
Rama berjalan kearahnya sambil melonggarkan dasinya, berhenti dan mentapnya dengan prasaan tidak suka “Anita ada apa dengan mu? Apa kau sedang memberiku pelajaran?”
“Rama, sudahlah jangan menggodaku. Aku merasa sangat frustasi…” Sahut Anita dia memegang kepalanya kemudian membenturkan kepalanya ke lututnya.
“Kamu benar- benar keras kepala” Cibir Rama yang sedang menggodanya.
Anita menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dia membuang nafas kasar dengan raut wajah cemberut. “ Rama ada apa denganmu?” Tanya Anita.
Rama menatapnya dengan tatapan tajam kemudian menjelaskan “ Anita .. kau tanya apa yang aku lakukan sekarang? Aku khawatir dengan kasusmu hah” Rama menggela nafas Panjang dan pura- pura khawatir dan frustasi, yang menyebabkan hati Anita hancur berkeping-keping.
apakah dia tidak menemukan jalan lain? Apakah tidak ada cara untuk membersihkan namaku?
Dia menatap wajah Rama yang sedih, dia tahu betul jika pria tampan yang ada dihadapannya sudah melakukan yang terbaik untuknya. Dia tidak bisa menahan senyum pahit dan meletakkan tangannya di tangan Rama. Kemudian menjelaskan “Rama jika nama saya tidak bisa di bersihkan . Ayo kita bercerai, saya tidak ingin membuat anda dan WJ Kompany menanggung dampak dari kasus ini. Jika memang ini takdir, aku akan menyerahkan diri.”
Dia merasa seperti memberinya kata-kata terakhirnya dan langsung menangis. Matanya yang berkaca- kaca membuatnya tampak sangat menyedihkan.
Rama sadar jika dia baru saja membuat lelucon yang sangat keterlaluan dan dia akan menangis jika dia melanjutkan leluconnya. Dia menguasai emosinya dan berbicara padanya “ emm aku hanya bercanda. Sumia berjalan lancar dan saya yakin anda akan terbukti tidak bersalah.”
Anita terkejut dengan penjelasannya, dia menatapnya dengan tatapan tak percaya, kemudian bertanya untuk memastikan sekali lagi “apa yang kamu katakana?”
“aku bilang aku hanya menggodamu. Lihat betapa lemahnya dirimu. Tidak perduli seberapa tidak becusnya saya, saya tidak akan pernah menjadi tidak mampu untuk melindungi istri saya sendiri” Rama menjelaskan dengan suara lantang kemudian berdiri untuk pergi keruang makan, untuk melihat apa saja yang sudah disiapkan di meja makan malam ini.
Setelah mendengar penjelasannya, Anita Kembali dari perasaan terpuruknya dia melempar bantal kearahnya “ rama berengsek, bagaimana kamu bisa mempermainkan saya di saat seperti iini hah? Apa kau tidak tahu seberapa takutnya aku!?”
Roama berbalik dan buru-buru menangkap bantal terbang kearahnya, memainkannya di tangannya, dan memandangnya dengan acuh tak acuh. “Anita kamu biasanya sangat sombong dan pemberani, bagaimana bisa kamu menjadi seorang pengecut?”
“karena kamu tidak pernah dijadikan tersangka pembunuhan, kamu tidak akan mengerti keadaanku!” anita menjatuhkan tubuhnya ke sofa kemudian melanjutkan ucaoannya yang tertunda “ aku sudah hampir satu bulan tidak keluar rumah, aku sangat takut untuk membaca majalah, berita ataupun membuka situs internet. Mereka akan menyalahkan saya, mencemoh saya, dan mengirimi saya ancaman pembunuhan …. Saya benar- benar tidak berani untuk melihatnya.. semua orang berpikir jika akulah yang membunuh Niki dan mereka semua mengingankan kematian saya … mata harus dibayar mata begitupun dengan nyawa…”
Rama tidak terbiasa melihat betapa emosionalnya dia secara tiba- tiba. Selama beberapa hari ini dia terlalu sibuk untuk melakukan pekerjaan dan oleh karena itu dia mengabaikan perasaannya. Saat ini dia sudah benar- benar tahan lagi membendung emosinya.
__ADS_1
Rama berjalan hearahnya melihatnya saat dia sedang menundukkan kepalanya dan mengangkat dagunya dengan paksa dengan jarinya “ hei kamu tidak sedang menangis kan?” tanyanya memastikan.
Mata Anita memerah dan dia menatapnya dengan keras kepala, setelah itu hatinya segera melunak. Dia tidak bisa membantu tetapi menariknya ke dalam pelukannya dan memanjakannya.
Rama benar-benar melakukan apa yang diinginkan hatinya. Dia mengulurkan tangannya dan menariknya ke pelukannya. Dia kemudian menutupi matanya, menghalangi penglihatannya dan berbicara “Kamu tidak diperbolehkan menangis. Bahkan jika kamu mau, kamu membutuhkan ijin dariku!
