Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Jamais Vu : Ep. 33


__ADS_3

Cahaya yang bergerak secepat kilat, berhenti di balik pohon yang lebat. Cahaya hilang di balik pohon besar di pinggir jalan Tukad Bangke, bersumber dari sosok anak laki - laki yang memiliki kekuatan berlari secepat cahaya. Dia berdiri tegak, bersembunyi melihat ke arah persimpangan 3 jalan.


Anak laki - laki yang bersembunyi adalah Panca. Panca mendapat penglihatan kalau Dapi berada dalam masalah. Dia melihat pertempuran ini dalam torehan pinsil yang sudah dilukisnya.


Panca sengaja bersembunyi agar keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain. Anak laki - laki yang sengaja memakai baju serba hitam, memperhatikan Dapi yang sudah terdesak dalam pertarungan melawan sosok makhluk yang diselubungi oleh awan hitam dan pekat.


Di balik pohon yang besar, Panca berdiri tegak. Dia tak mengintip lagi. Dia berusaha berkonsetrasi dan menutup mata. Anak laki - laki yang diam terpaku, berusaha untuk melakukan sesuatu. Dia berusaha mengirimkan potongan - potongan gambar yang telah dan akan dilihatnya kepada Artha. Ya. Dia tak mengenal Artha tapi dia bisa mengirimkan telepati kepada enam pemuda yang ada di dalam mimpinya, jika dia menginginkan hal itu. Saat ini, dia men-setting telepati yang dikirimkan agar Artha bisa melihat kejadian yang sedang berlangsung saat ini.


Di tengah persimpangan, panca melihat 4 sosok berdiri. Dia tak mengenal mereka semuanya. Tapi 2 makhluk berada di depan seorang wanita tua yaitu manusia yang sepertinya masih sebaya dengan dirinya dan satu lagi makhluk aneh yang memiliki bulu berwarna hitam di bagian bawah tubuh. Makhluk aneh itu memakai baju hitam yang terdapat banyak bulu di daerah pundak baju dan topi yang dikenakannya.


Sedangkan tak jauh dari mereka, terlihat seorang pria bertubuh besar dan memakai pakaian serba hitam beserta topeng yang juga berwarna sama. Makhluk ini sangat menyeramkan. Awan hitam pekat menyelebungi dirinya dan matanya mengeluarkan warna merah.


Sepertinya Panca pernah melihat Makhluk ini di dalam mimpinya. Tapi dia tak tahu nama dari makhluk yang sekarang menyerang Dapi dengan untaian yang solid dan fleksibel berwarna hitam.


Mata panca tertuju ke arah Tombak Sakti yang berada di tangan kanan makhluk berbadan besar. Dia sangat mengenal tombak yang dipegang. Itu milik Dapi.


"Mengapa dia bisa memegang senjata, Bli Dapi," gumamnya.


Panca melihat ke arah Dapi yang terbelit dengan untaian berupa tali. Dia menghadap ke atas dan terdapat lubang hitam. Dia sudah memikirkan hal yang akan terjadi. Dia berpikir untuk menyelamatkan Dapi dari lubang hitam yang menganga.


Ketika Dapi sengaja dilemparkan ke atas oleh makhluk yang bermata merah, Panca berkelebat menuju makhluk berjubah hitam dan merebut Tombak Sakti. Lalu tak sampai hitungan sedetik Panca berlari ke arah Dapi untuk melepaskan jeratan untaian hitam dan membawa Dapi pergi menjauh dari lubang.


Tapi, realita tak sesuai dengan harapan. Lubang hitam yang menganga cukup besar, menghisap Dapi dan Panca yang berupa cahaya putih. Hisapan lubang hitam sangat kuat dan akhirnya Panca juga ikut masuk ke dalam lubang hitam.

__ADS_1


*******


Pemuda yang memakai baju hitam berlengan panjang, tersadar sedang tertidur di bangku taman. Taman yang terlihat begitu indah dengan pemandangan pantai dan laut biru berada di samping kiri.


Pemuda yang berwajah penuh luka yang sudah mengering, melihat ke kiri dan berusaha untuk bangkit dari tidur. Di ruas lengan kanan, berbekas darah kering bergaris menjalar sampai ke siku. Di Telapak tangan kanan lebih banyak bekas darah kering tapi dia tidak memperhatikan itu. Perhatiannya tertuju ke laut biru.


