
Saat melihat Rama keluar bibi siti dengan panik menanyainya “ tuan muda ini sudah waktunya makan malam anda mau kemana?” dia tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, hanya suara mesin mobil yang menjawab.
Saat ini Anita Kembali keatas untuk bersiap, setelah selesai berganti pakaian dia tmenuruni anak tangga dengan Langkah cepat, bibi siti menegurnya “nyonya muda makan malamnya sudah siap” ucapnya.
“aku akan makan malam diluar” sahut Anita, sambil melangkah keluar dengan cepat.
Bibi siti frustasi karena nyonya muda dan tuan mudanya tidak makan di rumah “apa masakan yang di buat koki bermasalah?” tanyanya pada diri sendiri, kemudian pergi kedapur untuk mengurus hal itu, dia berencana mengganti koki jika itu masalahnya.
Di dapur 2 koki sedang menyiapkan hidangan untuk tuan rumah mereka menata makanan di atas troli makanan yang akan segera di sajikan di meja makan, bibi siti datang kemudian menghentikan mereka “ tunggu” ucapnya, kemudian mencicipi satu persatu hidangan yang disiapkan sambil memnganggukkan kepal “ enak” serunya.
Dia menyuruh pelayan dan koki untuk mencicipi hidangan itu memastikan jika indra perasanya tidak masalah “ bagaimana menurut kalian” tanya nya.
“Enak” seru mereka serempak.
“ trus kenapa nyonya muda dan tuan muda tidak mau makan malam di rumah” tanyanya heran.
Seperi sebelumnya Anita bertemu dengan mereka di RMclub, tempat itu adalah symbol kekayaan banyang orang kaya dan pejabat berkuasa melakukan pertemuan disini karena keamanannya yang baik.
Anita tiba di ruang pribadi dan melihat ada banyak orang yang tidak dia kenal, Zara menarinya kekursi sementara Elsa menuangkan beer untuknya, Rama baru saja menyadari kehadirannya setelah duduk disebelahnya “maaf kebetulan malam ini aku punya kesepakatan bisnis yang harus dilakukan, jika kamu merasa terganggu aku akan membuka ruangan sebelah untuk kita?” Raffai bertanya.
Beberapa pria yang datang semuanya adalah golongan kelas atas, sama seperti Raffai mereka lucu, menarik, terbuka, pintar, terlebih mereka bukan orang cabul, karena tidak didampingin oleh Wanita penghibur.
“tidak masalah, kita bisa bersenang-senang bersama, akan aneh jika kita harus membuka ruangan lain” ucap Anita.
Sebenarnya Raffai tidak ingin membuat Anita bertemu dengan rekan bisnisnya, jika tidak ada pertemuan mendadak dia tidak akan melakukan itu.
Sebelumnya dia sudah memeran dua ruangan setelah mengetahui jika mitra bisnis nya bukan tipe orang yang suka main-main dengan Wanita dia mengajak Zara dan elsa bergabung.
Meskipun zara terlihat terlihat imut dan mengemaskan seperti boneka, dia sebenarnya memiliki nafsu yang besar, berbeda dengan Elsa dia orang yang cukup tertutup hanya fokus kekarir saja.
Zara mendekat ke Anita kemudian berucap “ Raffai kenapa kau sangat perhatian dengan An an, kau benar-benar keji” serunya.
Karena canggung Anita memutuskan untuk diam, Raffai bersandar kesofa dengan santai “ ada begitu banyak brondong disini, bahkan jika aku memintamu untuk pergi, kau akan berusaha keras untuk tetap tinggal” ucap Raffai acuh tak acuh.
Zara memukulnya sebagai hukuman “ raffia kau sangat menyebalkan, apa yang akan mereka pikirkan tentang aku, apa kau menggertak ku?”.
Raffai hampir memuntahkan alcohol yang dia minum, karena Zara yang bermain lugu dan tidak tahu malu, para brondong yang ada disana tersenyum kikuk dan malu.
