
“Aku tidak ada masalah dengan hal itu,” bisik Pangeran Song.
“Dia tidak masalah? Maksudnya dia mau jadi suamiku selamanya?“ Tiba-tiba jantung Ailing berdegup kencang.
Sesaat kemudian Pangeran Song pun berdiri tegap kembali dan kemudian mengarahkan pandangannya pada pelayan asli kediaman tersebut. “Dengar, bawa semua peralatan masak dari halaman taman purnama ke dapur. Mulai hari ini setiap malam aku akan makan malam bersama dengan permaisuriku,” ucapnya.
Sontak saja mata Ailing membola, ia pun langsung mendongakkan wajahnya. “Tunggu, apa maksud kamu dengan ini semua?“ tanyanya.
“Ya, mulai malam ini aku akan tinggal di tempatmu,” jawab Pangeran Song dengan tenang.
“Hah! Kamu yakin?“ tanya Ailing.
“Kenapa tidak, bukankah kamu permaisuriku,” jawabnya.
“Benar, aku permaisurinya tapi … ah, jadi dia benar-benar serius ingin selamanya menikah denganku, tapi kenapa, Kenapa dia serius ini terus bersamaku?“ batin Ailing yang membuat lebih banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
**
Hari-hari berlalu, akhirnya hari di mana perlombaan judi di tempat Pangeran Rong Ai pun tiba. Xin Ya dan Ailing kini tengah berjalan dengan santai selepas berhasil menyelinap keluar dari kediaman Pangeran Song. Tak lupa, mereka menutupi wajahnya menggunakan cadar agar tak ada seorang pun yang mengenali mereka berdua.
“Nona apa benar ini tidak apa-apa? Bagaimana kalau Pangeran tiba-tiba menyadari kita tidak ada di kediaman?“ tanya Xin Ya yang merasa masih khawatir, bagimanapun juga apa yang mereka lakukan ini merupakan sebuah kesalahan.
“Sudah tenang saja kamu jangan terus berbicara seperti itu. Kamu tenang saja, beberapa hari ini dia sedang sibuk menyiapkan pengamana festival musim semi nanti malam. Lagi pula kita akan pulang sebelum makan malam, jadi suami menyebalkan itu tidak akan tahu semuanya,” jawab Ailing dengan santai seolah apa yang dikatakannya itu sudah pasti akan terjadi.
Xin Ya yang mendengar hal itu pun hanya bisa menghela napas panjang. Bagaimanapun dia tidak bisa mundur lagi, apalagi dia tidak mungkin membiarkan Ailing pergi sendirian ke tempat seperti itu karena pasti akan ada banyak bahaya yang mengintai.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua pun terus melangkah menyusuri jalanan kota tersebut, hingga akhirnya sampai di paviliun milik Pangeran Rong Ai.
“Wah, ramai sekali … untung, pasti untung,” ucap Ailing sembari menepuk-nepuk kantong di saku pakaiannya. Sebuah senyuman pun terpancar jelas di wajahnya.
“Ah Nyonya, bagaimana kalau kita kembali saja? Saya khawatir bagaimana kalau Pangeran Rong Ai melihat dan mengenali kita nanti,” ujar Xin Ya yang mencoba sekali lagi mengingatkan.
“Memangnya kenapa kalau Rong Ai mengenaliku, apa yang bisa dia lakukan,” sahut Ailing sembarangan dan kemudian masuk begitu saja ke dalam paviliun tersebut.
“Ah Nyonya, maksudku bukan Pangeran Rong Ai-nya yang aku takutkan,” gumam Xin Ya sembari menggeleng pelan dan kemudian melangkah mengikuti Ailing.
Setelah mendaftarkan diri dan menunggu selama beberapa saat, akhirnya perlombaan pun dimulai. Ailing dengan semangat mengikuti perlombaan tersebut. Lawan-lawan ailing pun kewalahan karena mereka tak bisa terlalu banyak berpikir, sebab setiap sesi perlombaan memiliki batas waktu.
