
Setelah meninggalkan taman dengan tangan yang terus dicengkeram oleh Pangeran Song, saat ini Ailing tengah duduk di dalam kereta yang sedang berjalan meninggalkan istana.
“Ck,” decak Ailing setelah beberapa menit tak terdengar sepatah kata pun keluar dari bibir mereka berdua. “Aku tidak melakukan apa pun,” ucapnya tiba-tiba.
“Tidak perlu berpura-pura,” tukas Pangeran Song dengan tatapan tajamnya.
“Aku tidak berpura-pura, aku benar-benar tidak melakukan apa pun,” sahut Ailing dengan ketus.
“Ingat apa yang aku katakan tadi sebelum kita berangkat?“ Pangeran Song menunjukkan kekuasaannya.
'Aku akan mendapatkan hukuman jika aku membuat masalah,' batin Ailing yang mengingat ucapan Pangeran Song sebelumnya.
Ia kemudian mengingat film tentang kerajaan Korea yang pernah dilihatnya di bioskop. Ia mengingat jikalau pelayan yang melanggar aturan akan dipukuli menggunakan papan sebagai hukuman. 'Apa aku juga akan dipukul dengan papan? Ah, tidak bisa. Aku tidak boleh mendapat hukuman seperti itu,' tekadnya dalam hati.
“Kenapa diam saja?“ tanya Pangerang Song sembari tersenyum sinis. “Apa kamu akan mengakui tentang hubunganmu?“
“Jangan terus menyerangku dengan kata-kata seperti itu. Jika tidak, aku akan berpikir kalau kamu itu sedang cemburu,” balas Ailing sembari ikut tersenyum sinis seperti yang Pangeran Song lakukan.
“Cemburu? Apa kamu pikir kamu itu pantas?“
“Pantas atau tidak, yang jelas semua orang sudah tahu kalau kamu yang meminta anugerah pernikahan abadi untuk kita. Dan ya, tolong katakan pada penggemar beratmu kalau aku bukan musuh mereka.“
Pangeran Song mengerutkan keningnya. “Penggemar?“
“Huh, jangan pura-pura tidak tahu. Katakan pada mereka kalau aku ini tidak pernah sekali pun ada di pikiran kamu. Buat mereka mengerti kalau aku ini bukan ancaman mereka,” jawab Ailing dengan tidak jelas. “Atau apa perlu aku mengatakan pada mereka kalau aku ini rela membagimu dengan mereka, ha?“
Srrttt! Dengan cepat tangan Pangeran Song mencengkeram leher Ailing.
“Kamu harus tahu batasanmu,” tekan Pangeran Song.
Ailing dengan cepat mengambil sebuah kotak kayu berisi camilan yang tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang ia dengan sekuat tenaga menghantamkan kotak tersebut ke kepala Pangeran Song.
“Puas?“ tanya Pangeran Song yang tak bergeser sedikit pun dari tempatnya.
'Apa kepalanya terbuat dari besi?' pikir Ailing sembari menelan ludahnya karena saat ini Pangeran Song sudah melepaskan lehernya, tetapi tidak dengan tatapan tajam yang masih terus menekan mentalnya.
__ADS_1
“Benda seperti ini tidak akan bisa membunuhku,” imbuh Pangeran Song sembari mengambil kotak tersebut dan kemudian melemparkan benda itu keluar dari kereta.
Ailing pun kembali membuka mulutnya. “Aku memang tidak berniat membunuh kamu, aku ini hanya ingin membela diri,” sahutnya dengan berpura-pura tak mengenal takut.
“Jadi hanya membela diri?“
Kalimat tanya yang diikuti dengan sebuah senyum tipis tersebut sungguh membuat jantung Ailing berdegup kencang. “Iya, aku punya hak untuk membela diri, bukan?“
“Tentu saja,” ucapnya sembari menarik tubuh Ailing hingga membuat Ailing jatuh ke dalam pelukannya.
'Apa yang ingin dia lakukan?' batin Ailing sembari mendongakkan wajahnya.
“Ingat, ini di kereta. Ada orang lain di sini, jangan sembarangan,” ucapnya yang mengingat kejadian semalam.
“Seperti kamu yang punya hak untuk membela diri, maka aku juga punya hak untuk melakukan apa pun pada kamu saat ini,” bisik Pangeran Song.
Seketika mata Ailing membola, ia pun berusaha lepas dari Pangeran Song tetapi tak bisa. “Berikan saja aku pedang, mari kita bertanding secara adil. Jika aku kalah, maka kamu boleh melakukan apa pun padaku,” tantang Ailing.
