
Pantai Jasri. Pantai yang berada di Bagian Timur Pulau Bali, tepatnya di Kabupaten Karangasem memiliki daya pesona yang tinggi. Walaupun tidak semenawan pantai yang di sebelahnya yaitu Pantai Virgin Beach dengan pasir putihnya dan Pantai Amed dengan keindahan laut yang menakjubkan, tapi Pantai Jasri juga memiliki keunggulan.
Walaupun berpasir hitam, namun Pantai Jasri juga layak untuk dikunjungi. Pantai Jasri sanggup memberikan suguhan lain, memberikan sesuatu yang berbeda dengan nuansa alam yang lebih tenang, damai dan masih sepi pengunjung, menawarkan pemandangan alam laut yang cantik, angin yang segar menerpa tubuh, membuat pikiran kembali fresh, mereka yang membutuhkan ketenangan akan betah berlama-lama di sini. Sekali lagi, perlu dicatat bahwa walaupun Pantai Jasri hanya pantai berpasir hitam, namun tetap memberikan penawaran lebih.
Pantai Jasri sendiri terdiri dari tiga buah bagian yaitu Pantai Jasri Timur, Pantai Menteng dan Dalem Jasri. Untuk Pantai Jasri Timur digunakan oleh warga melakukan upacara keagamaan seperti Upacara Melasti dan prosesi saat Ngaben, kemudian Pantai Menteng sebagai tempat para nelayan untuk melaut. Di sini, para pengunjung bisa menyaksikan jejeran perahu nelayan yang menghiasi bibir pantai, sebuah pemandangan alam cantik yang layak diabadikan, sedangkan pantai Dalem Jasri menawarkan ombak yang tinggi dan gelombang yang memanjang, sehingga sangat ideal bagi mereka yang suka surfing. Pada sore harinya, biasanya warna jingga dari matahari terbenam atau sunset terlihat indah di atas langit pantai Jasri.
Air laut pantai Jasri sangat jernih, sehingga banyak wisatawan atau penduduk setempat mandi di pantai ini. Dan tentu saja melakukan aktivitas snorkeling akan sangat memuaskan karena air yang sangat jernih.
Terlihat juga para pemancing yang melemparkan kailnya, mencari ikan di pinggir bibir pantai yang telah dipasangi batu laut agar tidak terkena abrasi. Tapi terlihat juga pemancing yang menaiki perahu ke tengah laut. Perahu itu disewa oleh para pemancing.
Ketika melihat para pemancing, mungkin bagi yang tidak memiliki hobi yang sama, meresa bahwa itu adalah kegiatan yang membosankan, namun ketika merasakan strike dari ikan-ikan di kawasan laut Bali Timur, mungkin itu adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka.
Pesisir pantai Jasri yang berpasir hitam dengan batu koral besar tersusun rapi membentuk benteng pada sepanjang pantainya, berkali-kali dihempas oleh ombak yang silih berganti. Pada sejumlah bagian pantai Jasri telah mengalami abrasi, karena itulah pemerintah setempat menyiasati abrasi dengan menempatkan batu-batu gunung berukuran besar untuk menahan ombak, sehingga pantai ini masih tetap terlihat alami.
Dapi duduk di susunan batu koral besar yang ada di pinggir pantai. Dia menjulurkan kakinya ke depan, membiarkan air laut yang bergelombang menghempas ke benteng batu koral, membasahi kedua kaki. Dia sengaja melepas sendal dan meletakkan alas kaki itu di samping kanan dari posisi duduknya.
Berulang kali dia menyisiri rambutnya dengan jari-jemari di tangan kanan. Angin yang berhembus semilir dan segar, kembali merusak tatanan rambut hitamnya yang panjang tapi tidak gondrong. Potongan rambutnya sangat rapi.
Di sore Minggu ini, terlihat ramai wisatawan dan penduduk setempat di Pantai Jasri, tapi tidak terlalu sesak dengan manusia. Masih dalam keramaian yang wajar.
Pemuda itu merogoh kantong dan mengambil handphone di kantong celana pendeknya berwarna coklat muda. Dia melihat angka yang tertera di handphone. Angka itu sudah menunjukkan pukul 16.10 Wita. Dia menunggu seseorang di pinggir pantai ini.
Pandangannya tertuju ke laut lepas yang berwarna biru. Indah. Tapi wajahnya tidak menikmati keindahan alam itu. Dia masih berpikir keras untuk mencari adiknya yang hilang. Sudah sebulan waktu berlalu dan dia masih mendapatkan sedikit petunjuk.
Di ujung jalan, tak jauh di belakang keberadaan Dapi, seorang gadis keluar dari mobil Lexus RX270 berwarna silver. Dia sudah memandang lurus ke depan ketika membuka pintu mobil dan berjalan perlahan menuju pemuda yang sedang duduk menghadap ke laut lepas. Dia mengenali punggung pemuda itu.
Sedangkan mobil berwarna silver itu bergerak perlahan menjauhi pinggir pantai setelah mengantar gadis tersebut.
