Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Promise : Ep. 1


__ADS_3

- 10 Maret 2011 -


Pemuda yang berbadan kurus dan kecil berlari dengan sangat kencang. Dia menyusuri jalan utama di Kota Amlapura Kabupaten Karangasem Bali. Jalan raya yang sangat bersih itu dilewatinya dengan meneteskan air mata. Dia berusaha untuk meredakan tangisan dengan berlari sekencang mungkin dan berusaha untuk keluar dari jalanan utama kota itu tapi tangisan itu tak bisa dibendung sama sekali.


Malam yang larut dan dingin dilewati dengan penuh kebimbangan. Dia hanya menggunakan baju kaos putih dengan  kombinasi berwarna biru di bagian lengan. Dia memakai kaos berlengan pendek tanpa jaket di malam yang dingin ini. Celana jeans hitam dipakai di bagian bawah dan sepatu sneakers berwarna dominan putih dengan sedikit warna biru di sisi kanan dan kiri melindungi kedua kakinya.


Dia berlari sekencang mungkin. Tubuhnya yang kurus dan tinggi menambah kekuatan dia untuk berlari secepat itu. Telapak tangan kanan terkadang menyeka air mata yang terus jatuh di pipi.

__ADS_1


Sudah cukup lama juga dia berlari keluar dari rumah yang berada di tengah Kota Almapura. Dia tak tahan lagi melihat ibunya menangis karena teringat akan adik laki - lakinya. Dia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa adik satu - satunya itu.


Setelah berlari sekitar 2 km dari Kota Almapura, dia berhenti di Taman Budaya Candra Buana. Malam ini, tentu saja sepi karena sudah hampir jam 1 tengah malam. Pemuda itu menghentikan larinya pas di depan taman. Dia masuk ke dalam taman, berjalan perlahan dan mencari tempat duduk yang berada tak jauh dari Pohon Kamboja besar yang berada di tengah taman. Ada lusinan Pohon Kamboja di taman itu, tapi hanya satu yang memiliki batang yang paling besar. Di samping pohon Kamboja itu terdapat bangku taman. Dia memilih duduk di bangku taman yang terbuat dari beton.


Taman Budaya Candra Buana adalah salah satu taman yang dilindungi oleh pemerintah. Desain taman itu indah dan bersih. Jalan setapak yang dibuat dengan keramik batu khas Bali, sudah terpasang rapi di taman. Para pengunjung bisa berjalan santai di taman dengan nyaman karena keramik sudah terpasang dengan baik di segala rute. Bahkan di pagi hari, pengunjung yang berusia dewasa berjalan di keramik tanpa menggunakan alas kaki karena ada tonjolan - tonjolan kecil di keramik yang berwarna semen natural. Mereka menggunakan tonjolan - tonjolan itu sebagai pemijat telapak kaki mereka.


"Aku harus bagaimana, Ya Tuhan? Aku harus bagaimana mengembalikan semua keadaan? Aku tak tahan melihat biyang (Ibu) menangis seperti itu," lirihnya pelan.

__ADS_1


Pemuda itu berusaha untuk mengatur nafas sembari menyeka air mata di sudut matanya yang kecil. Sesekali dia menarik cairan yang keluar dari hidung. Cairan itu otomatis keluar disebabkan dia menangis tadi.


Pemuda yang memiliki kulit coklat dikarenakan sering terkena sinar matahari di siang hari, duduk termenung di taman kota. Dia sendirian di taman, memandangi langit yang bertabur bintang.


"Aku, Hikma Andapi, berjanji kepada Biyang (Ibu) dan Ajik (Ayah) akan membawa Adi (Adik) Firman pulang ke rumah dan kita bisa berkumpul kembali.


*******

__ADS_1


__ADS_2