Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Aku Pasrah


__ADS_3

Tentu saja hal itu membuat Pangeran Song dan Ailing langsung menoleh.


“Xin Ya,” panggil Ailing sembari berusaha bangun dari tempatnya.


Sedangkan Xin Ya yang baru saja masuk pun langsung menundukkan pandangannya. 'Ah, aku pikir Nyonya dalam bahaya, tapi ternyata ….' Wajahnya bersemu.


Tanpa berani menatap, kemudian Xin Ya pun mundur selangkah. “Maafkan saya Nyonya, Tuan, saya sangat ceroboh,” ujarnya.


“Tidak,” sahut Ailing dengan cepat. “Jika ada sesuatu yang penting, kita bisa membicarakannya sekarang,” imbuhnya.


“Tidak Nyonya, tidak ada yang penting,” jawab Xin Ya sembari melirik ke kanan dan kiri dan kemudian menutup pintu kamar itu lagi tanpa berani sekali pun mendongakkan wajahnya.


“Xin Ya!“ panggil Ailing ketika pintu tersebut kembali tertutup seperti sedia kala.


“Bahkan pelayan saja bisa lebih bijak dari kamu,” seloroh Pangeran Song sembari turun dari tubuh Ailing dan kemudian berbaring di sampingnya.


Sedangkan Ailing langsung menoleh. “Kalau begitu lepaskan saja aku dan menikah sana dengan pelayan,” tukasnya sembari berusaha bangun dari posisinya saat ini.


“Kamu sudah tidak malu lagi?“ goda Pangeran Song karena saat ini Ailing terlihat sudah tak seperti tadi ketika berusaha keras menutupi tubuhnya.


“Bukankah kamu sangat ingin melihat tubuhku? Kalau begitu lihat saja,” ucap Ailing dengan seenaknya sembari bangun dari ranjang dan kemudian melewati Pangeran Song untuk turun dari ranjang.


'Dia benar-benar ingin berjalan tanpa busana?' Wajah Pangeran Song sedikit bersemu melihat hal itu. Kemudian dengan cepat ia menarik tangan Ailing dan membuat istrinya itu kembali berbaring di sampingnya.


“Apa lagi?“ sergah Ailing dengan tatapan setajam siletnya.


“Kamu lupa apa yang aku inginkan?“ tanya Pangeran Song sembari mengusap punggung Ailing.


'Bagaimana ini, apa dia benar-benar ingin melakukan itu? Ck, sebenarnya aku nggak nolak kalau dia hanya laki-laki biasa yang tampan. Tapi ini … dia adalah orang yang kejam. Kalau aku melakukannya dengan dia, bukannya senang tapi aku malah seperti orang yang dilecehkan,' batin Ailing sembari terus mencari cara agar Pangeran Song tidak berminat padanya.


'Ah, aku tahu,' ujarnya di dalam hati ketika menemukan sesuatu yang seharusnya membuat Pangeran Song enggan untuk menyentuhnya.


“Kamu benar-benar ingin melakukan itu denganku?“ tanya Ailing dengan lebih berani.


“Ya, kenapa tidak.“


“Oke, tidak masalah,” sahut Ailing dengan santai.

__ADS_1


'Apa yang dia rencanakan? Tidak mungkin dia berubah secepat itu tanpa alasan. Menarik,' batin Pangeran Song yang menanti pertunjukan Ailing selanjutnya.


Kemudian Pangeran Song dengan pelan mengarahkan tangannya pada leher Ailing. “Kalau begitu aku akan mu—”


“Ayo mulai saja.“ Ailing dengan cepat menangkap tangan Pangeran Song dan mengarahkan pada dadanya. “Aku tidak akan melawan kali ini, tapi kamu jangan menyesal nantinya.“


“Menyesal?“ Pangeran Song mengernyit.


“Ya, jujur saja aku sudah tidak perawan lagi. Jadi kalau kamu bersedia mencicipi bekas orang lain, maka aku yang akan beruntung saat ini” jawab Ailing sembari mengedipkan sebelah matanya.


'Dasar wanita ceroboh, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dengan santai,' batin Pangeran Song sembari menarik salah satu garis bibirnya.


“Jadi kamu sudah tidak suci?“ tanya Pangeran Song.


“Ya, seperti itulah,” jawab Ailing sembari merebahkan tubuhnya dengan lebih santai.


'Huh, dengan begini pasti dia akan segera marah dan pergi dari kamar ini,' batinnya yang bersiap mendengar kemarahan Pangeran Song.


“Kalau begitu dengan siapa kamu pertama kali melakukan itu?“ tanya Pangerang Song yang saat ini juga ikut merebahkan tubuhnya dengan lebih santai seperti yang Ailing lakukan.


