
“Aku tidak melakukan apa pun pada dia,” ucap Ailing ketika baru saja bertemu dengan Pangeran Song.
“Dia, dia siapa?“ tanya Pangeran Song sembari menatap Ailing yang kini sedang bersiap untuk duduk di depan Pangeran Song.
Ailing mengarahkan pandangannya pada beberapa porsi makanan yang hampir memenuhi meja di hadapannya sambil menjawab, “Bukannya kamu menyuruhku ke sini karena aku mengganggu Putri Chungli.“
“Jadi dia bertemu Putri Chungli tadi,” batin Pangeran Song sembari menghela napasnya dalam-dalam.
“Kamu terlalu banyak berpikir. Aku menyuruhmu ke sini karena tidak ada teman makan siang,” sanggah Pangeran Song.
Mendengar hal itu Ailing pun langsung melirik ke arah Jongki. “Dia?“ tanyanya sembari menunjuk ke arah orang kepercayaan suaminya itu.
Langsung saja Pangeran Song dan Xin Ya menoleh ke arah Jongki yang kini berubah kikuk.
“I-i-itu Nyonya, saya … saya tidak terbiasa makan di waktu ini,” sahut Jongki sembari menggoyang-goyangkan tangannya untuk memperjelas sanggahannya.
“Yakin?“ tanya Ailing yang benar-benar tidak percaya dengan perkataan tangan kiri suaminya itu.
Langsung saja Jongki mengalihkan pandangannya pada Xin Ya. “Pelayanan Xin Ya, tolong ikut saya. Saya ada beberapa hal yang harus ditanyakan seputar orang-orang yang ada di toko,” pintanya untuk menghindari pertanyaan lanjutan dari Ailing.
Xin Ya yang mengerti situasi pun dengan cepat mengangguk. “Baik, mari,” sahutnya yang kemudian bergerak begitu saja meninggalkan ruangan itu tanpa bertanya dulu pada Ailing.
“Kadang aku merasa dia itu seperti sudah bersekongkol dengan si Songong,” batin Ailing sembari kembali menatap ke arah Pangeran Song dengan malas.
“Ayo, katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan! Atau, katakan saja kalau ingin memprotes sesuatu, jangan basa-basi,” ucap Ailing sembari mencuri pandang pada makan yang ada di mejanya.
“Bih, aku benar-benar lapar. Tapi kalau dia nggak menyuruhku duluan, pasti memalukan kalau aku minta makan,” batin Ailing lalu mengalihkan pandangannya pada sekeliling. “Atau aku pesan makanan sendiri saja ya,” pikirnya.
“Makan saja, aku tahu kamu lapar. Lagi pula makanan-makanan di meja ini memang untuk kamu,” ujar Pangeran Song yang bisa membaca gerak-gerik wanita di hadapannya itu.
Segera Ailing menatap kembali Pangeran Song. “Karena kamu yang memaksa kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi,” selorohnya sembari mengambil sumpit yang ada di depannya.
__ADS_1
Kemudian Ailing pun dengan cepat mengambil mangkuk nasi dan memasukkan nasi juga lauk pauk ke dalam mangkuk berukuran sedang itu. “Jangan protes kalau melihat porsi makanku, yang salah itu alat makan di zamanmu ini kenapa kecil-kecil sekali,” ucapnya sembari menyumpit suapan pertamanya.
“Iya, makan saja,” sahut Pangeran Song sembari menahan tawa karena baru pertama kali melihat wanita selucu Ailing.
“Jangan menertawakanku,” ujar Ailing tiba-tiba karena menyadari tingkah Pangeran Song yang berbeda.
Pangeran Song lalu menghela napasnya panjang. “Aku baru pertama kali melihat wanita cantik yang selucu dan seterbuka kamu.“
“Dia bilang aku cantik?“ batin Ailing dengan mulut terbuka karena ingin menyuap makanan ke mulutnya, tapi terhenti ketika mendengar ucapan Pangeran Song.
Sedangkan Pangeran Song yang melihat ekspresi wajah Ailing pun langsung mengernyit. “Apakah ada yang salah?“ batinnya yang kini ikut diam dan mulai memikirkan apakah ada yang salah dengan perkataannya.
