
Malam hari pun tiba saat ini airline tengah bersiap karena menurut perkiraannya sebentar lagi jongki akan menjemputnya. Ia pun menatap ke arah kaca yang ada di depannya lalu tersenyum tipis di depan kaca tersebut.
“Ya seharusnya seperti inilah aku,” ucap ailing sembari memoles pemerah bibir dan membetulkan riasannya.
Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu masuk kamar itu. Ailing pun tersenyum tipis dan kemudian menyahut.
“Masuk!“
Ia pun menatap dari kaca di meja riasnya. “Ternyata bukan Jongki yang datang,” batinnya sembari menghela napas panjang.
“Aku kira Jongki yang akan menjemputku, tidak menyangka kalau Pangeran Song sendiri yang akan datang ke sini,” sambut Ailing sembari berdiri dan kemudian berbalik menatap Pangeran Song yang baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar itu.
“Kamu ….“ Mata Pangeran song terbelalak melihat penampilan Ailing.
Ya, Ailing memotong rambutnya menjadi poni dan mengikat rambutnya sehingga membuatnya terlihat seperti baru saja dipotong bob sebahu. Bahkan Ailing merubah salah satu gaun miliknya menjadi lebih terbuka. Ia memperlihatkan dada punggung dan juga belahan tinggi di bagian kiri kakinya.
“Bagaimana kamu bisa berpakaian seperti itu?“ sentak Pangeran Song.
“Untung bukan Jongki yang datang ke sini,” batin Pangeran Song sembari mengepalkan tangannya kuat.
“Bukankah kamu menyuruhku untuk membuktikan kalau aku ini berasal dari masa depan, dan ya ini adalah penampilan yang lumrah saat aku di masa depan,” jawab Ailing dengan santai.
Langsung saja ekspresi meremehkan muncul di wajah Pangeran Song.
“Aku tahu dia pasti tidak akan puas melihat hal ini,” batin Ailing sembari melangkah maju ke hadapan Pangeran Song.
“Jadi kamu ingin menunjukkan kalau kamu berasal dari masa depan hanya dengan pakaian seperti itu? Dasar konyol,” tukas Pangeran Song sembari melangkah dan duduk di bangku yang ada di kamar itu.
Ailing pun melakukan hal yang sama, ia pun duduk di bangku tersebut. “Tentu saja aku tidak sebodoh itu, menyiapkan hal seperti ini hanya akan membuatku semakin dekat dengan hukuman penggal, bukan?“
“Bagus, kalau kamu bisa berpikir,” sahut Pangeran Song sembari melepaskan jubahnya.
“Huh emangnya dia pikir selama ini aku tidak bisa berpikir apa,” gerutu Ailing di dalam hati.
__ADS_1
“Aku—” kalimat Ailing terhenti ketika tiba-tiba saja sebuah benda menutupi wajahnya. Ia pun dengan cepat menarik benda tersebut.
“Pakai itu! Kamu akan dikuliti dengan pakaian seperti itu,” ucap Pangeran Song dengan dingin.
“Dia ini sedang mengancam kah?“ batin Ailing sembari memegang jubah tersebut.
“Kenapa aku jadi merasa kalau kamu sebenarnya tidak ingin aku mati? Bahkan aku yakin kamu akan menyelamatkanku jika ada orang yang melaporkan hari ini,” ejek Ailing sembari menatap ke arah Pangeran Song yang saat ini tengah menuang air ke dalam gelas di meja tersebut.
Pangeran Song pun mengangkat gelas tersebut dan menyodorkannya pada Ailing. Sedangkan Ailing yang disodori minuman pun langsung menatapnya dengan aneh.
“Ambilah sebelum mengatakan sesuatu yang akan menentukan semuanya,” ucap Pangeran Song. “Atau jangan-jangan ada sesuatu di minuman ini sampai kamu tidak—”
Ailing pun dengan cepat merebut minuman tersebut dari tangan Pangeran Song. Ia pun langsung menunggaknya dan kemudian meletakkan kembali gelas tersebut dengan kasar. “Sudah puas?
Aku tidak menaruh apa pun untuk meracuni kamu,” tukas Ailing yang sudah bisa memperkirakan arah ucapan Pangeran Song yang sempat terputus sebelumnya.
Lalu Pangeran Song pun tersenyum kecil. “Ya, aku cukup terkesan dengan hal ini. Tapi ini tidak cukup untuk menarik simpatiku.”
“Memangnta siapa yang mau menarik simpati kamu!“ teriak Ailing yang sudah sangat kesal karena dalam pikirannya tak ada satu pun hal seperti itu.
