
“Aku tadi melihat Jongki. Dia di sini kan?“ tanya Ailing sembari terus melangkah maju dan mendesak Pangeran Song untuk terus mundur.
“Tunggu,” ucap Pangeran Song sembari menahan tangan Ailing agar berhenti.
“Jangan mengelak. Dia di sekitar sini kan? Oh, atau jangan-jangan kamu yang sengaja merencanakan kejadian ini semua?“ tanya Ailing dengan tatapan tajamnya.
Ya, tadi ketika baru selesai mandi dia tak langsung masuk ke dalam ruangan tempat di mana Pangeran Song dirawat tadi karena ia mendegar suara Jongki sedang berbicara dengan suaminya itu di dalam kamar. Ia sempat berniat menguping, tetapi ternyata ia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka berdua bicarakan.
“Jangan sembarangan bicara," sanggah Pangeran Song sembari melangkah dan duduk di kursi yang tak jauh dari mereka saat ini. "Jongki memang di sini. Dia menemukan kita setelah kita sampai di sini.“
'Apa benar yang dia katakan? Jangan-jangan dia membohongiku lagi,' pikir Ailing sembari ikut duduk di kursi yang ada di dekat Pangeran Song.
“Apa kamu tidak berbohong?" tanya Ailing yang kini menatap wajah Pangeran Song lekat.
Pangeran song pun dengan ekspresi dinginnya mendekatkan wajahnya pada Ailing. "Apa kamu pikir aku ini bodoh seperti kamu? Aku tidak mungkin menyewa penjahat untuk meracuni diriku sendiri," jawabnya.
Ailing pun memundurkan wajahnya. 'Benar juga,' batinnya.
“Baik, aku percaya dengan itu. Tapi jika Jongki sudah ada di sini, itu artinya kita bisa kembali ke rumah malam ini kan?" tanya Ailing sembari bersedekap dan menatap tajam Pangeran Song.
“Tidak bisa. Aku sudah menyuruh Jongki menyebarkan berita bahwa kita sedang berdoa," jawab Pangeran Song sembari menegakkan tubuhnya kembali.
"Kenapa?" tanya Ailing sembari mengerutkan dahi.
'Apa yang dia inginkan? Jangan-jangan dia memang sengaja ingin menghabiskan waktu berdua denganku saja," batin Ailing "Ah, kamu gila! Singkirkan drama Korea yang ada di otakmu itu,” teriak Ailing di dalam hati.
Pangeran Song pun menghela napas panjang melihat ekspresi bodoh Ailing yang sedang melamun. "Jangan berpikir terlalu jauh. Dengar, aku tidak mungkin kembali dengan kondisi seperti ini. Jika mereka tahu aku terluka, maka akan ada banyak orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan kediaman.“
Ailing kembali diam, dia memikirkan maksud kalimat suaminya itu. “Tunggu, apa kamu sudah tahu siapa orang yang menyerang kita?“
“Coba kamu tebak.“
“Kenapa kamu jadi berteka-teki,” protes Ailing. “Katakan saja siapa orangnya!“
Tiba-tiba senyum mengejek muncul dari wajah Pangeran Song. "Aku tahu kamu pasti—”
“Baik-baik, kamu tidak perlu menghina," sela Ailing yang sudah bisa menebak kalau Pangeran Song akan mengejek dirinya. “Aku akan coba menebak, apakah itu mantan kekasihmu?“
__ADS_1
“Mantan kekasih?" Pangeran Song tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Ailing karena dia memang sama sekali tak pernah punya kekasih.
“Jangan pura-pura, apa ini kerjaan Putri Chungli?“
“Bukan. Dia tidak akan berani melakukan hal seperti ini,” jawab Pangeran Song.
'Cih, dasar laki-laki. Tadi dia pura-pura tidak mengerti, sekarang dia membelanya habis-habisan,' batin Ailing.
“Lalu siapa? Apakah itu Pangeran Han?“ tebaknya lagi. “Dia orang yang ingin memata-matai kamu. Dia sangat berambisi mewarisi tahta.“
Kemudian sebuah senyuman sinis muncul dari bibir Pangeran Song.
“Jadi kamu sadar kalau kamu hanya sebuah pion?"
“Sudah, jangan mengejek. Itu kan dulu, sekarang aku tidak akan sebodoh itu lagi,” tukas Ailing. “Jadi, apakah benar ini semua ulah Pangeran Han?“
Pangeran Song lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar. “Aku belum tahu, tapi yang jelas orang itu berasal dari istana,” bebernya.
Ailing mengepalkan tangannya. “Ck, orang-orang di istana memang rumit,” gumamnya.
