Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Sepuluh Pelayan


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan menutupi lingkaran di bawah matanya akibat semalam harus begadang karena Pangeran Song terus memeluknya erat sampai pagi, kini Ailing pun keluar dari kamarnya bersama dengan Xin Ya yang sedari tadi membantunya.


“Ada apa, kenapa ramai sekali di luar?“ tanya Ailing saat mendengar suara ribut dari arah luar pintu masuk taman purnama tersebut.


“Saya akan melihatnya dulu, Nyonya,” jawab Xin Ya yang kemudian melangkah ke arah pintu tersebut.


Namun ketika ia baru sedikit membuka pintu tersebut, tiba-tiba sebuah dorongan besar membuat Xin Ya mundur beberapa langkah hingga terjatuh di tanah. Sesaat kemudian terlihat beberapa orang gadis berpakaian khas pelayan masuk ke dalam taman tersebut dengan berebutan.


“Ada apa ini?" batin Ailing ketika tiba-tiba para gadis tersebut berdiri berjajar di depan Ailing.


“Siapa kalian?“ tanya Ailing sembari menatap satu persatu gadis yang ada di depannya itu.


“Selamat pagi Nyonya,” ucap kesepuluh gadis tersebut hampir kompak. “Kami adalah anak dari para pelayan di kediaman ini.“


“Pasti ada yang tidak beres. Apa ini ulah suami kampret itu?“ pikir ailing sembari penghela napas panjang.


"Kalian ke sini untuk apa?“ tanya Ailing dengan tenang.


Kesepuluh gadis tersebut langsung saling menatap ketika mendengar pertanyaan Ailing. Kemudian salah seorang gadis maju selangkah untuk menjawab pertanyaan Ailing. “Kami dikirim ke sini oleh Tuan untuk membantu Anda, Nyonya,” jawabnya.


“Jiah … suami kampret itu benar benar menjengkelkan,” batin Ailing yang hanya bisa menahan kekesalannya di dalam hati sementara waktu ini.


Setelah itu Ailing pun menggeser tubuhnya, ia duduk di kursi yang ada di bawah pohon tak jauh darinya.


“Kalau begitu sekarang kalian bantu aku membersihkan seluruh halaman taman ini,” perintah Ailing sembari menunjuk ke sekeliling.


“Baik Nyonya," jawab kesepuluh pelayan tersebut dengan kompak.


Sedangkan Xin Ya yang tadi sempat terjatuh, kini sudah bangun dan melangkah ke arah Ailing. “Kenapa Pangeran Song mengirim banyak pelayan ke sini Nyonya?“ tanyanya sembari menatap ke arah para gadis yang mulai membersihkan halaman taman tersebut.

__ADS_1


“Bukankah katamu dia akan menyukaiku? Apa yang seperti ini dinamakan suka?“ sahut Ailing sembari melirik tajam ke arah Xin Ya.


Mendengar hal itu Xin Ya pun langsung mengangguk-ngangguk. “Jadi seperti itu,” gumamnya.


“Apanya yang seperti itu?“ tanya Ailing.


“Itu … ternyata Pangeran Song mengirim semua pelayan ini untuk menyenangkan Anda. Pasti dia khawatir kalau kamu kecapekan, makanya di mengirim orang-orang ini ke sini.“ Xin Ya mengutarakannya pendapatnya. “Ah, tidak menyangka kalau Tuan adalah orang yang sangat romantis.“


“Apa sih yang ada di otak dia,” batin Ailing sambil berekspresi aneh mendengar prasangka demi prasangka baik Xin Ya.


Setelah cukup pusing mendengar pujian-pujian Xin Ya untuk Pangeran Song, kemudian Ailing bangun dari kursinya. “Diam!“ sentaknya.


“Nyo-nyo-Nyonya, Anda kenapa marah?“ tanya Xin Ya dengan ekspresi innocentnya.


“Hentikan melihatku seperti itu. Kamu, ikut aku ke tempatnya! kita harus menanyakan apa maksudnya semua ini,” monolognya sembari membetulkan pakaiannya.


Setelah itu mereka berdua pun melangkahkan kaki mereka meninggalkan taman tersebut.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Ailing pun sampai di taman tempat di mana Pangeran Song song berada saat ini.