Hingga ….
“Ehem!“ dehem Pangeran Song ketika menyadari apa yang membuat Ailing melongo seperti saat ini.
Ailing yang juga tersadar karena deheman Pangeran Song pun langsung menundukkan kepalanya dan melanjutkan makan. “Kenapa sih aku harus kaget kaya gitu, nggak banget ah,” gerutunya di dalam hati.
“Sudah,” jawab Ailing setelah menelan makanannya. “Bahkan aku berhasil mempromosikan toko ini berkat bantuan kekasih masa kecilmu itu.“
“Putri Chungli maksudmu?“ Pangeran Song memperjelas.
“Cih, mesra banget panggilnya,” gerutu Ailing di dalam hati sembari berganti mengambil sendok dengan cepat.
“Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Memangnya kamu punya kekasih lainnya?“ ketus Ailing sembari kembali menyendok makanannya.
“Apakah tingkahnya ini seperti yang dikatakan oleh Jongki?“ batin Pangeran Song sembari mengingat kursus singkat dari Jongki tentang hubungan antara pria dan wanita, juga kursus tentang bagaimana tanda-tanda seorang wanita yang menyukai seorang pria.
“Apa kamu cemburu?“
PFFFRRRT! Ailing menyemburkan makanannya ketika mendengar pertanyaan Pangeran Song yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
“Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu,” batin Ailing yang langsung mengelap mulutnya menggunakan sapu tangannya.
Sesaat kemudian dia menatap ke arah Pangeran Song dan segera mengambil gelas yang saat ini tengah disodorkan oleh Pangeran Song. Dan dalam beberapa teguk akhirnya dia menghabiskan air dalam gelas tersebut.
“Kenapa kamu terkejut sampai seperti itu?“ tanya Pangeran Song sembari terus menatap Ailing.
“Apa kamu tahu arti kata cemburu?“ tanya Ailing sembari meletakkan gelas tersebut.
“Tahu,” jawab Pangeran Song singkat.
Ailing pun langsung menepuk jidatnya. “Lalu kalau tahu, kenapa kamu menanyakan hal itu padaku?“
“Jadi apakah kamu tidak cemburu?“ tanya Pangeran Song.
Ailing mendengus kasar. “Aku ….“ Ailing tiba-tiba merasa ragu dengan apa yang ingin dikatakannya.
“Apa aku cemburu? Jangan-jangan aku benar cemburu lagi?“ batinnya yang kini justru terdiam memikirkan semuanya.
“Jadi kamu benar-benar cemburu.“ Pangeran Song menyimpulkan sambil manggut-manggut.
Ailing yang sekali lagi terkejut pun langsung menyahut, “Jangan sembarangan bicara. Lagi pula mana ada laki-laki bertanya seperti itu ke perempuan.“
“Kenapa aku tidak boleh bertanya seperti itu pada perempuan? Apakah di masa depan cemburu adalah sesuatu yang memalukan?“
“Tidak memalukan sih, tapi … ah, kenapa kita jadi membahas masalah cemburu sih,” tukas Ailing yang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. “Kita kembali ke masalah bisnis ini. Aku akan membuka tokonya dua hari lagi, jadi aku akan membawa para pelayan itu termasuk Baisu untuk membantu di toko, bagaimana?“
“Ide yang cukup bagus. Tapi apakah kamu sudah mempersiapkannya dengan matang? Dan … produk apa yang akan kamu jual? Kenapa kamu masih merahasiakannya?“ tanya Pangeran Song yang memang benar-benar belum tahu tentang barang yang akan dijual oleh Ailing.
Sebelumnya Ailing hanya mengatakan kalau produk utamanya adalah produk khusus untuk wanita.
Ailing pun menggaruk-garuk pelipisnya. “Sudahlah, besok lusa kamu juga akan tahu,” sahutnya sambil tersenyum canggung.
__ADS_1
“Apa yang dirahasiakannya?“ pikir Pangeran Song yang kini makin penasaran dengan produk yang akan dijual oleh Ailing dua hari lagi.