
“Apa yang terjadi?“ tanya Pangeran Song ketika melihat luka sayatan di punggung Ailing. Luka yang dibalut dengan sembarangan itu terlihat kembali mengeluarkan darah.
“Ishh … bantu aku membersihkannya dulu, aku tak sampai,” ucap Ailing yang ingin menggapai punggungnya tapi tak sampai. “Jika kamu tidak bisa membantuku, suruh Jongki saja ya masuk ke sini,” pintanya sembari meringis merasakan perih di punggungnya.
“Jangan bicara sembarangan, aku sedang mengambil obat,” ucap Pangeran Song sembari membuka sebuah kotak yang ia ambil dari bawah kursi.
Setelah itu dengan cepat Pangeran Song mengambil kain bersih, obat dan juga perban dari dalam kotak tersebut. Lalu, dengan terampil ia membersihkan luka di punggung Ailing.
“Tahan, akan sakit,” ucap Pangeran Song sembari membuka botol obat.
“Iya,” sahut Ailing yang kemudian mengatupkan giginya kuat. Benar saja, sesaat kemudian rasa perih yang teramat sangat menempa bagian luka Ailing. Namun Ailing terus diam, tangannya mencengkeram kuat pakaiannya agar ia tak mengeluarkan suara.
“Obat ini memang terasa membakar, tapi selanjutnya ia akan menyembuhkan luka dengan cepat,” terang Pangeran Song sembari menutup botol obat yang baru saja ia balurkan di luka ailing.
Ailing pun mengangguk ia tak menjawab karena saat ini sedang menikmati rasa perih dan terbakar seperti yang dikatakan oleh pangeran Song.
“Kamu boleh berteriak kita berada di jalanan sepi,” ucap Pangeran Song.
Tapi dengan cepat Ailing menggeleng. Ia tak mau kalah dengan rasa sakit obat tersebut. Dan setelah rasa terbakar itu reda, akhirnya Ailing pun menghela napas panjang.
“Terima kasih,” ucap Ailing dengan suara serak.
“Baiklah kalau begitu aku akan membalut lukanya,” ucap Pangeran Song yang meminta izin, bagaimanapun juga membalut luka Ailing itu artinya ia akan menyentuh beberapa bagian tubuh Ailing.
“Kamu yakin?“ tanya Ailing sembari menoleh untuk melirik Pangeran Song yang ada di belakangnya. Ailing bisa melihat telinga Pangeran Song yang memerah.
Kemudian Ailing pun kembali membetulkan lembaran pakaian yang ia gunakan untuk menutupi bagian depan tubuhnya. “Jika kamu merasa tidak bisa lebih baik, kamu bisa menyuruh Jongki saja. Bagaimanapun juga dia it … ah!“ pekiknya di akhir kalimat karena tiba-tiba saja Pangeran Song menekan punggungnya tepat di sebelah bagian luka yang baru saja dibubuhi obat.
__ADS_1
“Kamu apa-apaan!“ protes Ailing dengan keringat yang bercucuran karena baru saja merasakan sakit hingga terasa perih sampai ke perutnya.
Tiba-tiba ….
“Ada apa Nyonya?“ tanya Jongki yang sedang mengendalikan kuda.
“Jongki kamu ganti posisi. Biar Tuanmu yang jadi kusir, kamu bantu aku membalut luka!“ teriak Ailing.
Jongki yang mendengar permintaan Ailing tersebut pun langsung mengerutkan dahinya. “Luka?“ gumamnya yang merasa penasaran karena saat Ailing dan Pangeran Song masuk ke dalam kereta tersebut terlihat semuanya baik-baik saja.
Sesaat kemudian Jongki pun menghentikan kereta tersebut. “Tuan, apakah ad—”
“Jalan!“ potong Pangeran Song. Jika kamu berani masuk ke dalam sini, bersiap-siap saja pergi ke selatan,” ancamnya.
Mendengar ancaman tersebut, Jongki pun mengurungkan niatnya untuk mengecek ke dalam kereta. “Ba-ba-ba baik Tuan,” jawabnya.
Sementara itu, di dalam kereta saat ini Ailing sedang menyipitkan matanya pada Pangeran Song yang kini berhadap-hadapan dengan dirinya.