Dia benci saat melihat wanita menangis, terutama Anita. Setiap kali dia melihat air mata di matanya, dia akan merasa tidak nyaman.
“Siapa yang menangis? Jangan berbicara omong kosong!” Anita menyangkal sambil menekan kepalanya ke pelukannya.
"Orang yang bertanya."
"Rama, brengsek!"
"Aku tahu itu," Ucap rama dengan senyum percaya diri.
Anita mengangkat kepalanya dari pelukannya. Fakta bahwa dia sangat tinggi menghasurkannya mendongakkan kepalanya untuk melakukan kontak mata dengannya. Menunjukkan jarinya yang ramping kearahnya, dia berbicara dengan tegas “Rama jangan terlalu bangga, kau sangat tidak tahu malu!”
Melihat mereka berdua masuk, Bibi Siti melirik Rama berbalik berbalik untuk melirik anita secara bergilir, takut jika Rama akan marah dan mematahkan lehernya.
Sampai saat ini Rama tidak menunjukkan tanda-tanda marah, dia hanya mengangkat alisnya karena terheran melihat hidangan yang di sajikan di atas meja makan.
“Anita sebelumnya aku memintamu untuk menyiapkan makan malam. Apa ini hasil yang kamu dapatkan?” Rama duduk dia melirik Steak satu- satunya makanan yang menarik perhatiannya.
“Aku tidak memiliki nafsu makan, siapa suruh kamu menyuruhku untuk membuatkan makan malam? Aku sendiri tidak ingin makan malam, makanan yang akum asak juga tidak enak” ucap Anita yang kemudian mengambil semangkuk sup kemudian meminumnya.
Rama tidak mengomentarinya lagi dia memilih diam. Sebaliknya dia mendorong steak nya saat Anita meletakkan mangkuk sup dan hendak memotong steak yang ada di piringnya.
"Potongkan steak saya untuk saya." Perintah Rama
__ADS_1
Anita meletakkan peralatan makannya dan menatap Rama yang sombong. “Rama, kau sebut dirimu seorang pria sejati. Bukankah seharusnya kamu yang memotong steak untukku?”
“Saya tidak pernah menglaim bahwa saya pria sejati. Potong saja steaknya seperti yang saya inginkan. Mengapa Anda begitu suka menyangkal?”
Baik, dia adalah bosnya! kalau begitu akuu akan memotongnya!
Anita menahan amarahnya dan menahan diri untuk tidak memakinya. Dia mengambil peralatan makannya dan mulai memotong steak dengan paksa, terlihat sepertinya berusaha melampiaskan amarahnya.
Setelah selesai dia mendorong sepiring potongan steak ke arahnya dan berkata, “Aku sudah selesai. Bajingan.”
Rama menyeringai dan dengan sombong menggosok kepalanya, sepertinya berusaha menghadiahinya. “kau sangat patuh.”
Patuh? Kepalamu! Saya dipaksa, oke!?! Anita merasa sangat kesal karena sikap kekanak-kanakannya.
“Steaknya terlalu matang” Ucap Rama setelah memasukkan sepotong steak kedalam mulutnya dengan dengan wajah cemberut.
Anita memilih untuk diam, walau sebenarnya hatinya sangat bergemuruh seperti ombak di lautan.
“Tidak hanya terlalu matang, rasanya juga kurang.” Cibirnya
Anita mengepalkan tinjunya dengan erat dan mendesak dirinya untuk sabar menghadapi komentar pedas dari Rama!
Rama mendorong sepiring steak dan mulai memakan salad. Dia sekali lagi mengerutkan kening dan mengkritik, “Kamu telah menambahkan terlalu banyak memasukkan bumbu. Rasanya terlalu kuat.”
Anita masih memilih untuk diam. Karena diam adalah emas namun tidak dengan pikirannya.
‘kamu juga sangat tahu betul, jika kamu itu sangat pemilih tapi kenapa tidak meminta juru masak untuk menghidangkan makanan untuk makan makam’
Makan malam diakhiri dengan kritik keras dari Rama. Langit sudah sangat gelap dan pengawal di luar masuk untuk melapor setelah mereka selesai makan malam.
__ADS_1
jangan lupa like, komen sebanyak mungkin, dan vote setiap seminggu sekali sudah cukup kak tidak perlu setiap hari. demi kelangsungan hidup aku jangan lupa kirim bunga mawar 🌹🌹🌹🌹 , aku juga masih menerima jasa traktir loo untuk beli komi.
pokoknya terima kasih karena sudah mau membaca novelku. 😘😘😘🤭 jangan lupa 🌹🌹🌹🌹🌹🤣🤣🤧