Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Bagaimana Jika Aku Membuangmu?


__ADS_3

“Akh!“ desah Ailing cukup keras ketika Pangeran Song menurunkannya dengan kasar di atas ranjang.


Setelah sedikit menggeliat dan meringis karena merasakan sakit di punggungnya, kemudian Ailing menarik kain yang ada di sana untuk menutupi tubuh polosnya.


“Pergi kamu!“ usir Ailing.


“Pergi?“ Pangeran Song menyeringai.


“Apa yang ingin kamu lakukan?“ Ailing menggenggam erat kain yang menutupi tubuhnya karena saat ini Pangeran Song mulai melepaskan jubahnya.


'Tidak, aku tidak boleh kalah dari dia. Tapi aku tidak punya senjata apa pun saat ini,' batin Ailing sembari menatap sekitar, tetapi tak menemukan apa pun.


“Apa yang kamu cari?“ tanya Pangeran Song sembari naik ke atas ranjang dan kemudian mencoba menarik kain yang saat ini tengah digunakan untuk menutup tubuh Ailing.


“Pergi sana!“ teriak Ailing sembari mendorong tubuh Pangeran Song yang kini berposisi merangkak di atasnya. Tetapi tentu saja hal itu tak membuat Pangeran Song bergeser sedikit pun.


Sebuah senyuman pun muncul di bibir Pangeran Song. “Jadi kamu bertemu dengan mantan kekasihmu, lalu berjanji akan pergi dari sini?“ tanyanya diikuti dengan senyum mengejek.


'Ck, padahal aku ingin bisa lebih kuat dulu di sini. Tapi karena semuanya sudah begini, apa boleh buat,' batin Ailing.


“Kerena sudah mendengarnya sendiri, jadi aku tidak akan membantah,” jawabnya sembari menatap Pangeran Song dengan berani.


“Benar,” ucap Pangeran Song sembari menyentuh wajah Ailing.


Ailing pun menutup matanya. 'Apa yang ingin dia lakukan? Apa dia akan mencekikku?' batin Ailing yang merasakan kalau sentuhan tersebut semakin turun dan mendekati ujung wajahnya.


'Dia ketakutan atau sedang menantikan semuanya?' pikir Pangeran Song yang memang belum punya pengalaman soal bercinta.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?“ bisik Pangeran Song.


“Itu bukan urusan kamu,” jawab Ailing yang juga ikut menjawab dengan lirih.


Kemudian Ailing membuka sedikit matanya. 'Ini kesempatan,' batinnya yang langsung mengangkat kakinya dengan kuat, ia bermaksud untuk menendang titik lemah seorang laki-laki.


Namun dengan sigap Pangeran Song langsung menepis serangan Ailing. “Kamu ingin menyerangku di sana? Apa kamu tidak ingin merasakan indahnya dunia?“ tanyanya.


“Dasar mesum!“ teriak Ailing. “Di mana sikap dinginmu itu? Katanya kamu itu orang yang kejam dan mengerikan, nyatanya kamu itu hanya orang mesum!“


Langsung saja Pangeran Song mencengkeram leher Ailing. 'Aku tahu tentang apa yang dibicarakan oleh semua orang, tapi baru dia yang berani menyebutku seperti ini,' geramnya di dalam hati.


“Apa kamu tahu apa konsekuensinya jika berani menghina seorang pangeran?“ tanya Pangeran Song.

__ADS_1


Ailing lalu tersenyum sinis. “Paling hanya mati,” jawab Ailing dengan suara serak karena saat ini tenggorokannya masih ada di bawah kekuasaan tangan suaminya.


“Huh, mati,” sahut Pangeran Song sembari tersenyum sinis, lalu melepaskan cengkeramannya.


Ailing pun terbatuk-batuk, tetapi Pangeran Song dengan santai menarik sehelai kain yang menutupi tubuh Ailing. “Pantas saja Pangeran Han tergila-gila pada kamu,” ujarnya sembari menatap Ailing dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Wajah Ailing merah padam diperlakukan seperti itu. “Sialan! Mati kamu!“ teriaknya sembari menendang dan tepat mengenai dada Pangeran Song.


Pangeran Song pun terpental dan menabrak pinggiran ranjang. Sedangkan Ailing segera saja memanfaatkan hal itu untuk turun dari ranjang. Ia dengan cepat menarik kelambu ranjanganya dan dengan cepat membalut tubuhnya dengan kelambu tersebut.


“Apa yang kamu tutupi? Bahkan, kain itu tak sedikit pun bisa menutupi kamu,” ucap Pangeran Song yang kini juga ikut turun dari ranjang sembari menatap tubuh Ailing yang justru terlihat makin cantik.


Kemarahan yang sudah naik sampai ke ubun-ubun membuat Ailing dengan cepat mengangkat kursi yang ada di dekatnya dan melemparkannya pada Pangeran Song.


“Hanya seperti itu yang bisa kamu lakukan? Bukankah kemampuan pedangmu cukup baik kemarin,” ejek Pangeran Song setelah berhasil menghindar dari lemparan kursi Ailing.


