
“Aku sudah lama menunggu kalian di sini. Aku dengar kalian kemarin berdoa di luar setelah pergi dari istana,” ucap laki-laki yang saat ini sedang melangkah ke arah Ailing dan Pangeran Song.
'Apa dia bilang tadi? Paman, Bibi … jangan-jangan dia sudah mengenaliku saat di tempat judi waktu itu,' batin Ailing sembari menatap sinis ke arah Rong Ai.
Sesaat kemudian Rong Ai pun menoleh pada Ailing dan kemudian tersenyum manis. “Apa kamu kangen padaku, Bibi?“ tanyanya.
'Ck, dia sengaja,' batin Ailing sembari menarik garis bibirnya agar melengkung ke atas.
“Ah, tentu saja aku kangen pada kamu Pangeran, bukankah aku bibimu sekarang,” jawabnya.
'Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?' pikir Pangeran Song yang mendengarkan percakapan dua orang di dekatnya itu.
“Jangan berkata seperti itu Bibi atau Paman akan cemburu padaku,” ucap Rong Ai sembari menutupi separuh wajahnya dengan kipas yang sedari tadi dibawanya.
'Dih, ingin sekali aku garuk mukanya yang menyebalkan,' batin Ailing sembari tertawa kecil mendengar candaan Rong Ai.
Kemudian Ailing pun menoleh ke arah Pangeran Song. “Pangeran, aku izin untuk kembali ke kamarku dulu, ada beberapa hal yang harus aku lakukan,” ucapnya selayaknya seorang istri para Pangeran di zaman itu.
“Tentu saja,” sahut Pangeran Song dengan santai.
Kemudian Pangeran Song pun terus menatap ke arah Ailing dan Xin Ya yang saat ini melangkah dengan cepat ke arah kamar Ailing
“Paman, kamu jangan tertipu dengan wajah cantiknya,” bisik Rong Ai.
Langsung saja Pangeran Song menoleh dan menatap tajam pada Rong Ai.
'Eh, apa dia benar-benar menyukai istrinya,' batin Rong Ai sambil tersenyum kaku.
“Jangan bilang kalau kamu benar-benar menyukai Bibi,” seloroh Rong Ai.
“Diam! Pergi dari sini jika tidak ada yang penting!” usir Pangeran Song sembari melangkah meninggalkan Rong Ai.
__ADS_1
“Tunggu Paman, kamu tega sekali padaku,” ucap Rong Ai sembari terisak.
“Drama,” celetuk Pangeran Song tanpa menoleh.
Setelah itu Rong Ai pun segera mengekor di belakang Pangeran Song melangkah ke arah ruang belajar. Ya, mereka berdua memang sangat dekat karena Rong Ai merupakan anak dari selir yang tidak disayang oleh raja dan ibunya telah mati sejak Rong Ai masih berusia lima tahun. Dan ibu Pangeran Song adalah orang yang menjaganya sejak ia kehilangan ibunya.
“Apa yang kamu inginkan?“ tanya Pangeran Song setelah sampai di ruang belajar.
“Paman apa kamu masih marah karena aku menggoda Bibi?“ tanya Rong Ai yang memang selalu suka menggoda Pangeran Song.
“Sudah kukatakan, jika tidak ada yang penting kamu bisa pergi dari sini,” sahut Pangeran Song tanpa memberikan jawaban yang pasti.
Kemudian Rong Ai pun menghela napas panjang. Ya, hanya itulah yang bisa ia lakukan jika Pamannya itu sedang kesal. “Paman, apa kamu baik-baik saja?“ tanyanya sembari duduk di alas yang sama dengan Pangeran Song.
“Tentu saja,” jawab Pangeran Song dengan dingin.
“Ck, kamu jangan kejam begitu. Kamu telah mematahkan hatiku Paman,” rintih Rong Ai.
