Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Racun Lintah


__ADS_3

Pertempuran pun terjadi dengan sengit. Saat ini Ailing dan Pangeran song tengah berhadapan dengan delapan orang berpakaian serba hitam dengan kain yang menutupi separuh wajahnya.


“Bagaimana ini?“ tanya Ailing pada Pangeran Song yang saat ini beradu punggung dengannya. Keringatnya membasahi kening, napasnya naik turun karena baru saja selesai melumpuhkan satu orang musuhnya dengan susah payah.


“Jika kamu tidak kuat, maka kamu bisa menjauh," bisik Pangeran Song yang saat ini masih terlihat tenang menatap empat orang musuh yang masih berdiri di sekitar mereka.


Bagaimanapun juga fisik Pangeran Song dan Ailing sangatlah berbeda. Ia baru saja menjatuhkan tiga orang musuhnya hanya dalam beberapa kali serangan, bahkan hanya terlihat sedikit peluh yang keluar dari dirinya. Sungguh memanglah orang yang terlatih di medan perang, kira-kira seperti itulah yang saat ini ada di dalam pikiran Ailing.


“Tidak bisa. Aku tidak akan meninggalkan kamu,” sahut Ailing sembari mengeratkan pegangannya pada pedang yang dipinjami oleh suaminya itu.


Mendengar jawaban yang terdengar serius itu, Pangeran Song pun langsung tersenyum kecil. 'Dasar wanita konyol,' batinnya sembari menguatkan kuda-kudanya.


"Kalau begitu kamu serang yang memiliki tubuh kecil itu, aku akan menyerang yang lainnya," titah Pangeran Song.


Kemudian Ailing pun melirik ke arah tiga orang yang akan dihadapi oleh Pangeran Song. Tubuh mereka terlihat tinggi besar, Ailing sadar kalau ia pasti akan kesulitan jikalau harus menghadapi salah satu dari mereka.


'Ah sudahlah, dia kan Pangeran Perang dia sudah sering melawan yang seperti itu, jadi seharusnya tidak masalah. Benar katanya aku akan menghadapi yang ini saja,' pikir Ailing sembari mengatur napas bersiap untuk kembali mengayukan pedang.


Pertarungan pun kembali berlanjut, Ailing benar-benar bertarung dengan satu orang berbadan tinggi kurus tersebut. Ia memadukan kemampuannya bermain anggar saat ia masih di dunia modern dulu dengan keterampilan pedang yang dimiliki oleh Ailing sendiri.


'Serang bawah, ikuti alurnya. Berputar sambil mengayun, hati-hati dengan serangan mendadak,' batin Ailing sembari terus bergerak seperti aba-aba di dalam hatinya.


'Ck, kenapa laki-laki cungkring ini tidak seperti yang tadi. Tingkatannya pasti lebih dari orang tadi, aku harus hati-hati,' batin Ailing dengan keringat yang terasa sudah membasahi punggungnya.


'Siapa orang yang mengirim mereka, apa mungkin ini dari Putri Chungli? Apa dia dendam padaku gara-gara masalah di istana tadi?' pikir Ailing sembari terus mengayun pedang. 'Haiss, tapi tidak mungkin.


Si Chungli sangat menyukai laki-laki songong itu, jadi seharusnya dia tidak akan mengirim orang untuk mencelakai kami berdua. Jadi hanya ada satu kemungkinan, ini pasti adalah musuh dari Pangeran Song.'


Sementara itu, di sisi lain saat ini Pangeran Song sudah menjatuhkan dua orang dari tiga musuh yang dihadapinya.


'Aku harus mencari petunjuk. Jika tebakanku benar, ini pasti dikirim dari istana,' batin Pangeran Song sembari menarik pedang yang baru saja menancap di perut salah satu lawannya.


Setelah itu ia pun beralih pada penjahat terakhir yang ada di depannya. Dengan lincah ia menggerakkan pedangnya menyerang laki-laki berbadan tinggi tegap tersebut.


'Jadi mereka ini benar-benar dari istana,' batin Pangeran Song yang memperhatikan setiap gerakan yang ternyata tak asing bagi dirinya. Ya, tentu saja tak asing karena gerakan-gerakan tersebut dia sendirilah yang menciptakannya.

__ADS_1


Gerakan khusus yang ia ciptakan untuk prajurit yang bertugas di daerah selatan tersebut memang cukup istimewa. Namun, tentu saja Pangeran Song tidak mungkin dikalahkan dengan jurus buatannya sendiri.


Trang! Pedang laki-laki tersebut terlempar jauh.


Segera saja Pangeran Song mengarahkan pedangnya untuk menggores kaki musuhnya dan membuatnya berlutut.


“Katakan, siapa yang mengirim kalian?" tanya Pangeran Song sembari meletakkan pedangnya di leher laki-laki tersebut.


“Kamu pikir hanya dengan membuatku seperti ini, maka aku akan menyerah?" sahut laki-laki yang kini tengah berlutut tersebut sambil membuka penutup wajahnya.


