
“Ada apa ? Apakah Anda diintimidasi?” Tanya Rama.
Anita memutar matanya karena tidak senang dan bersandar padanya “ kaulah yang membuli. Jika ini bukan pertandingan aku sudah sejak awal pergi” serunya dengan wajah cemberut.
“kamu kelihatannya sangat marah. Tapi kamu masih mengatakan jika kamu tidak di ganggu. Anita sejak kapan kau belajar berbohong ? Rama tidak senang dia menautkan alisnya kemudian memukul kepalanya.
Anita kesakitan dia berbalik meraih tangannya kemudian menatapnya dengan tatapan tajam “Rama apa kau juga mulai membuli ku? Aku tidak pernah berharap kau menjadi jahat”
"Apakah ini dianggap sebagai membuli?" Sahut Rama sambil menatap langit.
"Kamu memukulku."
“Aku akan mengoreksimu. Aku memukulmu.”
“Pokoknya sakit. Itu sama saja dengan memukul.”
Rama menyipitkan mata karena kebiasaan dan menatap sekelompok wanita dengan dingin, setelah itu dia melambaikan tangannya. Pengawal segera menarik wanita lain pergi, memastikan bahwa mereka berdiri setidaknya tiga meter dari Anita.
Memperhatikan betapa marahnya Anita, Rama tertawa kemudian berkata “ ini yang kamu dapat karena telah meninggalkan suamimu, ayo aku akan ikut bergabung bermain bebebrapa putaran denganmu.”
Melihat Rama sudah memasuki area bermain, Anita segera kembali ke dunia nyata dan berteriak, "Hei, siapa yang kamu panggil secara acak!?!"
Rama menatap Rafai dengan senyum prokokatif, penuh percaya diri dan kebanggaan “ Tuan Muda Harsya kamu tidak keberatankan jika aku bergabung?”
Rafai memperhatikan Anita yang berlari kearah mereka, di atersenyum kemudian menyauti pertanyaan Rama “ kenapa tidak”
"Itu yang terbaik." Rama berbalik untuk memeluk Anita yang berlari ke arah mereka. Dia kemudian menunduk dan menciumnya tanpa ragu-ragu. Dengan sengaja dia berkata tanpa terkendali di depan Rafai, "Sayang, lihatlah bagaimana suamimu menang mewakilimu."
Anita sangat malu dengan sikapnya dia menyenggolnya “ Rama , bisakah kamu memperhatikan tempat dimana kita berada sekarang?” Haruskah dia mempermainkan saya tanpa melihat waktu dan tempat?
Setelah Rama bergabung keadaan berbalik. Rama sangat benci berada di dekat Wanita lain selain istrinya . oleh karena itu hanya ada tiga orang di tim itu , Rafai, Rama dan Anita. Namun permainan mereka sangat berkelas!
__ADS_1
Pada awalnya lawan mereka bermain sangat santai karena sudah yakin jika mereka menang jumblah dan akan memanagkan permainan. Namun mereka tidak punya pilihan selain menjadi serius sejak Rama bergabung dengan mereka.
“Anita berikan padaku!”
Saat bola voli melesat ke arahnya Anita langsung melompat dan memukulnya. Bola melayang di udara dan Rama melompat untuk menusuknya dengan paksa ke arah lawan, melewati garis pertahanan mereka. Bola itu jatuh ke tanah bahkan sebelum mereka bereaksi.
"Yay, kami mencetak gol!” anita berseru, dia bertepuk tangan kegirangan sementara mata Rafai berubah suram. Namun, dia tersenyum setelah melihat betapa bahagianya dia.
Tatapannya halus, tapi Rama tidak mengabaikannya tindakannya. Rama sangat tidak senang, dia merasa hartanya diinginkan orang lain. Dia sangat membenci Rafai karena dia sangat dekat dengan istrinya.
Rafai merasakan tatapan tajam Rama. Dia berbalik kearahnya dengan alis terangkat dan senyum provokatif yang terpamoang di wajahnya.
Namun Anita yang sangat gembira dengan kemenangannya , tidak sadar dengan ketegangan di antara kedua pria itu.
Sejak Rama bergabung dengan timnya Rafai termotivasi untuk berada di posisi dominan. Dia tidak perduli dengan keadaan. Walau bagaimanapu dia telah berteman dengan Anita selama bertahun-tahun. Oleh karena itu mereka sudah mengembangkan kemistri secara diam-diam dengannya.
