
'Untuk apa?' batin Ailing karena laki-laki di depannya itu menjeda kalimatnya.
“Bekerja sama,” ucap Rong Ai pada akhirnya.
Langsung saja sebuah kernyitan muncul di kening Ailing ketika mendengar ucapan laki-laki bernama Rong Ai tersebut. “Apa maksud Tuan ini? Apa yang bisa gadis kecil sepertiku ini lakukan untuk bekerja sama dengan, Tuan?“ tanyanya.
Kemudian Rong Ai dengan pelan menyesap minuman di tangannya. “Aku berencana akan membuat perlombaan untuk festival musim semi,” bebernya.
“Lomba yang seperti apa?“
Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Rong Ai. “Lomba ini akan membuat Anda dan beberapa orang lainnya akan melawan para pengunjung di sini.“
'Oh, ini lomba dengan sistem seperti di sekolahan,' pikir Ailing sembari manggut-manggut.
Tiba-tiba Xin Ya menarik lenganku pelan. “Nyonya, saya mohon Anda jangan membuat masalah. Akan ada banyak acara di kerajaan, jika Anda ketahuan di sini maka hukumannya akan sangat parah,” ucapnya mengingatkan.
Langsung saja Ailing memegangi lehernya. 'Oh, iya bisa dipenggal kepalaku sama dia,' batinnya.
Dan setelah menghela napas panjang akhirnya Ailing pun tersenyum kecil pada laki-laki yang ada di depannya itu. “Maaf Tuan, saya rasa saya kurang pantas untuk mendapat kehormatan seperti itu. Saya hanyalah gadis kecil dan juga pemula, mungkin saja hari ini hanyalah keberuntunganku saja,” jawabnya dengan sopan.
'Huh, pasti jurus merendah ini bisa menyelesaikan semuanya,' batin Ailing karena menyanjung dan kalimat sopan adalah senjata utamanya saat menghadapi tawaran bisnis untuknya saat menjadi pengusaha dulu.
“Baiklah aku mengerti,” jawab Rong Ai.
“Jika begitu saya ucapkan banyak terima kasih. Dan jika ada kesempatan, saya akan datang ke sini untuk mengikuti kompetisi bersama yang lainnya, Tuan. Saya harap saat itu Anda masih mau menerima saya,” ujar Ailing sembari membungkukkan tubuhnya tanda permisi dan kemudian berbalik bersama Xin Ya.
“Tunggu, apa Nona Ailing ini tidak ingin bertanya berapa bayaran yang aku tawarkan?“
Langsung saja Ailing berhenti melangkah ketika mendengar kata bayaran, bagaimanapun juga saat ini ia masih membutuhkan banyak uang untuk membungkam mulut suaminya.
“Saya akan membayar sepuluh tael emas setiap kali bertanding,” ucap Rong Ai sembari meletakkan cangkir di tangannya dengan perlahan.
'Jika satu tael emas bisa untuk membeli semangka besar, daging dan sayur. Itu artinya sepuluh tael itu sudah bisa membeli banyak, dan ini setiap kali tampil lagi. Jika aku semangat, mungkin aku bisa tampil lebih dari sepuluh kali, wah pasti dapat banyak uang,' batin Ailing yang sedang menghitung-hitung bayaran itu.
“Bagaimana Nona, apa kamu tertarik?“ tanya Rong Ai lagi.
Dan ketika akan menjawab, tiba-tiba saja ia mengingat peringatan Xin Ya tadi. Langsung saja ia mengusap-ngusap lehernya. “Maaf Tuan Rong Ai, saya tidak bisa. Saya sangat tersanjung dengan tawaran Anda, tapi ada hal yang lebih penting dari sekedar uang.”
__ADS_1
'Yaitu nyawa,' lanjut Ailing di dalam hati.
Setelah itu Ailing pun meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Rong Ai dari tempatnya terus menatap Ailing sampai keluar dari tempat itu.
“Pangeran, apakah saya harus mengejar Nona itu?“ tanya seorang laki-laki yang baru saja sampai di depan Rong Ai.
Rong Ai pun tersenyum. “Tidak perlu, aku akan segera bertemu dengannya lagi, tenang saja,” jawabnya dengan santai sembari mengangkat kembali cangkirnya.
**
Malam harinya.
Saat ini Ailing yang baru saja selesai berbelanja pun pulang ke kediaman Pangeran Song dengan wajah puas. Ia yang sudah tiba di kamarnya pun langsung menuang air ke dalam gelasnya.
“Astaga, memang ya … obat sakit kepala itu hanya belanja,” ujar Ailing setelah menghabiskan air satu gelas penuh.
“Anda benar-benar hebat Nyonya, Anda bisa mengalahkan dua penjaga itu sendirian,” puji Xin Ya yang benar-benar takjub karena Ailing bisa membuat penjaga kediaman Pangeran Song yang awalnya tidak mengizinkan mereka masuk menjadi tak berkutik.
