Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Ramalan


__ADS_3

“Tutup mata!“ terisi Pangeran Song.


“Bukan, bukan itu yang membuat aku berteriak!“ sanggah Ailing.


“Dasar bodoh. Tanpa kamu berteriak pun aku juga akan meminta mereka untuk menutup mata. Kamu pikir kamu siapa, sampai bisa dilihat oleh semua orang dengan pakaian seperti itu,” batin Pangeran Song sembari mengepalkan tangannya kuat.


“Diam, pakai ini!“ bentak Pangeran Song sembari kembali melemparkan jubahnya pada Ailing.


Akhirnya Ailing pun menghela napas panjang dan kemudian memakai jubah tersebut. “Begini?“ tanya Ailing dengan wajah cemberutnya.


Namun penampilan Ailing yang menggunakan jubah kebesaran itu membuat pikiran Pangeran Song tak terarah. Ia dengan cepat menarik tirai pembatas yang terbuat dari kain yang tergantung tak jauh dari tempatnya. Dan secepat itu pula ia menalikan kain tersebut agar jubahnya tertutup rapat.


“Apakah dia sedang malu?“ batin Ailing ketika melihat telinga Pangeran Song memerah. Sesaat kemudian ia berganti menoleh pada Jongkin dan orang yang dibawanya. “Apa sebenarnya yang diinginkannya, kenapa dia membawa biksu ke sini?“ pikirnya.


Kemudian ….


“Baik, kalian bisa buka mata,“ titah Pangeran Song setelah selesai dengan jubah yang dipakai Ailing.


Jongki dan biksu tersebut pun langsung memberi hormat pada Pangeran Song. Namun tak terduga, biksu tersebut terus melirik ke arah Ailing yang saat ini sedang menatap ke arah dirinya.


“Pangeran, apakah ini Permaisuri yang ingin Anda lihat keberuntungannya?“ tanya biksu tersebut sembari menatap langsung pada Ailing.


“Benar Guru Besar, tolong lihat apakah ada keberuntungan pada permaisuriku?“ tanya Pangeran Song dengan hormat.


Mendengar kalau Pangeran Song begitu menghormatinya, akhirnya Ailing pun ikut membungkuk seperti yang dilakukan oleh suaminya itu. “Kenapa dia menanyakan keberuntunganku? Apa yang dia inginkan?“ batinnya.


Kemudian biksu tersebut menghela napas panjang. “Nyonya, jika Anda tidak ingin masa depan berubah, lebih baik Anda tidak mengatakan apa pun,” ucapnya.


Mata Ailing terbelalak mendengar ucapan biksu tersebut. “Apa dia bisa melihat masa lalu?“ batinnya.


“Jika saya mengatakannya, apa yang terjadi?“ tanya Ailing sembari memegang dadanya.

__ADS_1


“Kamu akan merubah keadaan dan masa depan. Roda berputar sesuai porosnya, dan kamu adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini. Kedatanganmu memang kehendak langit, tetapi surga dan neraka tidak mendukungnya,” jawab biksu tersebut dengan tenang.


“Lalu apa yang harus aku lakukan?“


“Semua hal itu tergantung pada keputusan kamu sendiri. Ingin merubah yang terjadi atau membiarkannya berjalan sesuai aturan,” jawab biksu tersebut.


Ailing lalu mengangkat wajahnya. “Jadi aku sudah sangat ceroboh,” batinnya sembari menggigit bibirnya.


“Tapi jika aku adalah hal lain yang dia katakan, artinya aku harus menghilang dari dunia ini kan?” batin Ailing sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian Jongki pun menyahut, “Jadi biksu, apakah ini bisa merubah takdir Pangeran Song?“


“Jongki!“ sentak Pangeran Song.


“Maafkan saya Pangeran,” sahut Jongki sembari berlutut.


Ailing pun langsung melirik ke arah Pangeran Song. “Merubah takdir, takdir apa?“ batin Ailing yang penasaran.


Kemudian Ailing pun kembali menatap ke arah biksu yang masih ada di depan mereka. “Tuan Guru tolonglah aku,” ucapnya sembari berlutut.


Lalu Ailing pun menatap biksu yang terus saja memejamkan matanya saat ada di hadapannya. “Kalau begitu berjanjilah padaku Anda akan membantuku,” pinta Ailing.


“Baiklah, aku akan berjanji,” sahut biksu tersebut.