“Aku memberimu kesempatan terakhir,” ucap Pangeran Song sembari menatap tajam laki-laki di depannya itu.


“Setelah kami kalah, kamu pasti akan mati,” ucap laki-laki tersebut lalu tertawa lepas. Dan tak lama kemudian munculah busa dari mulutnya, seiring dengan matanya yang tertutup dan tubuhnya yang ambruk.


Pangeran Song pun menghela napas panjang melihat hal itu. “Mereka ini pasukan mati,” gumamnya.


Kemudian ….


“Bagaimana?“ tanya Ailing yang juga baru saja selesai bertarung dan segera melangkah ke arah Pangeran Song.


“Pasukan mati, apa itu?“ tanya Ailing yang penasaran.


“Mereka akan bunuh diri setelah melakukan tugas, tidak perduli menang ataupun kalah,” beber Pangeran Song sembari menoleh ke arah Ailing yang terlihat berjalan santai ke arahnya.


“Ck, kejamnya,” komentar Ailing sembari menatap mulut musuh Pangeran Song yang berbusa.


“Awas!“ teriak Pangeran Song tiba-tiba.


Ailing yang terkejut pun segera berbalik dan melihat sebuah anak panah meluncur ke arahnya. Dan ….


“Ishh!“ desis Pangeran Song cukup keras karena saat ia menarik tubuh Ailing, ternyata panah tersebut menyerempet lengannya.


“Lebih baik kita pergi dari sini,” ucap Pangeran Song.


“Baik,” jawab Ailing sembari bangun dan kemudian ikut berlari bersama Pangeran Song meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Mereka pun terus berlari melewati semak belukar. Ailing terus menggunakan pedangnya untuk membuat jalan bagi mereka, juga menebas ular yang hewan-hewan liar yang ingin menyerang mereka di hutan itu. Hingga akhirnya sampailah mereka di tepi danau.


“Mereka pasti sudah tidak bisa menemukan kita,” ucap Ailing sembari mendudukkan tubuhnya di tepian danau tersebut. Kaki-kakinya benar-benar lemas karena baru saja berlari entah berapa kilometer jauhnya.


“Ya, mereka pasti sudah pergi. Mereka tidak akan berani ke sini,” jawab Pangeran Song yang saat ini duduk di agak jauh di belakang Ailing.


Segera saja Ailing teringat dengan luka Pangeran Song. Ia kemudian berbalik dan melihat wajah Pangeran Song yang pucat. “Ada apa? Apa banyak pendarahan?“ tanyanya yang kini kembali berdiri dan berlari kecil ke arah Pangeran Song.


“Pantas saja dari tadi banyak hewan yang datang pada kita, ternyata itu gara-gara darah kamu ini toh,” seloroh Ailing sembari menatap luka Pangeran Song yang terus mengeluarkan darah.


'Dasar wanita kurang ajar, aku ini terluka karena kamu,' batin Pangeran Song sembari menghela napas panjang.


“Tapi luka seperti ini kenapa terus berdarah?“ gumam Ailing sembari berjongkok dan kemudian menatap luka Pangeran Song yang saat Sebenarnya tidak terlalu dalam dan seharusnya sudah kering sejak tadi.


Kemudian Ailing pun mendekatkan wajahnya pada luka Pangeran Song. “Tidak menghitam,” gumamnya yang kemudian mengendus luka tersebut.


Mata Ailing terbelalak ketika mencium bau lain dari luka tersebut. “Ini ada racunnya,” ucapnya sembari segera membuka dua lapis pakaiannya.


“Racun?“ Pangeran Song mengernyit.


Ailing dengan sigap menggunakan pedangnya untuk menyobek bagian lengan pakaian Pangeran Song. “Ini racun lintah. Dia akan membuat luka kamu terus berdarah,” jawab Ailing sembari sibuk menyobek pakaiannya sendiri untuk membersihkan darah Pangeran Song.


“Tunggu sebentar aku ambil air untuk membersihkan lukamu,“ ucap Ailing sembari kembali berlari ke arah danau.


Sementara itu, saat ini terlihat beberapa orang muncul dari arah belakang Pangeran Song. Orang-orang tersebut pun langsung berlutut ketika sudah berada tak jauh dari Pangeran Song.


“Pangeran, maafkan kami yang terlam—”


“Diam,” potong Pangeran Song. “Berikan saja penawar dan pergilah,” titahnya.


Jongki pun segera mengernyitkan dahi. “Tapi Pangeran—”


“Sebarkan berita kalau aku sedang berlibur,” sela Pangeran Song.


“Berlibur?“ Jongki mengerutkan keningnya dan kemudian ikut menatap ke arah Ailing seperti yang dilakukan Tuannya.

__ADS_1


Sesaat kemudian wajah Jongki tiba-tiba bersemu. 'Berlibur, jangan-jangan ….


__ADS_2