Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Dua Pilihan


__ADS_3

“Sebarkan kalau mulai malam ini Nyonya akan pindah ke taman giok, agar bisa lebih dekat dengan ruang belajarku,“ titah Pangeran Song pada Jongki yang saat ini sedang berada di luar kamar Pangeran Song.


“Baik Tuan,” sahut Jongki yang kemudian dengan cepat meninggalkan area tersebut.


Sementara itu saat ini Pangeran Song pun berbalik dan melangkah ke arah Ailing yang sedang diikat di atas ranjang dengan mulut di Tutup kain terikat.


“E-es!“ teriak Ailing tertahan sembari terus mencoba memberontak.


“Kamu minta dilepaskan?“ tanya Pangeran Song yang saat ini sudah berada tepat di depan Ailing.


Segera saja Ailing menghentikan gerakannya dan menatap tajam Pangeran Song yang saat ini membuka kain yang menutup mulutnya. “Lepaskan aku! Kamu pikir kamu siapa? Aku akan melaporkanmu ke pengadilan!“ teriaknya.


Namun tentu saja Pangeran song menanggapinya dengan santai. “Pertama aku adalah suamimu jadi apa yang ingin kamu lakukan laporkan? Kamu melaporkanku yang ingin melakukan hal yang seharusnya dilakukan suami istri atau kamu ingin melahirkanku karena permainan ini?


Langsung saja i'm menyipitkan matanya. “Jangan bilang kalau dia ini masuk golongan orang mesum yang suka bermain kekerasan,” batinnya menganalisa.


“Yang kedua Aku adalah pangeran perang dari sang raja apa kamu pikir hukum akan berpengaruh padaku?“ Tanya Pangeran song yang kemudian menyumbing senyum sinis di wajahnya.


“Benar juga kenapa aku butuh sekali mengancamnya dengan kata-kata seperti itu. Jelas jelas dia itu adik raja dan orang yang sangat berpengaruh di sini,” batin Ailing sembari melengos.


“Lalu kamu mau apa mengikatku seperti ini? Jangan bilang kalau Pangeran Perang memiliki kelainan seksual?“ Ailing mencoba memprovokasi Pangeran Song agar merasa diejek dan kemudian melepaskan dirinya.


“Apa artinya kalimatmu itu?“ tanya Pangeran Song sembari mengerutkan keningnya.


Senyum mengejek muncul di bibir Ailing. “Seorang Pangeran Perang ternyata orang cabul yang suka melakukan kekerasan saat melakukan hubungan intim,” bebernya dengan ekspresi meremehkan yang khas.


Namun bukannya kesal, Pangeran Song justru tersenyum kembali. “Bagus kalau kamu menyadarinya lebih awal,” ucapnya sembari semakin mendekat ke arah Ailing.


“Gila, dia benar-benar punya kelainan.“ Mata Ailing membola memikirkan hal itu. Kini dia berubah panik dan langsung mengarahkan pandangannya ke sekeliling mencari sesuatu untuk membela diri.

__ADS_1


“Jangan melihat ke mana-mana, fokus padaku,” ucap Pangeran Song sembari mendorong tubuh Ailing hingga membuatnya berbaring di ranjang.


Langsung saja Ailing menatap Pangeran Song penuh dengan kemarahan, hingga seolah bisa melemparkan kutukan dengan tatapan matanya.


Tiba-tiba ….


“Hahaha!“ Tawa keras keluar dari bibir Pangeran Song.


“Hah, apa?“ batin Ailing yang terkejut mendengar tawa tersebut.


Kemudian Pangeran Song dengan cekatan melepasakan ikatan Ailing. “Dasar wanita merepotkan,” ucapnya lalu berbaring di samping Ailing.


“Dia melepaskanku, gitu aja?“ batin Ailing yang kini berubah linglung.


“Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah kamu berharap kita melakukannya?“ tanya Pangeran Song sembari melirik ke arah Ailing yang masih terbengong-bengong.


Kalimat suaminya itu langsung membuat Ailing kembali ke kenyataan. “Apa kamu bilang?“ tanyanya sambil menoleh. Sesaat kemudian dia pun bangun, tetapi langsung ditarik kembali oleh Pangeran Song, bahkan kini masuk ke dalam pelukannya.


“Biarkan aku memelukmu sebentar saja.“ Pangeran Song memotong ucapan Ailing.


Ailing pun menghela napas panjang. “Ada apa?“ tanyanya yang pada akhirnya membiarkan Pangeran Song memeluknya.


“Aku akan memberikan kamu dua pilihan karena setelah ini semua orang yang ada di sekitarku akan dalam bahaya,” ucapnya.


“Dia sedang menjagaku?“ batin Ailing sembari mendongakkan pandangannya menatap mata tajam laki-laki yang sedang memeluknya itu.


“Kamu bisa tetap tinggal di sini dan aku akan menjagamu, tetapi kita akan menghadapi hal-hal sulit atau aku akan mengirimu kembali ke rumah jendral dan kamu akan terlepas dari hal-hal yang ada di sini,” ujar Pangeran Song.


Mata Ailing berkedip beberapa kali mendengar hal itu. “Jika aku kembali ke kediaman Jendral, bukankah itu artinya kamu akan ditertawakan oleh semua orang?“ tanyanya.

__ADS_1


“Kenapa, bukankah kamu memang ingin meninggalkan tempat ini?“ tanya Pangeran Song.


Ailing terdiam. “Apa dia sudah lama tahu rencanaku?“ batinnya.


“Ingat, ini kesempatan pertama dan terakhir kamu. Kamu bisa memilih tanpa takut apa pun,” seloroh Pangeran Song sembari mengusap lembut wajah Ailing.


“Dia benar-benar sedang menjagaku. Pilihan yang diberikan olehnya itu seperti pisau dua mata untuknya. Tapi Kenapa dia melakukan ini?“ batin Ailing yang kini terus menatap mata Pangeran Song. “Atau jangan-jangan dia menyukaiku? Apa benar dia menyukaiku?“


“Apa aku tidak bisa memilih hal lain?“ tanya Ailing kemudian.


“Hal lain, misalnya?“


“Misalnya aku tetap ingin di sini, tapi ingin berdiam diri menunggu bantuanmu. Aku ingin berusaha dan melakukan banyak hal, siapa tahu bisa menyelamatkan … yah, minimal diriku sendiri kedepannya?“ cerocos Ailing.


Sebuah senyum tipis muncul di bibir Pangeran Song. “Jika aku mengatakan iya, apa kamu akan langsung melakukannya?“


“Tentu saja,” sahut Ailing tanpa ragu.


“Ya, tapi dengan syarat.“


“Syarat?“ Ailing mengernyit sembari bangun dari posisinya saat ini.


“Kamu harus melaporkan setiap tindakanmu karena setiap hal yang kamu lakukan juga bisa membahayakan semua orang yang ada di sini,” jawab Pangeran Song yang ikut duduk seperti Ailing.


Ailing langsung mengangguk, mengiyakan semuanya.


“Kenapa dia menjadi sangat manis seperti Anxing jika menjadi penurut seperti ini,” batin Pangeran Song yang merasa kalau Ailing sama menggemaskannya pada salah satu Kucing peliharannya.


“Satu lagi,” ujar Ailing sembari mengacungkan telunjuknya.

__ADS_1


“He?“ sahut Pangeran Song.


“Apa kamu menyukaiku?“


__ADS_2