Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Suami yang Sangatlah Kampret


__ADS_3

Keesokan paginya.


“Sialan, ini gara-gara laki-laki somplak itu,” gerutu Ailing yang saat ini sedang berendam di dalam bak mandi.


“Nyonya, somplak itu apa?“ tanya Xin Ya yang saat ini sedang membantu mengusapkan punggung Ailing.


“Somplak itu yan gila,” jawab Ailing dengan ketus. “Aku juga masih marah pada kamu, kenapa kamu tadi malam tidak menolongku?“


Xin Ya lalu tersenyum kecil. “Maaf Nyonya, tapi posisi Anda semalam itu—”


“Sudah, diam-diam,” potong Ailing yang tidak ingin mendengar tentang semalam lagi. Ia masih saja kesal karena sampai hampir pagi Pangeran Song terus mengerjainya dan berdebat dengannya. Dan yang membuat lebih kesal lagi, sekali pun ia tak pernah menang selama perdebatan semalam.


“Lain kali kalau dia ke sini, kamu tidak boleh meninggalkan kamar ini. Kalau perlu kamu harus membantuku mengusirnya, mengerti?“ tegas Ailing yang tak mau lagi dikerjai seperti semalam.


Xin Ya pun tersenyum aneh. “I-iya, Nyonya,” jawabnya ragu. Bagaimanapun juga, seorang pelayan bertugas untuk menciptakan kebaikan dan mengusahakan suasana yang baik untuk kedua tuannya, bukan merusak suasana seperti yang diinginkan Ailing.


'Ah sudahlah, yang penting Nyonya dan Tuan sudah berdekatan semalam. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik,' batin Xin Ya sembari terus membantu Ailing mandi.


Setengah jam berlalu. Ailing yang sudah selesai mandi pun segera merias diri dengan dibantu oleh Xin Ya.


“Anda benar-benar terlihat luar biasa mengenakan pakaian ini, Nyonya,” ucap Xin Ya sembari memasang satu hiasan lagi di rambut Ailing.


'Aku tidak habis pikir, apa wanita di jaman ini tidak mati kepanasan memakai pakaian berlapis-lapis seperti ini?' batin Ailing yang baru pertama kali menggunakan pakaian tujuh lapis.


“Nyonya,” panggil Xin Ya yang langsung menyadarkan Ailing dari lamunannya.


“Ada apa?“ tanya Ailing sembari menatap Xin Ya dari pantulan kaca yang ada di depannya.


“Apa kita perlu memasang satu jubah lagi? Sepertinya ad—”


“Cukup!“ potong Ailing. “Ini sudah sangat bagus. Aku tidak mau dibilang ingin menyaingi ratu,” bebernya yang sebenarnya hanya alasan karena tak mau memakai lebih banyak kain lagi yang menempel di tubuhnya.


“Baiklah Nyonya, dengan begini pun Anda sudah terlihat sangat cantik,” puji Xin Ya sembari mengusap rambut Ailing yang lembut.


Sesaat kemudian terdengarlah suara ketukan di pintu masuk kamar tersebut. Xin Ya pun bergegas pergi ke arah pintu dan membukanya sedikit untuk melihat siapa yang datang.


“Siapa Xin?“ tanya Ailing yang saat ini sedang membetulkan riasan wajahnya agar tak terlalu menor.

__ADS_1


“Aku,” jawab Pangeran Song yang baru saja masuk. “Sudah selesai?“ tanyanya.


Ailing pun menoleh. “Sudah,” jawabnya dengan ketus dan kemudian bangun dari kursinya.


“Ingat untuk tersenyum kalau kepalamu tidak mau dipenggal.“ Pangeran Song memperingatkan.


Langsung saja Ailing menarik garis bibirnya dan menunjukkan deretan giginya pada Pangeran Song. “Begini sudah cukup kan?“ tanyanya.


Xin Ya yang melihat hal itu langsung menepuk keningnya dan kemudian berpura-pura membersihkan meja yang ada di dekatnya.


“Ingat, jika kamu berani mempermalukanku, jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ini selamanya,” ancam Pangeran Song diikuti dengan ekspresi serius di wajahnya.


“Ck, tanpa kamu ancam pun aku juga tidak akan mempermalukan kamu,” sahut Ailing sembari memutar matanya, malas.


'Aku tidak bodoh. Xin Ya sudah mengatakan padaku kalau ada banyak bahaya di istana dan ada banyak sekali orang yang mengincarku saat ini,' batin Ailing sembari meregangkan lehernya.


'Tapi aku bukan wanita biasa, mereka yang berani menggigitku pasti akan aku injak seperti semut,' pikir Ailing sembari berjalan mengikuti Pangeran Song meninggalkan kamar itu.


Dua jam lebih berlalu, saat ini Ailing dan Pangeran Song sedang berlutut di depan raja dan ratu sebagai penghormatan mereka yang baru menikah.


