
Anita sudah mengambil keputusan untuk bercerai, Rama tidak punya pilihan lain selain mengikutinya karena tidak ingin dipermalukan, dia mengingatkan Anita dengan lembut “Anita berhenti, kita tidak bisa bercerai”.
“kita harus berpisah”
“teruslah bermimpi” Rama mengoceh dengan marah.
Anita melepaskan tangannya kemudian mundur menatapnya sambil tersenyum “ baiklah karena kuau tidak mau bercerai, aku akan menemui kakek, kita harus bercerai hari ini”.
“Anita, Kau..” sebelum Rama selesai bicara, Anita sudah terlebih dulu naik lift dan turun “ sialan” gumam nya sebelum menyusulnya.
Pak tua wijaya tidak akan mudah memberikan persetujuan untuk bercerai, 3 tahun lalu mereka dipaksa menikah dengan mengancam kesehatannya, dan sekarang kakeknya merasa sangat Bahagia dan akan mengabulkan segala keinginan Anita dengan mudah.
Anita segera memanggil taxi setelah sampai dilantai bawah dan segera pergi ke mansion mewak tuan Wijaya.
Rama mengejarnya, dia menyadari jika Anita sudah tidak terlihat, dia menendang kakinya ke udara karena marah dan menyuruh Niko untuk menyiapkan mobil.
…
“ pak tolong lebih cepat” ucap Anita.
Supir taxi berkeringat dingin dan berkata “ nona ini sudah sangat cepat, jika lebih cepat dari ini aku akan mendapatkan surat tilang”.
Anita menoleh kebelakang untuk melihat konvoi Rama yang tidak ada, untunya pria itu tidak menyusulnya dia merasa lebih santai.
Setelah berpikir sejenak dia terlalu mendadak untuk membahas perceraian ke pat tua Wijaya, dia tidak tahu harus memulai pembahasan perceraian itu, Anita menghubungi Pak Agus untuk memberi tahu pak tua Wijaya dan Sarah jika dia akan kekediaman utama.
Pak Agus tidak membahas apa-apa dia hanya berkata sambil tersenyum jika dia akan menyampaikan pesannya pada pak tua Wijaya dan Sarah, setelah itu Anita mengakhiri panggilan.
Begitu Pak Agus meletakkan telepon, telponnya mulai berdering lagi kali ini Rama yang membuat panggilan telepon.
“tuan muda …” gumam pa kagus yang langsung di potong oleh Rama sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
“paman apa Anita sudah sampai?”
“nyonya muda belum sampai, dia berusaja mengabari jika dia akan kesini untuk berbicara dengan tuan tua dan nyonya”.
Setelah berpikir cukup lama Rama akhirnya berbicara dengan sunggung- sungguh “ paman jangan biarkan Anita bertemu dengan kakek maupun ibu, tidak perduli apapun jangan biarkan Anita masuk kedalam mansion, apa kamu mengerti?”.
“ ya .. tapi” Pak Agus ditempatkan di situasi yang sangat sulit baginya tidak pantas banginya untuk menghentikan nyonya muda dan itu cukup kasar.
“lakukan apa yang aku perintahkan, jangan biarkan ibu dan kakek tahu tentang kejadian ini, sudah itu saja!” Rama mengakhiri panggilan telepon.
Tepat setelah dia meletakkan telepon, dia hendak memberi perintah para penjaga untuk menghentikan nyonya muda, dia bertemu dengan pak tua Wijaya.
“ tuan, anda sudah bangun dari tidur siang anda” tanya pak Agus.
Pak tua Wijaya menggunakan tongkat untukk menopang tubuhnya kemudian dia duduk disofa “ siapa yang menelepon?”.
“tuan muda…”
“tidak ada apa- apa, hanya saja …”
“kakek” suara jernih anita terdengar di udara, pak Agus secara tiba-tiba merasa tegang dan perasaan tidak menyenangkan menguasai dirinya, sementara Anita sudah berjalan kearahnya.
Pak tuan wijaya tersenyum saat melihat wajahnya dia memberi isyarat untuknya agar duduk di sampingnya “ Anita, baru saja pak Agus memberi tahu jika Rama akan datang, tapi kamu sudah sampai sini, ada apa dengan kalian apa ada sesuatu yang ingin kau katakana pada ku?”.
Anita bersikap acuh tak acuh, dia dengan tenang bertanya “ kemana ibu? Aku tidak melihatnya”.
