
Anita sangat terkejut saat Rama masuk kedalam kamar mandi. Merasakan sebuah ancaman dia bergerak mundur dan menatapnya dengan tatapan waspada. Bahkan sebelum dia bereaksi Rama sudah terlebih dulu mencimnya dengan paksa!
Dia mendorong lidahnya yang lincah ke bibirnya dan mengisapnya dengan paksa, membungkamnya sambil menikmati manisnya air liurnya.
"Mmph ... Rama... apa ... yang kamu lakukan ..."Dia menciumnya dengan sangat kuat seolah dia akan melahapnya. Dia mulai kesulit untuk bernapas juga.
Rama mengabaikan kondisinya dan dia malah meraih pergelangan tangannya dengan satu tangan dan meletakkannya di atas kepalanya, menekannya ke dinding. Kemudian dia memaksakan kakinya berada di antara pahanya yang rapat, menempatkannya dengan cara memaksa.
Ciumannya hangat dan dia mulai menggerakkan bibirnya ke arah leher, tulang selangka, dan terakhir, dia merobek bajunya untuk melihat gumpalan daging di dadanya kemdian melahapnya tanpa ampun.
Anita mendesah tak terkendali. Dia jelas ingin mendorongnya menjauh tetapi dia mulai merasa aneh di mana-mana.
Menginginkan. Dia ingin disentuh olehnya ...
Dia menginginkannya, dia menginginkan lebih dari ini ...
Menyadari betapa terangs*ngnya dia, Rama menatap pipinya yang merona dengan penuh nafsu dan bertanya dengan suara serak, "Anita, apakah kamu menginginkan ku?"
Anita menggelengkan kepalanya dengan bingung. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu sama sekali… pikirnya.
Dia tiba-tiba merasa aneh, hangat, dan entah bagaimana kosong ...
Anita mulai menempelkan tubuhnya ke tubuhnya dan secara naluri dia melingkarkan lengannya di lehernya. Jantung Rama berdetak kencang dan dia menggigit bibirnya sebelum mengisapnya.
"Rama …."
"Panggil aku Hubby," perintah Rama.
"Hubby..."
__ADS_1
“berjanjilah padaku kau akan menjaga jarak dengan Rafai mulai sekarang dan seterusnya!
“Rafai …Rafai?” Anita mengulang kalimatnya, dia tidak paham dengan maksud ucapan Rama.
“Siapa yang mengijinkanmu memanggil Namanya dengan cara yang sangat intim saat kamu berada di dekatku?” Rama mengatupkan bibirnya dengan putus asa, dan melampiaskan amarahnya yang terpendam.
Dia meraih dagu Anita dan mengencangkan cengkeramannya, menyebabkan Anita tak tahan dengan rasa sakit yang luar biasa. Dia perlahan mendapatkan kembali kesadarannya dan Anita menatap Rama dengan tatapan mata berair dan kerutan di dahinya.
Apa yang terjadi antara dia dan Rafai? Mengapa dia melarangku untuk berbicara dengannya? Lelucon apa lagi ini? Bahkdan saya tidak bisa menyebut nama rafai? Memangnya siapa dia? Saya tidak pernah ikut campur dalam kehidupan pribadianya selama ini?!
“Rama lepaskan! Aku tidak mendengarkan leluconmu!
“lelucon? Baiklah jika menurutmu ini tidak masuk akal biarlah!” dengan marah Rama merobek baju dan bikini yang dia kenakan kemudian melemparnya ke lantai marmer.
Anita merasa kesakitan yang sangat luar biasa saat Rama melempatnya ke lantai, dia mengerutkan keningnya, kemudian menatapnya dengan tatapan tak percaya setelah itu dia tertawa terbahak-bahak “ Rama apa kamu jatuh cinta pada ku? Jika tidak mengapa kau suka mengatur apa yang boleh dipakai atau tidak boleh dikenakan, dan melarang saya menyebut nama Rafai?”
Jatuh cinta padanya?