Keduanya bisa memahami maksud satu sama lain hanya dengan melakukan kontak mata, setelah itu mereka akan berkoordinasi dengan baik satu sama lain.
"Saya keluar!" Mereka sudah mencetak poin yang cukup untuk mengamankan kemenangan dan karenanya, Rama berbalik dan pergi dengan angkuh tanpa menoleh kebelakang.
Anita berdiri terpaku di tanah dalam kebingungan dengan sikapnya, bertanya-tanya mengapa Rama emosi lagi padahal mereka memiliki permainan yang bagus menurut standarnya.
Dialah yang meminta untuk bergabung dan juga yang berhenti di tengah jalan. Dia sudah terbiasa dimanjakan!
Rafai melemparkan handuk ke kepalanya dan menyeka keringatnya. "Anita, apakah kamu ingin melanjutkan permainan?"
“Tentu saja. Kita cari beberapa pemain tambahan.”
Rafai berpikiran . Kepergian Rama memberinya kesempatan bagus untuk lebih dekat dengan Anita. Tentu dia tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja?
Tidak ada yang mehentikan Rama. Anita dan Rafai memilih untuk mengajak beberapa gadis bergabung dengan timnya dan setelah itu mereka melanjutkan permaianan.
__ADS_1
Rama kembali ke daybed dan menatap Anita yang bersenang-senang tanpanya. Dia mengepalkan kacamata hitamnya erat-erat di tangannya membuatnya bengkong ‘
Bagus! Beraninya kamu merayu pria lain di depan suamimu sendiri!
Tuan Muda, es campur yang Anda minta ada di sini," Ucap Niko sambil berjalan ke arahnya dengan nampan ditangannya yang berisi es campur.
“Singkirkan! Aku tidak berselera” Timpal Rama.
Rama membuang bayangannya dengan putus asa sambil menatap Anita yang tersenyum cerah di bawah sinar matahari.
Semen tara Niko menjadi korban kekesalannya. Oleh karena itu dia mendorong kacamatanya yang berbingkai emas ke pangkal hidung sambil berpikir betapa tidak beruntungnya dia. Dia berjan kesamping sambil meminum es campur yang baru saja dia bawa.
Rama memperhatikan Anita beberapa kali. Dia mengetahui jika Wanita itu tidak memperdulikannya sama sekali. Oleh karena itu dengan marah dia pergi dan mengumpat di pikirannya.
Anita kau Wanita tidak tahu malu. Bisa-bisanya kamu memilih menemani pria lain dari pada suamimu sendiri! Dasar wajah tembok!
Setelah lama pergi Akhirnya Zara Kembali. Dia bergabung dengan permainan penuh dengan semangat , begitupun dengan Elsa. Empat sahabat itu benar-benar memperkuat tim dengan luar biasa!.
Pada akhirnya lawan mereka memilih menyerrah setelah kalah berkali-kali. Oleh karen itu Anita, Zara, Elsa dan Rafai Kembali ke hotel untuk makan siang .
Setelah bersenang- senang seharian Anita kembali kekamar presidensial, dia melihat Rama sedang membaca beberapa dokumen duduk di depan meja, dia mendekatinya kemudian bertanya dengan rasa ingin tahu “ mengapa kamu disini dari pada menghabiskan waktu di pantai?”
"Pergilah!" Bentak Rama dengan dingin sambil mendorong kepalanya menjauh.
Apa yang terjadi dengan dia?
Mengapa dia melampiaskannya padaku?
Anita tidak berhenti begitu saja dia terus mendekatinya lagi, menolak untuk menyerah begitu saja. "Siapa yang membuat Tuan Muda kita marah kali ini?"
Rama memelototinya dengan tatapan dingin dan mengancam di matanya yang memikat. Anita melangkah mundur beberapa langkah dan kesal "Baiklah, aku tidak ingin tahu."
__ADS_1
Suasana hatinya tidak terpengaruh oleh Rama sama sekali. Dia mengambil beberapa pakaian baru dari lemari sambil bersenandung gembira kemudian masuk ke kamar mandi untuk mandi. Saat dia hendak menutup pintu, Rama mengulurkan tangannya melalui celah itu.