“Enggak. Jangan-jangan kamu mau menekan lukaku lagi. Kamu pasti psikopat yang senang melihat orang lain kesakitan,” tuduh Ailing sembari menatap tajam Pangeran Song.
Namun bukannya menyangkal atau apa, kini Pangeran Song justru tersenyum. Ia dengan santai dan mendekatkan kepalanya ke arah Ailing. “Jika kamu terus menatapku dengan pakaian seperti ini,baku pasti berpikir kamu mengundangku,” bisiknya.
Segera saja Ailing menundukkan kepalanya. “Ah, aku lupa kalau dari tadi aku melepas pakaian atasku,” batinya yang kemudian berbalik.
“Menurut?“ ejek Pangeran Song.
“Sudahlah, ayo cepat balut lukaku jangan sampai nanti terkena kuman dan jadi infeksi. Sudah rugi gara-gara kamu melihat hal-hal seperti ini, aku nggak mau tambah rugi gara-gara infeksi,” celoteh Ailing sambil menahan malu dalam hatinya.
__ADS_1
Setengah hari berlalu, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Pangeran Song. Ailing yang merasa sudah sangat pegal pun segera turun ketika mereka sudah sampai di sana.
“Aku akan mengirim tabib ke tempatmu," ucap Pangeran Song setelah selesai membantu Ailing turun dari kereta.
“Baik, terima kasih,” jawab Ailing sembari beralih mendekati Xin Ya yang saat ini sudah menunggunya.
“Dan, kamu tidak perlu lagi memasak di sana. Kamu adalah satu-satunya orang yang akan mengatur kediaman ini, jadi kamu berhak untuk melakukan apa pun pada pelayan yang tidak menurut,” ucap Pangeran Song.
“Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal ini saat hanya denganku? Apa dia serius dengan hal ini?“ batin Ailing sembari menatap Pangeran Song dengan penuh tanda tanya.
“Ada apa?“ tanya Pangeran Song yang penasaran dengan arti tatapan Ailing tersebut.
“Aku ingin tahu apa kamu masih serius dengan permintaanmu pada raja?“ tanya Ailing sembari kembali mendekat pada Pangeran Song. Kemudian ia pun menarik jubah Pangeran Song dan mendekatkan wajahnya di telinganya. “Jika kamu ingin membatalkan atau merubah anugerah itu, aku akan mendukungnya. Bagaimanapun juga, aku ini bukan Ailing yang seharusnya menjadi istrimu,” bisiknya.
Setelah itu Ailing pun menjauhkan wajahnya dari telinga Pangeran Song. Ia menatap serius wajah laki-laki di depannya itu. “Bagaimana tanggapannya?“ pikirnya.
Lalu sebuah senyuman pun muncul dari bibir Pangeran Song. “Apa kamu memutuskan berpihak kepada Pangeran Han?“
“Hah?“ Ailing bingung mendengar sahutan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
“Katakan yang sebenarnya,” tuntut Pangeran Song.
“Apa sebenar-sebenarnya?“ tukas Ailing. “Aku ini benar-benar bertanya pada kamu, apa kamu tidak ingin memikirkan lagi tentang pernikahan abadi itu? Kenapa kamu malah menuduhku berkomplot bersama pangeran Han?“
Lalu tiba-tiba saja pengeran Song menahan dagu Ailing. “Aku tahu kamu bukan berasal dari sini, tapi kamu pasti mengerti kalau permintaan seperti itu tidak bisa dibatalkan. Apalagi itu sudah mendapat restu dari sang Raja. Jika aku membatalkannya, maka itu akan dianggap sebagai penghinaan pada kerajaan,” bebernya.
Ya, Ailing memang tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Ia tidak menyangka kalau masalah pernikahan abadi itu sudah tidak bisa di otak-atik lagi. “Apa kamu benar-benar mau seumur hidup denganku?“ tanyanya.
__ADS_1
“Dia benar-benar sembrono, kenapa bisa menanyakan hal seperti itu di depan banyak orang,” batin Pangeran Song sembari melirik ke arah Xin Ya, Jongki dan beberapa pelayan lainnya yang tengah tersenyum sambil menundukkan kepala mereka.
Pangeran song lalu sedikit membungkukkan tubuhnya, hingga kepalanya tepat berada di samping telinga Ailing. Kemudian ia pun berisik, “Aku