Melihat tubuhnya menegang dan dia berhenti menekannya ke dinding, dia mengambil handuk dan membungkusnya kembali sebelum berbalik untuk pergi, karena dia tidak ingin tinggal bersamanya lebih lama lagi.
Brak
Pintu kamar mandi tertutup dan Rama meninju dinding dengan marah sementara urat di dahinya mulai membengkak. Dia mulai jengkel dengan dirinya sendiri.
Sialan, ada apa denganku!?! Apa mungkin aku menyukainya? Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan seseorang yang baru ku kenal selama tiga bulan ini? Itu tidak mungkin!
…
Saat malam hari mereka mengadakan barbekyu. Kepala koki berdiri di depan pemanggangan barbekyu dan memanggang berbagai macam makanan laut, sayur, dan daging. Aroma makanan yang di panggang tercium ke hidung semua orang yang berada disana.
__ADS_1
Sungguh menyenangkan menghirup aroma laut asin, dan mendengarkan suara ombak laut sambil bersenang-senang di pantai dan Menikmati hidangan laut. Semua orang yang berada disana memesan alcohol namun tidak dengan Anita dia memesan segelas jus buah. Kemudian dia pergi menuju pantai dan duduk untuk menyaksikan ombak yang berlomba menuju pantai.
Saat menyadari Anita berada di pantai Elsa dan Zara mengambil beberapa sate diletakkan di piring kemudian mengambil segelas jus buah kemudian kemudian kedua Wanita itu berjalan menuju Anita.
“Anita, ada apa denganmu? Kamu terlihat sangat muram, ”tanya Elsa kemudian duduk di sampingnya. Dan Zara duduk di sebelah Anita
Ketika melihat tusuk sate kambing panggang yang harum di depannya, Anita meraihnya sambil tersenyum, dan menggigitnya dengan masam. "Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit lelah.
Dia tidak tahu mengapa Rama bisa kehilangan kesabarannya entah dari mana, saat dia sedang menikmati liburan yang menyenangkan. Setelah semua yang terjadi di kamar mandi, dia tidak lagi ingin melakukan apa pun.
Anita berpikir jika Rama hanya ingin membuat masalah dengannya saat dia mengenakan bikini, memangnya siapa tidak akan mengenakan bikini saat berada di pantai dengan pemandangan yang menawan seperti ini?
Apakah aku harus membungkus tubuhku dengan kain?
Selain itu, saya tidak pernah memiliki hubungan romantis dengan Rafai. Tidak bisakah teman memanggil nama satu sama lain?
Apalagi aku dan Rafai sudah saling mengenal selama bertahun- tahun. Kenapa aku harus menjaga jarak dengannya hanya demi pria yang tidak mencintaiku?
Persahabatan akan berlangsung selamanya, tetapi tidak dengan hubungan romantis belum bisa. Dia tahu lebih baik daripada orang lain, seberapa besar arti Zara, Elsa dan Rafai baginya.
"Psht."
Zara yang duduk disampingnya menyeruput jus buah yang dia bawa sambil menikmati sate. Sementara Elsa menatap bintang di langin sambil melirik Anita “ Anita aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Rama, sebelumnya hubungan kalian baik-baik saja di siang hari, namun kamu bertingkah acuh sekarang, ada sesuatu yang ingin ku katakana…”
Anita mengambil tusuk sate kemudian mengigit danging kambing, kemudian menjawab perkataannya “Sejak kapan kau butuh persetujuanku untuk mengatakan sesuatu?”
Elsa menatap Zara sesaat seolah memberi isyarat, dia ragu sejenak kemudian berkata “ Ya sebenarnya kkamu dan Tuan Muda Wijaya sangat cocok. Setidaknya dengan statusnya dia bisa meindungimu!”
Zara melanjutkan “ ya contohnya insiden yang melibatkan Mulan. Dia sangat perduli denganmu” celetuknya.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu apakah dia benar-benar perduli padaku atau tidak, tapi yang ku tahu jika dia orang yang pemarah dan tidak akan ada orang normal yang akan tahan dengan sikapnya yang arogan” Anita Kembali mengambil tusuk sate kemudian memakannya.