“Kenapa kamu diam saja, apa kamu lupa dengan siapa pertama kali kamu melakukan itu?“ tanya Pangeran Song karena Ailing tak segera menjawab.


“Tentu saja dengan Pangeran Han. Dulu aku sangat menyukainya, jadi sangat wajar kalau aku menyerahkan segalanya,” jawab Ailing dengan ringan.


“Dan bagaimana kamu bisa lolos tes keperawanan sebelum aku membawamu ke sini?“ tanya Pangeran Song sembari memiringkan tubuhnya menatap Ailing.


“A-a-aku ….“ Ailing tergagap. Ia benar-benar tidak menyangka akan ada hal seperti itu di jaman ini.


“Apa kamu lupa kalau yang memeriksamu adalah pena tua istana? Mereka tidak akan berbohong, sekalipun kamu menyuap mereka dengan seluruh isi kediaman Jendral.“ Pangeran Song tersenyum tipis, ia tahu betul kalau saat ini dirinya sudah menang selangkah.


'Mati aku. Bagiamana aku harus menjawabnya? Pokoknya aku tidak boleh kalah,' batin Ailing sembarai mengepalkan tangannya kuat.


“Aku melakukan hal itu setelah pemeriksaan,” jawab Ailing dengan ringan.


Pangeran Song tersenyum kecil. “Apa kamu lupa kalau setelah pemeriksaan aku datang menjemputmu?“


'Ck, aku benar-benar tidak mengingat detail itu,' batin Ailing yang ingin sekali memukul kepalanya sendiri.

__ADS_1


“Aku melakukan itu di sela-sela saat kamu menjemputku,” jawabnya sembari berbalik.


Langsung saja Pangeran Song tersenyum melihat punggung kecil Ailing terpampang jelas di depannya. Ia dengan cepat menarik tubuh Ailing dan memeluknya cepat.


'Astaga, kenapa dia tidak jijik atau marah sih,' gerutu Ailing di dalam hati.


“Pangeran, aku tidak menyangka kalau kamu sangat menyukaiku sampai rela menyentuhku setelah semuanya. Aku sangat terharu loh,” ucapnya dengan isak di akhir kalimatnya.


“Lanjutkan,” pinta Pangeran Song sembari mengecup punggung Ailing.


Segera tubuh Ailing terasa seperti tersengat aliran listrik. Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang. “Aku sudah memperingatkanmu, aku hanya kasihan saja kalau Pangeran Han akan menertawakanmu karena mau memakan sisa makanannya,” ucapnya.


'Sangat unik. Pasti hanya dia wanita di dunia ini yang mau mengolok-olok dirinya sendiri di depan suaminya,' pikir Pangeran song sembari melingkarkan tangannya di perut ramping Ailing.


Mata Ailing membola merasakan tangan Pangeran Song yang mulai mengusap ke sana kemari. 'Ah, sialan. Kenapa dia justru semakin mendekat,' batinnya yang merasakan geli di perut bawahnya.


“Kenapa kamu hanya diam saja? Ayo lanjutkan, aku penasaran dengan ceritamu,” bisik Pangeran Song.


Dada Pangeran Song menekan punggung Ailing, hingga membuatnya bisa mendengar irama jantung laki-laki yang sedang memeluknya erat itu. Kini jantung mereka berdegup seirama, membuat suasana di ruangan yang kacau balau itu terasa hangat.


“Em … aku ingin ke kamar kecil, lepaskan aku,” ucap Ailing yang mencari alasan untuk pergi karena tangan Pangeran Song kini bergerak makin liar.


“Lakukan saja di sini, aku tidak keberatan,” bisik Pangeran Song.


Ailing menggigit bibirnya mendengar ucapan yang sangat mesum itu. 'Ah, Pangeran sialan. Apa ucapanku dari tadi dianggapnya seperti angin,' batinnya.


“Aku tidak menyangka kalau Pangeran Song yang terkenal kejam itu ternyata sangatlah mesum. Sepertinya ini pengetahuan baru yang perlu dicatatkan dalam sejarah dinas—” Kalimat Ailing terhenti ketika suaminya itu menyentuh bagian sensitifnya.


“Kenapa berhenti? Ayo, teruskan bicaramu,” goda Pangeran Song.


'Dasar laki-laki mesum!' geram Ailing di dalam hati sembari mengepalkan tangannya kuat.


“Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan sedari tadi?“ Ailing mencoba untuk tetap tenang.


“Aku mendengar. Dan karena pena tua itu tidak bisa dipercaya, maka lebih baik aku memeriksa semuanya sendiri,” bisik Pangeran Song.


“Hah?“

__ADS_1


__ADS_2