Tak mau hal ini terus berlanjut, anita melihat wawan kemudian mengangkat kelas untuk bersulang dari kejahuan “ reporter Wawan terima sakih atas kerja kerasnya, saya sangat senang dengan hasil dari artikel anda, berkat Raffai saya bisa mengandalkan anda”.
__ADS_1
Wawan menegak alcohol yang dia pegang “ terima kasih atas pujiannya nyonya, kedepannya jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan saya, saya akan melakukan yang terbaik untuk anda”.
“saya senang bisa menganal anda reporter Wawan, ayo kita bersulang untuk reporter wawan” mereka bersorak tertawa kemudian bersulang lagi.
“merupakan sebuah kehormatan bisa mengenal anda nyonya muda Wijaya, aku bersulang untukmu” wawan menegak minuman dengan sopan.
Anita adalah orang yang sangat suka berpesta, melihat yang lain sedang minum dia membawa banyak alcohol untuk di nikmati “ reporter wawan anda adalah orang yang telah menolong saya, mulai sekarang kita adalah teman, jika kedepannya kau memiliki kesulitan jangan ragu untuk meminta bantuan padaku”.
“sebuah kehormatan bagi saya bisa menjadi teman anda, saya memang orang kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa, saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu kalian”.
Anita tertawa Bahagia “kau sangat lugas reporter Wawan aku suka itu” seru Anita.
Suasana dalam ruangan itu berubah saat para pelayan menyajikan makan, mereka makan, minum dan bernyanyi sesuka hati mereka, setelah itu mereka membicarakan bisnis, benar-benar suasana yang hidup.
Mereka sadar sudah tengah malam dan Anita sudah sangat mabuk, perilakunya saat mabuk sangat mengerikan, setiap kali dia keluar dengan Zara, Elsa dan Raffai dia pasti akan mabuk karena yakin jika aka nada yang menjaganya.
Semua orang sudah pergi, Raffai yang awalnya mau membatu Anita ditolak mentah-mentah, dia berjalan dengan gaya yang tidak stabil “ aku tidak mabuk, aku bisa jalan sendiri” ucapnya kesal, semua orang tahu jika orang mabuk tidak akan mengakui jika dirinya mabuk.
Raffia tersenyum, dia terhibur dengan fakta dia didorong karena Anita merasa jika Langkah kakinya lurus sedangkan kenyataannya tidak.
Zara mabuk dia tidak sadarkan diri tidur di sofa, Anita menunjuk kearahnya kemudian berbicara “dia sangat mabuk, bawa dia sudah waktunya untuk pulang” setelah itu dia melangkahkan kakinya sambil terhurung- huyung.
“iya aku tidak mabuk kau tidak perlu khawatir” sahut Anita, Elsa pulang di tengah-tengah pesta setelah mendapatkan telepon penting setelah itu dia segera pergi.
Raffai diam seolah dia mempercayainya “berjalan yang benar, sementara itu aku akan menggendong Zara” dia terpaksa menggendong Zara yang tertidur karena terlalu mabuk, dia tidak tahu apa jadinya jika dia tidak ada disini.
Anita berjalan keluar ruangan sambil menopang tubuhnya ke tembok, Langkah kakinya tidak beraturan selang beberapa Langkah dia terjatuh, dia segera berdiri sambil berkata “aku tidak mabuk kau tidak perlu khawatir” ucapnya meyakinkan.
Raffai berusaha untuk membatunya berdiri, sekaligus mengendong Zara di punggungnya, begitu dia memperbaiki posisi Zara Anita hampir terjatuh.
Untungnya salah satu rekan bisnis Raffai masih ada disini, dia berinisiatif untuk membantu Anita yang mabuk berat “ tuan Raffai sepertinya nyonya muda wijaya mabuk berat, aku akan membantunya keluar dari sini” ucap galih, dia memiliki wajah yang cukup tampan.
“baiklah” sahutnya setelah berpikir sesaat.
Pria itu mengangkat Anita untuk keluar dari tempat itu bersama dengan Raffai dan Zara, mengabaikan tingkah Anita yang berprilaku buruk saat mabuk.