“sarah pergi bersama beberapa temannya, aku pikir dia akan Kembali sore nanti” dia melirik Anita kemudian berkata “anita kau belum menjawab pertanyaanku”.
Karena dia akan tahu pada akhirnya, dia memutuskan untuk terus terang dengan tujuannya datang “ kakek, aku kesini untuk memberi tahu aku akan menceraikan Rama”.
Pak tua Wijaya terdiam sejenak dia menatap dengan tatapan kosong, berharap ada jejak lelucon yang dibicarakan Anita, pada akhirnya yang dia lihat adalah wajah seriusnya “bisakah kamu menjelaskan apa yang menjadi alasannya?” dia meletakkan cangkir teh kemudian menggosok lututnya perlahan, dia memberi isyarat para pelayan untuk meninggalkan mereka.
__ADS_1
“aku dapat merebut perusahaan ku sendiri, meskipun prosesnya lama dan lebih lambat” ucap Anita.
Pak tua wijaya bertanya “apakah ini bener-benar keputusanmu? Mendapatkan perusahaan itu Kembali akan lebih sulit dari pada yang kamu bayangkan, sudah lebih satu decade Kusuma mengambil alih, tidak ada bukti yang tersisa dia sudah menghancurkan semuanya, apa kamu pikir dia akan meninggalkan bukti yang akan menolong mu?”.
Anita mengambil cangkir the kemudian dia menyesapnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering kemudian berkata “ bangkai tidak bisa di simpan begitu lam, anda tidak perlu khawatir tentang hal itu tuan tua Wijaya”.
Pak tuan wijaya dian seribu Bahasa dia merasa udara ruang tamu terasa menyesakkan “ anita bagaimana jika saya tidak memberikan izin?” ucapnya dengan acuh tak acuh sambil memelototinya dengan tatapan keruh.
Anita sudah lama berpikir jika dia tidak akan dengan mudah menyetujui mempunyai anak dengan Rama, jika tidak dia tidak perlu memaksanya untuk melahirkan Anak dengan imbalan dia akan membatunya untuk mendapatkan Kembali perusahaan orang tuanya “ tuan tua wijaya saya mengatakan ini hanya untuk sopan santu, saya tidak bermaksud untuk meminta persetujuan anda”.
“jika anda bersikeras untuk bercerai, saya akan memastikan anda tidak akan bisa merebut Kembali perusahaan itu” ucap Tuan tua wijaya dengan Ancaman yang jelas.
Dengan kata lain dia berencana untuk mempersulit proses merebut jayen jika dia berani menceraikan cucunya ‘ sangat tercela’.
Anita sangat terkejut mengetahui pak tua wijaya sangat kejam, sejak dia setuju untuk menikah dengan Rama, dia telah membuang- buang waktunya selama ini dan masa mudanya tapi tidak ada kemajuan sama sekali, apakah pria tua itu sama sekali tidak merasa bersalah?
Sangat kesal anita berdiri menatap pak tua wijaya yang duduk di sofa, dia berkata “Tuan wijaya sangat kejam, tak heran anda memiliki julukan tiran dalam bisnis, saya menghormatimu” anita menatapnya dengan ekspresi datar.
Pak tua wijaya berkata “ kau harus memikirkan ini dengan sungguh-sungguh, tidak ada jalan untuk Kembali”.
“saya tidak perlu memikirkannya, jika bercerai saya akan menyerah untuk merebut perusahan, lagi pula orang yang menjalankan perusahaan masih keluarga saya, saya tidak akan mengecewakan mereka”.
“kau …” mendengar hal itu pak tua wijaya segera berdiri dan menunjuknya, dia sama sekali tidak melanjutkan ucapannya.
Saat keluar dari ruang tamu Anita bertemu dengan Rama yang baru saja sampai , menatap Anita dia meletakkan tangannya di Pundak Anita dan bertanya dengan wajah marah “ apakah kamu sudah memberi tahu ibu dan kakek ku?”.
“ nyonya wijaya sedang keluar, saya sudah memberi tahu pak tua Wijaya mengenai perceraian kita” Anita menyingkirkan tangan Rama dari pundaknya kemudian berkata “ ayo kita pergi ke pengadilan selagi masih buka”.
“ apakah kakek menyetujuinya?” tanya Rama gugup.
“memangnya kenapa jika dia tidak setuju? Aku harus cerai bagaimanapun caranya!” sahutnya Acuh tak acuh
__ADS_1