Pernikahan Termahal

Pernikahan Termahal
Uwais mengirim bunga untuk Anita


__ADS_3

Setelah merasa baikan Anita membuka pintu kamar mandi, dia melihat Rama berdiri di depan pintu dengan wajah cemberut. Anita terkejut saat melihatnya marah!.


Apa yang dia lakukan kenapa masih disini?


Setelah mengambil ponsel dia langsung menutup pintu karena terburu-buru. Dia berpikir jika Rama Kembali untuk meneruskan pekerjaannya.


Kenapa dia terlihat marah?


Setelah ragu sementara waktu dia memberanikan diri untuk bertanya, "Rama, apa yang kamu lakukan di depan pintu?"


"Tidakkah menurutmu kau harus memberiku penjelasan?" Rama menatapnya dengan mata muram, sia sangat kesal saat ini.


Anita menundukan kepala, dia meremas handuknya sebelum berjalan melewatinya. "Tidak ada yang perlu dijelaskan."


Masalah diantara dia dan Uwais tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Selain itu, dia tidak berpikir memiliki kewajiban untuk menceritakan tentang masa lalunya. Alasannya, dia tidak tahu berapa lama Pria penuh emosi ini terus menyukainya.


Kanapa harus dia mengungkapkan masalalunya kepadanya?


Beberapa luka masalalu dan rasa sakit yang dia telah dia hadapai tidak ada hubungannya.


Tidak ada yang perlu dijelaskan? pikir Rama.


"Hah ..." Rama tersenyum sinis, dia sama sekali tidak bisa mengontrol emosi yang ada pada dirinya .Dia membanting tinjunya ke dinding dengan putus asa. Dinding putih bersalju langsung ternoda dengan beberapa coretan darah.


Dia berbalik untuk melihat Anita yang sedang berbaring di tempat tidur dan bersiap untuk tidur, setelah itu dia langsung merasa seperti orang bodoh!


jika aku peduli padanya? Dia akan memperlakukanku sebagai apa?


Dia menerima telepon dari pria lain pada tengah malam, namun dia bahkan tidak repot-repot memberi saya penjelasan, terlepas dari apakah itu asal-asalan atau tidak.


Rama menautkan alisnya dan dia berteriak dengan dingin, "Anita apa kamu  tidak menganggapku!?!"


Mendengar teriakannya Anita  membuka matanya, melihat bahwa pintu telah dibanting hingga tertutup dengan bunyi yang sangat keras  tampaknya menyebabkan seluruh ruangan itu bergetar hebat.


Kedamaian kembali setelah suara ledakan yang keras.


Anita secara misterius tidak dapat tidur sama sekali setelah Rama pergi sari hotel…



Jam wekernya berdering keesokan paginya.


Anita baru saja tidur saat Fajar saat ini dia menderita sakit kepala. Dia menarik selimut untuk membungkus dirinya. Berusaha dengan baiik untuk mencari sumber suara yang mengganggu tidurnya.


Setelah tidur sebentar, dia tiba-tiba duduk dan menggosok matanya dengan lelah. Dia tanpa sadar menoleh ke samping untuk melihat bahwa tempat di sampingnya kosong.


Sepanjang malam Rama tidak pernah kembali.


Dia memasuki kamar mandi untuk mencuci wajah dan berpakaian sebelum berangkat ke kantor. Saat dia membuka pintu, dia bertemu dengan Rama  yang hendak masuk.

__ADS_1


keduanya saling bertukar pandang dan semuanya terdiam tanpa menegur.


"Kamu tidak tidur tadi malam?" Tanya Anita.


Rama mengabaikannya, pandangannya tertuju ke kemejanya yang kusut dan blazer yang telah dia sampirkan di pergelangan tangannya sementara dasinya tergantung longgar di lehernya. Dia berbau rokok dan dia memiliki kantung mata yang jelas.


Rama menatapnya dengan tatapan tajam kemudian memasuki ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ketika bahunya membentur bahunya, Anita terhuyung ke depan sedikit kemudian  mengembik kesembangan untuk dirinya.


