Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Serangan


__ADS_3

Satu minggu berlalu dengan Ailing yang terus merasa kesal karena hari-harinya terusik dengan keberadaan para pelayan yang seolah tak mau membiarkan dirinya sendirian walau hanya sebentar saja. Bahkan sejak kedatangan para gadis pelayan itu, dia tak punya kesempatan untuk sekali pun menyelinap keluar dari kediaman Song.


“Arghhhh!“ aum Ailing. “Pergi kalian!“ teriaknya.


Kesepuluh pelayan tersebut pun terperanjat mendengar bentakan Ailing.


“Pergi, nggak!“ teriak Ailing sembari melempar cangkir di sampingnya hingga pecah berkeping-keping karena membentur lantai.


Sontak saja semua pelayan baru tersebut berlari terbirit-birit meninggalkan kamar itu dan kini hanya tersisa Xin Ya saja yang masih bertahan di samping Ailing.


“Aku benar-benar bisa gila jika mereka semua terus mengelilingiku. Mereka benar-benar seperti lalat, menyebalkan sekali,” gerutu Ailing sembari mengerucutkan bibirnya dan terus menatap ke arah pintu masuk kamar itu.


Xin Ya pun dengan tenang mengambil pecahan cangkir yang berserakan di lantai dengan tangannya sambil menyahut, “Tenanglah Nyonya, Anda tidak bisa kehilangan kesabaran di depan mereka.“


“Bagaimana aku tidak kehilangan kesabaran, kamu kan tahu aku ini paling benci dengan orang-orang seperti mereka. Kepalaku rasanya seperti dimasuki tawon saat mendengar mereka menjilat,” keluh Ailing.


Xin Ya pun menghela napas mendengar keluhan Nyonyanya itu. Bagaimanapun juga dia tidak bisa menghentikan hal itu karena bagi para pelayan, menjilat adalah hal yang harus mereka lakukan agar tetap bisa mempertahankan posisi mereka.


“Aku ingin sekali mengusir mereka, tapi jika memikirkan mereka akan dijual sebagai budak aku merasa tidak tega. Bagaimanapun juga aku dan mereka sama-sama perempuan,” ucap Ailing sembari memijat pelipisnya yang kembali terasa berdenyut gara-gara memikirkan hal ini.


Xin Ya yang sudah selesai memunguti pecahan cangkir tersebut pun kembali menegakkan tubuhnya dan menatap ailin6g dengan perasaan sedih, bagaimanapun juga dia tak tega melihat Nyonyanya itu pusing berlarut-larut seperti ini.


“Andaikan saya bisa melakukan sesuatu, saya pasti akan melakukannya Nyonya,” ucap Xin Ya yang mulai terisak.

__ADS_1


Mendengar suara isakan Xin Ya rasa berdenyut di kepala Ailing pun terasa makin bertambah. “Kumohon hentikan itu, kamu jangan ikut menangis seperti itu. Kepalaku rasanya sudah mau pecah, kamu jangan menambahinya,” pinta Ailing sembari terus memijat keningnya.


Mendengar hal itu Xin Ya pun langsung tercengang, dia benar-benar tidak ingin menjadi beban Ailing. “Ma-maafkan saya Nyonya, saya tidak bermaksud seperti itu,” ujarnya sembari meneteskan air mata.


“Haiis, kenapa dia malah menangis sih! Kenapa perempuan-perempuan di zaman ini gampang sekali menangis,” batin Ailing yang merasa makin frustasi dengan semua adegan itu.


“Tolong sekarang kamu pergi ke dapur dan ambilkan aku makanan-makanan manis,” pinta Ailing yang bermaksud mengusir Xin Ya dari kamar itu dengan halus.


“Baik Nyonya, saya akan segera mengambilkan makanan manis untuk Anda,” sahut Xin Ya yang kemudian dengan cepat meninggalkan ruangan itu.


Kini hanya tinggalah Ailing sendirian di kamar itu. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap ke langit-langit kamar tersebut. “Apa yang harus aku lakukan pada mereka?“ gumamnya.


Suasana di ruangan itu berubah hening ketika Ailing hanya diam saja memikirkan solusi masalahnya ini, namun tiba-tiba ia mendengar suara yang janggal.


“Hah, di sana,” batin Ailing yang langsung membuka sebelah matanya untuk melirik posisi orang yang saat ini sedang mengawasinya dari salah satu sisi tiang penyangga kamar itu.


“Dia membawa senjata, itu artinya dia akan menyerangku. Lebih baik aku menyerangnya lebih dulu,” batin Ailing sembari bersiap mengambil benda yang ada di sebelahnya.


Dan sesaat kemudian, bersamaan dengan Ailing yang mengambil cangkir di sampingnya, masuklah salah satu pelayan ke dalam ruangan tersebut.


“Gawat,” gumam Ailing sembari dengan cepat beralih dari tempatnya. Benar saja, sedetik kemudian sebuah kunai pun tepat menancap ke kursi yang tadi diduduki oleh Ailing.


“Pergi kamu!“ teriak Ailing sembari menatap ke arah pelayan tersebut.

__ADS_1


Di saat yang sama seorang laki-laki berbaju hitam lengkap dengan penutup wajahnya turun dari atas. Laki-laki yang membawa pedang tersebut segera menyerang Ailing. Sedangkan Ailing yang tak memiliki senjata pun segera melempar barang-barang yang ada di kamarnya dengan acak untuk menghalau serangan laki-laki tersebut.


“Nyonya, hati-hati!“ teriak pelayan baru tersebut ketika pedang laki-laki tersebut hampir saja mengenai lengan Ailing.


“Pergi, cari bantuan!“ teriak Ailing. Namun, sesaat kemudian ….


“Akh!“ pekik pelayan tersebut ketika tiba-tiba saja pelayan itu melangkah kehadapan Ailing untuk memblokir serangan laki-laki tersebut yang hampir saja mengenai Ailing.


Srrrt! Laki-laki itu menarik pedangnya dengan cepat.


Seketika pelayan tersebut ambruk dan laki-laki bertopeng itu pun kabur dari tempat itu.


“Tolong!“ teriak Ailing sekuat tenaga.


Sesaat kemudian terlihat tiga orang pelayan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan panik. “Ada apa Nyonya, ada apa?" tanya mereka.


“Panggil tabib!“ perintah Ailing.


Langsung saja salah satu pelayan tersebut berlari keluar dari ruangan itu, sedangkan Ailing saat ini langsung memeriksa luka pelayan tersebut. “Kenapa luka ini ada di dekat tulang selangkanya?“ batinnya yang merasa janggal.


Kemudian Ailing pun menoleh pada pelayan yang ada di dekatnya. “Siapa nama pelayan ini?“


“Dia Baisu, Nyonya. Dia adalah pelayan yang diberikan oleh Ratu ke kediaman ini,” beber pelayan di samping Ailing.

__ADS_1


“Pelayan yang diberikan oleh Ratu?“ batin Ailing sembari mengerutkan dahinya. “Sepertinya masalah ini tidak main-main,” batinnya.


__ADS_2