Semua berlangsung dengan mulus. Ailing berhasil mengalahkan lawan-lawannya, hingga akhirnya ia pun berhadapan dengan para jagoan yang diundang oleh paviliun sedap Malam.
“Aku tidak bisa kalah,” gumam Ailing ketika menghadapi musuh keempat. Ailing pun mempersiapkan konsentrasinya untuk bisa mendengar dadu yang akan diputar.
“Hai nona, jika kamu mau menemaniku malam ini aku berjanji tidak akan mengambil uang yang sudah kamu memenangkan malam ini,” ucap Pangeran Judi sembari mengedipkan sebelah matanya pada Ailing.
“Dia cukup tampan sih, tapi tentu saja masih kalah tampan dengan pajanganku di rumah,” batin Ailing sembari membandingkan laki-laki di depannya dengan Pangeran Song.
“Maaf Tuan, tapi belum tentu kali ini aku yang kalah. Lagi pula apa Tuan tidak takut mengajakku bersama malam ini? Tuan kan belum pernah melihat wajahku,” sahut Ailing dengan santai.
“Kalau begitu aku akan memberikanmu 1000 tail, asal kamu mau memperlihatkan wajahmu,” tawar Pangeran Judi.
Kemudian Ailing pun tertawa dengan sengaja. “Ah Tuan, Anda lucu sekali. Anda memberikanku seribu tail untuk melihat wajahku, padahal hari ini saja aku sudah mendapatkan sepuluh ribu tail tanpa memperlihatkan wajahku. Bukankah itu sesuatu yang konyol,” balasnya.
__ADS_1
“Huh, dasar gadis sombong,” Pangeran Judi kini menjadi bermuka masam. “Baiklah kita akhiri saja kali ini. Tapi jangan salahkan aku tidak memberikan muka padamu nona, ini semua karena kamu sendiri yang memintanya.“
Setelah itu bandar pun kembali mengocok dadu. Ailing memejamkan matanya untuk berkonsentrasi, begitu juga dengan Pangeran Judi. Hingga akhirnya bandar menghentikan kocokan tersebut.
“Tiga lima satu,” ucap Pangeran judi.
“Tiga lima empat,” ucap ailing.
Setelah itu sang bandar pun menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka penutup dadu tersebut.
Sementara itu, di lantai dua terlihat Pangeran Rong Ai yang sedang menonton perlombaan tersebut. Sesaat kemudian terlihat seorang pelayan wanita berjalan ke arah dirinya.
“Lapor Tuan, kami tidak bisa melihat wajah wanita yang sedang berjudi, tapi kami bisa melihat wajah pelayannya,” ucap pelayan tersebut.
“Lalu?“ Pangeran Rong Ai menoleh ke arah pelayan tersebut.
“Benar seperti yang Anda katakan Tuan, wajah pelayan itu sama persis seperti yang Anda gambarkan,” jawab pelayan tersebut.
Sebuah senyum pun muncul di wajah Pangeran Rong Ai. “Kalian terus awasi wanita itu dan pelayannya,” titahnya sembari memberikan tanda agar pelayan tersebut meninggalkan tempat itu .
Sesaat kemudian laki-laki yang berdiri di dekat Pangeran Rong Ai pun berkata, “Pangeran apakah saya perlu menyuruh orang untuk melindunginya?“
“Tidak tidak. Jangan melakukan hal seperti itu, dia bahkan tidak perlu kamu lindungi,” sahur Pangeran Rong Ai dengan santai.
“Ambilkan saja aku kertas dan pena. Aku sedang butuh tontonan yang bagus, beberapa hari ini aku tidak menemukan sesuatu yang menarik,” perintahnya.
__ADS_1
“Pena Dan kertas? Apa yang direncanakan oleh Pangeran?“ batin orang kepercayaan Pangeran Rong Ai.