
Mendengar kata-katanya membuat Anita sangat jengkel. Dia mendorongnya menjauh dan mendangnya “jadi seperti itu caramu memperlakukan istrimu? Kamu akan melampiaskan amarahmu kepadaku memp3rkosaku saat suasana hatimu buruk?”
“jika kau tidak bermain mata dengan Rafai aku tidak akan melakukan itu!” Sahut Rama kesal.
“sSejak kapan aku bermain mata dengan Rafai hah? Jangan hina kami dengan pikiran busukmu “Anita benar- benar lelah untuk menerima tuduhan Rama.
Komunikasi mereka sangat buruk sekali. Akhirnya dia tahu mengapa tingkat perceraian di inddonesia sangat tinggi. Ternyata ini semua karena ketidak mam[uan berkomunikasi dengan pria bodoh seperti Rama.
Tatapan mata Rama menjadi suram dan dia berkata dengan dingin, “Anta aku tahu kamu dan rafai hanya berteman tapi aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengannya… Yah setidaknya, kamu beoleh lebih dekat dengannya melebihi aku.” Suara Rama terdengar sangat masam.
Anita menatapnya dengan bingung, jelas menolak untuk percaya bahwa Rama adalah orang yang mengatakan itu.
Rama segera bangun dengan frustrasi dan duduk di samping tempat tidur. Dia menyalakan sebatang rokok dengan marah dan menarik dasinya sebelum melemparkannya ke tanah.
Sedangkan Anita menarik selimut menutupi dirinya dan mengabaikannya. Dia menutup matanya dan berusaha untuk memejamkan mata.
Saat dia akan tertidur, selimutnya ditarik dan dia merasakan ciuman yang berbau rokok, ditanam di bibirnya. Tanpa sadar dia membuka matanya dan melakukan kontak mata dengannya.
Rama tidak berencana untuk menciumnya lebih dalam oleh karena itu dia mundur. Kemudian dia berkata dengan Wajah sedikit kesal, dengan ragu- ragu berkata “Anta… kurasa aku menyukaimu…”
Apa?
Dia menyukai saya? Apa aku salah dengar?
“Lupakan saja apa yang baru saja aku katakan, aku tahu kamu tidak akan percaya padaku… karena aku sendiri juga tidak percaya.” Rama tiba-tiba berdiri dan menekan tombol untuk layanan kamar dan memesan makanan.
Akhirnya, dia berjalan menuju meja dan duduk sendiri. Dia mulai melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Anita sendirian berbaring di tempat tidur.
Segera, staf hotel tiba dengan troli makanan dan meletakkan piring di atas meja kopi. "Tuan Muda Wijaya, ini adalah makan malam yang Anda pesan."
"Oke, kamu boleh pergi sekarang." Setelah menjawab staf dengan dingin, Rama duduk di sofa. Dia menikamtai hidangan itu dengan tenang, perasaanya menjadi sangat pahit. Dia sesekali melirik Anita yang berbaring di tempat tidur. Dia semakin marah setelah menyadari bahwa dia tidak memperhatikannya sama sekali.
Anita sangat heran denga napa yang baru saja terjadi. Sebelumnya dia sengaja untuk menganggunya karena dia ingin jika Rama berhenti untuk mengganggunya. Tapi apa yang dia katajan?!
Sepertinya dia jatuh cinta padaku?
Ya Tuhan!
Seseorang beritahu aku jika ini hanya mimpi!
Bagaimana… bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta padaku? Itu sangat tidak masuk akal sama sekali.
Baru tadi aku berpikir jika orang yang dia cintai, memiliki banyak dosa dalam kehidupannya sebelumnya, kenapa malah jadi aku orang yang dia cintai?!
Anita bingung dengan kata-kata yang diucapkan Rama dan dia mencoba untuk mendinginkan kepalanya dengan fakta bahwa dia baru saja mengaku.
Di sisi lain, Rama sama sekali tidak begitu menikamatu makan malamnya. Setelah makan beberapa gigitan, dia meminta staf untuk membawa makanan itu pergi.
Dia pergi kemar mandi untuk mandi pada saat dia keluar dia melihat pemandangan Anita yang tertidur lelap di tempat tidur. Dia menautkan alisnya dan berpikir ‘wanita ini sangat tidak berperasaan’
__ADS_1
Aku membuat pengakuan padanya, hanya ini yang ku dapatkan?!