“Tentu saja,” sahut Ailing dengan bangga. “Bahkan jika diadu dengan laki-laki kurang ajar itu, belum tentu juga aku kalah.“
“Laki-laki kurang ajar?“ Xin Ya tak mengerti siapa yang dimaksud Ailing.
Xin Ya pun mengangguk dengan cepat.
“Oh iya, apa kamu capek?“ tanya Ailing penuh perhatian.
“Tidak, Nyonya,” jawab Xin Ya yang penuh semangat karena baru saja mendapat barang-barang baru dan juga uang tabungannya benar-benar dikembalikan tiga kali lipat oleh Ailing.
“Kalau begitu tolong bawa bahan makanan yang kubeli tadi ke dapur. Suruh orang dapur untuk membuatkan seperti cara yang kukatakan tadi,” titah Ailing.
“Baik Nyonya,” jawab Xin Ya masih dengan wajah berbinarnya.
Setelah mengatakan hal itu, Xin Ya pun dengan cepat berbalik untuk keluar dari kamar itu. Akan tetapi ketika baru saja membuka pintu, tiba-tiba munculah seorang laki-laki berpakaian pelayan. Segera Xin Ya pun berbalik dan berjalan kembali ke arah Ailing bersama dengan laki-laki tersebut.
“Ada apa?“ tanya Ailing sembari mengernyitkan keningnya pada Xin Ya.
“Nona, ini orang dari Pangeran Han,” jawab Xin Ya.
__ADS_1
'Pangeran Han, siapa lagi itu,' batin Ailing yang tak memiliki ingatan tentang Pangeran bernama Han itu.
Kemudian Xin Ya pun mendekati Ailing dan berbisik. “Pangeran Han adalah kekasih masa lalu Anda.“
'Kekasih masa lalu? Pacar maksudnya?' batin Ailing.
“Kapan aku memiliki hubungan dengan dia?“ tanya Ailing pada Xin Ya dengan suara yang ditekan.
“Sebelum Anda menikah," jawab Xin Ya.
'Oh, jadi dia dan Ailing putus gara-gara Ailing menikah dengan si Kampret,' pikir Ailing sembari mengganggu-ngangguk.
Kemudian ia pun berganti menatap ke arah laki-laki tersebut. “Lalu ada apa?“
“Saya mendapat perintah untuk memberikan surat ini pada Anda,” ucap laki-laki tersebut sembari mengambil sebuah gulungan dari dalam pakaiannya.
Ailing pun menerima gulungan tersebut dan menggenggamnya erat. “Baiklah, katakan pada Tuan Han kalau aku sudah menerima suratnya,” titahnya.
“Baik Nona,” jawab laki-laki tersebut yang kemudian undur diri.
Setelah itu Ailing pun menaruh benda itu di ataa meja dan kembali menatap ke arah pelayan setianya. “Xin Ya cepat pergi ke dapur, aku sudah lapar,” pintanya.
“Baik Nyonya,” jawab Xin Ya dengan cepat dan kemudian bergegas meninggalkan kamar tersebut.
Setelah kepergian Xin Ya, Ailing pun segera membuka surat tersebut. “Bungaku, bagaimana keadaanmu? Maafkan aku. Aku terpaksa mendorongmu pada Paman karena aku tidak memiliki pilihan lain. Raja sudah menurunkan dekrit kekaisaran tentang pernikahan kalian saat itu, dan aku tak bisa menentangnya.
Tapi Bungaku yang indah, aku pastikan kalau hati ini masih untukmu. Tidak ada yang berubah sedikit pun, semuanya masih utuh seperti giok yang kamu berikan untukku. Aku merindukanmu bulanku, dan aku yakin kamu juga begitu. Semoga kau berkenan menjumpaiku di bawah indahnya purnama jembatan mawar esok malam,” gumamnya membaca isi surat tersebut.
“Ih, menjijikkan.“ Ailing bergidik sembari beralih membakar surat tersebut di atas lilin yang ada di ruangan itu. “Jika itu Ailing, mungkin dia akan terbang melayang. Sayangnya saat ini yang ada di tubuh ini adalah aku. Boro-boro terpesona, yang ada aku jijik.“
Ailing terus menatap ke arah surat yang masih terbakar separuh di tangannya. “Huh, cinta tapi tidak bisa melawan dekrit Kaisar dan justru mendorong ke arah laki-laki lain. Sangat bagus, sepertinya playboy kualitas tinggi. Aku ingin tahu seperti apa tampangnya?“ ucapnya sembari tersenyum sinis.
Tiba-tiba ….
“Nyonya!“ panggil Xin Ya sembari membuka pintu kamar tersebut.
“Ada apa?“
__ADS_1
“Gawat Nyonya! Gawat!“