Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Makanan Aneh


__ADS_3

“Ada apa?“ tanya Ailing dengan cepat ketika melihat pelayan setianya itu panik.


“Itu Nyonya, para pelayan sedang bergosip hingga orang-orang di dapur menolak memasak untuk kita,” lapor Xin Ya sembari melangkah ke arah Ailing yang saat ini masih membakar surat dari pangeran Han.


“Bergosip apa?" tanya Ailing yang kini kembali menatap ke arah kertas yang ada di tangannya.


Ekspresi tak perduli Ailing membuat Xin Ya mempercepat langkahnya. “Ini tentang reputasi Anda, Nyonya. Mereka berkata bahwa Anda telah diusir oleh pangeran Song tadi siang dan malam ini Anda masuk ke kediaman ini dengan paksa karena Anda ….“ Ia tak bisa melanjutkan kalimatnya.


'Kenapa orang-orang di zaman ini sangat suka sekali bergosip Apa mereka tidak bisa mengurusi urusan mereka sendiri,' batin Ailing sembari menepuk-nepuk tangannya karena surat tersebut sudah habis terbakar.


“Karena aku tidak tahu malu dan bermuka tembok?“ tanya Ailing sembari beralih menatap Xin Ya.


Xin Ya menggigit bibirnya. “Mereka memang sangat keterlaluan,” jawabnya tanpa berkata iya ataupun tidak.


Ailing pun menghela napas panjang melihat tingkah Xin Ya yang terlalu lemah itu. “Jadi mereka tidak mau memasak untuk kita, itu kan intinya?“


“Benar Nyonya. Mereka juga mengatakan beberapa hal buruk tentang resep yang Anda katakan,” jawab Xin Ya sembari mengepalkan tangannya.


"Baiklah, karena mereka tidak mau memasak untuk kita maka suruh saja orang untuk membawa beberapa peralatan memasak yang ada di dapur untuk dipindahkan ke halaman kita,” titah Ailing sembari menunjuk ke arah halaman yang ada di depan kamar tersebut.


Mata Xin Ya membola. "Anda ingin saya memasak?“ tanyanya.


“Benar. Memangnya kenapa? Apa kamu keberatan?" tanya Ailing.


Xin Ya lalu menggaruk-garuk pelipisnya. "Tentu saja saya tidak masalah dengan hal itu karena itu memang tugas saya. Tapi terakhir kali saya memasak, Anda berkata jika masakan saya tidak enak dan menyuruh saya untuk tidak memasak lagi,” bebernya.


Seketika Ailing pun menggeleng pelan. "Baiklah kalau begitu, aku putuskan mulai hari ini kita akan memasak sendiri. Lagi pula kita juga punya uang untuk membeli bahan makanan, jadi itu tidak akan jadi masalah,” ucapnya penuh keyakinan.


“Anda memang hebat, Nyonya,” puji Xin Ya sembari tersenyum lebar. Tetapi sesaat kemudian senyum tersebut tiba-tiba luntur. “Tapi bagaimana dengan gosip yang beredar? Saya khawatir itu akan merusak nama baik Anda jika sampai berita tersebut menyebar keluar.“


“Biarkan saja dulu, aku sedang capek mengurusi mereka. Bukankah tadi pagi kita baru menyuruh mereka untuk membuat kolam, jadi besok mereka harus mengisi kolam itu,” jawab Ailing sembari memijat-meja pundaknya.


Xin Ya pun mengernyitkan dahi karena tak paham maksud ucapan Ailing. "Apa Anda tidak marah tentang hal ini?“ tanyanya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan tersebut, Ailing pun tersenyum kecil. "Marah? Aku bukan marah, tapi lebih kepada tidak habis pikir kenapa mereka selalu bergosip dan seolah memusuhi kita, padahal kita kan hanya orang baru di sini.


Dan mengenai masalah gosip itu, kamu tenang saja aku pastikan mereka akan puas menuai apa yang mereka tanam,” jawab Ailing sembari tersenyum menyeringai.


Melihat ekspresi mengerikan Ailing, Xin Ya pun tersenyum aneh. 'Apa yang sedang direncanakan oleh Nyonya?' pikirnya.