Benar-benar… wanita tak berperasaa!
Meski diliputi amarah, hatinya masih sedikit luluh saat melihatnya tidur nyenyak. Dia berjingkat ke arahnya dan berbaring di sampingnya sebelum menariknya ke pelukannya.
Kemudian Rama mencium bibirnya yang lembab dan lembut sebelum berkata dengan lembut, "... Dari semua wanita, mengapa aku jatuh cinta dengan wanita keras kepala ini?"
Mungkin karena dia menciumnya terlalu kuat, dia menggeliat di pelukannya dan cemberut, terlihat tidak senang bahkan saat dia tidur.
Rama menyukainya ketika dia cantik dan bersikap lemah lembut. Dia mencubit pipinya yang halus dan lembut sebelum menciumnya lagi, seolah mencubit saja tidak cukup. Dia berkata dengan suara rendah dan memikat, "Selamat malam."
….
Hari berikutnya.
Anita tersentak bangun karena perasaan tercekik yang disebabkan oleh seseorang yang mencubit hidungnya. Dia membuka matanya dengan lelah dan menatap orang yang membuat onar di depannya.
"Omong kosong apa yang kamu lakukan , ini masih sangat pagi?" Ucap Anita kesal, dia memukul tangannya dengan marah.
Rama menariknya keluar dari tempat tidur dan berkata, “Anita, bangunlah dari tempat tidur.
Anda harus pergi bekerja".
“Tidak… aku tidak akan bekerja… Bisakah kau berhenti menggangguku? Aku ingin sendiri.” Anita berjuang untuk keluar dari pelukannya, setelah itu dia berbaring di tempat tidur dan berguling-guling membuat tubuhnya dibalut selimut terlihat seperti kepompong.
Rama memerintahkan, "Sikat gigimu."
Anita menatapnya dengan tatapan tajam dengan kesal dia berkumur sebelum menyikat giginya perlahan.
Dia berpikir bahwa dia akan pergi tetapi yang mengejutkannya, Rama mengambil sikat gigi berwarna biru pastel dan mulai menyikat giginya sambil berdiri di sampingnya!
Anita tiba-tiba sadar dan dia menatap sikat gigi merah muda di tangannya kemudian menatap kembali sikat gigi biru pastel di tangan Rama…
Apakah ini sikat gigi pasangan yang melegenda?
Saat dia sibuk dengan pikirannya, Rama sudah terlebih dulu selesai menyikat giginya. Dia mencondongkan tubuh ke arahnya dan menyeka busa dari mulutnya. “Masih ada busa di sudut bibirmu.”
“Aku akan membersihkan sendiri. Kamu tidak perlu melakukan itu.” Dia merasa bahwa dia tidak benar-benar menyeka busa dari mulutnya dan malah menggosokkan jarinya ke bibirnya, Anita menepis tangannya dengan cepat sebelum menyeka mulutnya.
Rama merasa terhibur dengan perilakunya yang kasar dan dia mulai tertawa dengan cara yang seksi.
Anita hanya berjarak beberapa milimeter darinya dan karenanya dia merasa kagum dan wajahnya berubah menjadi merona.
Dia mengakui jika Rama memiliki wajah yang sangat tampan. Bahkan suaranya dan tubuhnya sangat sempurna. Dia sempurna dari beberapa aspek, entak itu dari kekuasaan, uang dan tampang. Tuhan benar-benar berlebihan terhadapnya!
"Anita, apakah kamu malu?" Rama tiba-tiba mengangkat dagunya dan menatapnya sambil tersenyum, setelah itu dia menjebaknya di depan baskom.
“Siapa… siapa yang malu!?!” Sanggahnya tak setuju, dia sengaja mengabaikannya, karena dia tidak ingin berhubungan dekat dengannya. Tidak diragukan lagi dia sangat berbahaya.
__ADS_1
Dia tiba-tiba merasakan sensasi lembab di bibirnya dan saat dia terkejut, dia sudah menciumnya…
Dia melebarkan matanya, menyebabkan Rama tertawa. Dia kemudian mengusap bibirnya ke bibirnya dan berkata dengan suara serak, "Sayang, tutup matamu."
Suaranya terdengar sangat memesona benar-benar menggoda. Anita perlahan menutup matanya dan pada saat dia melakukannya, dia menjadi gila dan menciumnya dengan gila-gilaan, seolah berusahan untuk mencoba melahapnya.
