Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Pertimbangan


__ADS_3

“Apa di dunianya wanita itu begitu bebas sampai bisa menanyakan hal seperti ini dengan santai?“ batin Pangeran Song sembari melirik ke arah lain.


“Apa kamu pikir kamu sehebat itu?“ sahut Pangeran Song sambil kembali menatap wajah istrinya.


Langsung saja Ailing mencebikkan bibirnya. “Kalau tidak ya bilang saja tidak, tidak perlu pakai frasa yang begitu,” tandasnya.


“Frasa?“ Pangeran Song mengernyit.


“Jangan-jangan dia salah paham,” batinnya sembari memperhatikan ekspresi wajah wanita di hadapannya itu.


Kemudian dia pun menghembus panjang. “Kamu—”


“Sudah, aku tidak mau dengar lagi,” sela Ailing sambil menutup kedua telinganya.


“Ailing, aku belum selesai bicara—”


“Aku tidak dengar apa pun!“ teriak Ailing seperti anak kecil.


Tiba-tiba ….


Tok! Tok! Tok! Ketukan di pintu kamar itu membuat Ailing dan Pangeran Song langsung menoleh ke arah yang sama.


“Ya,” sahut Pangeran Song.


“Pangeran, saya Pelayan Xin Ya ingin mengabarkan pada Nyonya jika pelayan Baisu terus memanggil namanya saat ini,” ujar Xin Ya dari luar pintu tersebut.


“Ap—” Kalimat Ailing terhenti ketika tiba-tiba saja Pangeran song membekap mulutnya.


“Iya, dia akan pergi ke sana sebentar lagi. Panggil tabib untuk memeriksa pelayan itu!” perintah Pangeran Song tanpa menaikkan nada bicaranya.


“Baik Pangeran, saya mengerti,” sahut Xin Ya yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut.


Sesaat kemudian Pangeran Song pun kembali menoleh pada Ailing, tapi tiba-tiba ….


“Isss,” desisnya ketika Ailing tiba-tiba menggigit tangannya yang sedari tadi ternyata masih membekap mulut Ailing.

__ADS_1


“Enak saja main tutup tutup,” ketus ailing sembari mengusap-ngusap bibirnya.


“Apa kamu ini anjing?“ sergah Pangeran Song sembari mengambil sapu tangan dan mengusap tangannya.


“Aku macan,” sungutnya. Kemudian Ailing dengan cepat bangun dari ranjang tersebut, dia segera bergerak dan berdiri di depan cermin meja rias yang tak jauh dari ranjang tersebut.


“Apa kamu benar benar ingin menemui pelayan itu?“ tanya Pangeran Song sembari menatap Ailing yang saat ini sedang merapikan pakaiannya.


“Walaupun aku tidak percaya kalau dia benar-benar kebetulan membantuku, tapi tetap saja dia itu pelayan yang diberikan oleh Ratu, jadi tetap saja aku harus merawatnya dengan baik. Jika tidak, pasti Ratu akan menjadikan ini alasan untuk melemparku ke pembuangan,” ucap Ailing sembari berganti merapikan tatanan rambutnya yang sempat rusak karena ulah Pangeran Song.


“Ternyata dia menyadari hal ini juga,” batin Pangeran song sembari tersenyum kecil karena merasa Ailing cukup bisa diandalkan.


“Jadi apa yang akan kamu lakukan pada pelayan itu?“ tanya Pangeran Song sembari ikut turun dari ranjang tersebut.


“Jadi Kamu mengakui kalau sengaja memberikan pelayan-pelayan itu untuk melempar masalah padaku?“ tanya Ailing sembari melirik Pangeran Song dengan sinis.


“Tidak sepenuhnya benar. Aku memberikan pelayanan itu untuk membantu kamu dan juga untuk mengetes kelayakan kamu sebagai permaisuri kediaman ini,” jawab Pangeran Song dengan santai.


Segera saja Ailing berbalik menatap Pangeran Song. Kini dia membusungkan dada dan berkacak pinggang. “Mengetes kamu bilang?“ tanya Ailing lalu mengerucutkan bibirnya.


“Iya itu lebih tepat, tapi bukan itu intinya. Kamu sendiri yang meminta pada Kaisar menjadikan aku satu-satunya istri kamu, apa kamu tidak takut aku mati dan kamu tidak akan pernah lagi menikah seumur hidup kamu?“ debat Ailing dengan tatapan yang kembali berapi-api.