*


Satu jam berlalu. Saat ini semua peralatan dapur dan benda-benda yang diinginkan Ailing sudah dibawa ke halaman kamarnya. Setelah itu Xin Ya dan Ailing pun sibuk membuat bumbu dan bahan makanan seperti yang Ailing inginkan.


“Nyonya, daging ini benar hanya ditusuk-tusuk seperti ini nyonya?“ tanya Xin Ya yang merasa aneh karena daging domba yang sudah dibeli oleh mereka tadi dibentuk seperti dadu dan ditusuk-tusuk menggunakan bambu yang sudah di bentuk seperti sumpit tipis.


“Iya, begitu saja,” jawab Ailing sembari mencampur kacang tanah sangrai ke dalam kecap dan beberapa bumbu lainnya. “Setelah itu kita akan membakarnya,” beber Ailing sembari mengoleskan bumbu buatannya ke daging yang sudah ditusuk-tusuk tersebut.


Xin Ya pun menggaruk-garuk pelipisnya ketika melihat Ailing dengan lincahnya mencampur berbagai bumbu dan bahan makanan yang ada di sana. 'Sejak kapan Nyonya bisa memasak? Bukankah dia tidak pernah memasak sebelumnya?' pikirnya yang benar-benar heran.


Setelah lebih dari setengah jam akhirnya proses memasak pun selesai.


“Akhirnya aku bisa makan enak,” ucap Ailing sembari mengusap keringat yang menetes di keningnya. Ia tersenyum puas melihat semua masakan yang ada di atas meja.


“Nyonya, dari mana anda belajar memasak ini?" tanya Xin Ya sembari menoleh pada Ailing dengan tatapan aneh.


'Ya, tidak heran sih kalau dia bingung melihat sate dan sambal tomat ini,' batin Ailing sambil berdehem.


“Aku mempelajarinya dari pemilik tempat makan yang ada di ujung kota ini,” jawabku sembarangan.


Tentu saja Ailing tahu Xin Ya tidak akan percaya dengan hal itu. Dan sebelum Xin Ya bertanya lagi, Ailing pun langsung mengambil satu tusuk sate. “Coba rasakan,” pintanya sembari menyodorkan sate tersebut pada Xin Ya.


Xin Ya yang sedari tadi memang sudah penasaran dengan rasa dari masakan yang menggugah selera tersebut pun langsung menggigit daging tersebut. Seketika mata Xin Ya membola.


“Bagaimana rasanya?“ tanya Ailing sembari mengangkat alisnya.


“Lezat Nyonya. Masakan ini apa namanya?“ tanya Xin Ya yang sangat bersemangat.

__ADS_1


“Namanya ….“ Ailing berpikir keras. “Saite, ya namanya saite.“


“Saite? Nama yang aneh,” komentar Xin Ya.


**


Di tempat lain, saat ini Pangeran Song tengah membaca sebuah buku yang ada di hadapannya. Dan tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu ruangan tersebut.


“Ada apa?“ tanya Pangeran Song ketika orang kepercayaannya itu masuk dan memberi salam padanya.


“Tuan, Nyonya sudah kembali,” lapor Jongki.


“Lalu apa yang terjadi?“ tanya Pangeran Song yang saat ini beralih menulis sesuatu.


“Para pelayan bergosip karena Nyonya masuk setelah mengalahkan dua penjaga,” terang Jongki.


“Hanya itu?“


'Apa Tuan ingin mendengar berita yang lainnya?' Batin Jongki.


“Saat ini Nyonya sedang memasak di halamannya,” ucapnya.


Seketika Pangeran Song mengangkat wajahnya. “Memasak?“


“Benar. Nyonya memasak bersama dengan pelayannya,” jawab Jongki. “Dan sepertinya Nyonya kembali membuat makanan baru.“


“Makanan baru, apa maksud kamu?“


Setelah itu Jongki pun menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai akhir. Ia juga memberitahukan tentang orang yang menyelinap ke tempat Ailing dengan menyamar sebagai pelayan.


“Di mana orangnya?“ tanya Pangeran Song sembari bangkit dari tempatnya.


Langsung saja Jongki membungkukkan tubuhnya. “Maafkan saya Tuan, orang tersebut sudah dibunuh oleh—”

__ADS_1


Sreet! Sebuah panah tiba melesat mengenai salah satu tiang yang ada di dekat Pangeran Song.


“Hati-hati Pangeran!“


__ADS_2