“Apa yang ingin dia minta?“ batin Pangeran son6g sembari menoleh dan menatap Ailing yang saat ini kembali berdiri.


“Tuan Guru tolong katakan padaku apa takdir suamiku?“ tanya Ailing.


Tiba-tiba biksu tersebut membuka matanya dan kemudian menoleh pada Pangeran Song.


“Tuan Guru, Anda tidak bisa menarik perkataan Anda kembali,” intruksi Ailing.

__ADS_1


“Haisss … Nyonya, Anda harus mengurangi hal-hal seperti ini dalam hidup Anda,” komentar biksu tersebut.


“Jika tidak seperti ini aku pasti sudah mati dari kemarin,” batin Ailing sambil tersenyum kecil.


“Baiklah, karena aku sudah berjanji maka aku akan mengatakannya. Kematian dan kehidupan ada di tangan sang Buddha. Tidak ada seorang pun yang bisa menentukannya apalagi manusia,” ucap biksu tersebut. “Pangeran Song memiliki kejayaan dan kekaguman rakyat, tetapi dia akan mendapatkan hukuman untuk setiap darah yang mengalir di tangannya.


Mata Ailing terbelalak mendengar hal itu. Tiba-tiba hatinya terasa berdesir, seolah ada pisau yang baru saja menggoresnya. “Dia dihukum karena berperang? Bukankah dia berperang demi kerajaan? Apakah adil jika dia mendapatkan hukuman karena hal ini?“ batinnya.


“Dan di usianya yang ke 28, sebelum takdirnya terputus, dia harus merelakan semuanya karena langit ingin membersihkan setiap darah yang mengalir dari tangannya.” Biksu tersebut mengatakan semuanya dengan tenang.


Ailing terperanjat, dia mundur selangkah mendengar ucapan biksu tersebut. “Dua puluh delapan adalah usianya tahun depan. Jika takdirnya terputus, bukankah itu tandanya dia akan mati?” batin Ailing menyimpulkan semuanya.


Ailing pun menoleh, tubuhnya bergetar melihat ekspresi Pangeran Song. “Kenapa dia tenang saja, apakah dia sudah tahu hal ini sejak lama?“ batinnya saat merasakan iba memenuhi hatinya.


“Terima kasih Guru Besar, Anda sudah bersedia meramalkan nasib baik permaisuriku, aku—”


“Tunggu,” potong Ailing. “Jika Guru Besar mengatakan saya adalah sesuatu yang tidak harus ada di sini dan mengganggu rotasi, apakah itu tandanya saya bisa membuat nasib Pangeran Song berubah?“


“Ya, keberadaan Anda membuat banyak nasib berubah. Sebab, Anda membuat sesuatu yang terputus menjadi berjalan kembali,” ucap biksu tersebut.


Kemudian Ailing pun membungkukkan punggungnya. “Terima kasih atas pencerahan Anda, Guru Besar besar,” sahut Ailing.


Setelah itu biksu tersebut pun meninggalkan tempat itu dengan dihantar oleh Jongki.


Sementara itu, saat ini Ailing berbalik dan menatap kembali Pangeran Song. “Sekarang sudah terbukti kalau aku ini benar-benar seperti yang aku katakan, kan?” ucap Ailing sembari bersedekap dengan ekspresi sok di wajahnya.


Kemudian Pangeran Song pun menghela napas panjang lalu mengangguk. “Baiklah, ini pertama kalinya aku kalah dari seseorang, apalagi itu seorang wanita. Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?“


“Kenapa dia tidak memintaku untuk tetap ada di sini? Bukankah aku orang yang bisa merubah nasib buruknya?“ batin Ailing.


“Tentu saja karena aku tidak bisa menceraikan kamu sekarang, maka aku sementara waktu akan tetap tinggal di sini,” ucap Ailing sembari melangkah ke arah ranjangnya. “ Dan karena semuanya sudah jelas, sekarang kamu bisa pergi,“ usir Ailing dengan halus.

__ADS_1


“Jika bukan karena kamu adalah satu-satunya wanita yang akan mengatur masa depan dikediaman ini, aku pasti sudah membuatmu dipukul papan 20 kali,” sahut Pangeran Song dengan santai sembari berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan itu.


Namun, sesaat setelah pangeran Song meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba tubuh Ailing merosot di lantai. “Apa ini, kenapa denganku?“ gumam Ailing sembari menatap kedua telapak tangannya.


__ADS_2