Gadis tinggi dan terlihat keren itu adalah Tania. Dia semakin terlihat keren dengan pakaian yang dikenakan. Dia menggunakan kemeja kotak-kotak besar berwarna merah muda dengan baju kaos putih di dalamnya. Tiga kancing kemeja bagian atas terbuka, jadi kaos putih itu sengaja diperlihatkan. Bawahannya, gadis itu memakai celana jeans yang sedikit robek di kedua dengkul dan paha bagian kiri. Alas kakinya hanya sepasang sendal putih bertali hitam. Gayanya simpel dan dia memang terlihat tomboy. Rambut panjang sebahu sedikit pirang di bagian bawah, dibiarkannya tergerai indah, walaupun tidak terlihat rapi apalagi terkena hembusan angin laut menuju ke pantai.
"Hayoo... ngelamun apaan?" Tania mengagetkan Dapi dari belakang dengan menempelkan tangan kirinya di punggung pemuda itu.
Dapi terkejut dan langsung menoleh.
Tania tertawa. Dia sangat cantik walaupun penampilannya seperti seorang anak laki-laki. Gadis itu masih berdiri di samping Dapi.
Dapi tersenyum kecil, ketika melihat sosok dikenal yang mengagetkannya.
"Sudah lama nunggu?" tanya Tania cuek. Dia langsung duduk di samping Dapi. Melepaskan sendalnya, meletakkan sendal itu di samping kanan.
"Mungkin sekitar 15 menit," nyata Dapi. Pemuda itu kembali memandang ke depan, menatap laut lepas.
"Sorry. Jadi kelamaan nunggu. Aku harus nunggu mama. Dia yang mengantarkan aku ke sini," jelas Tania. Dia juga ikut menatap ke depan, sama seperti yang dilakukan Dapi.
"Oh...." Dapi menoleh. "Dimana Ibumu sekarang?" Dapi juga menoleh ke belakang mencari - cari orang yang dimaksud Tania, seakan - akan dia kenal dengan wanita yang diceritakan oleh gadis itu.
"Mama pergi ke kota. Ada urusan. Ntar aku dijemput, kalau udah selesai urusannya," jelas Tania.
Gadis itu melihat ke arah Dapi dan tersenyum manis.
__ADS_1
Deg.
Jantung Dapi berdebar kencang beberapa kali. Debaran yang tidak normal. Lalu dia dengan cepat kembali memalingkan wajahnya ke arah depan. Pemandangan laut biru berusaha untuk jadi pengalihan.
"Aku bawa makanan nih. Cuma kentang goreng dan dua botol pepsi." Tania mengangkat kantong plastik berwarna putih, berlogo merk terkenal tertera di kantong plastik itu, sejajar dengan kepalanya. Dia tersenyum lagi.
Dapi menoleh. "Waaaaaah. Enggak perlu repot juga, Tan, pake bawa makanan segala." Dapi langsung mengambil kantong itu.
"Aduuh... pelan-pelan dong. Ntar dulu. Aku saja yang ngeluarin," seru Tania. Kemudian tangan kirinya mengambil sebotol pepsi dari bahan plastik, memberikan kepada pemuda di sampingnya. Memberikan sedotan dan sebungkus kentang goreng berlapiskan kertas berwarna coklat, tindakan selanjutnya.
Dapi tersenyum.
"Terima kasiiiiiih," serunya manja.
Tania tersenyum kecil lagi sembari sibuk mengeluarkan makanan dan minuman untuk dirinya sendiri.
Ini, kedua kalinya Tania dan Dapi pergi bersama. Setelah ajakan Tania kepada Dapi beberapa minggu yang lalu untuk menemani dia berkeliling di kawasan Amlapura, mereka berdua telah pergi ke Pura Penataran Pande dan Dalem. Perjalanan itu adalah perjalanan pertama mereka berdua bersama. Setelah itu mereka sering chat di aplikasi sosial media dan bertukar kabar lewat telepon. Oleh karena itulah, mereka sudah terlihat akrab sekarang ini.
"Lumayan bagus ya, Pantai Jasri ini," nyata Tania cuek sambil mengunyah kentang goreng yang sudah berada di dalam mulutnya. Wajahnya datar. Matanya menatap lurus ke depan.
"Lumayan?" Dapi menoleh ke arah Tania dan mengerutkan keningnya.
"Ya. Lumayan."
"Ya, jika dibandingkan dengan dengan pantai favorit lain di Bali," jawabnya santai. Dia memasukkan beberapa potong kentang goreng ke arah mulut. Kakinya yang menjulur ke bawah bergoyang-goyang beberapa kali.
"Hmmm...."
"Apaan sih?" Reaksi apa itu?"
"Kesel."
"Kenapa kesel?"
"Ya kesel aja. Pemandangan begini indah dibilang lumayan. Emang ada pemandangan seperti ini di Jakarta?" bantah Dapi sembari merentangkan tangan kanan ke hamparan laut lepas yang berada di depan mereka.