Ya, dia masih kesal karena semua kejadian itu ternyata sudah diperkirakan oleh Pangeran Song. Dan suaminya itu tak sekali pun memberi peringatan pada dirinya akan hal itu dan justru dengan santai mengumpankannya dalam bahaya.


“Apa kamu pikir aku takut tidak memiliki istri seperti kamu?“ Pangeran Song balik bertanya sembari semakin dekat pada Ailing dan kemudian mengambil beberapa helai rambut panjang Ailing.


“Jangan sok drama,” sahut ailing sembari menarik rambutnya dari tangan Pangeran Song. “Kalau kamu memang tidak ingin memiliki istri seperti aku, lalu untuk apa kamu meminta pernikahan abadi itu? Seharusnya kamu bisa membunuhku dan menikah dengan yang lainnya jika memang tidak suka padaku?“


“Siapa yang mengatakan aku tidak suka pada kamu?“ tukas Pangeran Song dengan cepat.


“Ah, apa yang kukatakan,” batin Pangeran Song yang menyadari kalau dia baru saja berbicara tanpa sadar.


“Apa, apa maksudnya dia ini menyukaiku?“ pikir Ailing yang juga terkejut dengan jawaban spontan suaminya itu.


Suasana di ruangan itu pun berubah hening seketika, bahkan mereka berdua saling menatap dan larut dalam pikirannya masing-masing selama beberapa saat. Hingga tiba-tiba saja mereka berdua sama-sama tersadar.

__ADS_1


“Kita lupakan itu dulu, sekarang beritahu aku apa yang akan kamu lakukan dengan pelayan itu?“ tanya Pangeran Song sembari duduk di kursi yang ada di dekatnya.


“Hei, kamu tanya lagi ini. Harusnya itu aku yang bertanya pada kamu. Pelayan itu masuk ke tempatku karena kamu, harusnya aku yang bertanya apa yang harus. aku lakukan dengan pelayan itu?“ Protes Ailing sembari ikut duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


“Atau kamu melempar pelayan itu padaku karena pelayan itu menyusahkan, ya?“ tebak Ailing.


“Bagus, ternyata kamu tidak sebodoh kelihatannya,” seloroh Pangeran Song.


Ailing pun langsung mengerucutkan bibirnya dan memutar bola matanya saat mendengar sahutan menyebalkan itu.


“Seperti yang kamu tahu, pelayan itu adalah mata-mata dari istana. Dia sebelumnya ditugaskan untuk melayani di taman giok ini. Beberapa kali dia membocorkan kejadian di sini ke istana,” beber Pangeran Song.


“Apa termasuk kejadian tadi?“ tebak Ailing.


“Benar.“


“Itu artinya semua kejadian yang terjadi tadi memang direncanakan oleh istana dan itu artinya ada bukan hanya satu orang mata-mata di kediaman ini?“


“Benar.“


“Kalau kamu tahu, kenapa kamu tidak menyingkirkan mereka? Lebih cepat menyingkirkan mereka itu pasti lebih baik. Dan juga, apakah pelayan-pelayan lainnya juga adalah mata-mata dari istana, atau hanya Baisu saja yang merupakan mata-mata?“ cerocos Ailing.


“Pertama, aku tidak bisa menyingkirkan orang-orang itu dengan gegabah karena akan membuat pihak istana curiga. Kedua, ada beberapa pelayan yang memang mata-mata dari istana. Mereka ada di bawah perintah pelayan bernama Baisu,” jawab Pangeran Song.


“Lalu bagaimana, jika kita tidak bisa menyingkirkannya dan juga tidak boleh membiarkannya tahu semua hal, apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus mengirimnya pergi jauh?“


“Aku memang berpikir seperti itu, tapi jika aku yang mengirimnya sendiri maka pihak istana pasti akan curiga,” jawab Pangeran Song dengan tenang. Dia pun mulai menuangkan teh di atas meja di dekatnya.


Sedangkan Ailing kini sedang manggut-manggut mendengarkan hal itu. Dan tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di pikirannya. “Aku punya ide, tapi aku membutuhkan banyak dana untuk itu. Dan juga ideku ini akan menguntungkan untuk kita.“


“Apa itu?“


Ailing pun menaik turunkan alisnya beberapa kali dengan sebuah senyum lebar yang mengikuti ekspresi. konyolnya itu.


“Apa yang ingin dia lakukan?“ pikir Pangeran Song.

__ADS_1


__ADS_2