
Marquis dan istrinya sangat senang setelah melihat putrinya bersedia membalut lukanya dan terlihat Bahagia, setelah memberi Laura beberapa wejangan mereka Kembali ke kamarnya untuk memberikan ruang agar Laura dapat berduaan dengan Uwais.
“kalian boleh pergi” ucap Laura dengan dingin kepada para pelayan yang dari tadi berdiri di sekelilingnya.
“Ya, nona Laura, selamat malam” sahut para pelayan mereka membungkukkan untuk memberi hormat kemudian pergi satu persatu.
Uwasi mengikat simul kupu-kupu pada perban Laura kemudian menata kotak p3k, dia melirik laura yang sedang tersenyum lebar kemudian dengan tenang bertanya “bagaimana kamu bisa memiliki luka?”.
Dia menatap tangannya yang diperban dengan simpul kupu-kupu, dengan acuh tak acuh Laura menjawab “tidak perlu khawatir itu hanya sebuah kecelakaan kecil”.
Jika dilihat dengan teliti lukanya itu disebabkan oleh benda tajam, meskipun dia tahu dia tidak menyuarakan pendapatnya, setelah selesai berkemas dia berdiri “sudah sangat larut sebaiknya kau istirahat”.
Melihatnya akan pergi Laura memeluknya dari belakang, mengubur wajahnya di Pundak lebar itu, dengan penuh kasih dia mengusap dagunya “Uwais kenapa kau terlalu dingin padaku, aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini”.
Uwais mendorong tangannya kemudian menyangkal “ kau terlalu banyak memikirkan segala hal”.
Laura memeluknya “ begitukah, apa aku terlalu banyak memikirkan banyak hal?”.
“iya” sahut Uwais, dengan tatapan jijik dimatanya.
“Baiklah, buktikan padaku agar aku bisa mempercayaimu. Sekarang bawa aku Kembali kekamar!” Printah Laura sangat tidak masuk akal.
Uwais menatapnya cukup lama, kemudian dia membungkuk membawanya Kembali ke kamarnya, uwais membaringkan laura di tempat tidur “istirahat lebih Awal. Selamat malam” dan bersiap untuk pergi.
saat dia berbalik Laura menangkapnya dari belakang untuk menahannya “ Uwais, tetap bersamaku malam ini, ya?”.
Uwais melepas tangannya dia melangkahkan kakinya untuk pergi dengan dingin. Menatap punggungnya, Laura berteriak putus asa, “sampai akhir, kamu masih mencintainya, bukan!?! Dia adalah alasan mengapa kamu tidak pernah mau menyentuhku, bukan!?!”
Uwais membeku Langkah kalinya terhenti di depan pintu, dia tidak menunjukkan tanda-tanda menyetujui ataupun menyangkal.
pintu akhirnya ditutup dan Uwais pergi tanpa perasaan, Laura tertawa terbahak-bahak sambil berpikir ‘semakin kau mencintainya, semakin aku akan menyiksanya. Mari kita lihat berapa lama lagi dia masih mencintainya!, Saya, Laura davis akan mendapatkan apapun yang saya inginkan, dan uwais tidak terkecuali!
Laura segera berganti pakaian baru dan buru-buru pergi dari mansion menuju ke penginapan di pinggiran kota. Dia memutuskan untuk menyetir sendiri daripada memanggil sopir. Pintu kamar di penginapan ditendang terbuka.
__ADS_1
Saat melihatnya, para pengawal dengan ketakutan membungkuk padanya dan menyapa, "Selamat malam, Nona Laura"
Anita terbaring di tanah, dipenuhi luka di sekuhur tubuhnya yang dia dapa dari pemukulan yang keras. Wajahnya sangat bengkak setelah dipukuli hingga menjadi babak belur yang dilakukan oleh Laura dan para bawahannya.
Kulitnya terkelupas dengan bekas luka memar terlihat sangat menakutkan.
Setelah mendengar suara Laura, Anita berusaha membuka matanya dengan sekuat tenaga, hanya untuk menyadari bahwa penglihatannya kabur.
Darah yang keluar di area metanya telahmembuat telah menggumpal di sekitar mulu matanya dan menempel di bulu matanya, membuatnya kesulit untuk membuka mata. Dia melirik Laura yang telah pergi dan Kembali lagi.
Dia melirik luka pada pergelangan tangan Laura yang sudah dibalut dengan perban, itu adalah luka yang dia buat dengan mnggunakan potongan tongkat yang digunakan bawahan Laura untuk memukulinya.
Laurent terkekeh karena dia tahu apa yang sedang ditatap Anita. Dia melirik tangannya yang diperban dengan lembut dan berkata, “Anita, apakah kamu tahu? Uwais adalah orang yang membalut tanganku. Dia sangat marah saat melihatku terluka. Dia terlihat sangat kesal sehingga dia bahkan tidak ingin berbicara dengan saya” Ucap Laura memamerkan perhatian Uwasi pada Anita.
