Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Minum Punyaku


__ADS_3

“Jadi Permaisuriku, apa kamu meminta Pangeran Han untuk mewakili kamu bicara?“ tanya Pangeran Song sembari melangkah ke arah Ailing dan Pangeran Han.


“Tidak. Aku tidak pernah meminta dia untuk mengatakan hal-hal seperti ini, apa lagi menyalahkan kamu tentang semua hal itu. Ya … mungkin Pangeran Han tidak tahu kalau ini adalah bentuk kehangatan hubungan kita.


Dan ya … aku tadi mah sempat salah paham, tapi sepertinya Pangeran Han adalah orang yang paling salah paham di sini,” jawab Ailing dengan tenang.


Pangeran Han yang mendengar jawaban Ailing tersebut pun langsung menoleh. “Sialan, apa dia benar-benar sudah tidak mengingat hubunganku dengannya lagi?“ batinnya sembari menggertakkan giginya.


Sesaat kemudian Pangeran Han pun terkekeh. “Ah, ternyata seperti itu. Maaf aku sepertinya memang salah paham, lagi pula aku juga hanya bercanda,” sahut Pangeran Han.


“Huh, bercanda? Bercanda apanya seperti itu, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu setelah semuanya,” batin Ailing ketika mendengarkan ucapan Pangeran Han yang terdengar tak tahu malu.


“Baiklah Paman, ada sesuatu yang harus aku urus, lain kali aku akan berkunjung ke sini lagi,” ucap Pangeran Han dengan mengulas senyum di wajahnya.


Di saat yang sama, terlihat Xin Ya yang baru saja datang membawa teh dan kue pun langsung dipanggil oleh Ailing.


“Xin Ya, antarkan Pangeran Han keluar,” titah Ailing.


“Baik Nyonya,” sahut Xin Ya yang kemudian segera melangkah mengikuti pangeran Han.


Sementara itu, saat ini di tempat itu tinggal Pangeran Song dan Ailing yang terus menatap ke arah pintu masuk yang baru saja dilewati oleh Xin Ya dan Ailing.


“Sepertinya kamu bersemangat melanjutkan hal ini,” ucap Pangeran Song sembari melangkah melewati Ailing dan kemudian di bangku yang ada di sana.


Ailing pun langsug berbalik dan kemudian iku duduk di bangku tersebut. ”Jangan mengejekku. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengelak tentang hubungan ini, dan aku juga tidak bisa mengatakan pada dia tentang semuanya.


Kalau dia mendengar semuanya, pasti aku akan langsung ditangkap, bahkan kamu belum tentu bisa menyelamatkanku saat itu,” ucap Ailing sembari mengangkat salah satu minuman yang tadi dibawa oleh Xin Ya dan kemudian menurunkannya di depan Pangeran Song.


Pangeran Song mengernyitkan keningnya menatap ke arah gelas tersebut. “Apa ini minuman yang akan diberikan pada pangeran Han?“ batinnya yang merasa tak senang.


Ailing pun menangkap ekspresi wajah Pangeran Song, ia kemudian ikut menatap ke arah cangkir tersebut. Dan seolah bisa membaca isi pikiran, ia lalu berkata, “Tenang saja, dua minuman ini belum sempat disentuh oleh pangeran Han.

__ADS_1


Tapi jika kamu memang jijik dengan minuman yang belum disentuh itu, anggap saja itu punyaku dan milik Pangeran Han yang sedang ada di depanku.“


“Apa maksud kamu, kamu ingin meminum bekas Pangeran Han?“ sahut Pangeran Song dengan cepat.


“Hah?“ Ailing terkejut mendengar hal itu. Namun di tengah kebingungannya, tiba-tiba Pangeran Song menukar kedua gelas tersebut.


“Apa maksudnya? Apa jangan-jangan dia tidak suka karena aku mengatakan ini gelas Pangeran Han?“ batin Ailing yang sulit memahami isi pikiran Pangeran Song.


Kemudian Ailing berkata, “Jangan bilang kamu cemburu karena hal—”


“Apa kamu tidak mengerti aturan,” Pangeran sang memotong ucapan Ailing. “Sebagai istriku, kamu hanya boleh menggunakan gelas bekas milikku, tidak boleh menggunakan milik laki-laki lain.“


Seketika Ailing tercengang mendengarkan ucapan Pangeran Song tersebut. Dia tidak pernah berpikir akan ada hari di mana Pangeran Song mengatakan hal seperti itu.