Sementara itu, Rama sudah memasuki kamar mandi dengan pakaian baru dan membanting pintu dengan sekuat tenaga.


Rama  keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit berlalu dan kebetulan saat ini Anita duduk di sofa. Dia menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangannya.


Dia berjalan menuju cermin ukuran penuh dan mulai mengenakan dasinya sementara Anita memeluknya dari belakang, menyebabkan tubuhnya menjadi tegang seketika.


Anita memeluk pinggangnya dan membenamkan wajahnya yang cantik di bahunya yang lebar dan berkata dengan getir, "Rama, jangan marah, ya?"


"Apakah kamu peduli apakah aku marah atau tidak?" Tanya Rama sambil menjauhkan tangannya dan terus mengikat dasinya.


Anita menatap tangannya yang sedikit bergeser, setelah itu dia langsung tersenyum dan berjalan di depannya untuk membantunya mengikat dasinya.


"Jika aku tidak peduli, aku tidak akan pernah menunggumu di sini," Ucapnya sambil membantunya mengenakan dasinya. Dia kemudian merapikan bajunya.


Rama yang eksal berkata dengan ekspresi lembut, "Beri aku penjelasan."


Anita  menatap Rama, dia tetap diam. Rama meliriknya  kemudian mencibir, “Jika kamu tidak ingin menjelaskan, mengapa kamu repot-repot merayuku? Apa hubungan amarahku denganmu? Anita, jangan pernah lupa bahwa kamu sekarang adalah istriku!”


Apakah terlalu banyak menuntut?


Atau apakah aku tidak berarti bagunya? Apakah itu sebabnya dia bahkan tidak merasa perlu menjelaskan kepadaku?


Terlepas dari alasannya, Ramapasti akan marah!


Dia merasa seperti dia menginjak-injak seluruh harga dirinya.


Melihat bahwa dia telah berbalik dan hendak pergi,  dengan panik Anita memegang tangannya. Namun, Rama menatapnya dengan dingin dan berkata, "Lepaskan."


Anita menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak.”


Akan lebih sulit untuk menjelaskannya  jika dia membiarkannya pergi.


Dia tidak ingin berdebat dengannya lagi  karena dia tidak ingin mereka terus berselisih, tepat setelah mereka mulai semakin dekat satu sama lain.


“Anita, kamu tidak boleh dengan sengaja menggodaku. sesuatu yang kita bicarakan kemarin masih belum terselesaikan.” Rama mendorongnya kemudian pergi.


Tercengang, Anita berpikir pada dirinya sendiri, jadi dia berpikir jika  aku bersikap baik padanya demi kepentingan dan keuntungan?


Apakah dia pikir saya takut kehilangan uangnya jika saya memprovokasi dia? Jadi itu yang dia pikirkan…


Rama langsung menuju ke kantor tanpa sarapan. Setelah sarapan sendirian, Anita masuk ke dalam mobil pengawal dan menuju ke kantor.

__ADS_1



Begitu Anita sampai dikantor dia merasakan tatapan aneh yang diberikan para pegawai padanya. Sebelum dia sempat berpikir Niko sudah terlebih dulu berjalan kearahnya dan menatapnya seoalah dia adalah Anugrah yang baru saja dikirim oleh tuhan padanya “ Nyonya muda, akhirnya anda sampai.”


Sangat tercengang dengan tindakanya Anita bertanya, “Ada apa? Apa yang terjadi?"


Niko todak lupa mendorong kacamata berbingkai emasnya ke atas batang hidungnya dan bergumam ragu-ragu, “Yah…  saat Tuan Muda Wijaya tiba dikantor, dia  melihat bahwa seseorang telah menghias pintu masuk … dia sedang mengamuk di kantor sekarang. Cepat dan bujuk dia untuk tidak marah lagi. ”


“Bukankah pintu masuknya baik-baik saja? Sejak kapan ada yang menghiasnya? Lagipula, kenapa aku harus pergi dan membujuknya yang sedang marah? Aku tidak mau menjadi karung tinjunya dan membiarkannya melampiaskan amarahnya padaku. Anda boleh pergi jika Anda mau.” Anita memutar matanya ke arah Niko, dia sama sekali tidak ingin melakukan hal yang akan merugikan dirinya lagi.