Pangeran Song yang baru saja membuka salah satu buku pun pada akhirnya menutup buku itu kembali karena merasa geli mendengarkan celotehan Rong Ai. “Hentikan itu. Katakan saja apa maumu ke sini?“ tanyanya.
'Dia tidak mungkin mengatakan hal ini tanpa ada tujuan,' batin Pangeran Song. Sesaat kemudian ketika Pangeran Song akan mengarahkan tatapannya kembali pada Rong Ai, tanpa sengaja ia melihat bayangan seseorang di belakang satir tempat biasanya mengganti pakaian.
“Rencananya seperti itu,” jawab Pangeran Song dengan tenang.
“Aku rasa lebih baik kamu di rumah saja, Paman. Kamu dan Bibi adalah pengantin baru, sangat sayang jika kalian harus berpisah di waktu seperti ini,” ujar Rong Ai dengan gaya lemah lembutnya.
Pangeran Song memejamkan matanya selama beberapa saat dan kemudian berkata, “Aku akan memikirkannya lagi. Lalu apakah kamu di sini hanya untuk mengatakan hal ini?“
“Paman, kamu itu masih sangat kejam dan dingin,” komentar Rong Ai. “Aku ini keponakanmu Paman, aku dengar kalau Bibi pandai memasak jadi aku ingin mencicipi masakannya. Apakah itu bisa?“ tanyanya dengan manja.
Setelah itu mereka berdua pun terus membicarakan masalah Ailing hingga akhirnya bayangan orang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka pun menghilang dari sana.
__ADS_1
“Dia sudah pergi,” ucap Pangeran Rong Ai sembari mengubah ekspresi wajah dan juga sikapnya.
“Jadi kamu yang membawa orang itu ke sini?“ tanya Pangeran Song sembari menggosok arang untuk mencampuri tinta yang biasa ia pakai.
“Tidak, orang itu sudah ada di sini sejak aku datang,” jawab Rong Ai sembari kembali membuka kipasnya.
Kemudian sebuah senyum tipis muncul di bibir Pangeran Song. “Jadi ada kecoak yang dikirim ke sini,” gumamnya.
“Aku rasa seperti itu,” sahut Rong Ai. “Aku dengar kamu mendapat kiriman dari kerajaan, apa itu benar? Apakah itu dari raja?“ tanyanya sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Aku tidak tahu pasti, tapi yang jelas mereka bukan prajurit biasa,” jawab Pangeran Song dengan tenang.
“Apakah itu pasukan bulan?“ tanya Rong Ai.
“Bukan, mereka tidak memiliki identitas apa pun di tubuh mereka,” jawab Pangeran Song yang menirukan laporan Jongki kemarin.
Gigi Rong Ai gemretak. “Ini pasti ulah Raja,” geramnya
“Sepertinya dia benar-benar semakin curiga,” ucapnya.
“Itu sangat wajar, aku adalah ancaman untuknya,” sahut Pangeran Song masih dengan gayanya yang santai.
“Ini sudah tak bisa dibiarkan. Aku dengar dia ingin membakar salah satu kota di bagian selatan karena peramal mengatakan kalau kota itu akan membawa kesialan untuknya,” beber Rong Ai sembari bangun dari tempatnya.
Tangan Pangeran Song mengepal kuat. 'Jadi dia ingin menjadikanku kambing hitam. ' pikirnya.
Lalu Pangeran Song menatap ke arah Rong Ai yang kini melangkah menjauh. “Mau ke mana kamu?“
“Seperti yang aku katakan, aku akan ke tempat Bibi untuk mencari makan,” jawab Rong Ai kembali pada karakter keduanya yang ramah dan lembut.
Tiba-tiba sebuah senyum tipis muncul di bibir Pangeran Song. “Berhati-hatilah jika kamu di sana,” ucapnya.
__ADS_1
Rong Ai mengernyit. “Hati-hati apa?“
'Apa yang bisa dilakukan Bibi kecil itu?' batin Rong Ai.