
“Ehem!“ dehem Ailing ketika melihat adik perempuan yang berbeda ibu tersebut terus memandangi Pangeran Song.
“Apa dia benar-benar tertarik dengan si songong ini,” batin Ailing sambil menghela napas panjang.
Kemudian Xuan berganti menoleh pada Ailing. “Ah iya Kak, aku hampir lupa tadi ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu, nanti kita makan siang bersama ya,” ajaknya dengan sebuah senyum ramah tercetak di wajahnya.
“Huh, dasar dia memang suka drama,” gerutu Ailing di dalam hati. “Tapi baiklah, karena ini pertama kali aku datang ke sini maka aku akan menemani mereka bermain drama.“
“Ah tentu saja, aku sangat senang Bibi dan kamu mau memperhatikanku,” sahut Ailing sembari mulai terisak. Ia kemudian menempelkan kepalanya di lengan Pangeran Song. “Ah maafkan aku sayang, aku merasa sangat tersentuh dengan hal ini. Aku tidak menyangka akan ada hal seperti ini.“
“Sayang? Bagus juga panggilan ini,” batin Pangeran Song sembari mengangkat tangannya dan kemudian mengusap lembut kepala Ailing.
“Tenanglah sekarang mereka akan sangat menyayangi kamu,” sahut Pangeran Song dengan lembut.
Sementara itu, Xuan yang melihat adegan mesra tersebut pun merasa semakin kesal. “Kenapa dia jadi tenang seperti ini. Bukankah dia akan langsung marah-marah ketika aku berpura-pura? Tidak bisa, ini tidak bisa begini, Pangeran Song harus tahu bagaimana temperamennya yang buruk” batinnya.
“Ah, Kakak kenapa kamu harus seperti itu, bukan dari dulu kita adalah keluarga yang mengharmonis? Jangan sampai Pangeran Song berpikir kalau keluarga kita ini bermasalah,” ucap Xuan sembari mengulurkan tangannya ingin meraih tangan Ailing.
Ailing pun langsung menoleh dan dengan cepat meraih tangan Xuan. “Biar aku tunjukkan pada dia, Ailing yang sekarang tidak mudah ditindas,” batinnya.
“Ah maafkan aku kalau aku menyinggung perasaan kamu, aku benar-benar tidak ingin membuat kesan buruk untuk keluarga kita di depan Pangeran Song. Tolong jangan mengadukan ini pada Bibi dan Ayah ya, aku tidak mau mereka marah padaku gara-gara hal ini,” ujarnya dengan ekspresi memelas.
“Sialan kenapa dia menjadi sepintar ini? Dulu dia ini kan cuma pintar bermain pedang, tapi bodoh dan naif kalau soal seperti ini. Kenapa dia bisa berubah secepat ini?” batin Xuan sambil menggigit bibirnya dan kemudian ia pun beralih menoleh pada Pangeran Song.
Ia pun segera melepaskan tangannya dari pegangan Ailing dan kemudian berganti memeluk lengan Pangeran Song.
__ADS_1
“Pangeran, tolong jangan dengarkan kata-kata Kakakku. Aku tidak pernah mengadu seperti itu pada Ayah maupun Ibu, aku ini sangat menyayangi Kakak dan semua orang. Tidak pernah ada niatan buruk sedikit pun pada mereka,” ucap Xuan sambil memberikan tatapan mengiba.
“Huh, berani sekali dia memegang tangan seorang laki-laki di depan istri sahnya. Memanglah seratus persen pelakor asli,” batin Ailing sembari menatap ke arah tangan Xuan yang saat ini sedang memegang lengan suaminya.
“Kenapa aku jadi harus ikut bermain drama bersama mereka?” batin Pangeran Song song sembari melepaskan pegangan Xuan dari tangannya.
“Maaf, aku tidak peduli pada apa yang kamu lakukan. Hanya saja sangat jelas kalau istriku tidak mengatakan apa pun tentang kamu tadi. Jadi tolong jangan membuat orang-orang menilai istriku sebagai orang yang buruk. Jika kamu terus lakukannya hal ini, artinya kamu siap untuk bertentangan dengan kediaman Song,” ancamnya.
Mendengar hal itu, ekspresi memelas Xuan itu pun berubah pias. Setelah itu ia dengan cepat menarik garis bibirnya untuk menunjukkan senyum canggung di wajahnya. “Maafkan aku Kakak Ipar, aku hanya bercanda tadi. Aku benar-benar tidak ingin membuat nama kakak Ailing menjadi buruk, tolong jangan salah sangka,” bebernya.