“Burung kenari selalu hinggap di pohon persik ketika pagi tiba, begitu pula daun pohon jati yang akan gugur saat musim panas tiba. Namun berbeda dengan manusia, mereka bisa berubah tanpa menunggu waktu untuk menentukan kedatangannya,” ucap Pangeran Song sembari melemparkan makanan ikan karena gazebo tempatnya bersantai saat ini berada di atas kolam ikan yang sangat luas.


“Apa maksud kamu, kamu menyindir aku?“ tanggap Ailing yang saat ini melangkah masuk ke dalam gazebo tersebut.


Sedangkan Xin Ya pun langsung mundur perlahan dan menanti Ailing di kejauhan seperti etika pelayan yang seharusnya.


“Siapa yang mengatakan puisi adalah sindiran?“ bantah Pangeran Song yang masih santai memberi makan ikan-ikan peliharaannya.


“Semua hal bisa menjadi sindiran, baik itu pantun, puisi, bahkan lagu,” tukas Ailing sembari merebut wadah tempat pakan ikan di tangan kiri Pangeran Song.

__ADS_1


Akhirnya Pangeran Song pun menegakkan tubuhnya yang tadi sempat membungkuk menatap ke arah ikan-ikan di bawah gazebo. Ia lalu menatap Ailing dengan dingin. ”Apa yang ingin kamu lakukan?“ tanyanya.


“Harusnya aku yang bertanya seperti itu pada kamu. Apa sebenarnya yang kamu rencanakan? Kenapa mengirim banyak pelayan ke tempatku? Aku ini hanya butuh Xin Ya, tarik semua pelayan-pelayan itu!” tuntut Ailing.


“Sebagai Nyonya kediaman Song, sudah seharusnya kamu memiliki banyak pelayan pribadi. Aku tidak mau orang luar melihat kalau kamu hanya memiliki satu pelayan, itu akan mempermalukan kediaman Song ini,” jawab Pangeran Song sembari berganti duduk di bangku yang ada di dekat mereka.


Ailing pun segera mengikuti Pangeran Song. Ia segera saja duduk di samping suaminya itu. “Dengar, aku tidak peduli pada perkataan orang ataupun pandangan orang lain tentang kediaman Song ini. Asal semua pelayan diam, pasti tidak akan ada yang bocor keluar tentang semua hal di sini. Jadi jangan menggunakan alasan itu untuk membuat mereka berada di sekitarku.“


“Suka tidak suka, kamu tetap harus menerima mereka,” tegas Pangeran Song.


“Tidak bisa.“ Ailing menggebrak meja. “Aturan sudah jelas. Kalau aku memiliki pelayanan pribadi, itu artinya semua kehidupan mereka aku yang menanggungnya, benar kan?“


“Aku tidak menyangka kalau kamu juga mempelajari hal itu, aku pikir kamu hanya ingin bersenang-senang saja di sini,” komentar Pangeran Song sembari menuangkan teh yang ada di atas meja ke dalam cangkir yang sudah disiapkan untuknya.


“Jangan mengalihkan pembicaraan ini. Aku hanya ingin meminta kamu untuk menarik mereka kembali,” tuntut Ailing sembari menatap tajam suaminya yang saat ini sedang menyesap teh.


“Tidak bisa. Apa yang sudah aku berikan, aku tidak akan menariknya kembali kecuali mereka meminta izin sendiri untuk meninggalkan tugas yang aku berikan,” tolak Pangeran song.


Ailing mengepalkan tangannya. “Tapi pelayan yang tidak sanggup menjalankan perintah majikan akan mendapatkan hukuman karena dianggap tidak kompeten, apakah aku benar?“ tanya Ailing.


“Benar,” jawab Pangeran Song dengan ringan.


“Apa mereka akan di jual menjadi budak peternakan dan sejenisnya?“ tanya Ailing karena itu adalah aturan tak tertulis orang-orang yang masuk ke dalam kategori anggota kerajaan di dinasti ini.


“Itu adalah resiko yang sudah mereka ketahui sejak awal sejak mereka mendaftar menjadi pelayan anggota kerajaan,” jawab Pangeran Song sambil meletakkan kembali cangkirnya ke meja.


“Ck,” decak Ailing kesal. Ia ingin sekali mengusir para pelayan baru itu, tapi hati nuraninya tak ingin melihat para gadis itu menjadi budak yang memiliki derajat lebih rendah dari warga biasa.


“Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan pada mereka?“ batin Ailing sambil terus menatap ekspresi tenang Pangeran Song yang membuatnya semakin kesal.

__ADS_1


__ADS_2