Anita seperti belur yang licin saat galih mengangkatnya dia terus memberontak ingin turun dan membuat keributan, kemudian Anita memegang dagunya “ nyonya muda kamu sedang mabuk” ucapnya canggung.
“apa yang kau bicarakan, siapa yang mabuk?” sangkal Anita, beberapa saat kemudian dia muntah, membenamkan wajahnya di baju pria yang menolongnya.
__ADS_1
Raffai memperhatikan pria yang menolong Anita dengan cemas dan malu dia berbicara dengan canggung “dia berprilaku buruk saat mabuk, kuharap kau tidak memasukan kedalam hati”.
Pria baik hati itu menjawab “ Tuan muda Raffai, kau tidak perlu khawatir tentang itu, sudah sewajarnya orang mabuk berprilaku buruk”.
Setelah keluar dari ruangan mereka, Anita yang digendong di punggung Oleh Galih berprilaku seperti gurita yang mendapatkan mangsa, membuat galih kesulitan.
Saat bersamaan pintu ruangan terbuka Rama keluar dengan keadaan acak-acakan, kemeja yang dia pakai terbuka memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sixpack, dasi yang dia kenakan sudah berada jauh dari leher, dia berjalan sambil menenteng Jas, penampilannya terlihat maskulin.
Bryan dan Rio berjalan di belakangnya dengan keadaan yang sama dengan Rama, mereka terlihat sangat menawan dan menggoda.
Mata Rama melebar saat melihat Anita bersama dengan pria tampan, dia berjalan ke arahnya dengan wajah dingin dan marah.
Rio penasaran denga napa yang akan terjadi dengan Anita yang kepergor bersama pria lain “Bryan menurutmu apa yang akan terjadi dengan anita?”.
Bryan memperhatikan Anita yang duduk di lantai “ dia mabuk berat” sahutnya.
Rio menjawab dengan nada tak suka “ tentu saja aku tahu dia mabuk, jika dia tidak mabuk apa kau pikir dia akan dengan berani berjalan dengan pria lain?”.
Alih-alih menjawab omelan Rio, Bryan lebih memilih memperhatikan Anita dengan tatapan yang tidak sewajarnya.
“anita” ucap Rama dengan marah sambil mengepalkan tinjunya.
Galih menyapa Rama dengan canggung “ tuan muda Wijaya, nyonya muda ……” dia berusaha untuk menurunkan Naita tapi dia menolak untuk turun, dia terjebak dalam kecanggungan.
Raffai menggaruk kepalaya yanag sakit sambil berpikir ‘seharusnya aku tidak membiarkan dia minum banyak” mengingat seberapa buruknya dia saat mabuk dia pasti akan membuat masalah.
“ akan, ada pertunjukan yang menarik selanjutnya” ucap Rio sambil menikmati kacang yang dia bawa, entah dari mana dia mendapatkan semangkuk kacang, dengan semangat tinggi dia sudah duduk dikursi untuk mendapatkan hiburan gratis.
“tuan muda wijaya, nyonya muda mabuk berat” ucap Galih gelisah saat melihat Rama berjalan kearangnya dengan wajah marah.
Rama tetap diam seribu Bahasa dia melepaskan tangan pria itu dan membuat Anita jatuh ke lantai marmer, “Anita” ucap Raffai karena khawatir.
Anita merintih kesakitan, semua orang terkejut melihatnya, Rasa sakit yang luar biasa membuat anita mulai tersadar dari mabuk, saat dia melihat Rama sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan, Amarah Anita tertulis jelas diwajahnya, anita yang sadar sedang duduk dilantai segera bangkit.
“ Rama apa kau sudah menjadi Gila” teriaknya dengan marah dia menatap lekat wajah Rama, dia merasakan sakit dipunggungnya karena terjatuhh kelantai.
“nyonya muda ulangi ucapanmu, jika kau mempunyai keberanian” bentak Rama sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
“ Rama kau sudah gila apa kau puas? Menyingkir” ucap Anita berjalan melewati Rama sambil menggosok punggungnya yang kesakitan, Ada begitu banyak orang yang melihat dia tidak ingin membuat keributan.
__ADS_1