“Ehm! Baiklah, kita ganti topiknya. Untuk apa kamu datang ke sini? Jangan bilang kalau kamu ke sini untuk sarapan?” Ailing mengangkat cangkir di tangannya.


“Aku tidak seburuk itu,” jawab Pangeran Song sembari memejamkan matanya. Ia masih teringat bagaimana terakhir kali ia makan di tempat itu dan keesokan harinya Ailing mengirimkan daftar harga makanan yang ia makan.


Ailing pun hanya diam sembari menahan tawa karena ia juga mengingat hal yang sama. Ya, dia memang sengaja melakukannya dan ternyata itu merupakan penjualan paling menguntungkan sepanjang hidupnya berbisnis, karena Pangeran Song langsung membayarnya tanpa memprotes apa pun.


“Aku datang ke sini untuk memberitahumu kalau siang ini kita akan kembali ke kediaman perdana menteri,” ucap Pangeran Song.


“Kenapa kamu ingin kembali ke rumah perdana menteri?“ tanya Ailing sembari mengernyitkan keningnya, karena perdana menteri menteri adalah ayah kandung Ailing.


“Apa kamu tidak pernah mencari tahu tentang adat di sini?“


“Pernah,” jawabnya dengan cepat. “Ya sedikit sih, hanya beberapa hal dasar saja,” jawab Ailing sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Pangeran Song membuang napasnya keras. “Kita sudah sangat terlambat untuk pulang ke kediaman perdana menteri. Bagaimanapun juga seorang pengantin harus kembali ke kediaman wanita untuk berkunjung, jika tidak, pasti akan ada banyak orang yang mengatakan hal yang menyulitkan kamu ke depannya.“


“Menyulitkanku?“ Ailing tak paham.

__ADS_1


“Bukankah kamu ingin membuka usaha?“ Pangeran Song mengingatkan rencana Ailing yang tertunda akibat gosip yang terjadi.


“Ternyata dia juga memikirkan hal itu? Atau jangan-jangan dia itu memikirkanku?“ batin Ailing sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jangan konyol, tidak mungkin dia memikirkanku.“


“Apa yang sedang dia pikirkan?“ pikir Pangeran Song saat melihat tingkah aneh Ailing.


Setelah itu ….


“Baiklah kalau begitu, setelah ini aku akan bertanya pada Xin Ya tentang kediaman perdana menteri,” ujar Ailing.


“Baik, tapi ingat saat di kediaman perdana menteri kamu harus berhati-hati, jangan sampai membocorkan hal-hal di tempat ini.“ Pangeran Song memperingatkan.


“Tanpa kamu ingatkan pun aku juga tidak akan membocorkan apa yang ada di sini. Aku sudah tahu dari Xin Ya kalau keluarga itu tidak pernah menyayangiku sebelumnya. Benarkan?“ Ailing lalu menyesap minuman di tangannya.


“Bagus kalau kamu tahu,” sahut Pangeran Song lebih santai.


Beberapa jam berlalu, seperti yang direncanakan saat ini Pangeran Song dan Ailing pun berangkat ke kediaman perdana menteri. Selama di perjalanan mereka terus mendiskusikan beberapa hal tentang kediaman perdana menteri.


Ailing mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang kediaman perdana menteri yang mungkin saja akan seperti ranjau untuknya.


“Sudah sampai Tuan … Nyonya,” ucap Jongki yang saat ini bertugas sebagai kusir kereta kediaman Pangeran Song.


Ailing pun segera turun dengan dibantu oleh Pangeran Song selayaknya seorang pasangan yang mesra.


“Selamat datang Kakak dan Kakak Ipar,” sambut seorang gadis yang saat ini tersenyum hangat ke arah Ailing dan Pangeran Song.


“Dia ini pasti Xuan, adik perempuanku beda ibu yang dikatakan oleh Xin Ya,” batin Ailing sembari membalas senyum palsu gadis di depannya itu. “Huh, aktingnya cukup bagus,” nilai Ailing di dalam hati


“Sialan, bisa-bisanya Pangeran Perang selembut ini. Bukankah gosipnya dia itu orang yang kejam dan haus darah. Kalau tahu begini, harusnya dulu aku yang menikah dengannya,” batin Xuan sembari terus menatap Pangeran Song.


“Ehem!“

__ADS_1


__ADS_2