“Diam kamu!“ teriak Ailing sembari mengangkat kursi yang lainnya dan sekali lagi melemparkannya pada Pangeran Song.


Dan seperti sebelumnya, Pangeran Song pun berhasil menghindar dan kembali mengejek Ailing sesuka hatinya.


Kejadian tersebut terus berlanjut dan berulang, hingga ….


'Ah, masa aku nggak kuat sih. Ini memalukan jika aku sampai tidak kuat melemparnya,' batinnya yang saat ini benar-benar kesulitan mengangkat meja besar yang terbuat dari kayu jati tersebut.


Tiba-tiba ….


“Kenapa, tidak bisa?“ bisik Pangeran Song yang entah sejak kapan ada di belakang Ailing.


Ailing pun dengan cepat berbalik. “Kamu minggir san—” Kalimat Ailing terhenti ketika tiba-tiba saja Pangeran Song mendaratkan ciuman di bibirnya.


Mata Ailing membola, tangannya ingin kembali menyerang, tetapi langsung di tahan oleh Pangeran Song.


Pangeran Song pun terus membiarkan insting laki-lakinya bekerja. Ia memberikan beberapa sentuhan yang membuat napas Ailing naik turun.


“Dengar Pangeran, kalau kamu berani melakukan sesuatu padaku. Aku bersumpah akan membantu Pangeran Han naik tahta,” ucap Ailing dengan napas yang naik turun.


“Oh ya, apa kamu pikir aku tidak setuju pada hal itu? Bukankan Pangeran Han memiliki karakter dan dia adalah calon raja yang pantas?“ bisik Pangeran Song.


“Ah,” desah Ailing tanpa sadar ketika Pangeran Song terlalu dekat dengan telinganya, apalagi dengan tubuhnya yang sudah sangat sensitif ini.


Pangeran Song terdiam ketika mendengar ******* tersebut. Sedangkan Ailing, wajahnya langsung memerah ketika menyadari apa yang baru saja keluar dari bibirnya.

__ADS_1


“Jangan dekat-dekat telingaku!“ teriak Ailing, lalu melepaskan dirinya dari Pangeran Song. Namun, dengan cepat Pangeran Song kembali menangkap tangan Arumi.


“Beri tahu padanya kalau aku setuju dia menjadi raja,” ujar Pangeran Song sembari menarik Ailing kembali ke dalam pelukannya.


Ailing pun mendongakkan wajahnya. “Apa kamu gila? Negara ini hampir hancur gara-gara raja. Banyak rakyat yang kelaparan dan memilih bunuh diri gara-gara pajak negara yang tinggi. “


'Waktu pergi ke tempat judi aku mendengar masalah ini. Apa benar dia tidak tahu tentang masalah ini? Atau dia terlalu sibuk dengan perang sampai tidak mendengarnya?' batin Ailing yang selalu berpikir jika Pangeran Song ini adalah orang yang berbeda.


Menurutnya, seorang laki-laki yang rela berkorban darah untuk negara, pastilah sangat menyayangi rakyatnya.


'Apa dia sedang membela rakyat? Sampai mana dia tahu?' batin Pangeran Song yang memang sengaja ingin memancing Ailing.


“Jadi?“ pancingnya.


“Jadi?“ Ailing mengernyitkan dahinya. “Sebenarnya kamu ini berperang untuk apa? Ingin membela negara atau hanya untuk bersenang-senang karena psikopat?“


“Psikopat?“ Pangeran Song mengernyit karena baru pertama kali mendengar istilah tersebut.


“Sudahlah, terserah kamu saja,” tukas Ailing yang ingin berbalik, tetapi masih terus ditahan oleh Pangeran Song.


“Apa lagi?“ tanyanya dengan malas.


Tiba-tiba saja Pangeran Song kembali menggendong Ailing dan meletakkannya dengan lebih lembut di ranjang yang sudah berantakan. “Menurutmu jika sekarang aku meleparkanmu pada Pangeran Han, apa dia akan menerimamu seperti yang dia katakan?“


'Tentu saja dia akan membuangku. Tapi kenapa dia bertanya seperti ini?' pikir Ailing. 'Atau jangan-jangan dia benar ingin melemparkanku pada Pangeran Han itu? Ck, tidak bisa. Aku lebih baik diusir dan jadi orang biasa, dari pada diberikan pada cowok sok yes itu.'


“Tidak perlu repot-repot mengantarkanku ke sana. Jika kamu sudah setuju, aku bisa berjalan sendiri ke sana. Aku yakin dia akan menjadikanku permaisuri yang dijanjikannya,” jawab Ailing dengan berani.


'Seperti perkiraanku,' batin Pangeran Song sembari tersenyum tipis.


'Lah, kenapa dia tersenyum? Apa ada yang salah?' pikir Ailing sembari memperhatikan bibir tipis suaminya itu.


“Aku benar-benar tertipu denganmu,” ujar Pangeran Song sembari tertawa lepas.


'Dia sudah tahu semuanya,' batin Ailing sembari mengepalkan tangannya.


Tiba-tiba ….


Brak!


“Nyonya!“

__ADS_1


__ADS_2