Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Pertolongan Tabib Fang


__ADS_3

Saat ini Pangeran Song dan Ailing telah sampai di sebuah area pemukiman yang sederhana. Ailing pun mempercepat langkahnya sembari membopong Pangeran Song yang berpura-pura lemah.


“Tolong!“ teriak Ailing.


Dan tentu saja teriakan Ailing membuat mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang sibuk bahu-membahu memasak bersama di desa tersebut.


“Apa yang terjadi Nona?" tanya seorang wanita paruh baya sembari mendekati Ailing dan Pangeran song.


Tak lama kemudian munculah dua orang pemuda yang ikut mendekati Ailing dan Pangeran Song seperti wanita paruh baya tersebut.


“Tolong bantu kami Nyonya, suamiku saat ini sedang terluka sepertinya dia terkenal racun,” ujar Ailing.


Wanita paruh baya itu pun langsung memberi tanda pada dua pemuda yang ada di sampingnya. Kemudian tanpa berpikir panjang, Ailing pun menyerahkan Pangeran Song pada kedua pemuda tersebut.


“Eh, mau dibawa ke mana dia?" tanya Ailing karena melihat Pangeran Song di bopong menjauh dari tempatnya saat ini.


Wanita paruh baya tersebut menepuk pelan pundak Ailing. “Tidak apa-apa, mereka akan membawanya ke tabib. Kita bisa ke sana kalau kamu mau,” terangnya.


Langsung saja Ailing mengangguk. 'Aku tidak tahu karakter orang-orang yang ada di sini, lebih baik aku tidak membiarkan dia sendirian. Ya, seperti kata pepatah 'lebih baik mencegah dari pada mengobati'. Aku harus bersiap dengan segala kemungkinan,' batinnya.


“Baiklah, kalau begitu mari kita ke sana. Tapi perkenalkan dulu namaku adalah Nuo. Aku adalah istri kepala desa di sini. Suamiku sedang pergi ke kota untuk mendiskusikan sesuatu, jadi aku yang bertanggung jawab saat ini.“ Wanita paruh baya tersebut memperkenalkan dirinya dengan sopan.


“Mohon maaf jikalau saya terkesan tidak sopan. Kami berdua baru saja selamat dari kepungan perampok, saya masih merasa takut saat ini. Nama saya Ailing dan itu adalah suami saya Songki. Kami adalah pedagang," sahut Ailing yang sengaja ingin menyembunyikan identitas asli mereka.


“Baik-baik aku mengerti. Kalau begitu mari aku antar kamu ke tempat tabib Fang. Kita lihat apakah tabib Fang memerlukan bantuan kita untuk mengobati luka suami kamu,” ucap Nyonya Nuo sembering menunjukkan jalan pada Ailing.


Mereka pun melangkah bersama ke sebuah rumah yang terlihat cukup besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah lainya di desa itu. Setelah sampai di sana, Ailing dan Nyonya Nuo pun terus menunggu proses pengobatan dari luar kamar.

__ADS_1


'Apakah dia tidak apa-apa? Kenapa tidak ada suara apa pun dari dalam kamar? Atau jangan-jangan dia mati karena kehabisan darah?' pikir Ailing yang merasa makin gelisah.


“Tenanglah,” ucap Nyonya Nuo sembari mengusap punggung Ailing dengan pelan. “Tabib Fang dulu adalah tabib terkenal di kota. Dia bahkan pernah bekerja untuk kerajaan, jadi kamu serahkan saja semuanya pada Tabib Fang,” tutur Nyonya Nuo.


'Pernah bekerja di kerajaan? Apa dia juga pernah melihat si Kampret? Ah, laki-laki itu selalu pergi berperang, seharusnya tabib kerajaan jarang melihatnya. Tapi lebih baik aku memastikannya,' batin Ailing sembari kembali menatap ke arah ruangan tempat di mana pangeran Song sedang diobati.


“Apakah Tabib Fang ini sudah lama bekerja di kerajaan?“ tanyanya lalu menoleh kembali pada Nyonya Nuo yang ada di sampingnya.


“Aku dengar Tabib Fang ini dianggap sebagai guru di kerajaan. Dia sudah lama tidak pergi ke kerajaan, tetapi kerap kali ada beberapa tabib kerajaan yang datang ke sini untuk meminta saran dan pengajaran darinya,” beber Nyonya Nuo.


“Hmm," gumam Ailing memikirkan hal itu.