“Bagus juga akting si kampret ini,” batin Ailing sembari tersenyum puas.
Kemudian ia pun kembali bersuara. “Baiklah baiklah ini sudah semakin siang dan cuacanya semakin panas, jadi bisakah kamu mengantarkan kami bertemu Ibu dan Ayah?“ tanya Ailing.
Ya, kali ini bukan sebuah sindiran atau apa pun, saat ini Ailing memang benar-benar ingin segera masuk ke dalam rumah tersebut karena cuaca di luar yang terasa sangat panas.
“Selamat datang Pangeran Perang dan Permaisuri Pangeran Perang,” sapa Perdana Menteri ketika Pangeran Song dan Ailing memasuki ruangan tersebut.
Kemudian terlihat Ailing memberi tanda, hingga Jongki yang mengikuti di belakang mereka pun maju dengan membawa sebuah kotak di tangannya.
“Ini ada hadiah kecil dari kami berdua, mohon Ayah dan Bibi mau menerima hadiah yang tidak seberapa ini,” ucap Ailing yang masih terus memanggil ibu tirinya itu dengan sebutan Bibi.
Ya, Ailing masih ingin menunjukkan sikapnya yang lama agar tidak ada kecurigaan. Salah satunya dengan hal ini, ia mendengar dari Xin Ya kalau Ailing tak pernah mau memanggil Nyonya Jing dengan sebutan ibu, bahkan setelah beberapa kali di hukum oleh Perdana menteri.
Suasana pun menjadi hening seketika, hingga akhirnya Perdana Menteri tersebut berdehem. “Ehem! Baiklah kita tidak akan membicarakan masalah ini lagi. Sekarang kamu sudah dewasa, jika kamu memang tidak ingin mengambilnya sebagai ibu, maka Ayah tidak akan memaksamu lagi,” ujarnya.
__ADS_1
“Memang seharusnya kamu tidak mempermasalahkannya. Bukankah ibu Ailing adalah istri sah, sedangkan dia hanyalah seorang selir tapi kamu malah lebih menyayangi selir ini dan membuat istri sahmu mati karena mengeluh tentang hal ini,” batinnya sambil mengepalkan tangannya kuat.
Walaupun dia bukanlah Ailing yang asli, tapi tentunya hatinya tidak ikhlas melihat ke tidak adilan seperti itu. Akan tetapi untuk membalas orang-orang di depannya itu, ia pasti membutuhkan waktu dan strategi yang matang.
“Terima Kasih Ayah,” jawab ailing dengan sopan pada akhirnya.
“Ya, kamu memang pantas mendapatkan apa yang kamu inginkan,” ucap Pangeran Song sambil tersenyum hangat pada Ailing.
Kemudian ….
“Baiklah baiklah, kalau begitu silakan duduk Pangeran Song dan permaisuri Pangeran Song. Xuan beri tahu pelayan untuk mengambilkan minum dan menyiapkan makan siang untuk semua orang,” pinta Nyonya Jing sembari tersenyum licik.
“Baik Ibu,” sahut Xuan sembari membalas senyuman tersebut.
Ailing yang melihat hal itu pun langsung bisa menangkap jika pasti ada sesuatu yang mereka rencanakan.
“Kakak, kalau begitu adik pergi dulu,” ucap Xuan sembari tersenyum manis ke arah Ailing.
“Ah, bukankah ini masih rumahku? Kenapa aku harus datang ke sini seperti tamu? Aku akan pergi berkeliling dulu, tidak apa-apa kan bibi?“ tanya Ailing sembari menoleh pada Nyonya Jing.
“Ah, tolong jangan salah paham, Ibu benar-benar tidak ingin kamu berpikir seperti itu. Inu hanya takut kamu kecapean,” tukasnya.
“Iya, tentu saja aku paham dengan itu. Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Ailing sembari beralih menetap ke arah Pangeran Song. “Sayang aku pergi ke kediaman dulu,”pamitnya.
“Ya kamu harus hati-hati,” sahut Pangeran Song sembari tersenyum menatap Ailing yang kini melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain, Nyonya Jing pun ikut tersenyum menatap Ailing. “Ternyata memang benar, telur bebek tidak akan berubah menjadi telur elang walaupun sudah dilemparkan ke sarang elang. Huh, jangan salahkan kalau Bibi ini bertindak kejam pada kamu Ailing,” batinnya.