik,” sahut Pangeran Song.


“Tidak bisa mengatakan picik? Jangan-jangan dia mau …,” batin Ailing menebak-nebak. “Ah, tidak boleh.“


“Lepaskan aku!“

__ADS_1


__ADS_2