"Oh. Jadi karena tempat kelahiran kamu aku bilang lumayan, kamu kesel?" Tania menoleh ke arah Dapi. Dia berusaha menyelidik.
Dapi tak menoleh balik. Dia menatap ke depan, ke arah laut lepas yang masih terus menghembuskan angin ke arah pantai. Sedotan minuman ditempelkan ke bibirnya. Terdengar suara air yang tersedot ke mulut.
Tania kembali menolehkan kepalanya ke depan, lalu....
"Eeeeh... Pantaaaaaaai.... Lauuuuut.... Kamu kereeeen...," teriak Tania sambil mengacungkan jempol kanan ke depan. Padahal di tangan itu masih ada sepotong kentang goreng. Suara yang dikeluarkan oleh gadis itu cukup aneh. Setiap kata dipenggal dan disebut memanjang di akhir suku katanya. Lalu, di detik berikutnya, tangan kirinya merangkul leher Dapi.
"Tuh... puas loe."
Dapi tertawa kecil. Wajah keselnya berubah menjadi ceria. Dia merasa geli dengan sikap gadis tomboy yang berada disampingnya itu.
__ADS_1
Pertama kali Dapi melihat gadis tomboy ini di Sanggar Seni Surya Candra, dia memiliki kesan buruk karena indra ke enamnya menangkap aura hitam yang mengelilingi gadis ini. Tapi setelah pertemuan kedua di Sanggar itu juga, Dapi tak merasakan aura itu lagi. Lalu ketika mereka pergi ke Pura, jalan bersama, Dapi juga merasa gadis ini semakin menarik. Gayanya yang tomboy dan cuek membuat Dapi penasaran dengan gadis ini.
Beberapa kali mereka bercerita langsung atau melalui telepon. Dari pembicaraan itu sepertinya Dapi menyukai gadis ini, tapi dia belum berani mengungkapkan hal itu.
"Kamu pernah ke Jakarta?" tanya Tania. Kini rangkulan tangan kiri sudah dilepas dari leher Dapi.
"Belum."
"Pengen ke Jakarta?"
"Pengen dong. Aku juga pengen ngambil kuliah dan ambil club tari modern di Jakarta," nyata Dapi serius.
"Oh ya. Bagus tuh. Kamu juga menari sangat bagus. Badan kamu sangat lentur," puji Tania.
Dapi tertawa kecil. Dia merasa malu. Padahal sudah ketiga kali Tania mengatakan hal ini kepadanya. Dia menggaruk batang hidungnya beberapa kali, padahal tidak gatal.
Kedua makhluk yang diciptakan dari tanah oleh Tuhan, bercerita ringan di pinggir pantai berbatu. Dapi sering tertawa melihat aksi cuek gadis yang ada di sampingnya. Gadis itu tidak perduli jika dia bukan perempuan yang feminin. Dia berusaha untuk menjadi dirinya sendiri.
Sesekali gadis itu meninju pemuda yang ada di sampingnya. Pukulan kecil yang mendarat di lengan bagian atas Dapi, dibalas dengan elusan lembut di kepala gadis itu. Mereka tertawa. Menghabiskan sore hari di bibir pantai, duduk di atas batu koral yang berwarna kehitaman.
Dapi merasa ingin terus bersama gadis ini, tapi dia mungkin tidak bisa berharap banyak karena menurut pengakuan Tania, dia hanya beberapa bulan di Bali dan akan kembali ke Jakarta setelah urusan mamanya selesai.
*******
"Oke. Bye. Sampai ketemu besok di Sanggar Seni," nyata gadis yang memakai baju kemeja
kotak-kotak berwarna merah muda.
Dia langsung membuka pintu mobil depan di bangku penumpang. Ibunya baru saja datang untuk menjemputnya.
Dapi berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan. Dia tidak bisa melihat jelas wanita yang menyetir mobil itu karena semua kaca mobil berwarna gelap. Pandangannya terus tertuju ke arah mobil berwarna silver yang bergerak menjauh dari tempat Dapi berdiri.
"Fokuslah kepada adikmu, bukan ke dia."
Kalimat itu terngiang di telinga Dapi. Dia tertegun, menatap ke bawah, ke arah aspal hitam. Keningnya sedikit berkerut.
*******
"Sepertinya dia tidak merasakan aura hitam ketika melihat dirimu sekarang?" Tidak aneh seperti ketemu kamu pertama sekali." Wanita setengah baya yang duduk di balik setir mobil itu membuka pembicaraan setelah beberapa menit mereka keluar dari areal Pantai Jasri.
"Ya."
"Bagus. Rencana kita pasti berhasil dengan baik."
Gadis yang duduk di bangku depan untuk penumpang, hanya terdiam. Dia menolehkan wajahnya ke arah kiri dan menatap ke keluar, terlihat warna jingga di langit Bali Bagian Timur di sore itu.
*******
__ADS_1