…
Setelah selesai sarapan Anita dan Rama pergi kekantor walau lebih tepatnya Rama menyeretnya ke kantor. Sepanjang perjalan Anita sangat kesal. Dia berbalik untuk melihat ke luar jendela, sepanjang jalan mereka hanya diam tanpa percakapan sedikit pun.
Rama meraih tangannya dan menggosoknya dengan telapak tangannya. Dia tidak berlebihan kali ini.
Sebelum sampai di kantor, mobil menepi Anita menolak untuk keluardari dalam mobil. Sementara Rama berdiri di depan mobil dan mengulurkan tangannya ke arahnya sambil berusaha untuk tidak kehilangan kesabaran. “Ann, turunlah. Kita sudah di kantor. Tidak ada gunanya mencoba untuk bersembunyi.”
"Beraninya kamu mengancamku!" Ucap Anita mencibir dengan marah.
Setelah sesi bercumbu gila di kamar mandi, dia diseret ke bawah untuk sarapan oleh Rama yang kemudian mendorongnya ke dalam mobil dan membawanya ke kantor.
Kenapa dia membuat begitu banyak ****** sialan di leherku!?!
Aku baru menyadarinya saat melihat kaca spion. Sangat hebat, kemeja setelan bisnisku bahkan tidak bisa menyembunyikan ******. Bagaimana cara saya harus pergi ke kantor?
Namun, pelakunya masih tersenyum puas seolah dia tidak ada hubungannya dengan itu. Dia berpikir sambil menggertakkan giginya dengan marah!
Rama menarik tangannya dan berkata, "Anita, turunlah, tidak akan ada menertawakanmu atau mengkritikmu."
Anita memutar matanya ke arahnya dengan kesal dan berkata,” memang tidak aka nada yang akan menertawakanku, sebaliknya mereka akan sangat iri kepada ku! Saya akan dimusui banyak orang, salah satu penggemar berat anda akn menyiramku dengan air…”
"Wanitaku memang harus menjadi subjek kecemburuan." Rama mengerutkan kening dan melanjutkan dengan diam-diam, "Aku berjanji apa yang baru saja kamu sebutkan, tidak akan pernah terjadi."
Setelah insiden yang melibatkan laura, dia sudah bersikap waspada dan karenanya, tidak lagi bermalas-malasan melindunginya. Dia tahu bahwa istrinya tidak bisa dianggap enteng dan telah menyinggung banyak orang. Jika dia tidak lebih dulu memperhatikannya, dia mungkin akan terbunuh suatu hari nanti.
“apakah hal itu tidak akan terjadi hanya karena janjimu? Apa adan berpikir jika anda bisa melakukan segalanya? Beri aku syal jika tidak aku akan Kembali kehotel” Balas Anita dengan wajah cemberut.
"Apakah kamu benar-benar tidak akan masuk kerja?" Ramabertanya, tampaknya membuat masalah.
"TIDAK."
“Baiklah, jika itu membuatmu bahagia. Sayangnya perwakilan LK bank hari ini akan datang. Jika tidak salah dia putri dari Johan Davis, dan rapat akan diselenggarakan jam 10:45.” Saat ini Rama berhenti memaksanya dan malah memerintahkan sopir untuk mengirimnya kembali ke hotel dengan selamat, setelah itu dia berbalik dan pergi.
"Tunggu sebentar!" Ucap Anita.
Bibir seksi Rama melengkung keatas , seketika dia merasakan tangan yang lembut dan lembut meraih pergelangan tangannya.
Anita turun dari mobil atas kemauannya sendiri dan berjalan ke arahnya sambil memegangi pergelangan tangannya. "Apakah Laura benar-benar akan kesini untuk rapat nanti?"
"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?" balas Rama, meskipun dia diam-diam meraih tangannya dan menggosokkan ujung jarinya ke kulit halusnya.
Anita menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya dengan semburat kebencian di matanya. Menyadari ada yang tidak beres dengannya, dia meraih wajahnya dan bertanya dengan cemberut, “Ada apa? Jika Anda tidak ingin melihatnya, Anda dapat kembali ke hotel untuk istirahat. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bertemu dengannya,. Anita, tidak ada yang bisa menyakitimu saat aku ada disampingmu, oke?
__ADS_1