'Dasar bodoh, apa dia pikir kemampuannya itu bisa menang melawanku,' batin Pangeran Song sembari tersenyum kecil.
“Kamu meremehkanku?“ Ailing tak terima dengan senyum yang terasa seperti ejekan baginya itu.
'Beraninya dia menciumku,' geramnya sembari menggigit bibir Pangeran Song.
“Akh!“ desis Pangeran Song sembari menarik bibirnya dari gigitan Ailing. “Apa kamu ini anjing?“
“Aku macan,” jawab Ailing sembari mendorong tubuh Pangeran Song dan kemudian kembali ke tempat duduknya. “Dengar, aku benar-benar tidak melakukan apa pun dengan Pangeran Han. Tadi Putri Chungli dan para pembantunya datang padaku dan Xin Ya. Mereka mengganggu kami berdua.“
“Hem …,” gumam Pangeran Song menanggapi keterangan istrinya itu.
“Lalu Pangeran Han membantuku dan Xin Ya, hanya itu saja,” imbuh Ailing sembari membetulkan posisi duduknya.
“Hem ….“ Kembali Pangeran Song bergumam sembari membuka kain yang menutupi jendela di sebelahnya.
'Apa yang dia lihat, sepertinya serius?' batin Ailing karena Pangeran Song terus menatap ke luar selama beberapa saat.
__ADS_1
“Ada apa?“ tanyanya yang penasaran.
Kemudian Pangeran Song melirik pada Ailing tanpa mengatakan apa pun.
'Ada apa sebenarnya?' bantin Ailing sembari mendekat ke arah jendela dan ikut mengintip ke luar.
Sesaat kemudian ia kembali menutup kain yang menutupi jendela dan dengan cepat menoleh pada Pangeran Song. “Ini bukan jalan yang benar 'kan?“ tanyanya dengan suara kecil.
“Benar,” jawab Pangeran Song dengan suara yang sama lirihnya.
“Lalu? Kita keluar sekarang atau nanti?“ tanya Ailing dengan ekspresi serius di wajahnya.
“Aku akan mengeluarkan kamu sekarang. Setelah itu kamu bisa bersembunyi dan tunggu aku menjemputmu,” jawab Pangeran Song sembari menutup kain penutup jendela.
Ailing terdiam. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Pangeran Song terasa tak asing di telinganya.
“Jerry,” gumamnya yang langsung mengingat sahabat SMA-nya yang mati karena kecelakaan ketika akan menjemputnya. Saat itu ia yang baru saja diputuskan oleh mantan kekasihnya tiba-tiba saja diturunkan di jalanan yang cukup sepi dan Jerrylah satu-satunya orang yang bisa ia hubungi saat itu.
Kejadian lima tahun yang lalu tersebut benar-benar membuat Ailing terpukul. Dan sejak saat itu ia tak mau lagi dijemput oleh orang lain.
'Siapa Jerry? Nama yang aneh,' batin Pangeran Song sembari memperhatikan ekspresi wajah Ailing yang berubah sendu.
“Tidak, aku tidak akan menunggu. Aku ikut kamu,” tegas Ailing sembari menatap Pangeran Song penuh keyakinan.
“Kamu yakin? Aku pastikan ini akan sulit dan penuh dengan luka. Aku beri kamu kesempatan terakhir untuk berpikir,“ tanya Pangeran Song sembari menatap remeh pada Ailing.
'Jika putri-putri lainnya, mereka pasti akan langsung berubah pikiran ketika mendengar kata luka. Aku penasaran apakah dia akan sama seperti mereka atau tidak,' batin Pangeran Song yang saat ini tengah menunggu jawaban dari Ailing.
Sesaat kemudian Ailing menggeleng. “Apa kamu ada pedang? Aku akan berperang bersama kamu. Lagi pula aku tidak mungkin pulang sendirian tanpa kamu. Jika mereka melihatku pulang sendirian, mereka pasti akan langsung melapor dan membuatku dipenggal,” jawabnya sembari tersenyum lebar.
Melihat senyum yang dipaksakan itu, Pangeran Song pun langsung menarik kepala Ailing. Ia menempelkan keningnya tepat di kening Ailing. “Ingat, jangan jauh-jauh dariku. Apa pun yang terjadi, kita tidak boleh mati. Mengerti?“
“Iya,” jawab Ailing sembari mengangguk yakin.
Setelah itu mereka berdua pun bersiap untuk menghadapi semuanya. Hingga ….
__ADS_1
Srak!
“Hiyaaa!“ teriak Ailing.