
Setengah jam lebih berlalu. Saat ini Ailing benar-benar bersenang-senang. Dia memenangkan banyak uang kali ini.
“Nyonya, ini sudah hampir waktunya pulang,” bisik Xin Ya mengingatkan.
“Tunggu sebentar, ini sudah masuk babak final aku tidak mungkin mundur saat ini,” sahut Ailing yang memang sudah kepalang basah. Bagaimanapun juga, jika sampai ia tidak memenangkan pertandingan terakhir atau menyerah, maka semua uangnya akan diberikan pada orang yang akan berhadapan dengannya.
“Tapi Nyonya—”
“Huust, kamu diam ikuti saja,” potong Ailing.
“Bagaimanapun juga aku sudah memenangkan 200.000 tael emas, aku tidak mau memberikan semuanya pada orang yang bahkan belum pernah melawanku,” batin Ailing sembari mengepalkan tangannya.
Kemudian Ailing pun kembali menatap Xin Ya. “Setelah selesai semuanya, kamu jangan lupa—” Kalimat Ailing terhenti ketika tiba-tiba ia merasa suara riuh di tempat itu berubah senyap.
“Ada apa?“ batinnya sambil menoleh. Benar saja, ketika ia menoleh dirinya pun ikut terdiam. Matanya membola ketika melihat laki-laki tampan yang sedang berjalan dengan tenang ke arah meja tersebut.
“Bagaimana mungkin, bukannya dia ada di istana, kenapa tiba-tiba muncul di sini,” batinnya yang tentu saja gelisah.
“Nyonya, bagaimana ini?“ bisik Xin Ya yang ketakutan.
“Kamu tenang saja, dia tidak akan mengenali kita,” ucap Ailing yang kemudian menggigit bibirnya. Sebenarnya ada perasaan ragu yang sangat kuat di dalam hatinya, tapi bagaimanapun juga ia sudah tidak bisa mundur lagi.
“Tenang, kamu sekarang memakai cadar. Pasti dia tidak akan mengenali kamu. Pokoknya kamu harus tenang jangan ngan sampai kelihatan tegang, atau dia akan curiga,” batin Ailing sembari menatap Pangeran Song yang saat ini sedang duduk di kursi yang ada di seberangnya.
“Jadi bagaimana, bisa kita mulai?“ tanya bandar yang saat ini bergantian menoleh ke arah Ailing dan Pangeran Song.
“Baik silakan,” jawab Pangeran Song.
Tiga ronde pertandingan pun dimulai. Kocokan dadu pertama dimenangkan oleh Ailing, sementara kocokan dadu kedua dimenangkan oleh Pangeran Song. Hingga akhirnya penentuan pemenang adalah kocokan dadu ketiga.
“Tidak bisa, aku tidak boleh kalah dari dia,” batin Ailing sembari mengepalkan tangannya kuat.
“Baiklah kita istirahat sejenak untuk babaj terakhir,” ucap bandar sembari melangkah menjauh dari meja sambil mengusap keningnya yang sudah penuh dengan peluh. Entah kenapa pertandingan terakhir ini membuat jantungnya ikut berdegup kencang selama pertandingan. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu.
Sementara itu Ailing dan Pangeran Song kini terdiam. Mereka pun langsung saling menatap, hingga akhirnya Ailing membuang pandangannya dan berpura-pura menata ke arah Xin Ya yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Apa dia mengenaliku, kenapa dari tadi dia terus senyum seperti itu saat menatapku?” batin Ailing yang merasa semakin gelisah, karena semakin manis senyuman Pangeran Song maka seharusnya itu semakin berbahaya untuk dirinya.
Di sisi lain, saat ini Pangeran Song terus menatap ke arah Ailing dan memperhatikan setiap gerakannya. “Beraninya wanita ini menipuku lagi. Dia benar-benar harus disiplinkan setelah ini. Tapi sebelum itu aku ingin sedikit bermain dengannya,” batinnya.
Tiba-tiba bulu kuduk Ailing meremang, ia pun langsung mengusap-usap tengkuknya. “Ah kenapa tiba-tiba saja aku merinding, apa dia sedang mengutukku di dalam pikirannya,” batinnya sembari melirik ke arah suminya yang saat ini masih terus menatap dirinya.
Kemudian ….
“Nona, apakah aku bisa mengetahui nama kamu?“ tanya Pangeran Song.
Ailing langsung menelan ludahnya mendengar pertanyaan suaminya itu. “ehem!“ Ailing berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya, dia berhara pita suaranya akan bisa berubah saat dia berdehem.