Dia tidak berhasil untuk menjilatnya di hotel hari ini. Oleh karena itu dia dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri lebih jauh lagi apa lagi dihadapan orang lain, mau ditaruh dimana mukanya nanti.


Niko sangat panik mendengar penolakannya, bunga yang menghiasi pintu masuk sebelumnya dikirim untuk nyonya mudanya dengan pengakuan cinta. Itulah yang menjadi alasan Rama saat  turun dari mobil, dia memerintahkan para pengawalnya untuk memusnahkan semua bunga mawar  yang indak dan membuangnya sejauh mungkin.


Untungnya Rama yang lebih Awal datang kekantor dan menghapus semua bunga dan pesan cinta yang di tujukan untuk istrinya itu.


Jika orang lain yang terlebih dulu menemukan pesan itu kemungkinkan besar berita itu akan meledak dan membuat karangan cerita. Dan setelah rumor tersebut menyebar, harga saham Wj International pasti akan mengalami guncangan.


Tidak heran jika Rama akan marah. Sebelumnya, itu Tuan muda dari perusahaan penerbangan, rafai dan kali ini, pria pemberani yang memiliki keberanian untuk membuat pengakuan kepada Anita.


Akan aneh jika Rama tidak marah!


Tanpa Rasa bersalah Anita meninggalkan Niko sendirian untuk menghadapi Rama, sementara dia pergi keruang kerjanya. Setelah sampai di ruangannya dia menyalakan laptop dan Bersiap untuk mengerjakan tumpukan pekerjaan hari ini.


Setelah itu dia menerima email dari Niko, karena penasaran dia memutuskan untuk membukanya.


Foto itu diperbesar setelah beberapa buffering danAnita sangat terkejut setelah melihat.


Pintu masuk yang megah dan mewah dari Gedung perkantoran WJ International yang didekorasi oleh karangan bunga raksasa berbentuk hati yang terbuat dari bunga mawar yang menabjukan dan menawan. Di tengah karangan bunga, ada kata-kata yang tersusun dengan mawar biru – “Anita aku mencintaimu.”


Ada beberapa foto dengan ukuran berbeda yang diambil dari sudut berbeda. Jelas, ada lebih dari satu karangan binga dan nama pengirimnya.


Sepertinya karyawan menatapku dengan aneh karena mawar itu.


Anita merasa pusing, dia menekan kepalanya yang sakit dan berjalan menuju jendela Prancis kemudian mengambil ponselnya dia segera  menghubungi Uwais.


"Anta, apakah kamu suka hadiah yang aku kirim?"  tanya Uwais dengan nada riang dan lembut.


“Uwasi… semua diantara kita sudah berakhir. Saya sekarang adalah istri Rama. Jangan lakukan hal-hal konyol yang tidak berarti itu lagi.” Ucap Anita sambil menggigit bibirnya.


Uwais terdiam mendengar ucapannya, Setelah beberapa lama, Uwasi bertanya, “Anta seandainya aku tidak membiarkanmu pergi saat itu, keadaan akan berbeda? Apakah kau akan menikah denganku?”


Hati kecil anita terasa diremas kemudian di  tenggelamkan kedalam air gara, dengan tegas dia menjawab“… Uwais tidak ada kata seandainya di dunia ini. Semua sudah berakhir di antara kita…”


“Haha… Anta, kamu masih teguh seperti biasanya.”


Anita tersenyum kecut. Dia harus tegas dan tegas karena dia sekarang adalah istri Rama Wijaya dan setiap tindakannya akan mempengaruhi Keluarga Wijaya dan Internasional WJ.


Dia tidak bisa menodai reputasi WJhanya karena alasan pribadinya, setidaknya tidak akan pernah terjadi saat dia masih menjadi Nyonya Muda Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2