“Berdirilah kalian,” pinta Raja sembari tersenyum hangat dari singgasananya.


Kemudian mereka dengan hati-hati bangun, bahkan Pangeran Song sempat membantu Ailing bangun untuk memperlihatkan keharmonisan rumah tangga mereka.


Ailing pun berpura-pura tersipu ketika Pangeran Song menggenggam tangannya cukup lama.


“Aku sangat senang melihat hubungan kalian yang akur, ini bisa menjadi contoh yang baik untuk masyarakat luas,” puji sang Raja sembari mengusap jenggotnya dan kemudian tertawa lepas. “Bukankah begitu, Ratu?“


“Benar, Raja. Apa lagi hamba dengar kalau Pangeran Song ini sangat memanjakan sang Putri, pasti banyak orang yang iri dengan hubungan mereka,” jawab Ratu sembari tersenyum menatap Ailing.


Ailing yang mendapat senyuman itu pun langsung ikut menarik garis bibirnya agar melengkung ke atas. Ia tahu betul kalau Ratu sedang menyindir dirinya. “Izin menjawab. Hamba memang sangat beruntung bisa mendapatkan kehormatan untuk merasakan kasih sayangnya.


Jika bukan dia yang sabar dengan semua kebodohan dan ketidak dewasaannya hamba, hamba yakin kalau hamba pasti akan tetap tersesat selamanya. Terima kasih Pangeran,” ucapnya sembari menoleh pada Pangeran Song.


'Aku akan berkumur sepuluh kali setelah pulang dari sini,' batin Ailing sembari terus tersenyum menatap Pangeran Song yang saat ini sedang mengusap kepalanya dengan lembut.


“Tidak. Akulah yang harus berterima kasih pada kamu karena jika bukan kamu, maka mungkin aku tidak akan mendapatkan perasaan indah seperti beberapa hari ini. Semoga kamu selamanya tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkanku,” ucap Pangeran Song.

__ADS_1


'Dasar mulut buaya, bisa-bisanya dia mengucap doa yang menjijikkan seperti itu,' gerutu Ailing di dalam hati.


“Hahaha! Benar, sepasang suami istri itu harus saling mencintai dan menyayangi seperti kalian,” sahut Raja yang terlihat begitu senang dengan Ailing dan Pangeran Song. “Bagaimana menurut kalian para Menteri, bukankah mereka adalah pasangan yang sangat serasi?“


“Benar, Raja,” jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


“Baiklah, karena hal itu aku akan menghadiahkan sepuluh ribu tael emas, dua puluh set sutra langka, sebuah ginseng dewa dan dua puluh set perhiasan mutiara dan batu mulia untuk kediaman Pangeran Song,” ucap sang Raja dengan bangga.


'Wah, aku benar-benar kaya,' batin Ailing dengan mata berbinar saat mendengar semua barang-barang yang disebutkan oleh raja. Namun, sesaat kemudian teringat sesuatu dan langsung melirik ke arah Pangeran Song. 'Saat pulang nanti, aku akan langsung meminta bagianku dari dia.


Jika tidak, aku pasti tidak akan mendapatkan apa pun dari orang licik seperti dia,' pikirnya.


Sesaaat kemudian Raja pun kembali bertanya, “Bagaimana, apakah ada hal lain yang ingin kalian minta?“


“Terima kasih Raja,” jawab Pangeran Song dan Ailing serempak.


Tak diduga, tiba-tiba Pangeran Song kembali berbicara. “Mohon maaf, jika diizinkan hamba ingin meminta anugerah dari Yang Mulia,” ucapnya.


“Katakan saja.“


“Hamba meminta Yang Mulia menganugerahkan pernikahan abadi untuk kami berdua. Hamba ingin menjadikan Putri Ailing sebagai satu-satunya wanita dalam hidup hamba, begitu juga sebaliknya,” ucap Pangeran Song sembari tersenyum pada Ailing. “Bukankah begitu Putriku?“ tanyanya dengan lembut.


'Song keparat! Beraninya dia meminta hal ini,' batin Ailing sembari sekuat tenaga memaksa bibirnya untuk tersenyum.


“Benar Tuanku,” jawab Ailing pada akhirnya.


“Baiklah kalau begitu, hari ini aku menganugerahkan pernikahan abadi untuk kalian. Kalian berdua akan menjadi pasangan seumur hidup, hanya satu untuk kalian berdua,” ucap sang Raja lalu tertawa keras


“Terima kasih Raja,” ucap semua orang yang ada di ruangan itu hampir serempak.


Namun, tiba-tiba ….


Brugh!


“Putri Chungli, Putri Chungli pingsan,” bisik-bisik semua orang yang ada di sana.


“Pasti ini karena anugerah raja,” ucap yang lainnya.

__ADS_1


'Putri Chungli, siapa lagi ini?' batin Ailing.


__ADS_2