“Maaf Tuan, saya merasa kita tidak perlu berkenalan karena seharusnya hanya kali ini kita akan ketemu lagi,” jawab Ailing dengan benar-benar memperbesar suaranya.
“Dasar gadis konyol, apa dia pikir dengan mengganti suaranya, maka aku tidak bisa mengenali dia,” batin Pangeran Song sembari terus menatap ke arah istrinya itu.
“Tidak mungkin kita hanya akan bertemu kali ini Nona, bagaimanapun juga setelah ini Anda akan menjadi orang kaya dan terkenal di negara ini. Jadi seharus aku akan lebih banyak kesempatan bertemu dengan Anda setelah ini,” balas Pangeran Song.
Mendegar ucapan Pangeran Song, Ailing pun pura-pura tertawa kecil. “Aku harus mencoba untuk benar-benar terlihat tidak mengenal dia,” batinnya.
“Nasehat apa?“ sahut Ailing yang berusaha untuk terus terlihat seperti orang lain, akan tetapi ia tidak sadar jika dirinya sudah masuk dalam jebakan suaminya itu.
“Menurut Nona, apa yang harus dilakukan pada seseorang yang sering berbohong? Apakah perlu ada terapi khusus atau cukup dengan hukuman?“ tanya Pangeran song.
“Apakah dia sedang menyindirku atau hanya sedang bertanya saja,” batin Ailing mencoba untuk tetap tenang. “Ah, tidak mungkin dia mengenaliku. Sejak datang ke sini aku terus berhati-hati. Mungkin saja dia sedang mengetesku,” batin Ailing sembari menghelan napas panjang.
“Saya tidak tahu menahu tentang masalah tersebut. Tapi jika ingin mendengar saran, saya akan mengatakan kalau orang berbohong itu pasti ada alasannya. Jadi Anda harus tahu dulu apa alasannya.
Jika memang itu bukan karena dia terpaksa dan memang sengaja, maka perlu ada hukuman untuk memberi efek jera,” jawab Ailing dengan tenang.
“Jawaban Anda sangat mengagumkan,” sahut Pangeran Song sembelih kembali tersenyum. Kemudian dengan santai Pangeran Song memberi tanda pada si bandar.
Kini suasana berubah serius. Ailing pun menutup matanya agar bisa berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan dadu yang sedang dikocok oleh bandar.
“Hati-hati, apa yang kamu dengar bisa sangat mengecohmu,” ucap Pangeran Song dengan santai.
__ADS_1
“Terima kasih peringatannya, Tuan,” sahut Ailing.
Kemudian bandar pun menoleh pada Ailing. “Jadi Nona, Anda bisa menebak lebih dulu.“
“Tiga empat satu,” jawab Ailing.
“Lalu bagaimana dengan Anda, Tuan?
“Tiga tiga dua,” jawab Pangeran Song masih dengan sikap tenangnya.
Setelah itu seperti yang seharusnya, bandar pun membuka penutup dadu tersebut dan terlihat jelas jika angka di sana persis seperti yang diucapkan oleh Ailing.
“Menang!“ seru Ailing.
Sorak sorai semua orang yang ada di ruangan itu pun pecah, apa lagi orang-orang yang sudah bertaruh memilih Ailing.
“Wah, bagus-bagus aku tidak menyangka kalau Nona ini akan memenangkan pertandingan ini dengan sangat mudah,” ujar Pangeran Rong Ai sembari menuruni tangga.
Langsung saja semua orang menatap ke arah Pangeran Rong Ai dan memberi jalan padanya.
“Pasti si Kampret ini yang merencanakan semua ini,” batin Ailing sembari mengepalkan tangannya kuat.
“Baiklah, seperti yang seharusnya. Selain uang yang kamu menangkan, maka aku akan memberi tambahan 100.000 tile emas sebagai hadiah,” ucap Pangeran Rong Ai.
“Terima kasih Tuan, Anda memang pebisnis yang jujur,” ucap Ailing dengan santai dan kemudian berbalik.
“Nona, apakah kamu lupa jalan pulang?“ tanya Pangeran Song.
Seketika langkah Ailing terhenti mendengar hal itu.
“Nyonya bagaimana ini?“ bisik Xin Ya.
Ailing menelan ludahnya ketika mendengar suara sepatu Pangeran Song yang semakin mendekat ke arah dirinya. “Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Apa aku mengaku saja atau kabur saja?“ batinnya.
Dan kemudian ….
__ADS_1
“Ah!“ pekik Ailing.