
Suara tersebut langsung membuat Pangeran Song dan Ailing menoleh.
“Maaf,” ucap Xin Ya yang saat ini sedang terduduk di tanah tak jauh dari Ailing dan Pangeran Song.
'Aku harus menyelematkan Nyonya,' batin Xin Ya yang memang sengaja menjatuhkan tubuhnya untuk membuat celah bagi Ailing, agar tak perlu menjawab pertanyaan menjebak tersebut.
Sedangkan Ailing yang juga bisa melihat celah ini pun langsung melepaskan tangannya dari genggaman Pangeran Song dan segera beralih ke arah Xin Ya.
“Kamu ini kenapa ceroboh sekali,“ cicit Ailing sembari membantu Xin Ya berdiri.
“Maafkan saya Nyonya,” jawab Xin Ya sembari membungkukkan tubuhnya.
“Baiklah-baiklah, segera pergi sana. Bersihkan diri kamu,” titah Ailing dengan lembut.
“Baik Nyonya,” jawab Xin Ya dengan sopan, lalu berbalik dan meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan Ailing saat ini terus menatap ke arah Xin Ya sambil menghela napas panjang. 'Pokoknya aku harus menghindari pembicaraan seperti itu. Bisa berbahaya kalau aku sampai salah bicara,' batinnya.
“Sepertinya kamu sangat menyayangi pelayan itu,” komentar Pangeran Song karena Ailing terus menatap ke arah Xin Ya.
“Saat aku menemukannya, dia dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Aku ingin suatu saat nanti dia menikah dan bisa hidup bahagia,” sahut Ailing sembari tersenyum kecil penuh kepalsuan.
Setelah itu ia pun kembali menoleh pada Pangeran Song. “Ya sudah kalau begitu, silahkan makan,” ucapnya sembari melirik ke arah makanan yang tadi sudah siap di depan suaminya itu.
Setelah itu tanpa mengatakan apa pun lagi, Ailing segera beralih menghadap ke arah lain.
“Kamu ingin ke mana?“ tanya Pangeran Song sembari mengambil kimchi buatan Ailing.
“Mau pergi,” jawab Ailing dengan santai.
“Duduk dan temani aku,” titah Pangeran Song.
“Aku harus mengerjakan hal lain. Lagi pula seseorang akan lebih nyaman jika makan sendirian,” balas Ailing yang kini mulai melangkah.
“Apa kamu lupa dengan peraturan rumah ini?“ Pangeran Song kembali menekan.
Seketika Ailing menghentikan langkahnya. 'Peraturan, peraturan yang mana?' pikirnya sambari mengingat-ngingat semua ucap Xin Ya. Hingga akhirnya ia mengingat sesuatu yang berhubungan dengan aturan rumah.
__ADS_1
Lalu ia pun berbalik dan melangkah ke arah Pangeran Song. 'Ya, aku ingat. Keputusan tuan rumah adalah aturan mutlak di sebuah keluarga. Jika ada yang melawan, maka ia akan dihukum sesuai aturan keluarga,' batinnya.
Setelah itu Ailing pun duduk di samping Pangeran Song seperti yang ia lakukan tadi. 'Lihat saja, jika aku sudah kuat, aku akan meninggalkan rumah ini dan membalasmu,' batinnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan di sini? Melihatmu makan?“ ketusnya.
“Banyak wanita yang menginginkan kesempatan ini,” sahut Pangeran Song dengan santai.
Ailing pun menyipitkan matanya. “Kalau begitu bolehkah aku lempar kehormatan ini pada Xin Ya?“
“Boleh, kalau kamu bisa menanggung akibatnya.“
“Huff ….“ Ailing menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan menemani kamu makan. Tapi ini akan masuk ke dalam daftar biaya makanmu malam ini,” imbuhnya.
“Tak masalah. Aku tidak kekurangan uang untuk membayar semua ini,” jawabnya masih dengan nada ringan.
'Dasar sok kaya,' gerutu Ailing di dalam hati tetapi tak ingin lagi berbicara.
Pada akhirnya Ailing pun menemani dan melayani makan malam Pangeran Song seperti layaknya pasangan pengantin baru yang rukun, jika dilihat dari kejauhan.
**
Malam ini seperti yang sudah direncanakan oleh Ailing, ia pun berjalan ke tempat yang disebutkan di dalam surat bersama dengan Xin Ya.
“Apa benar ini tempatnya?“ tanya Ailing ketika sudah sampai didekat jembatan.
“Iya Nyonya. Hanya ini satu-satunya jembatan di sini,” jawab Xin Ya yang saat ini berjalan di belakangnya.