Anita tetap diam sambil mendengarkannya. Namun, semburat kesedihan terbentuk di matanya ketika dia mendengar bagian terakhir dari kata-kata Laura. Dia tahu bahwa Uwais akan diam saat dia sedang marah dan diam adalah caranya untuk melapiaskan amarahnya, bukan dengan kata-kata kasar.
"bagus, karena dia peduli padamu!" Luo Anning menutup matanya perlahan, tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun.
Sangat mungkin jika dia akan dibunuh oleh Laura saat ini. Sepertinya Zara, Elsa dan Raffai sangat menghawatirkannya, bisa jadi ini adalah terakhir kalinya mereka khawatir pada dirinya.
Laura menatap Anita yang duduk dilantai keadaanya sangat buruk melebihi seorang pengemis, dia tersenyum Bahagia dan berkata “ tentu, bagaiman bisa saya tidak memberi tahu kabar baik seeprti itu, Anita apa kau berpikir jika kau sangat penting, tiga tahun telah berlalu dan dia sudah melupakan keberadaanmu. Aku Laura Davis adalah satu- satunya Wanita yang berada didalam hatinya, jangan pernah berpikir untuk merayunya apa lagi muncul di hadapannya!”.
Anita membuka matanya dengan acuh tak acuh berkata “Jika memang begitu, mengapa kamu terlihat sangat takut jika aku berubah pikiran? Atau mungkinkah dia masih sama sekali tidak menyukaimu dan itulah kenapa kau masih sangat takut melihat keberadaanku?”.
Pak!
Laura menampar wajah Anita dan memelototinya. “kau, dari mana kamu mendapatkan sebuah kepercayaan diri dan berpikir bahwa aku takut padamu? Bagaimana kamu begitu yakin bahwa dia tidak peduli padaku?”.
“Aku tidak percaya diri, tindakanmu lah yang menunjukan itu” gumam Anita saat pandangannya mulai terasa kabur.
Laura tidak mendengarnya dengan jelas gumamannya dan memutuskan untuk menamparnya lagi karena putus asa "Apa katamu? Ulangi dengan keras!”.
Setelah disiksa dan disiksa secara tidak manusiawi selama setengah bulan, tubuh Anita benar-benar tidak tahan lagi. Dia Menatap Laura yang jengkel, Anita tersenyum dan berkata, “Laura, bunuh saja aku. Kalau tidak, aku akan membuat hidupmu seperti didalam neraka selama sisa hidupmu!.”.
__ADS_1
"Kamu sudah di ambang kematian, tapi kamu masih memiliki mulut yang kotor!".
Laura berdiri dan menendangnya menggunakan hak tinggi. “Kau ingin matikan? Saya tidak akan membiarkan Anda memiliki apa yang Anda inginkan.
Kau ingin aku merasakan neraka? Baiklah, saya ingin melihat apa yang bisa dilakukan wanita murahan seperti Anda untuk membuang saya ke neraka!
Anita memuntahkan darah dan pingsan.
“Nona Laura, dia tidak akan bertahan lama. Dia akan mati jika kita terus memukulinya.”
Laura Davis menghentakkan kakinya dengan marah, oleh karena itu para pengawal berbicara dengan ragu-ragu sambil menatap Anita yang terlihat di ambang kematian.
“lebih baik jika dia benar-benar mati! Tetap awasi dia. Jangan biarkan dia mati, mengerti!?!” ucapnya dengan kesal.
"Ya, Nona Laura."
Dia sangat kelas kemudian membetulkan pakaiannya yang berantakan karena tindakannya barusan. Dia melangkah pergi dengan anggun dan arogansi nya.
….
Di ibukota Indonesia
Sudah dua hari sejak Rama Wijaya kembali dan saat ini dia sekarang mengadakan pertemuan tengah tahun di ruang Rapat WJ International Kompany. Secara tiba-tiba, jantungnya berdebar sangat kencang dan kelopak mata kanannya mulai berkedut.
Dia mengerutkan kening dengan ekpresi kesal di wajahnya dan telah diperhatikan oleh semua eksekutif senior yang bermata tajam. Melihat Rama Wijaya sepertinya tidak terlalu senang, mereka segera berhenti membaca laporan tersebut.
Rama menggosok dahinya dan mencoba menekan kegelisahannya. Dia mengetukkan jarinya ke meja berulang dan berkata, "Lanjutkan."
Eksekutif senior melanjutkan membaca laporan setelah diberikan izin. Hanya Niko yang tahu jika Rama sedang memikirkan hal lain. Seperti perkiraanya dia dipanggil keruangannya setelah rapat selesai “ tuan Muda Wijaya apakah anda mempunyai perintah unruk saya?”.
“Apa Artinya jika kellopak mata kanan terus berkedut?” Tanya Rama sambil memainkan pena ditangannya.
Niko terdiam sesaat dia tidak percaya denga napa yang baru saja keluar dari mulut Tuan Mudanya, setelah mendorong kacamatanya keatas dia berpikir ‘apakah ada masalah dengan pemdengarranku? Bagaimana mungkin Tuan muda Wija yang berpendidikan tinggi percaya dengan tahayul?’
__ADS_1