'Jika memang seperti itu, harusnya Tabib ini tidak hafal dengan si Kampret. Huh, untungnya … ya, dengan begini aku bisa lebih tenang. Jadi tidak akan ada orang yang menyebarkan kalau ada kejadian seperti ini,' batinnya.


Cukup lama Ailing dan Nyonya Nuo menunggu di sana, akhirnya dua laki-laki yang tadi membawa Pangeran Song masuk ke dalam ruangan tersebut pun keluar. Ailing segera bangun dan bergegas mendekati kedua pemuda tersebut.


“Maaf Tuan, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Ailing yang benar-benar penasaran dengan keadaan Pangeran Song.


“Syukurlah," sahut Ailing sembari mengelus dadanya. “Terima kasih Tuan, Anda telah membantu saya dan suami saya,” ujar ailing sembari membungkukkan tubuhnya.


Kemudian Tabib tersebut pun turun dari tangga dan berjalan ke arah Ailing dengan tenang. “Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang tabib untuk menyelamatkan orang lain," jawabnya sembari tersenyum hangat.


Sesaat kemudian Tabib Fang beralih menatap ke arah Nyonya Nuo. "Tolong berikan rumah yang ada di dekat jembatan pada mereka berdua. Biarkan mereka berdua tinggal sementara waktu di sana sampai luka tuan dan nyonya ini sembuh," pinta Tabib Fang.


Nyonya Nuo mengerutkan dahi mendengar permintaan Tabib Fang. Ada tanda tanya di kepalanya, bagaimanapun juga rumah yang ada di dekat jembatan adalah rumah khusus untuk menyambut tamu. “Tapi tuan—”


“Sudah, tidak apa-apa aku yang akan menjelaskannya pada suamimu nanti,“ potong Tabib Fang sembari menggangguk kecil.

__ADS_1


Mendapatkan tanda seperti itu akhirnya Nyonya Nuo pun tidak berani membantah. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada dua pemuda yang saat ini masih berdiri di dekat Ailing. “Yan dan Tse, kalian ikut aku untuk membantu membersihkan tempat itu.“


“Baik Nyonya Nuo,” jawab kedua laki-laki tersebut hampir serempak.


“Kalau begitu kami undur diri dulu,” ucap Nyonya Nuo dengan sopan.


“Ya, silahkan,” sahut Tabib Fang sembari sekali lagi menganggukkan kepalanya.


Setelah itu ketiga orang tersebut pun pergi meninggalkan area tersebut.


“Mohon maaf Tuan jika saya merepotkan Anda. Saya akan segera meninggalkan tempat ini jika suami saya sudah pulih," ujar Ailing yang merasa sedikit tidak enak karena melihat ekspresi Nyonya Nuo tadi.


Lalu sebuah tawa pun muncul dari bibir laki-laki yang bisa diperkirakan berusia lebih dari 70 tahun tersebut. "Apa kamu tersinggung dengan Nyonya Nuo?“


Ailing terperanjat. "Bukan bukan, sungguh saya tidak tersinggung dengan siapa pun. Tapi jika memang ada sedikit masalah dengan kedatangan orang baru seperti kami, saya bisa mengerti itu."


“Tidak ada masalah seperti itu. Di sini memang ada beberapa aturan tentang kedatangan orang baru, tetapi aku yakin kalian adalah orang-orang baik. Jadi aku yang akan menjamin kalian selama kalian tinggal di tempat ini,” beber Tabib Fang dengan gayanya yang santai.


“Ah, terima kasih Tuan. Saya dan Suami saya berhutang budi pada Anda.“


“Tidak apa-apa. Aku akan pergi, kamu jagalah dulu suamimu sampai rumah di dekat jembatan itu siap. Nanti akan ada pelayan yang datang ke sini, kamu bisa membersihkan diri dan mengatakan kebutuhanmu padanya. Anggaplah rumah sendiri," ucap Tabib Fang sembari menepuk pundak Ailing dan kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.


“Terima kasih Tuan,” ucap Ailing sembari menatap ke arah Tabib Fang yang makin menjauh.


“Aneh sekali,” gumam Ailing ketika Tabib Fang sudah tak terlihat lagi dari pandanganya.


'Ah, lebih baik aku tidak terlalu memikirkan hal ini. Yang terpenting sekarang si Kampret itu harus cepat sembuh,' batinnya sembari melangkah masuk ke dalam ruang pengobatan.

__ADS_1


Namun ketika membuka pintu ….


“Pangeran!“ teriak Ailing.


__ADS_2