“Xin Ya, seperti apa sih yang namanya Pangeran Han itu?“ tanya Ailing sembari melangkah menaiki jembatan tersebut.
“Dulu Anda sangat menyukai Pangeran Han. Anda sudah melakukan banyak hal demi Pangeran Han, bahkan melawan ayah Anda demi meminta pengampunan untuk dia,” beber Xin Ya.
'Oh, ternyata Ailing ini jenis gadis yang bucin,' batinnya menilai Ailing yang lama. Kemudian Ailing pun melirik ke arah Xin ya. “Apa dia tampan? Lebih tampan mana dengan Pangeran Song?“
“Itu ….“ Xin Ya berpikir. “Kedua pangeran ini mendapat julukan sebagai bunga tertampan di negara ini.“
'Bunga tertampan? Julukan macam apa itu,' pikir Ailing sembari berekspresi aneh.
__ADS_1
“Tapi menurut kamu lebih tampan mana?“
Xin Ya pun menggaruk-garuk pelipisnya ketika memikirkan jawaban untuk pertanyaan yang sangat beresiko itu.
Tiba-tiba ….
“Apa yang sedang kalian bicarakan?“ tanya seorang laki-laki yang memiliki suara merdu mirip penyanyi.
Ailing pun segera menoleh dan menatap laki-laki berpakaian hijau muda di depannya tersebut. 'Laki-laki yang wajahnya mirip idol Korea, sudah bisa ditebak kalau dia ini yang bernama Pangeran Han,' nilainya.
“Pangeran,” sapa Xin Ya lalu mundur selangkah.
Sedangkan Ailing hanya diam saja melihat laki-laki tampan itu semakin mendekati dirinya. 'Pantas saja si Ailing ini sampai bucin, dia memang ganteng. Ya, sebelas dua belaslah dengan si Songong itu. Tapi kalau soal suara, aku akui Pangeran Han ini memang unggul,' pikirnya yang terus menilai.
“Jadi, apakah ada sesuatu sampai kamu menyuruhku datang ke sini, Pangeran?“ tanya Ailing sembari menatap langsung mata laki-laki di depannya itu.
Tak menjawab, Pangeran Han tiba-tiba mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Ailing dengan lembut. “Kamu masih marah padaku?“ tanyanya.
'Kalau memikirkan cerita Xin Ya kemarin, harusnya aku itu benci bukannya marah,' batin Ailing sembari memegang tangan Pangeran Han dan kemudian menurunkan tangan hangat tersebut.
“Maaf Pangeran, aku tidak marah pada kamu. Hanya saja ada beberapa hal yang menggangguku hari ini,” jawabnya sopan.
“Benarkah? Pantas saja kamu yang biasanya selalu tersipu saat berbicara, hari ini terlihat berbeda,” ujar Pangeran Han yang berganti mengusap kepala Ailing. “Maafkan aku, ini semua kesalahanku karena aku tidak bisa melawan perintah ayahanda. Akibatnya kamu harus merasakan semua hal itu.“
Kalimat lembut dari Pangeran Han membuat Ailing ingin sekali muntah. 'Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan cara begitu. Cih, berapa banyak wanita yang sudah tertipu dengan gayanya ini. Menjijikkan,' batinnya yang masih menunjukkan ekspresi tenang seperti semula.
“Ini bukan salah Anda Pangeran, aku rasa ini adalah takdir. Jadi ja—” Kalimat Ailing terhenti ketika tiba-tiba saja Pangeran Han meletakkan telunjuknya di bibir Ailing.
“Jangan melanjutkan kalimat kamu kalau pada akhirnya kamu ingin meninggalkan aku,” ujar Pangeran Han yang kemudian berlutut di depan Ailing.
'Hadeh, drama macam apa lagi ini,' batin Ailing sembari menatap laki-laki di depannya yang saat ini berlutut sembari menggenggam erat tangannya.
“Demi bumi dan langit, aku meminta kamu untuk tidak pernah meninggalkan aku. Aku sangat mencintaimu,” ucap Pangeran Han.
'Apa boleh sekarang aku menendang mukanya?' batin Ailing sembari menggigit bibirnya.
“Aku berjanji, setelah aku menggantikan posisi Ayahanda aku akan menjadikan kamu ratu kerajaan ini,” lanjut Pangeran Han.
__ADS_1
'Nah, sudah kutebak kalau ini masalah tahta kerajaan. Ck, memangnya aku sebodoh itu,' batin Ailing sembari tersenyum sinis.
Namun, tiba-tiba pandangan Ailing teralihkan dengan munculnya sekelebat bayangan. “Siapa itu?“ teriaknya.