Laut biru yang mempesona, seakan ada daya tarik tersendiri bagi pemuda yang memiliki rambut hitam dan lurus. Setelah dia berdiri tanpa bersusah payah, pemuda yang memakai baju hitam tapi ada noda darah di bagian pinggang, berjalan di atas pasir putih menuju ke laut lepas.


Ketika kakinya menyentuh air yang menerjang di bibir pantai, dia melihat ke bawah, berhenti dan tertegun. Pemuda yang memiliki hidung mungil, tersenyum kecil. Dia seakan senang ketika air laut itu menyentuh kedua telapak kakinya.


Berdiri, tertegun, memandangi laut, itu yang dilakukannya saat ini. Senyum dari bibir sensualnya terpatri dengan baik. Pemuda itu mengangkat tangan kanan, berniat untuk melindungi cahaya matahari yang menyilaukan mata di tengah laut. Matahari itu bersinar terang di sepenggalahan bumi.


"Oh...."


"Oh...."


Sang pemuda kembali mengeluarkan suara terkejut ketika melihat baju hitamnya yang robek di bagian pinggang. Dia meraba ke dalam kulitnya melalui baju robek. Keningnya berkerut. Dia merasakan ada bekas luka di daerah pinggang sebelah kanan.


Wajahnya yang putih, masih terlihat bekas luka. Dia terlihat bingung ketika meraba wajahnya sendiri sambil berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Tapi dia tak berhasil mengingat sedikitpun mengenai luka - luka yang didapat.


Kepalanya berusaha memandang ke sekeliling. Dia mencari atau berusaha mengingat sesuatu. Lagi - lagi dia memasang wajah kebingungan. Pemuda yang kurus dan tinggi ini sepertinya tak mengenali tempat dia berdiri sekarang.


Di samping kanan, dia melihat menara air yang berundak - undak. Tinggi menara air yang berada di tengah pantai sekitar 10 meter. Dia berlari kecil melewati pasir, menuju menara air yang di bagian atas mengeluarkan air dengan sangat deras dan jatuh mengaliri 9 wadah yang berbentuk piringan yang berjejer dari atas ke bawah. Wadah itu melingkari batang menara air.

__ADS_1


Sekitar 10 langkah dia berlari kecil.


"Oh...."


Langkahnya terhenti ketika melihat satu benda berdiri, tersadar di menara air. Benda yang berbentuk tombak berwarna biru laut, bersender secara diagonal dari bawah ke atas. Pangkalnya menyentuh pasir putih dan ujungnya berada hampir di piringan ke lima dari menara air.


"Tombak apa itu? Punya siapa? Apakah ada orang lain di sini?"


Pemuda yang lagi - lagi memasang wajah bingung, bergumam. Dia memutar kepalanya melihat ke sekeliling, mencari sesuatu.


Pemuda yang tak memiliki dada bidang, tak memperdulikan lagi tombak yang bersandar di menara air. Dia berjalan pelan mendekati piringan urutan ke delapan dari atas yang berada pas di bagian pinggang. Piringan yang berbentuk kelopak bunga melingkar di tiang menara memiliki diameter sekitar 80 sentimeter.


Sang pemuda menatap wajahnya yang terlihat di permukaan air. Air yang beriak di piringan ke delapan karena kejatuhan sekumpulan air dari piringan sebelumnya, membuat paras wajahnya tidak jelas tapi dia bisa melihat bekas darah yang mengering dari hidung dan sudut bibir. Dia tertegun, berusaha mengingat apa sebenarnya yang telah terjadi dengan dirinya. Tapi... lagi-lagi tak berhasil.


Sang Pemuda yang tak lain adalah Dapi, menampung air yang mengalir dari piringan ke delapan yang jatuh ke piringan berikut. Kedua telapak tangan disatukan dan menampung air di tangan beberapa lama, kemudian membasuhi wajah ketika air itu sudah memenuhi kedua telapak tangan yang dijadikan wadah. Dia membersihkan bekas darah di hidung dan sudut bibirnya. Kemudian membilas air di kedua lengan dan bagian pinggang.


Setelah merasa cukup membersihkan diri, Dapi kembali melihat ke arah tombak yang bersender di menara air. Dia penasaran dengan tombak yang berwarna biru laut itu.


Tapi... tiba-tiba cahaya putih berkelebat ke arahnya mengambil tombak dan merangkul pinggangnya.


Wuuush...


Dapipun menghilang dari tempat yang tak dikenalnya sama sekali.

__ADS_1


*******


__ADS_2