Sesaat kemudian Pangeran Song kembali menatap Ailing. “Bukankah kamu berkata akan pergi membantu orang di desa ini, apa yang kamu rencanakan?“
“Bukankah tadi kamu makan?“ Pangeran Song mendebat.
“Makan, tapi sendikit,” jawab Ailing dengan jujur. “Aku masih lapar, jadi aku akan membantu orang-orang supaya nanti malam kita bisa makan.“
“Jadi kamu akan mencarikan makanan untukku juga?“ tanya Pangeran Song.
“Iya, puas?“ ketus Ailing agar Pangeran Song tidak mengejeknya lagi. “Tidak enak kalau kita makan di sini dengan gratis tanpa melakukan apa pun, jadi aku akan membantu mereka. Kamu istirahat saja di sini, jangan ke mana-mana,” ucapnya sembari mengambil tali kelambu yang tak jauh dari mereka dan menggunakannya untuk mengikat rambut.
Pangeran Song pun tersenyum lebar. “Baiklah kalau begitu sementara waktu aku akan bergantung padamu, istriku,” selorohnya.
Langsung saja Ailing memberikan ekspresi aneh. “menjijikkan,” gumamnya sembari melangkah meninggalkan tempat itu.
Sesaat kemudian tiba-tiba saja munculah Jongki di dalam ruangan itu.
“Bagaimana?“ tanya Pangeran Song tanpa menoleh pada Jongki.
__ADS_1
“Bukan orang-orang Pangeran Han, Tuan,” lapor Jongki dengan sikap hormatnya.
“Kalau begitu selidiki lebih lanjut,” titah Pangeran Song sembari menatap ke arah orang yang kini berlalu lalang di jalanan depan rumah tersebut.
“Baik Tuan,” jawab Jongki sembari bangun dari posisi hormatnya.
“Tapi sebelum itu bawakan makanan-makanan manis ke tempat ini,” ucap Pangeran Song sembari melangkah maju. “Aku akan pergi melihat keadaan di sekitar sini,” imbuhnya.
“Dasar Pangeran, kapan dia akan mengakui perasaannya,” gumam Jongki sembari menggeleng pelan.
Sementara itu, di tempat lain saat ini Ailing tengah duduk bersama beberapa wanita yang sedang menyiapkan kue-kue untuk festival nanti malam.
“Wah, kue ini sangat cantik,” ucap Ailing sembari menata kue berwarna merah muda yang ada di tangannya.
“Apakah benar? Kue itu buatan putriku, Nyonya," sahut seorang perempuan paruh baya yang saat ini sedang duduk di sebelah Ailing.
Seketika Ailing pun menoleh. “Benarkah? Wah, putri Anda sangat hebat, Nyonya. Sungguh beruntung laki-laki yang menjadi suaminya nanti,” ujarnya sembari meletakkan kue tersebut di dalam keranjang bersama kue-kue lainnya.
“Terima kasih pujiannya,” balas wanita paruh baya tersebut sembari tersenyum hangat.
“Apakah saya bisa bertemu dengannya? Siapa tahu saya punya kesempatan untuk belajar padanya,” ucap Ailing dengan ekspresi penuh harap yang sengaja ia perlihatkan pada wanita paruh baya tersebut.
“Tentu saja bisa, itu dia,” jawab wanita paruh baya tersebut sembari menunjuk ke belakang Ailing.
Ailing pun segera berbalik dan terkejut melihat gadis yang ditunjuk. “Jiang?“
“Iya, Jiang adalah putri saya satu-satunya,” sahut wanita paruh baya tersebut.
Ailing lalu tersenyum kecil. 'Wah, sepertinya ini bisa menjadi jalanku untuk sukses di era ini,' batinnya sembari membayangkan apa yang akan dilakukannya bersama gadis bernama Jiang itu.
Ailing kemudian dengan penuh semangat mengangkat tangannya. “Jiang, ke sini,” panggilannya.
Gadis bernama Jiang yang pernah membantu Ailing di tempat Tabib Fang itu pun mempercepat langkahnya. “Nyonya Ailing, Anda di sini?“
“Tentu saja aku di sini,” sahut Ailing sembari menepuk pundak Jiang.
'Di mana pun tempatnya, asalkan aku yang memulainya pasti semuanya akan sukses,' ucapnya dalam hati.
__ADS_1
“Hahaha!“ Ailing tiba-tiba tertawa sendiri memikirkan kesuksesannya nanti.
Sedangkan Jiang yang melihat hal itu pun langsung tersenyum aneh. 'Apakah ada yang salah dengan Nyonya ini?' pikirnya.