“Jangan buang banyak waktuku, cepat tunjukkan saja dan kita bisa segera memulai menghitung semuanya,” ucap Pangeran Song dengan santai.
Tak lama kemudian Ailing menghela napasnya. Ia melemparkan jubah Pangeran Song sambil kembali berdiri dengan tenang. “Baiklah kamu sudah tahu nama asliku, aku adalah Aira. Aku hidup di tahun 2023 kalender Masehi.
Awalnya aku ingin membuktikan ada kamu dengan membuat beberapa makanan dari zamanku yang pastinya tidak ada di saat ini. Tapi sepertinya kamu juga tidak akan percaya dengan hal itu. Jadi aku akan menunjukkannya dengan pengetahuan.“
Sebuah senyum pun muncul di wajah Pangeran Song. “Oh baiklah, jadi kamu memilih membuktikannya dengan pakaian dan pengetahuan?”
“Benar. Silakan kamu tanyakan apa saja, asal itu bukan tentang kerajaan ini,” jawab Ailing.
Pangeran Song mengerutkan dahinya mendengar ucapan Ailing. “Apa maksud kamu?“
Ailing yang tadi membelakangi Pangeran Song pun langsung berbalik. “Karena di zamanku, Korea sudah menjadi sebuah negara bukan lagi kerajaan. Semua gelar milik kerajaan sudah dihapuskan,” terangnya.
__ADS_1
Dengan cepat Pangeran Song mengangkat pedangnya, membawa benda itu ke dekat leher Ailing.
Ailing yang mendapati hal itu tentu sempat terkejut, tapi dia dengan cepat menenangkan dirinya.
“Beraninya kamu mengatakan keluarga kerajaan telah digantikan!” seru Pangeran Song.
“Tentu saja bisa. Itu terjadi ratusan tahun yang akan datang, sedangkan umur manusia hanya terbatas sampai 100 tahun, begitu juga dengan kamu dan aku.“ Aling melirik pedang yang ada di lehernya. “Walaupun kamu membunuhku, itu juga tidak akan merubah sejarah karena kerajaan terakhir berada di bawah Dinasti Joseon.“
Mendengar keterangan Ailing Pangeran Song pun menarik pedangnya.
“Dan ya, sebenarnya aku tidak terlalu mengerti hubungan kerajaan-kerajaan di sini karena aku bukan berasal dari wilayah ini,” ucap Ailing dengan tenang.
“Apa maksud kamu?“ tanya Pangeran Song yang kini makin penasaran dengan keterangan Ailing.
“Negara Korea, kerajaan ini dan apa yang ada di sini berada di wilayah Asia Timur. Sedangkan aku berasal dari Asia Tenggara. Maka tidak heran kalau aku akan mengetahui beberapa hal tentang Asia Tenggara.“
Kemudian Ailing dengan tenang mengambil benda dari dalam meja riasnya. “Kamu mungkin mengatakan kalau aku adalah pembual, jika aku tidak membuktikan apa pun. Maka dari itu aku membuatkan kamu peta wilayah Asia Tenggara.
Ini adalah gambaran wilayah Asia Tenggara dan beberapa yang aku tuliskan di sini adalah nama-nama kerajaan yang aku ketahui di negaraku.“
Langsung saja Pangeran Song menerima peta yang disodorkan oleh Ailing. Ia pun dengan cepat membuka peta tersebut dan memperhatikan setiap detail gambar buatan Ailing.
“Dia benar-benar menggambar peta. Hanya cendekiawan yang bisa melakukan hal ini, itu tandanya dia memang benar-benar dari masa yang lain,” batin Pangeran Song.
“Ya, aku menggambarnya tidak begitu spesifik karena di zamanku hampur semua kerajaan itu juga sudah musnah,” beber Ailing.
“Huh, untung saja saat SD aku sudah pernah menggambar peta Asia Tenggara. Walaupun nggak mirip-mirip banget, tapi bisa lah disebut peta,” batin Ailing.
Saat kemudian Pangeran Song pun menepuk tangannya beberapa kali. “Bagus bagus, aku terkesan dengan hal ini. Tapi aku ada satu cara yang lebih tepat untuk menguji kata-katamu.“
Ailing mengernyitkan keningnya. “Apa itu?“
“Jongki!“ Pangeran song tiba-tiba memanggil nama orang kepercayaannya itu.
__ADS_1
Sesaat kemudian Jongki pun masuk bersama seseorang di sampingnya.
Sontak saja mata Ailing membola melihat hal itu. “Pangeran kampret!“ teriaknya.